
Dan detik berikut nya, Arish seperti terjatuh dari luar angkasa, tubuh nya tak bertulang rasanya melihat peti jenazah warna putih tersaji di depan nya.
"Apa-apa an ini! " marah Arish dengan dada naik turun.
"Abi telah pulang! "
"BOHONG!!!! INI SEMUA BOHONG KAN ARVI. JANGAN BERCANDAAA! " teriak Arish sambil memegang kerah adik nya yang tengah terisak tak lagi dia tahan.
Ambulans itu pun mulai berjalan menuju rumah duka keluarga Kahraman untuk mensholatkan dan kemudian menguburkan jenazah abi nya sambil menunggu abang nya transit dan sekarang dalam pesawat menuju Istanbul kembali.
"ABIII! " teriak Arish sambil memeluk peti jenazah itu sambil menangis terisak. "No. Ini pasti mimpi. Bangun Arish bangun! " racau Arish sambil memukul i lengan nya sendiri.
Arvi menahan tangan sang kakak dan memeluk nya erat sambil menangis terisak bersama tanpa kata apapun, hanya tangisan yang mampu mereka lakukan saat ini.
Arish dan Arvi sangat terpukul dengan meninggalnya Ridwan dalam waktu yang sangat singkat, terlebih lagi Arish menyangka jika abi nya telah sembuh karena semalam semua terlihat baik dan berbincang bersama. Arish tidak menyangka jika semalam menjadi moment terakhir bersama abi nya.
Arish memejamkan mata nya dan menetralkan jantung nya yang tidak karuan, dada nya naik turun, nafas nya susah dan rasa nya Arish tak ingin membuka mata. Penyesalan yang belum hilang itu bertambah bekali-kali lipat karena menghabiskan sisa usia abi nya dengan penantian.
"Ampuni Arish bi, Hiks. Arish hah hah hiks abi! " tatap Arish terpukul dengan kepergian sang.
Arvi yang paling merasa kehilangan, karena delapan tahun terakhir Arvi habiskan hari nya bersama abi, di kantor di rumah. Arvi hanya fokus mengambil tanggung jawab abi nya dan merawat abi nya, bahkan beberapa kali menolak menikah karena tanggung jawab yang sangat berat yang dia emban dan juga memikirkan abi nya.
Arish tidak sadarkan diri di pelukan adik nya. Arish dihantam rasa bersalah yang teramat besar. Arish dihantam penyesalan pada abi nya.
Arvi memeluk dan mengelus kakak nya dengan penuh rasa sayang. Kakak yang di cari nya delapan tahun lamanya. Arvi bersyukur kakak nya sempat bertemu dan berbincang dengan abi sebelum abi menghembuskan nafas terakhir nya.
Keadaan rumah duka sudah banjir dengan orang, Tuan besar keluarga Kahraman berpulang dan Seluruh rekan kerja datang juga beberapa orang juga warga panti asuhan karena Ridwan rajin menyantuni panti asuhan bertahun-tahun lamanya. Para pengurus beberapa panti asuhan juga terlihat hadir.
__ADS_1
Banyak yang ikut bersedih dengan berpulang nya tuan besar keluarga Kahraman itu yang terkenal sangat penyayang.
Arvi menemui semua tamu untuk mengucap bela sungkawa bersama Abang fatih yang datang hampir siang, karena Arish tidak sadarkan diri. Arish sangat terpukul dengan kepergian abi nya.
Siang hari itu juga setelah abang datang dan Arish bangun, mereka semua sepakat untuk langsung memakamkan abi nya, dengan tubuh ringkih nya Arish di tumpang dia anak buah Arvi pergi ke pemakaman.
Prosesi itu penuh air mata dan doa untuk menghantar Ridwan kembali ke pangkuan pemilik nya, sang Khalik.
Arish mencium sekali lagi seluruh wajah putih tak berdarah kamu itu beberapa kali sebelum di masukkan ke liang lahat.
"Selamat jalan bi, tunggulah kami anak anak mu. Titip salah rindu kami untuk uma. Berbahagialah di surga dengan uma! " lirih nya.
Arvi dan Fatih ikut merasakan sesak yang Arish rasakan, tentu nya penyesalan menggenang di hati nya.
Pemakaman pun selesai dan mereka semua kembali ke rumah duka yaitu mansions keluarga Kahraman dan para pelayat pulang hanya menyisakan beberapa penghuni panti yang tetap di rumah duka menunggu anak anak yatim piatu datang untuk mendoakan Ridwan.
Hingga ba'da isya mereka pun pamit dan akan kembali lagi besok untuk kembali mendoakan Ridwan sampai 7 hari di mansions keluarga, dan melanjutkan di panti masing masing selama 40 hari.
Setelah mereka semua pamit, Arvi, Arish dan Fatih saling pandang di ruang keluarga mansions Kahraman itu, saling diam cukup lama.
"Mau ke kamar abi tidak! " kata Fatih memecah keheningan di antara adik-adik nya.
"Boleh bang! " jawab Arvi dan Arish hanya diam sambil mengangguk. Mereka bertiga pun naik ke lantai dua dan masuk ke kamar abi nya.
Kamar tempat abi nya menghabiskan 29 tahun mengenang mendiang istri tercinta nya, tempat nya merapalkan doa doa melangit untuk Khadijah nya. Tempat abi nya menumpahkan segala kerinduan mendalam pada uma mereka.
"Dingin sekali bi, tidak ada yang menghangatkan kamar ini! " kata Fatih sambil masuk ke dalam dan duduk di kasur tempat biasa di duduk berdua dengan abi nya.
__ADS_1
"Abi sudah tidak lagi tersiksa karena luka kehilangan uma, pergilah bi. Terbang yang tinggi menggapai uma. Uma sudah menunggu mu! " gumam Fatih seolah berbicara seperti biasa dengan abi nya.
"Bang! " kata Arvi dengan suara parau nya.
"Kemarilah adik adikku. Abang tau kalian sangat kehilangan abi. Lepaskan malam ini dan kembali menjalankan hidup besok. Abi mengharapkan itu! " kata Fatih sambil merentangkan kedua tangan nya.
Arvi dan Arish langsung berlari memeluk abang mereka dan menangis sesenggukan, tangisan yang menyayat hati Fatih hingga Fatih tak lagi menahan diri nya.
"Ya Allah tangisan ini bukan ratapan tidak menerima ketentuan mu ya Rabb, ini adalah luapan hati kami anak anak yatim piatu yang sudah di tinggal pergi orang tua kami! " guman Fatih karena adik adik nya menangis dengan keras, terisak dan bergetar di pelukan nya.
Tiga laki-laki dewasa itu menangis malam ini bertiga, hingga lelah dan ketiga nya tidur di kamar abi mereka bertiga. Aroma abi nya masih kental di indra penciuman. Hingga mereka bertiga terlelap sepanjang malam hingga subuh datang.
.
.
.
.
.
Happy Reading semua nya.
Turut berduka cita ya Fatih, Arish, Arvi. Mak othor tadi datang ke pakaian abi kalian, tapi gak berani nyapa karena kalian terlihat sangat sedih.
๐๐๐๐
__ADS_1