Twins Goals

Twins Goals
Chapter 37


__ADS_3

Yang Aya lihat di video video yang sering di tonton nya dengan teman nya saat mommy nya masih ada dulu memang berotot dan besar tapi tidak sebesar milik Arish. Aya bisa memastikan jika milik Arish masih menjadi peringkat pertama ter besar dan terseksi yang pernah Aya lihat. Dan yang paling nyata membuat nya kelimpungan.


Aya pun mulai menggerakkan badan nya walaupun rasanya kaki nya sudah kebas dan keram dia terus melakukannya dengan jongkok men service benda yang membuatnya kelimpungan itu. Arish hanya menikmati goyan*gan Aya sambil memainkan kedua tangan nya di puncak gunung kembar Aya sesekali memera*s nya.


Suara desah*an dan pekik an beradu dari bibir Arish dan Aya. Aya sudah berada di puncak nirwana nya sedangkan Arish masih menikmati goyangan Aya dan ekspesi nikmat Aya yang terlihat jauh lebih cantik berkali- kali lipat.


"Keluar kan sayang! " kata Arish sambil menjilat puncak keras menjulang di depan matanya itu.


"Arrrggghhhh! " pekik Aya sambil kaki nya menghimpit Arish dan mencapai klima*ks kedua kali nya karena perlakuan Arish.


"Ahhhh.. uhhhh! " desah Arish tak bisa bergerak karena kaki Aya yang menegang dan sekaligus merasakan denyutan hebat dari milik Aya di bawah sana. Arish frustasi karena tak bisa bergerak sedang denyut an di bawah sana menyiksa miliknya seolah ingin bergerak dengan cepat mengasah pedang.


Aya sedang mengatur nafas nya yang naik turun tapi sudah melonggarkan kaki nya yang menegang. Arish langsung membalik posisi berdiri tanpa melepas yang dibawah sana dan menaruh pant*at Aya di sandaran sofa sedang tubuh Aya luruh ke bawah, ke tempat yg di duduki mereka tadi, sedang pant*at nya yang di atas lurus dengan milik Arish.


Arish menuntut Aya untuk membuka lebar kedua paha nya dan Aya menurut.


"Let's play baby! " kata Arish kemudian mulai bergerak pelan menghujam lembah panas yang menjepit nya.


Permainan mereka pun terus berlanjut hingga nirwana telah Aya gapai beberapa kali. Arish pun sudah sampai pada puncak nya dengan erangan yang sangat keras dan lahar memuncarkan panas nya.


Seperti tak ada kata lelah, Arish menggendong Aya dengan tanpa melepaskan yang dibawah yang Aya rasa sudah kembali membesar di dalam nya menuju kamar Aya.


Dan mereka terus mengulang kegiatan menyenangkan itu sampai beberapa jam lamanya. Setelah sama sama capek mereka berdua pun tertidur sangat lelap di balik selimut itu dengan terus menempel padahal tidak di lem.


Hingga mereka melupakan sarapan, makan siang, bahkan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 malam, matahari sudah menghilang tapi mereka masih lengket di dalam selimut seperti tidak ingin saling melepaskan setelah selesai olahraga hingga pukul 14.00 tadi.


*****


Arvi yang dari kemarin mengikuti sang kakak kini tengah menatap apartemen tempat kakak nya masuk sejak pagi tapi tidak juga keluar sampai jam segini.


Sedangkan sang CIA bayangan sudah menyelesaikan pembayaran sebuah unit di lantai 6 tepat nya jarak beberapa unit dari unit milik Aya sejak siang tadi.

__ADS_1


Arvi yang bosan menunggu sang kakak keluar dari unit nya dan wanita itu, akhir nya memutuskan untuk datang ke coffee shop yang bersebrangan dengan apartemen Be mate paseo de gracia.


Bibir Arvi tersungging penuh sedang matanya menyorot sendu pada sebuah map yang diterima nya siang tadi dari sang CIA bayangan.


"Dayanara Dolores! " gumam Arvi sambil menatap map itu tanpa henti, melihat identitas wanita berkebangsaan Italia. Keturunan Italia-Spanyol. "Kini aku tau kak, segila apa otak mu saat ini! " lanjut nya.


Tanpa diberitahu pun Arvi sudah tau sejak menyebut nama wanita milik kakak nya itu.


"Bagaimana bisa kamu sejauh ini kak? Bagaimana bisa kamu sudah lupa arah nya untuk kembali? Apa kamu sengaja merubah arah mu pulang? " gumam Arvi.


Arvi masih saja mencerna isi otak kakak nya itu sedari siang. Arvi sungguh tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya.


Bagaimana bisa sang kakak menjalin hubungan dengan seorang wanita yang berbeda keyakinan dengan nya bahkan sudah berhubungan badan dengan gadis itu. Bahkan menikah pun mereka tak bisa. Lalu harapan apa yang kakak nya itu lambungkan hingga mengikuti kekasihnya kemari.


Bagaimana bila abi tau semua ini? Ahh Arvi sampai pusing menentukan langkah yang harus dia ambil atau dia akan gagal membawa sang kakak menuju abi nya.


Arvi tidak bisa tiba tiba muncul dan membawa Arish, yang ada mereka akan berkelahi dan tidak menemukan titik temu nya.


Hingga Arvi mengingat Kaelly, kemudian menelpon nya.


"Assalamualaikum Vi, tumben telpon aku setelah berminggu- minggu menjauh karena ajakan menikah yang aku ajukan! Apa sekarang kamu menyetujui? " kata Kaelly saat mengangkat telpon tanpa mendengarkan ucapan Arvi.


"Sudah? " ketus Arvi.


"Hehehhe, iya! "


"Bisa bantu aku ke spanyol sekarang? " kata Arvi to the point.


"Arish ketemu? " jawab Kaelly semangat 45 membara.


"Hmmm. Datanglah kemari dan pisahkan Arish dengan teman tidur nya saat ini, lalu kita bawa Arish ke Istanbul. Video yang kemarin masih ada bukan? " tanya Arvi.

__ADS_1


"Masih dong, aku menyimpan nya jika sewaktu- waktu aku ketemu dengan Arish!" kata Kaelly.


"Segera kabari jika kamu sudah sampai di barcelona! "


"oke Arvi! " jawab Kaelly kemudian Arvi menutup panggilan nya dengan Kaelly.


Arvi menutup map di depan nya itu "Kita lihat aja kak, apa yang akan terjadi. Kamu akan menyesal atas semua yang kamu lakukan! " gumam Arvi sambil berdiri menuju apartemen dan kembali ke unit nya.


Saat Arvi berdiri, Arvi melihat sang kakak berjalan keluar dari apartemen menuju selatan kemudian Arvi kembali duduk mengamati sang kakak yang berjalan terus menuju sebuah restoran.


"Rupa nya kau ingat makan juga kak? Aku pikir hanya kelonan aja yang ada di pikiran mu saat ini! " gumam Arvi sambil terus menatap kakak nya.


Setelah sekitar 30 menit Arvi melihat sang kakak keluar dari restoran itu dan membawa paper bag besar tas makanan merk restoran yang baru saja kakak nya masukin.


"Bahkan kau mau repot- repot membelikan makanan untuk wanita mu itu kak? Se bucin itu kah? Kamu sangat menyayangi dia kah? Aku harus apa kak? " gumam Arvi sambil melihat Arish memasuki lobi apartemen.


Arvi pun bergegas dan menyusul Arish. Arvi melihat sang kakak masuk ke dalam lift di ujung sana. Arvi pun melihat panah jalan ke atas menuju lantai 6.


"Informasi yang aku terima ternyata benar benar akurat! "


.


.


.


.


.


Happy Reading semuanya 😊

__ADS_1


Maaf ya mak outbound eh othoor kemarin hiatus lama🤣🙏 ini InsyaAllah rajin up lagi😊 terimakasih yang sudah setia menanti twins goals 💅


__ADS_2