
"Abi, Arish mencintai wanita yang tidak satu tujuan dengan Arish, Arish mencintai wanita yang berbeda keyakinan dengan kita ni. Apa yang harus Arish lakukan bi! " racau Arish sambil meletakkan dahi nya di pundak abi nya.
"Rish! " suara lemah Ridwan sambil mengelus kepala putra nya itu.
"Abi! Dokter! " panggil Arish sambil memencet tombol di ranjang karena sambil memegang tangan abi nya dan menatap mata abi nya intens dengan air mata memenuhi mata itu. Ridwan tersenyum sambil mengangguk menenangkan putra nya.
Dokter datang dan memeriksa keadaan Ridwan. Ridwan mengikuti instruksi dokter sambil terus memandang Arish sambil memegang tangan nya, seolah rindu memenuhi hati nya. Rindu yang teramat sangat itu.
Hingga dokter memberitahu jika keadaan Ridwan membaik dan jangan banyak bicara terlebih dahulu, karena masih sangat lemah setelah koma hampir 2 minggu lamanya.
Arish duduk di sebelah abi nya sambil menumpukan kepala nya di pundak abi nya. Tak ada kata mampu berucap dari bibir Arish maupun Ridwan. Kedua nya terdiam sangat lama menyelami hati mereka masing-masing.
Kedua laki-laki yang tidak bisa mengungkapkan isi hati mereka itu saling menikmati rasa lega masing-masing, jantung mereka sepakat tertaut dan kerinduan itu lebur dengan kehadiran satu sama lain. Ridwan tersenyum dan tangan nya mulai terangkat membelai rambut putra nya yang ada di pundak nya.
Putra nya yang delapan tahun lalu pergi dan kini sudah kembali, putra nya sudah sangat dewasa. Ridwan membelai lembut dengan penuh rasa kasih dan sesal.
"Maafkan abi, tidak menemani mu di masa sulit mu. Hingga kamu sekarang sudah sangat dewasa! " kata Ridwan penuh penyesalan. Pikiran nya tiba-tiba kembali di 21 tahun yang lalu, saat pertama kali bertemu dengan Fatih. Rasa sesal, rasa senang, rasa sakit, mendominasi diri tanpa sadar air mata nya menetes.
"Maafkan Arish bi, Arish yang salah karena salah paham pada abi. Ampuni Arish bi! " kata Arish dengan suara parau menahan tangis nya. Arish yang diusap penuh sayang oleh abi nya juga di penuhi perasaan yang sama, sedih, senang, sesal, rindu, memenuhi hati nya.
Arish mendongak kepala dan melihat Abi nya berurai air mata, kemudian Arish memeluk abi nya juga dengan uraian air mata. "Maafkan Arish bi, Arish menyesal. Arish berdosa dengan abi, Arish anak durhaka bi! " keluh Arish di pelukan abi nya.
"Bukan, kamu anak yang luar biasa untuk abi. Arish anak sholeh nya abi! " kata Abi sambil memeluk putra nya
Kedua nya berpelukan dan Arish menumpahkan segala kerisauan hati nya juga pujaan hati nya. Abi sangat terkejut mendengar cerita putra nya yang mencintai wanita yang berbeda agama pun dengan putra nya sudah berzinah beberapa kali.
"Arish, tentu kamu sudah mendengar kisah abi dan uma bukan?" kata Ridwan.
"Iya abi, Arish jadi paham kenapa abi sangat mencintai uma! " jawab Arish.
"Bukan hanya itu, uma wanita yang lembut, baik, cantik luar biasa MasyaAllah, dan sholehah. Hingga hati abi terjerat dengan ke sholehah an nya. Umma tak pernah meninggikan suara nya. Abi mu kami mendapatkan wanita seperti umma untuk mendampingi hidup mu. Wanita sholehah yang menghormati suami nya, bukan wanita yang berbeda dengan kita nak. Abi tidak pernah ridho jika kamu meninggalkan Allah demi ciptaan nya. Jika dia masuk Islam dan mau belajar, abi ridho dan bimbing dia menjadi seperti uma! tapi jangan memaksa nya" jawab Ridwan pada putra nya.
"Apa boleh bi, Arish mengunjungi nya dan mengajak nya menikah sekali lagi! " kata Arish.
__ADS_1
"Boleh, lalu lekaslah kembali. Kasihan adikmu nak mengurus semua sendiri. Dia pasti sangat menderita menanggung tanggung jawab selama kamu tidak ada! abi tidak bisa lagi menemani" jawab Ridwan.
"Baik bi! "
Ridwan tersenyum dan mendekap putra nya lagi, hari yang sangat indah untuk sepasang ayah dan anak itu. Hari yang tak pernah di banyangkan Ridwan juga Arish. Hari ini semuanya kembali ke jalan yang semestinya.
Ridwan memejamkan mata nya dan ingin tidur bersama dekapan sangat abi. Arish sangat merasa bersalah pada abi nya yang selama ini men dedikasikan hidup nya untuk dirinya dan adik.
Tak pernah Ridwan tidak mengutamakan kedua anak nya itu. Wujud perjuangan khadijah dan Ridwan adalah bukti nyata dari perjuangan itu hingga nyawa nya terenggut.
Ridwan selalu membuka buku nya yaitu DOSA TERINDAH karena itu adalah sejarah kelam dan bahagia sekaligus cinta. Pertemuan hingga perpisahan nya dengan Khadijah seluruhnya tertuang pada buku itu.
Malam itu, Ridwan tak menghabiskan malam nya dengan membaca dosa terindah tapi memeluk anak nya dan terlelap penuh kedamaian. Arish pun terlelap di sisi sang abi sambil memeluk erat abi tersayang nya.
Penyesalan yang Arish rasakan nyatanya sangat menyiksa, dada nya sakit melihat wajah yang dulu segar kini gurat keriput memenuhi wajah abi nya tanpa dirinya di samping nya. Tangan nya kini penuh tonjolan urat dan keriput. Kulitnya tidak lagi se segar dulu.
Air mata Arish luruh memegang seluruh tubuh abi nya yang terlelap.
Waktu delapan tahun mampu membuat abi nya termakan usia senja dan Arish malah belanja dosa di luar sana. Menyakiti abi nya, abang nya, dan adik kembaran nya. Sesak di dada Arish semakin bertambah saat melihat abi nya mulai mendengkur lembur.
Mereka tidur dengan sangat damai saling memeluk.
Hingga sayup-sayup terdengar suara tangis di telinga Arish, Arish yang baru saja memejamkan mata mulai membuka dan melihat ke arah suara tangis nya.
"Kenapa menangis Vi? abi telah bangun. Kamu terlalu bahagia ya? " tanya Arish sambil tersenyum melihat adik nya duduk di kursi tunggu dengan derai air mata yang membanjiri pipi nya. Arvi tersedu-sedu hingga suara nya sangat parau hampir hilang.
"Hiks. Abi a abi hiks, Abi pulang kak! " jawab Arvi dengan suara parau nya dengan isak menghiasi suara nya.
"Alhamdulillah dong, abi sudah sehat. Mana abi? " tanya Arish sambil menoleh ke sebelah lain yang tadi malam di peluk namun tak menemukan abi nya.
"Hiks, Abi a a abi pulang Hiks Huaaa Kak! " jawab Arvi semakin tersedu-sedu.
"Kenapa kakak di tinggal? kalau begitu ayo kita pulang. Kasihan abi sendiri! " kata Arish bergegas duduk dan menurunkan kaki nya.
__ADS_1
Kemudian Arish berjalan tergesa-gesa dan Arvi mengikuti nya sambil memasang kaca mata hitam nya. Arish sampai di lobi dan berbalik.
"Mana mobil nya dek? "
"Itu kak di depan! " jawab Arvi lirih dengan suara parau yang tidak bisa di tutupi.
Kemudian Mereka sampai depan loby rumah sakit dan sebuah mobil menghampiri mereka. Arish terdiam dan melongo melihat mobil yang di naiki nya.
Dan detik berikut nya, Arish seperti terjatuh dari luar angkasa, tubuh nya tak bertulang rasanya melihat peti jenazah warna putih tersaji di depan nya.
"Apa-apa an ini! " marah Arish dengan dada naik turun.
"Abi telah pulang! "
"BOHONG!!!! "
.
.
.
.
.
Happy reading semuanya
hiks, mak othor gak bisa lagi berucap.
😭😭
mak sedih banget, akhirnya mak harus merelakan Ridwan menyusul Khadijah 😭
__ADS_1
mak berlinang air mata menulis bab ini.
mak sedih bener, mak sudah membersamai Ridwan dari muda, gila, sehat, nikah, bahagia, dan kembali depresi sampai akhirnya Ridwan tutup usia