
Mervin hanya bisa pasrah saat mobil tadi semakin mendekati dirinya. Dia hanya bisa melakukan usaha sebisa mungkin untuk melindungi dirinya saja.
Dash! Mervin mengayunkan tangannya untuk memukul tepat saat mobil itu menghantam tubuhnya.
“Apa ini benar nyata?” pekiknya terkejut. Pukulannya tidak membuat mobil itu rusak namun malah tembus, sama seperti saat dirinya tadi menyentuh pengemis tadi.
Zap! Bahkan setelah mobil tadi berlalu menembusnya tanya mobil lain yang lewat dan menembus tubuhnya juga.
“Astaga, dunia apa ini sebenarnya?” Mervin yang terheran-heran kemudian kembali berjalan meneruskan langkahnya dengan tenang menuju ke tepi jalan.
Selama dia berjalan banyak kendaraan lalu lalang melintasi tubuhnya, namun dengan kejadian yang sebelumnya terjadi ia pun menyikapinya dengan tenang pula.
Mervin airnya tiba di seberang jalan. Tepat di depannya ada sebuah bank. Semua bangunan saat itu nampak kuno sesuai dengan tahunnya.
Sebelum masuk bank, dia berhenti di samping itu orang wanita yang barusan keluar dari bank. Mereka berdua mengobrol. Dan Marvin mendengarkan percakapan mereka.
“Kau mau ke mana setelah ini?”
“Entahlah, mungkin ke pusat perbelanjaan terdekat sini saja. Oh ya, aku punya hutang padamu untuk beli bensin tadi. Sebentar, aku akan bayar sekarang.”
Wanita itu mengeluarkan dompet dan beberapa lembar uang kertas dari dalamnya.
“Wow... uang kuno,” decak Mervin melihat uang kuno di tahun 1935 itu, membuat matanya hijau.
Sungguh ingin sekali dia mengambilnya selembar saja untuk koleksi di rumah. Tapi apa bedanya nanti dirinya dengan pencuri jika mengambil itu, meskipun dua orang yang tetap bisa melihatnya?
“Tidak-tidak! Aku bukanlah pencuri!” pekiknya, menyadarkan dirinya sendiri saat tangannya sudah memegang lembaran uang kertas tersebut dan tinggal menariknya saja.
“Ambil lah.” wanita tadi menyerahkan uang di tangannya pada temannya, sehingga terlepas dari tangan Mervin lalu berpindah tangan ke wanita lain.
__ADS_1
Mervin hanya membuang napas kasar, setelah dua wanita tadi pergi.
“Untung lah mereka berdua segera pergi jika tidak aku mungkin bisa saja kalap.”
Setelahnya Mervin berbalik dan menatap bangunan tinggi di depannya, sebuah bank kuno bercat putih bersih dengan lampu dinding di dekat pintu masuk.
“Seperti apa bank kuno itu?” gumamnya, penasaran.
Ia pun melangkahkan kaki masuk ke bangunan tinggi dan kuno itu. Saat tepat di depan pintu, dia berhenti saat memegang handle nya. Ia urungkan niatnya untuk menarik bintang tersebut dan lebih memilih untuk menunggu pengunjung lain yang datang ke bank.
Klak! Seorang pria menarik pintu hingga terbuka.
“Sebaiknya aku udah masuk bersamanya sebelum pintu itu tertutup.” Mervin masuk mengikuti pria tadi dengan langkah cepat.
“Ternyata seperti ini, bank kuno,” gumamnya takjub. bisa melihat sendiri secara langsung bangunan kuno. Serasa seperti melihat kelas kejadian secara langsung.
Kursi yang berada di sana semuanya terbuat dari kayu yang dipoles plitur mengkilap. Alat penghitungnya pun masih manual. Bahkan tak ada komputer, yang ada hanyalah sebuah mesin ketik.
Bahkan Mervin sampai berdiri di samping petugas teller yang kini sedang menghitung uang.
Iseng Mervin mengambil selembar uang tersebut untuk melihatnya.
“Uang ini masih baru. Bagaimana bila aku mengambilnya satu saja?” gumamnya, menatap selembar uang kertas bergambarkan Christopher Columbus.
Ia mengembalikan uang tersebut dan mengambil jenis uang pecahan lainnya, untuk melihatnya saja.
“Astaga! Apa aku tak salah lihat? Uang ini melayang seperti ada yang mengambil!” pekik petugas teller.
Uang itu masih melayang dan kembali ke tempatnya lalu uang yang lain juga melayang seperti itu.
__ADS_1
“Sepertinya petugas teller ini melihat saat aku mengambil uangnya,” lirihnya, baru menyadari aksinya mengundang perhatian petugas teller.
Mervin dengan berat hati mengembalikan uang itu ke tempatnya semula.
“Apakah aku berhalusinasi atau apa?” ucap petugas teller tersebut langsung menyentuh tengkuknya yang terasa dingin dan meremang. “Aku tidak percaya hantu itu ada.”
Setelah puas melihat-lihat isi bank, Marvin kemudian keluar dari sana. Ia kembali berjalan menyusuri trotoar, tanpa tujuan.
Di tengah jalan ada seorang wanita yang berlari mengejar seorang pria.
“Pencuri! Tolong tasku diambil pencuri!” teriaknya nyaring.
Melihat kejadian itu Mervin benar-benar tak bisa tinggal diam. Dia tak bisa melihat sebuah aksi kejahatan di depan mata tanpa bisa melakukan apapun untuk menolong seseorang yang tertindas.
“Tolong!!! Pencuri!!” Wanita itu kembali berteriak, dengan nafas tersengal.
Tepat di saat pencuri tadi lewat di depan Marvin Iya langsung menarik tas dari tangan pencuri tadi.
Shat! Tas tampak melayang di udara, meskipun Mervin saat itu sedang menggenggamnya.
Baik wanita dan pencuri tadi keduanya sampai membelakakan mata menatap tas yang melayang itu.
“H-hantu!!”
Pencuri tadi segera kabur dengan cepat dari sana. Bahkan wanita pemilik tas itu pun lari saat Mervin menyerahkan tas itu padanya.
“Nyonya itu malah takut, padahal aku hanya ingin membantunya.” desaunya.
Kini tas itu tergeletak di lantai dan dia segera memungutnya. Saat ia membukanya, ada beberapa lembar uang kertas.
__ADS_1
“Apa yang sebaiknya kulakukan?”