Twins Goals

Twins Goals
Chapter 59.


__ADS_3

"BERANI NYA KAMU MENGUSIR KU RISH! " teriak Kaelly sambil di tarik oleh asisten pribadi Arish.


"AKU AKAN MENGHANCURKAN MU DAN J A L A N G ITU! " teriak Kaelly kemudian keluar dari ruangan Arish. Sedangkan Arish hanya diam menatap kepergian Kaelly.


Arish kemudian melanjutkan pekerjaan nya sambil melihat ponsel dan mengamati nya, Arish sangat berharap menemukan keberadaan Aya, hanya mengetahui saja apakah dia sudah bahagia dengan hidup nya apa tidak.


Hingga tak sampai 30 menit Arish terdiam sambil melihat ponsel nya ada sebuah notif.


Ya, setelah sekian lama menunggu notif laporan penarikan pertanda black card nya di gunakan oleh Aya akhirnya waktu nya datang juga.


Hah


"Rumah sakit? " gumam Arish sambil melihat notif yang muncul dari bank swiss nya.


"Apa kamu sakit Ay! Suami kamu tidak ada uang? Yaman? kamu ada di Yaman? kota seribu bidadari?" gumam Arish berkecamuk.


Kemudian dengan segala kemelut pikiran yang memenuhi otak Arish, Arish berangkat menuju bandara sambil menghubungi pilot untuk segera mendapat ijin terbang ke Yaman.


Beruntung jarak dari Istanbul ke Yaman tidak terlalu jauh, hanya harus menempuh perjalanan selama 3-4 jam saja. Arish khawatir dengan keadaan yang harus Aya jalani.


Ini kali pertama selama perpisahan dengan Arish, dia menggunakan kartu yang Arish berikan berbulan-bulan yang lalu.


Arish menduga jika Aya dalam keadaan yang tidak baik, Arish sangat khawatir dan lepas landas dalam keadaan galau sambil menghubungi adik nya.


"Assalamualaikum dek! " kata Arish.

__ADS_1


"Waalaikumsalam kak, Ada apa? " tanya Arvi pada Arish.


"Maaf sekali kamu tidak bisa memperpanjang waktu di Indonesia, karena aku sekarang harus terbang ke Yaman! " kata Arish.


"Ke Yaman? ada hal urgent apa kak? " tanya Arvi.


"Nanti aku ceritakan kalau sudah pulang, segera lah ke perusahaan dek, jangan perpanjang waktu cuti mu. Nanti kalau urusan ku sudah selesai, silahkan lanjutkan honeymoon nya! " kata Arish.


"Iya kak, setelah dari Yaman aku akan perintahkan pilot untuk mengurus ijin terbang dan landas ke Indonesia." jawab Arvi.


Setelah menelpon adik nya Arish sedikit bisa tenang untuk waktu yang akan dia gunakan di Yaman.


Penerbangan 3.30 menit itu terasa seperti satu tahun untuk Arist, sangat lama seolah pesawat itu tidak memiliki landasan untuk landing.


Setelah penantian panjang, akhirnya pesawat pribadi milik keluar Kahraman itupun landing dengan aman dan Arish langsung keluar tergesa-gesa menuju mobil yang menjemput nya.


"Queen Elizabet ll hospital pak, segera ya! " titah Arish saat memasuki mobil.


Setelah hampir 30 menit mereka sampai di rumah sakit yang di tuju oleh Arish. Arish berlari menuju resepsionis.


"Permisi suster, pasien Dayanara Dorolles yang empat jam yang lalu saat melakukan pembayaran di sini berada di ruang apa ya? " tanya Arish sambil menunjukkan notif di ponsel nya.


"Oh, Ibu Aya ya pak? Apakah bapak suami nya? " tanya suster nya.


"Berarti Aya datang sendiri an, jika suster menanyakan suaminnya! " batin Arish.

__ADS_1


"Ya Sus. " jawab Arish berbohong.


"Nyonya Aya masih berada di ruang Observasi sambil menunggu pembukaan nya sempurna pak. " jawab suster itu.


"Hah? " jawab Arish bingung.


"Iya Pak, tunggu sebentar saya minta tolong teman saya untuk mengantar bapak ke ruang bersalin. " kata suster itu.


Deg.


"Bersalin? Melahirkan? Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus? 8 bulan lalu kita berpisah... Jadi? Apa anak ku? " batin Arish dengan jantung yang menggila.


"Baik sus, apa istri saya melahirkan prematur? " tanya Arish memastikan.


"Tidak pak! "


.


.


.


.


Happy Reading semuanya

__ADS_1


__ADS_2