
Mervin tak menghiraukan suara siapa yang memanggilnya itu. Yang jelas itu bukan suara Tuan Robinson. Karena pria itu sudah terkapar dan tak sadarkan diri.
“Hey! Jangan lari kau!” sentak suara pria dari dalam. Bahkan suara itu tidak terdengar tunggal dan sepertinya ada beberapa orang.
“Hey! Berhenti! Kembali!”
Dua pria seketika mengejar Mervin yang akan keluar daria pagar rumah. Satu pria menghadang dari depan Mervin dan satu pria lainnya menghadang di belakang Mervin.
Mereka bahkan mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakan oleh Tuan Robinson. Bisa dipastikan mereka adalah satu kelompok.
“Aku tidak ada urusan dengan kalian berdua.” Mervin menatap dua pasang mata mengerikan pria itu bergantian.
Karena urusannya hanyalah dengan Tuan Robinson dan itu sudah selesai, maka ia tak mempedulikan dua pria tadi dan pergi dari sana.
“Hey! Mau apa kau?!” sentak Mervin.
Satu pria menarik lengannya sekaligus merematnya. Mungkin jika itu orang biasa tulangnya sudah patah.
Satu pria lainnya menghalangi langkahnya dengan memegang bahu Mervin. Membuat Mervin yang sebenarnya tak ingin mencari masalah ataupun berduel lagi, kembali naik pitam.
“Kau menyentuh teman kami itu artinya kau sama saja berurusan dengan kami. Karena kami adalah satu. Black Ash yang solid,” tegas seorang pria.
Dengan tatapan mereka yang tajam, Mervin pun tak main-main lagi dengan mereka lalu segera meladeni mereka berdua saat menyerangnya bersamaan.
Bugh!
__ADS_1
Bagh!
Bugh!
Kembali terjadi baku hantam antara tiga pria tersebut. Di awal Mervin terdesak dengan serangan 2 pria tadi. Serangan mereka bukan kaleng-kaleng dan cukup merepotkan tentunya.
Melawan kelompok mafia seperti mereka harus waspada jika tak ingin nyawa melayang begitu saja.
Aku harus secepatnya mengalahkan mereka jika tidak aku akan kewalahan sendiri karena tenagaku sekarang sudah separuh lebih kugunakan, batin Mervin.
Akh! Satu pria segera tumbang setelah Mervin menggunakan krav maga dengan menyerang titik mematikan pada bagian kepala.
Mervin menggunakan krav maga di saat terdesak saja. Karena dibutuhkan ketepatan dan keakuratan tinggi serta kecepatan yang mumpuni untuk melakukannya.
“Akh! Sialan kau!” teriak pria satunya ambruk tak lama setelah temannya ambruk.
***
Setelah kejadian itu, Mervin tak pernah mengizinkan Gwen membantunya menjaga toko. Banyak orang asing berdatangan ke tokonya dan tentu saja sebagian dari mereka bukan pembeli tapi penjahat yang berniat buruk. Sangat beresiko sekali.
“Hais! Kebetulan sekali wanitanya Mervin ada di rumah. Jadi dia tidak bersama Mervin? Ini benar-benar kesempatan bagiku. Dan wanita itu adalah sumber kelemahan Mervin,” gumam seorang pria tersenyum diri dari depan rumah Eric.
Pria itu mengawasi dari kejauhan. Siapa lagi pria itu jika bukan Tuan Anderson. Ia masih menyimpan dendam pada Mervin.
“Kau lihat saja Mervin, apa yang bisa kau lakukan dan bagaimana dirimu? Aku penasaran sekali ingin melihat reaksimu.”
__ADS_1
Setelah tersenyum menyeringai seperti itu, Tuan Anderson keluar dari persembunyiannya langsung menuju ke rumah Eric.
“Permisi, aku ingin bertemu dengan Tuan Mervin,” tuturnya langsung menyampaikan maksudnya.
Beruntung sekali yang keluar dan membukakan pintu saat itu adalah Gwen.
“Oh, Mervin ada di toko,” tutur Gwen, “Astaga kau pria yang waktu itu!” pekik Carissa, ketika terkejut telah mengenali Wajah pria di depannya itu.
“Rupanya, ingatanmu tajam juga. baru bertemu beberapa kali kita tapi kalau sudah bisa menghafal ku dengan baik.”
Tuan Anderson langsung menarik satu tangan Gwen saat melihat wanita itu mundur dan mungkin saja kabar darinya.
“Gwen ada apa dengannya?” pekik Eric ketika mendengar suara teriakan dari putri semata wayangnya itu.
Bahkan ia pun segera berlari ke depan untuk memastikan keadaannya sendiri. Takut kalau-kalau saja putrinya itu bertemu dengan orang jahat dan melakukan hal buruk padanya.
“Hey! Siapa kau?!” sentak Eric menatap pria asing di depannya itu sedang memegang erat tangan Gwen.
Tuan Anderson tidak menjawab dan malah mengulas seringai.
“Ayah, tolong aku...” rintih Gwen, saat Tuan Anderson meremat bahunya, hingga membuatnya merintih menahan sakit.
Eric lalu berusaha menyelamatkan Gwen, tak peduli apapun yang terjadi pada dirinya. Bahkan kini pria itu sedang berduel dengan Tuan Anderson.
Namun sayangnya ayahnya Gwen itu tak punya kekuatan sama sekali untuk melawan pria asing tersebut.
__ADS_1
“Ayah!” teriak Gwen melihat Tuan Anderson membanting tubuh ayahnya dengan keras ke lantai.