
Mervin hanya bisa mengelus dadanya yang terasa semakin sesak dengan sikap ayah mertuanya.
Padahal dia tidak mencuri dan bahkan saat ini dia sudah tunjukkan pada mertuanya jika dia bisa menghasilkan uang tapi apa balasannya?
Kelakuan yang diterimanya tetap saja seperti dulu, tak ada perubahan.
“Mervin, kau tak apa?” tanya Gwen, segera menghampiri.
Ia langsung menggamit lengan lelakinya itu.
Gwen diam meskipun dalam hatinya kesal sekali dengan sikap ayahnya sampai ia meremat kedua tangannya, apa yang bisa merubah sikap ayahnya pada Mervin? Padahal suaminya itu hebat sekarang di matanya.
“Kita masuk ke kamar saja,” ajak Gwen.
Mereka berdua kemudian masuk ke kamar.
Di sana, Mervin membuka amplop coklat yang dipegangnya, berisikan uang dari seorang kolektor tadi.
Hatinya masih panas meskipun sudah memegang banyak uang seperti itu, karena tindakan Eric yang masih saja merendahkan dirinya tadi.
Dia pasti bersedih, batin Gwen, bisa melihat jelas menjalankan kesedihan dari biji mata lelakinya.
“Coba biar ku hitung,” Gwen mengambil amplop coklat dari tangan Mervin tanpa meminta izin padanya terlebih dulu.
Bukan tak percaya pada jumlah yang ada dalam amplop tersebut, tapi itu hanya idenya saja yang dia lakukan untuk menghibur Mervin.
“Satu... dua.... seratus..., astaga! Uangnya kurang!” pekik Gwen, menunjukkan wajah seriusnya.
Melihat ekspresi wajah Gwen yang serius membuat Mervin mengambil uang dari tangan wanitanya itu dan mulai menghitungnya.
“Gwen kau....” ucapnya, setelah selesai menghitung.
Ternyata ia di bohongi olehnya, jumlah yang dihitungnya lengkap tak kurang sedikitpun. Bahkan wanitanya itu pun saat ini tersenyum lebar.
“Maaf, bukan maksudku membohongimu. Aku hanya tak ingin melihatmu bersedih saja,” tandasnya, segera berhenti mengumbar senyum.
***
Keesokan paginya, Mervin menapaki jalanan beraspal yang terasa dingin karena saat ini belum ada orang-orang yang berangkat bekerja.
Uang yang kemarin didapatnya dari seorang kolektor dari hasil menjual patung kristal Dewi Venus di bawanya karena Gwen tak mau menyimpannya.
__ADS_1
“Kau simpan saja uang itu. Aku belum membutuhkannya saat ini. Simpan saja di bank.”
Setidaknya itu yang diucapkan oleh Gwen semalam padanya, dan masih diingatnya sampai sekarang.
“Apa sebaiknya aku simpan lagi di bank saja?” gumamnya, berhenti di depan sebuah bank saat melewatinya.
Mervin pun memutuskan untuk menyimpan saja uangnya di bank. Karena masih belum buka maka ia pun duduk di luar untuk menunggu.
Satu jam berikutnya Bang sudah buka dan tentu saja ia mendapatkan nomor antrian 1.
“Nomor antrian 1 silakan menuju ke teller 1,” ucap customer service.
Mervin terdiri dari tempat duduknya dan menuju ke teller.
“Nona, aku mau menabung ini semua,” ucapnya, menyerahkan semua uang yang di bawanya pada petugas teller.
Petugas teller menghitung semua uang tersebut dengan mesin penghitung uang lalu memprosesnya dengan cepat.
“Ini buku tabungan, Anda,” tukasnya, lalu menyerahkan buku tersebut pada Mervin.
“Terima kasih.”
Aku tidak menyangka, ternyata pria sederhana itu punya tabungan sebanyak ini, batin petugas teller bank tadi menatap kepergian Mervin.
Mervin lalu menyusuri jalanan beraspal dengan membawa banyak korannya yang akan ia jajakan.
“Koran! Koran!” serunya, berteriak, menjajakan korannya.
Saat itu jalannya sudah ramai banyak orang yang lewat berlalu-lalang di sana, tapi tak satu pun dari mereka yang membeli koran Mervin.
Oh, sudah dua jam aku jalan tapi hanya 5 orang yang baru membeli koranku, desaunya dalam hati.
Padahal biasanya jam segini koran yang dijualnya sudah laku hampir separuh dan sekarang masih sisa banyak sekali.
Bahkan hingga jam 15.00 koran yang dijualnya masih separuh.
“Bagaimana ini?”
Mervin tak langsung pulang, dia singgah sebentar di rumah Kakek Ethan, seperti biasanya. Untuk beristirahat juga merenung.
Klik! Kali ini dia mengunci pintu rumah,setelah masuk, khawatir Ayah mertuanya akan datang kembali dan marah padanya.
__ADS_1
Apa iya aku akan menjadi loper koran seperti ini seumur hidupku? pikirnya dalam hati, mulai bimbang.
Bagaimana kedepannya hidupnya bersama Gwen jika dia terus-terusan berprofesi sebagai seorang loper koran.
“Apa aku berhenti saja menjadi loper koran? Lalu aku aku tekuni menjadi *t*reasure hunter saja. Meskipun itu hanya sebulan sekali atau nggak berapa bulan sekali mendapatkan barang antik itu sudah sangat cukup sekali bagiku,” desaunya, menimbang-nimbang.
Lama dia berpikir, lalu dia fix memutuskan untuk menjadi mencari harta karun saja, setelah banyak pertimbangan yang dipikirkannya.
“Sekarang tinggal memikirkan cara bagaimana pergi ke sana, saja,”
***
Malam hari di rumah.
Mervin duduk bersama Gwen di kamar. Dia sudah menceritakan keputusannya pada wanitanya itu untuk berhenti saja menjadi loper koran dan memilih menjadi seorang Treasure Hunter.
“Ya, apapun keputusanmu aku akan mendukungmu,” tutur Gwen.
Dari luar, ada Eric yang akan marah pada Mervin. Entah apa sebabnya dia sampai marah pada Mervin.
“Mervin! Keluar kau! Kau pulang sore dan membawa sedikit uang! Keluar, dan aku akan buat perhitungan denganmu!” sentaknya, dengan garang.
Mervin diam, dan mencoba untuk tenang. Pikirannya kali ini malah ia ingin mencoba analisanya agar bisa pergi ke masa lampau.
Momentnya pas dan tinggal buat waktu berhenti.
Mervin lalu mencoba menarik tuas jam tangannya agar berhenti. Dan di luar kamar, Eric sudah menggedor pintu kamarnya.
“Keluar kau!” hardiknya, geram.
Tepat di saat pintu terbuka, Mervin tak ada di sana. Hanya Gwen saja yang duduk seorang diri meskipun sebenarnya wanita itu juga terkejut karena baru pertama kali ini dia melihat Mervin hilang dari hadapannya secara langsung.
***
Tengah malam, barulah Mervin kembali.
“Mervin, kau kembali?”
Gwen masih terjaga dan terus menunggu kedatangan lelakinya karena khawatir.
“Lihat ini. Aku menemukan koin Ratu Elizabeth II,” ucapnya, menunjukkan satu keping koin emas bergambarkan Ratu Elizabeth II pada Gwen.
__ADS_1