
Gwen takjub melihat Mervin yang bisa pergi dan kembali dari masa lampau. Baginya itu seperti sebuah magic saja.
Ditambah, lelakinya itu kembali dengan membawa satu keping koin emas untuknya.
“Mervin, aku senang kau kembali tanpa luka,” ucapnya melihat keadaan Mervin yang tak tergores sedikitpun oleh luka seperti sebelumnya saat membawa patung kristal Dewi Venus.
Mervin mengulas senyumnya sembari menaruh koin emas itu di tangan wanitanya.
“Tapi hanya ini yang bisa ku temukan dan ku ambil,” tandasnya, sebelum Gwen kecewa karena barang yang didapatnya kecil dibandingkan yang lainnya.
“Tidak, Mervin. Berapa pun Yang kau dapat aku tak mempermasalahkannya yang penting kau kembali dengan selamat. Meskipun ini kecil, aku tahu nilai jualnya tetaplah tinggi, karena ini barang antik,” tukasnya, membuat Mervin lega.
Mervin sendiri tak menyangka, ternyata analisanya benar. Dengan waktu di jam tangannya yang berhenti, juga dalam keadaan terdesak, dia bisa pergi ke masa lampau.
Beberapa hari berlalu.
Mervin yang sudah berhenti menjadi loper koran, lebih banyak waktu untuk santai di rumah. Tapi setiap pagi ia rutin keluar dari rumah Erik, seperti saat biasanya dia bekerja.
Namun dia setiap hari pergi ke rumah Kakek Ethan, untuk menghindari amarah Erik yang menjadi-jadi padanya.
“*Jika kau di rumah hanya bermalas-malasan saja sebaiknya kau bersihkan seluruh rumah ini!”
“Ingat, jika kau tak punya penghasilan untuk menghidupi putriku maka sebaiknya kalian bercerai saja*!”
Kalimat yang diucapkan oleh Erik selalu terngiang dalam benaknya. Dan ia tak mau hal itu sampai terjadi padanya. Maka dari itu dia memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah Kakek Ethan untuk menghindarinya.
Di rumah Kakek Ethan.
Mervin beraktivitas seperti biasanya. Dia masuk ke ruang baca dan membawa beberapa buku tentang sejarah yang belum dia sentuh. Begitulah aktivasnya setiap hari.
Menjelang sore dia baru akan pulang ke rumah.
Beberapa kali dia pergi ke masa lampau dan membawa barang antik lainnya. Dia menemukan kepingan koin emas dari zaman pemerintahan Raja Napoleon, juga lampu antik yang mirip dengan lampu Aladin.
Beberapa barang antik yang ditemukannya dijual dan hasilnya ditabung. Beberapa lainnya masih dia simpan.
Bahkan ia memajangnya di sebuah etalase khusus yang
dipesannya, untuk menyimpan semua benda antiknya tersebut.
__ADS_1
“Aku senang sekali, tabungan kita terus bertambah seperti ini,” gumam Gwen, menatap buku tabungan di tangannya.
***
Di jalanan biasanya Mervin berjualan koran.
Mervin sebelumnya memang memiliki langganan pembeli korannya. Ada pekerja staf kantoran, juga sopir dan beberapa orang lainnya yang rutin membeli korannya.
Salah satunya Tuan Anderson, dia seorang pekerja kantoran.
“Beberapa hari ini aku tidak melihat Mervin Padahal aku ingin membeli korannya hari ini,” gumamnya, masih mencari sosok Mervin.
“Ya, aku juga mencarinya.”
“Kalian apa tidak tahu? Mervin sudah berhenti menjadi loper koran. Entah apa yang dia lakukan sekarang,” tutur seorang pria menjelaskan.
“Berhenti menjadi loper koran?” ucap Tuan Anderson, menegaskan.
“Ya, dia mungkin saja membuka sebuah usaha atau lainnya.”
Tuan Anderson kemudian melanjutkan aktivitasnya dan kembali ke kantor untuk bekerja.
Tuan Anderson tiba di rumah Mervin, setelah bertanya pada orang-orang dan akhirnya menemukan rumah Mervin.
“Astaga! Apa benar dia tinggal di rumah mewah ini, tapi kenapa dia menjadi seorang loper koran? Atau dia mendapatkan suatu pekerjaan dengan gaji lebih banyak daripada berjualan koran, tapi apa?”
Ia mengamati dari kejauhan dan tak berniat bertemu dengan Mervin. Hanya ingin mencari informasi saja tentangnya.
Kebetulan sekali ada tetangga Mervin yang lewat dan dia pun bertanya padanya.
“Jadi begitu rupanya,” ucap Tuan Anderson, manggut-manggut mendengar cerita dari tetangga Mervin.
Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkannya, ia pun segera pergi dari sana sebelum Mervin melihatnya.
“Ck, Mervin yang miskin kini menjadi penjual barang antik? Darimana dia menempatkan barang antik tersebut? Apakah uangnya cukup banyak, hingga bisa membeli barang antik?!” decaknya, di jalanan, masih terpikirkan pada sosok Mervin.
Sungguh, ia heran sekali dan cukup penasaran bagaimana cara Mervin naik ke atas dengan waktu kilat.
Tuan Anderson lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
Ia meminta utusannya itu untuk mencari informasi tentang Mervin, tepatnya darimana dia punya modal besar untuk menjadi penjual barang antik.
***
Beberapa hari berlalu, tanpa sepengetahuan Mervin, di luar sana banyak pasang mata yang mengawasi dirinya juga mencari informasi tentangnya.
“Jangan sampai ketahuan, atau boss akan marah,” ucap seorang pria berpakaian serba hitam dan terlihat misterius.
“Ya, tenang saja. Aku akan mengecewakan Boss Anderson,”
Ya, mereka adalah utusan dari Tuan Anderson yang dikirim untuk menyelidiki Mervin.
Namun rupanya tak hanya mereka saja yang penasaran pada Mervin. Tapi ada beberapa orang lainnya juga yang jadi ikut penasaran lalu melakukan penyelidikan secara diam-diam pula. Tanpa sepengetahuan Mervin.
***
Setelah utusan yang dikirim oleh Tuan Anderson melaporkan semua yang diselidikinya pada pria itu, bahwa Mervin menjadi kaya dengan cara menjual barang antik. Maka pria itu pun mendatangi Mervin keesokan harinya.
“Tuan Anderson?” sapa Mervin, saat bertemu pria itu di jalan.
Saat itu Mervin sedang menuju ke rumah Kakek Ethan bersama Gwen.
“Ada yang ingin ku bicarakan denganmu,”
Tuan Anderson mendekat. Entah kenapa Mervin merasa tatapan pria itu aneh tidak seperti biasanya.
“Gwen, miggirlah dulu,” ucap Mervin, minta waktu. Meskipun ia sendiri juga bingung, ada urusan apa pria itu dengannya.
Setelah Gwen menjauh, mereka berdua bicara.
Langsung saja Tuan Anderson mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi.
“Mervin, selama ini aku selalu membantumu dan membeli koranmu setiap hari. Dan ku dengar kau sekarang menekuni bisnis jual barang antik. Aku ingin kau tunjukkan padaku caranya mencari barang antik sepertimu,” ucapnya, dengan tatapan tajam juga memaksa.
Mervin menautkan kedua alisnya. Bagaimana bisa pria itu mengetahui profesinya sekarang? Di tambah lagi, memaksanya menunjukkan cara mencari harta karun.
“Maaf, aku tak bisa, Tuan Anderson,” tolaknya, tegas.
Tuan Anderson sudah bicara baik-baik. Namun sepertinya ia tak dihargai, juga kebaikannya dulu tak diingat oleh Mervin, maka ia pun seketika geram.
__ADS_1
“Dasar tak tahu balas budi!” hardiknya geram, dan saat itu juga dia memakai kekerasan dan mulai memukul Mervin.