Twins Goals

Twins Goals
Chapter 41


__ADS_3

"Rish, apa dia berbeda dengan kita? " tanya Fatih melihat kegelisahan Arish.


"Iya bang, dia anak Tuhan yang menolak menjadi hamba Allah! " jawab Arish pelan sambil menoleh ke abang nya. Arish kemudian memeluk abang nya. Arish memantapkan diri untuk menyelesaikan rasa bersalah dan kesalahpahaman ini, setelah nya memikirkan Aya.


"Aku rindu abang! " kata Arish di pelukan sang abang sambil mengingat isi di video itu. Arish merasa bersalah pada abang nya.


Fatih hanya mengelus punggung kokoh adik nya yang sudah delapan tahun tidak bertemu. "Abang apalagi rish, abang sangat rindu adik abang yang berisik ini selama delapan tahun ini! " jawab Fatih sambil mengusap punggung Arish.


Arish pun diam sambil menikmati pelukan hangat itu. Dan Arvi datang menyusul ikut memeluk abang dan kakak nya.


"Abang tau, setiap hari abi akan memeluk ku seerat ini sambil mencium ku dua kali, seolah satu nya abi kirimkan padamu. Seolah Abi memeluk mu kak. Abi begitu merindukan mu setiap hari nya! " kata Arvi saat masuk ke dalam pelukan nya.


"Apa abi akan memaafkan kakak, kakak sudah bersalah pada Abi bang, dek! " kata Arish masih di pelukan sang abang dan adik.


"Tentu saja, abi tidak pernah membenci anak nya, abi sangat merindukan mu! " kata Arvi dan mereka berpelukan cukup lama setelah itu melerai pelukan masing-masing dan kemudian tertawa.


Entah apa yang di tertawa kan, 8 tahun masa berpisah yang sudah terjadi atau momen ketemu pertama kali setelah berpisah yang lucu. Mereka hanya ingin tertawa dan melihat tawa di masing masing wajah yang dirindukan.


6 jam perjalanan itu terasa cepat berlalu, biasanya Arish yang paling tidak suka berdiam diri di pesawat karena tersiksa dengan ingatan nya, kini memilih memutar balik ingatan nya tentang abi.


Tentang pertemuan nya di makam, tentang masa kecil nya. Dan semua ucapan abang nya yang ada di video. Arish kini paham sejauh apa cinta sekaligus rasa bersalah pada uma nya, dan Arish kini paham jika abi nya memilih untuk sendiri hidup dengan bayangan umma nya sampai maut memisahkan nyawa dengan raga nya.


Entah karena Arish sudah merasakan cinta dengan Aya, atau karena video. Ditambah selama di pesawat Arvi sudah menelpon beberapa orang dengan ekspresi lelah nya. Semakin merasa bersalah Arish pada Arvi, karena memberi nya beban besar di pundak adik nya.


Pesawat itu sudah landing di bandara istanbul, dan masuk ke dalam mobil jemputan dan di minta Arvi.


Mereka semua langsung menuju rumah sakit.


Seketika mereka menjadi pusat perhatian karena tiga pria tampan, dengan aura dan wibawa yang di bawa masing-masing membuat semua orang berdecak kagum, jajaran rumah sakit menunduk hormat pada para pewaris kahraman group yang membawahi rumah sakit itu.

__ADS_1


Jantung Arish berdetak kencang saat langkah nya mendekati kamar abi nya.


ceklek


"Selamat datang tuan, dua hari ini tuan besar masih seperti kondisi sebelum nya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan! " kata suster yang menjaga di sana.


"Pergilah! " jawab Arvi singkat.


Kemudian Arvi menatap kakak nya dan abang nya kemudian mendekat ke ranjang abi nya dan duduk di sebelah abi.


"Arvi datang bi, lihat Arvi datang bersama abang dan kakak. Abi rindu kakak kan? Kakak datang untuk meminta maaf pada abi! " ucap Arvi sambil memeluk abi dan air mata yang kurang ajar menetes tanpa permisi.


Arish seperti di hantam baru besar di dada nya. Sesak menyerang dan air mata tak bisa Arish hentikan.Keadaan abi yang tak pernah ada dalam bayang nya. Wajah tua Ridwan mengoyak hati Arish. Rasa bersalah kian mendera saat mendengar seru nafas adik nya yang Arish tau jika dia sedang menangis.


Arish pun mendekat di sebelah adik nya dan ikut bergabung memeluk tubuh lemah dan tidak sadarkan diri Ridwan.


"Abi, maafkan kakak bi. A ab abi bangun ya. Kakak rindu sekali dengan abi. Arish sayang sekali dengan abi! " kata Arish sambil memeluk abi sekaligus adik nya.


monitor untuk deteksi kehidupan jantung Ridwan kemudian naik drastis dan turun drastis tidak konsisten seperti tadi, dengan tubuh Ridwan yang mulai bergetar.


Dokter yang memantau langsung berlari secepat dia bisa berlari, dan memeriksa tuan besar mereka itu. Arish dan Arvi menjauh sambil berpelukan saling menguatkan.


Dokter berusaha keras untuk mengembalikan kondisi nya, akan tetapi angka itu semakin menurut dan terus menurut. Air mata tak lagi bisa Arvi bendung. Arvi memegang kaki Ayah nya.


"Abi harus bangun, Arvi mati-matian mencari kakak untuk abi biii. Arvi tidak sanggup harus abi tinggal. Apa abi mau meninggalkan Arvi. Bii Arvi capek, Arvi lelah hati, Arvi lelah fisik. Hiks. Arvi tertekan, Arvi menanggung beban besar sendirian, Hiks. Bii Arvi kuat karena Abi. Bangun Bi! " ratap Arvi dengan suara parau nya dan keras sambil menumpukan dahi nya di kaki abi nya. Tangis Arvi tak lagi dia tahan. Dada nya sesak, sakit melanda hati terdalam nya.


Orang yang mati-matian dia jaga dengan harapan akan sadar saat membawa kakak nya, nyata nya malah dalam kondisi buruk. Alasan nya mampu berdiri di gempur keras nya masalah dan dunia itu karena abi nya.


TIT

__ADS_1


Sirine panjang dari monitor itu menandakan telah habis nya masa Ridwan di dunia.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading semua nya


Terima kasih sayang nya othor yang sudah setia menunggu dan mendampingi Arvi dan Arish di kehidupan fana halu ini🤣


Satu hari satu bab ya othor update.


kalau like dan komentar banyak bisa nanti othor crazy up untuk kalian.


Jangan lupa baca karya othor yang lain sambil menunggu update. My Favorit fuckboy juga gak kalah seru nya. Yang suka dunia pernikahan cus ke sana. Yang mau tengok rudal Amerika Edward gegas ke sana.



gegas, sambil tungguin update besok😊

__ADS_1


eh boleh deh kalau like nya lebih dari 20, othor update lagi nanti siang😊


__ADS_2