
"Kamu kuat sayang. "kata Arish parau sambil mengelus kepala Aya dan menatap intens mata Aya.
"Hiks... Hiks... hiks." hanya tangis yang Aya bisa jawab untuk kekuatan yang Arish salurkan. Aya tidak berfikir besok, nanti, bagaimana, Aya hanya ingin menuruti hati nya saat ini yaitu di manja saat tengah sakit menghajar perut bagian bawah nya.
Dokter mulai memposisikan kaki Aya, dan mulai menyiapkan peralatan untuk bersalin. Beberapa suster sudah mulai masuk dengan membawa beberapa meja troli.
Arish mencuri pandang dan semakin tidak bisa menahan air mata nya, Aya yang kesakitan, bawah sana yang penuh cairan membasahi baju rumah sakit Aya dengan posisi paha yang sudah terbuka lebar dibantu dengan Alat untuk menopang kaki Aya.
"Kamu harus kuat, anak kita akan lahir. Kamu hebat sayangku. Hiks. Kamu ibu yang luar biasa... Hiks. Kamu wanita yang luar biasa. " kata kata afirmasi positif yang keluar dari lisan Arish secara natural membuat Aya sedikit tenang tapi tak bisa membendung air mata semakin deras saat Arish mengakui anak yang akan di lahirkan nya adalah anak nya tanpa banyak pertanyaan. Dokter yang sedang mempersiapkan di bawah sana pun tersenyum dengan pasangan di depan nya.
Dokter senang karena Arish tak perlu di ajari untuk afirmasi positif mendampingi ibu melahirkan, tapi Arish sudah melakukan nya sendiri.
"Hiks... Maafkan aku. " kata Aya sambil menatap mata Arish. Entah kenapa Aya tidak merasa malu Arish melihat kondisinya yang seperti ini. Entah kenapa Aya merasa bagaimana pun keadaan nya Arish tidak akan meninggalkan nya.
"Apa yang kamu ucapkan sayangku... aku yang harusnya minta maaf. Membiarkan mu berjuang sendiri menjaga bayi kita. " kata Arish sambil mencium i wajah Aya.
"huh... hosh... hosh... hosh. Sakit dokter. " keluh Aya sambil mengatur nafas nya.
__ADS_1
"Setiap rasa sakit nya datang, ibu dorong sekuat ibu sambil melihat ke perut bu, pandangan ibu ke bawah.. iya bener gitu bu. " kata dokter itu memandu jalan nya proses kelahiran seorang hamba Allah.
"Aaaaaaa... Aaaaaaaaa... hosh... hosh... hosh." dorong Aya sekuat tenaga sampai terangkat kepala nya sambil melihat ke arah perut bawah nya.
"Ya begitu bu, pintar sekali. Hebat sekali ibu nya... Jangan ditutup bu paha nya. Dorong aja sambil lihat sini tapi paha nya jangan bergerak bu. " pandu dokter nya..
"Aaaaaagggg... Aaaaaaaaaaaa... Hosh... hosh... hosh. " dorong Aya lagi dengan tenaga penuh sampai telihat urat-urat menonjol dipelipis nya.
Arish pun menciumi pelipis Aya sambil terus mengafirmasi Aya kata-kata baik, mengalirkan semangat pada Aya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa... Sakittttttt dok. Hiks. " dorong Aya terpekik saat sakit dan panas di bagian bawah semakin terasa luar biasa.
"Iya bu karena kepala dedek nya mau keluar, Ayoo bu lagii. Ibu hebat. " pandu dokter nya.
"Aaaaaaaaaa..... Aaaaaaaaaaa. Hosh... Hosh... Hosh. " Aya terjatuh di atas bantalnya sambil mengatur nafasnya setelah dorongan panjang nya.
"Kamu kuat... Kamu hebat... Kamu wanita yang luar biasa sayang. " kata Arish sambil terus meneteskan air mata nya tidak tega melihat Aya kesakitan.
__ADS_1
Dokter dan Arish terus memberi semangat pada Aya yang tengah berjuang melahirkan bayi ke dunia ini, hingga dorongan panjang dan suara melengking Aya menjadi pertanda suara melengking bayi mungil di bawah sana.
"Aaaaaaaaaaaaagggg... AllahuAkbar. " pekik Aya.
"Oek... oek... oek."
"Anakku."
.
.
.
.
Happy Reading semuanya
__ADS_1