
"Anakku." kata Aya sambil menerima bayi merah itu untuk di tahun di dada nya.
Arish menciumi Aya sambil mengucapkan terimakasih berulang-ulang dan bergantian menciumi wajah putra nya itu.
Arish yang melihat bayi mungil itu tengah mencari sumber kehidupan nya pun langsung teringat nasib bayi ini, dan dalam waktu dekat pasti akan meminta surat untuk kelegal an bayi ini.
Setelah semua IMD selesai, Aya sedang di bersihkan dan bayi nya juga sedang di bersihkan Arish langsung mengirim orang untuk mengurusi semua surat nya dan segera kemari untuk diberikan surat Aya untuk mengurus bayi.
Arish membuka gas milik Aya yang dibawa sambil mencari baju ganti Aya tadi, kemudian menyerahkan pada orang nya untuk diuruskan pe daftar an menikah dan buku nikah agar bisa melegalkan anak nya.
Setelah semua sudah selesai, Aya sudah masuk ke ruang rawat, dan baby nya masih ada di ruang bayi untuk pemeriksaan dan juga observasi bayi.
"Maafkan aku Ay, aku tadi mengirim dokumen mu untuk di uruskan anak buahku buku nikah, aku mendaftarkan pernikahan kita secara negara terlebih dahulu untuk kelegal an anak kita. " kata Arish.
"Hmm. Kenapa kamu yakin dia anak mu? " kata Aya pada Arish.
"Aku tau kau tidak pernah menikah, aku tau kau pergi untuk menghindari ku karena Kaelly bukan? Aku tidak perlu bertanya untuk tau dia anakku Ay. " jawab Arish penuh keyakinan pada Aya.
__ADS_1
"Hmm. iya. " jawab Aya yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis, kamu tidak sendirian. Tidak ada lagi jurang pemisah yang kamu katakan delapan tahun lalu. Surga kita sudah sama. Apa kau masih menolak lamaran ku?" tanya Arish pada Aya.
"Iya aku menolak nya, lamaran yang sangat tidak romantis." jawab Aya sambil merengut gemas.
"Hahaha, tapi dari ekspresi mu kau sangat menantikan lamaran ku sayang. " jawab Arish.
"Ih, gak ya. " kata Aya.
"Hahahaha... Lucu nya istri negara ku, calon istri sah agama ku." canda Arish.
"Arish, maafkan aku. Aku menggunakan kartu yang kamu berikan untuk-" kata Aya terpotong.
"Itu hak mu, berkat kamu memakai nya aku jadi tau keberadaanmu. Ambillah itu hak mu dari dulu sampai seterusnya. Itu nafkah dari suami kaya mu ini. " kata Arish.
"Hahahaha... Suami sombong. " jawab Aya sambil tertawa.
__ADS_1
Suasana ruang rawat itu sangat hangat penuh dengan tawa mereka. Arish yang mengakui kesalahan nya dan Aya yang mengakui kesalahan nya juga, serta percaya bahwa memang masa yang mereka lewati adalah ujian dari Allah.
Allah tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan mereka dan Allah akan memberikan yang kita butuhkan, yang terbaik untuk diri hamba-Nya di waktu yang terbaik seperti Arish dan Aya.
Seperti Aya yang dipertemukan dengan Arish di waktu terbaik dan juga keadaan terbaik. Keadaan saat mereka sudah menuju surga yang sama dan Allah yang sama, bukan karena paksaan Arish, tapi Aya memang selama delapan bulan mencari Tuhan nya dan mempercayai jika Allah adalah Tuhan nya yang Hak, dan Allah satu dan tidak ada dua nya.
Penderitaan tidak akan terjadi tanpa henti, dan kebahagiaan juga tidak akan selamanya kecuali di akhirat. Aya dan Arish sangat paham kata-kata itu dan membawa nya menjadi pedoman menyelesaikan masalah dan juga keadaan mereka.
Persaudaraan yang erat membuat mereka bisa saling menguatkan sebagai saudara dan saling melengkapi peran. Ketiga saudara itu kini sudah bahagia dengan hidup dan pasangan mereka masing-masing.
...◦•●◉✿TAMAT ✿◉●•◦...
"Ahhhh... tidak sabar untuk menghukum mu nanti setelah Akad saat masa nifas mu selesai. " ~ Arish
"Tidak sabar menikmati hukuman mu lagi. " ~ Aya
"Sayang, kita harus ke Istanbul dan memulai hidup baru kita. " ~ Arvi
__ADS_1
"Dengan penuh kebagian! " ~ Zahra
"Aku bahagia, adik-adik ku sudah bahagia dengan hidup mereka. "~ Al- Fatih