Twins Goals

Twins Goals
Chapter 60.


__ADS_3

"Tidak pak, Anak bapak lahir dengan usia 42 minggu. Selama ini ibu Aya selalu rutin memeriksakan kehamilan nya setiap bulan sendiri dan saya sangat terharu untuk bu Aya yang sangat kuat. 7 bulan yang lalu datang dengan keadaan hamil tiga bulan." jawab suster itu dengan senang.


"Begitu ya. " jawab Arish dengan jantung yang tengah berlari maraton.


Perasaan nya campur aduk karena pemikiran nya tentang anak yang akan di lahirkan Aya, atau entah karena akan bertemu Aya.


"Silahkan pak saya antar! " kata suster yang baru tiba.


"Terimakasih Sus. " kata Arish pada suster yang tadi di tanya pertama kali. Dan suster itu tersenyum sambil menjawab Arish.


Arish ditemani suster menuju ruang bersalin yang cukup jauh dari resepsionis. Semakin banyak langkah yang Arish ambil semakin berdetak pula jantung nya.


Ceklek


Arish bisa melihat ruangan putih itu dengan dokter yang tengah mengelus pinggang seorang ibu yang tengah berdiri sambil memegang lutut nya membelakangi pintu.


"Awww... Sakit dok. " rintih perempuan itu.


Deg


"Suara Aya! " batin Arish.


"Ada apa suster? sabar yang bu! " jawab dokter dia arah masih sambil mengelus pinggang ibu hamil itu.


"Maaf dokter, saya mengantar suami nyonya Aya. " kata suster itu.

__ADS_1


Deg


"Oh suami nya, kemari pak temani istri nya. " kata Dokter itu dan sontak membuat Aya berbalik.


Deg


"Arish.. " gumam Aya dengan ekspresi terkejut nya.


"Aya.. " gumam Arish sambil tak kuasa menahan air mata nya.


Arish kemudian langsung a mendekat dan mendekap tubuh Aya erat-erat. Air mata Arish tak mampu lagi dia bendung karena menemukan gadis nya juga rasa bersalah yang memenuhi hati nya.


Arish bukan orang bodoh yang mempertanyakan bayi dalam perut Aya, karena usia kehamilan yang sembilan bulan sedangkan Arish mengambil perawan Aya delapan bulan lebih 2 minggu yang lalu.


Ditambah penampilan Aya yang yang kini tenga memakai baju panjang ala bersalin rumah sakit dengan kerudung yang membalut kepala nya.


Tak beda dengan Arish, Aya pun menangis terisak sambil memeluk Arish. Tak bisa di ungkapkan bahagianya Aya saat Arish datang saat dirinya akan melahirkan anaknya.


Dokter dan suster yang melihat pun tersenyum haru, dokter mengira jika suami bu Aya itu baru saja pulang dari luar kota.


Kemudian suster keluar dari ruangan sambil memberi isyarat pamit pada dokter nya, karena tidak ingin mengeluarkan suara mengganggu pasangan yang tengah menumpahkan kerinduan nya.


"Hiks... Hiks.... Aaaaaa huaaa Sakiiittttt dok.. " tangis dan keluh Aya sambil memeluk erat Arish.


Arish langsung melonggarkan pelukan namun di tahan oleh Aya yang malah memeluk nya dengan Erat. Arish kemudian melakukan seperti yang dokter lakukan, tangan nya mengusap pinggang Aya.

__ADS_1


"Ya begitu pak, itu bisa meredakan sakit nya. " kata dokter itu sambil memeriksa pembukaan.


Arish bisa merasakan tangan dokter di bawah dan Aya melebarkan kaki nya.


"Sabar ya sayang, kamu hebat... Kamu ibu yang kuat Aya ku." kata Arish dengan suara parau sambil mengusap punggung Aya karena Arish masih belum mampu menghentikan laju air mata nya.


"Aaaaaa... Sakiiiiii hiks... hiks. " keluh Aya tak bisa menjawab ucapan Arish..


"Wah... Alhamdulillah bu pembukaan nya sudah lengkap. Sudah saat nya mengejan, seperti nya anak nya sudah tidak sabar bertemu ibu dan ayah nya. " kata dokter itu sambil menuntun Aya dan Arish ke arah kasur.


Arish membantu membaringkan Aya dengan tidak memperdulikan wajah nya yang sudah penuh air mata. Yang ada dalam pikiran Arish hanya Aya, tidak perduli dan tidak malu walaupun ada dokter di sana.


"Kamu kuat sayang. "


.


.


.


.


.


Happy Reading semuanya

__ADS_1


__ADS_2