Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 10


__ADS_3

Keesokan paginya.


Andra terbangun saat samar-samar mendengar suara orang mengaji di Masjid.


Ia bangun dan duduk, masih di atas tikar nya. Ia menoleh, melihat Viona. Gadis itu masih terlelap menghadap sandaran kursi.


Viona berbalik. Andra cepat menahan kepala Viona yang keluar dari kursi dengan kedua tangannya.


"Huft! Untung saja respon ku cepat. Jika tidak, pasti wanita ini sudah terjatuh di lantai." benak Andra.


Dengan pelan, ia memperbaiki kepala Viona dengan baik di atas bantal. Namun, kepala Viona malah menindih tangan kanan Andra.


Membuat Andra terdiam. Dia menatap wajah Viona yang sangat dekat dengan wajahnya. Wajah Viona begitu bersih, mulus dan cantik.


Alisnya terlihat tegas dan berbentuk seperti pedang. Bulu alisnya sedikit tebal dengan warna yang serasi dengan warna rambutnya. Yaitu berwarna karamel coklat.


Bulu matanya berwarna hitam, lentik dan panjang. Hidungnya sedikit mancung. Bibirnya kecil dan seksi.


Adzan subuh sudah terdengar. Andra tersentak. Dia beristighfar sambil memejamkan mata. Dia begitu tergoda saat melihat secara detail wajah Viona.


Ia pun memiringkan kepala Viona dengan pelan dan menarik tangannya yang tertindih kepala Viona.


Namun, saat ia berhasil menarik tangannya, Viona justru terbangun. Viona terkejut melihat Andra, Viona duduk dengan cepat.


”Em, Vi. Maaf, aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya memperbaiki kepalamu saja tadi.” ucap Andra.


”Hum, aku tahu, aku percaya kamu.” sahut Viona. Ia melihat tikar, bantal, dan sarung di lantai, ”Kamu tidur di lantai?” tanyanya.


”Iya, mana mungkin aku tinggalkan kamu sendirian tidur di kursi! Dan aku juga tidak bisa menggendong mu, membawamu ke dalam kamar. Jadi, aku tidur di sini saja temani kamu.” jelas Andra.


”Kenapa tidak berani menggendong ku? Takut?” Tanya Viona. Padahal, ia tahu jawabannya apa. Ia hanya menggoda Andra.


”Em, ayo kita wudhu. Adzan subuh sudah berakhir. Kita shalat subuh sama-sama.” ajak Andra, ia mengalihkan pembahasan.


”Iya, kamu duluan lah berwudhu. Aku siapkan mukenah ku dulu, baru wudhu.” ucap Viona. Ia berdiri dan melangkah ke kamar.


Andra berdiri dan pergi ke belakang untuk wudhu.


Viona telah selesai menyiapkan mukena dan menggerai sajadah. Dia pergi ke belakang, dia melihat Andra sudah selesai berwudhu.


Andra pergi ke depan, Viona mengambil air wudhu. Baru saja ia menyalakan kran air, Viona terkejut mendengar desis di dinding dapur.


Viona menoleh, dugaannya benar! Itu adalah ular yang datang padanya di sore hari di waktu dia mandi.


”An__Andra.” teriak Viona.


Viona melihat ular itu telah pergi saat langkah kaki Andra masuk ke dapur.


Andra khawatir mendengar teriakan Viona, dia bergegas ke dapur, ”Iya Vi. Ada apa?” tanyanya. Andra bingung melihat wajah Viona yang ketakutan dan wajahnya juga pucat pasi, ”Kamu kenapa sih? kamu melihat apa?” tanyanya lagi.


Viona beristighfar dan menggeleng. Dia melihat Andra, ”Aku baik-baik saja. Kamu tunggu aku,” ucapnya, ia mencegah Andra yang berbalik arah.


Andra kembali berbalik melihat Viona. Mengapa Viona ketakutan? Apakah dia melihat roh ibu di dapur dan takut? Ia berdiri di tempatnya menunggu Viona, ”Cepatlah wudhu,” titahnya.


Viona mengangguk dan berbalik menghadap kerang air. Ia lanjut berwudhu. Ia telah selesai berwudhu. Dia dan Andra sama-sama pergi ke depan. Mereka melaksanakan shalat subuh bersama.


Usai melaksanakan shalat, mereka berdua sama-sama ke dapur, memasak sarapan pagi.

__ADS_1


*


*


Di dapur.


”Tadi...saat wudhu kamu kenapa? Ketakutan melihat roh ibu?” Tanya Andra.


”Aku memang takut, tapi, aku bukan takut pada roh ibu.” jawab Viona.


”Lalu, kamu takut kenapa? Kok mukamu sampai pucat pasi tadi. Habis melihat raja jin? Raja setan?”


”Bukan Andra! Aku takut sama ular.” ungkap Viona.


Andra terkejut, ”Ular?” tanyanya, ia melihat Viona dengan serius.


Viona mengangguk, ”Ular cobra berwarna emas. Dia tadi ada di situ. Tapi, dia pergi saat mendengar langkah kakimu yang masuk ke dapur,” jelasnya.


”Kok sekarang ular mulai senang mendekati kita ya? Apakah ibu sudah membunuh ular di kebun, makanya ular balas dendam dan mematuk ibu? Dan dendamnya belum puas jika kita berdua belum mati?” Tanya Andra penasaran.


Viona mencubit tangan kanan Andra yang ada di atas meja.


”Aduh! Sakit, Vi.” jerit Andra.


”Ngomong itu yang bagus-bagus sajalah.” tegur Viona, ”Mana ada ibu seperti itu. Tikus yang masuk ke rumah saja, ibu usir bukan bunuh. Apalagi ular, pasti malah ibu yang kabur. Dan di saat ibu kabur, ular mengejar karena terkejut dan merasa dirinya terancam. Coba kalau ibu diam saja. Lama-lama ular akan pergi dengan sendirinya,” ucapnya.


”Tidak seperti itu, Vi. Namanya ular itu ganas, kalau ketemu orang akan di patuk, karena mereka merasa hidupnya terancam” jelas Andra.


”Ular itu memang ganas, Dra. Tapi,


berbeda dengan ular cobra. Kalau ular cobra, saat kita berhadapan dengan ular, kita diam saja. Lama-lama tidak ada gerakan dari kita, ular itu akan pergi dengan sendirinya, tanpa melukai kita.”


”Dari ibu guruku, guruku pernah bercerita tentang dirinya yang pernah berhadapan dengan ular. Dan kemarin sore, saat aku mandi, ular itu masuk lewat ventilasi kamar mandi. Aku terkejut dan berdiam diri, mematung, bersandar di dinding. Ular itu menjalar ke seluruh tubuhku. Setelah itu, ular itu pergi lagi lewat jalan yang sama, di ventilasi.” ungkap Viona.


”Yang benar? Kok bisa yah? Ibu meninggal karena terkena racun ular dan kamu di datangi oleh ular, di hari yang sama. Tadi juga di datangi sama ular. Ada apa ini? Dan kenapa kamu gak ngomong sama aku sebelumnya kalau kamu di datangi ular?”


”Mana sempat aku bicara, musibah ada di depan mata. Lagi pula, aku berpikir mungkin ular itu tidak akan masuk lagi. Ternyata, tadi malah masuk lewat ventilasi jendela dari dapur di saat aku berwudhu.” jelas Viona.


”Kalau begitu, aku akan menutup lubang-lubang ventilasi di seluruh rumah ini. Agar ular itu tidak bisa masuk lagi.” ucap Andra.


”Iya.” sahut Viona. Ia beranjak dari duduknya, Viona ke meja kompor. Dia membakar kompor, menaruh wajan, menuang sedikit minyak di dalam wajan tersebut. Ia menumis bumbu nasi goreng, setelah bumbunya masak, dia memasukkan nasi dan menggorengnya. Viona dan Andra, membuat nasi goreng untuk sarapan mereka.


Andra juga berdiri di samping Viona, dia membakar kompor satunya dan menggoreng telur.


”Besok adalah hari ketiga ibu. Aku akan pergi ke pasar untuk membeli kue buat orang yang datang mengaji. Dan aku akan pergi ke kebun untuk memetik sayur, persediaan sayur di kulkas sudah habis.” ucap Andra.


”Hum, aku ikut dengan mu. Aku gak mau sendirian, takut kalau ular itu datang kembali.” ujar Viona.


Andra tersenyum, ” Mengapa harus takut? Menurutku, ular itu gak akan menyakiti kamu. Ular itu sepertinya menyukai mu yang cantik ini,” godanya.


Nasi goreng telah masak. Viona mematikan kompor. Dan mencubit perut Andra.


”Aduh, Vi! Sakit tahu!” jerit Andra, mengelus perutnya. Telur sudah selesai ia goreng.


”Makanya, ngomong itu jangan sembarangan! Ada-ada saja pikiran mu itu!” ketus Viona. Ia mengambil dua buah piring dan memindahkan nasi goreng dari wajan ke piring tersebut. Viona meletakkan piring berisi nasi goreng di atas meja. Viona menarik kursi dan duduk.


Andra ikut duduk. Ia memberikan satu buah telur dadar pada piring nasi goreng Viona dan satu untuknya.

__ADS_1


”Kan aku cuma menggoda mu saja tadi, kok malah marah begitu sih.” ucap Andra membela diri.


”Sudah, jangan bicara lagi. Ayo kita makan.” ucap Viona, ia memasukkan sesendok nasi ke mulutnya dan mengunyahnya.


Andra pun memakan makanannya.


"Tetapi, ucapan Andra ada benarnya. Jika ular itu memang berniat melukai ku, semenjak kemarin sore dia akan menghabisi ku. Dan aku pasti menyusul ibu meninggal karena racunnya."


"Dan tadi, ular itu akan punya waktu untuk menyerang ku sebelum Andra tiba di dapur. Tapi, ular itu malah pergi."


"Jika bukan untuk melukai ku, untuk apa ular itu datang padaku? Sudah dua kali." benak Viona.


Viona memikirkan ucapan Andra. Hal itu malah memunculkan rasa penasaran di benak Viona.


”Memikirkan apa? Ular itu? Em...bagaimana kalau besok aku antar kamu saja pergi ke tempat bus. Kamu pulang saja kan sudah genap hari ini tiga bulan kita di desa. Kamu kembalilah, aku menunggu hari ke seratus ibuku selesai baru ke kota.” ucap Andra.


”Aku gak mau. Aku mau ke kota sama-sama dengan kamu.” tolak Viona.


”Aku masih lama...”


”Aku menunggumu. Kita pergi bersama-sama...”


”Orang tuamu, keluarga mu pasti sudah sangat khawatir padamu. Mereka akan terus mencari mu seperti orang gila. Sebaiknya, kamu kembali saja ke kota.”


”Aku tetap menunggu kamu. Kita ke kota bersama-sama.” kekeh Viona.


Andra menatap Viona, ”Karena janji mu pada ibu?” tanyanya penasaran.


”Iya. Selain itu, kalau aku pergi sendirian, siapa yang akan melindungi ku kalau ada orang niat jahat mendatangiku?”


Andra terdiam. Ucapan Viona benar! Siapa yang akan melindungi Viona kalau ada orang jahat menyerangnya?


”Terserahlah! Habiskan makanan mu.” ucap Andra. Ia meneguk minumannya dan menyisakan sedikit untuk mencuci tangannya.


Viona melanjutkan makannya sampai habis. Setelah itu, ia mencuci piring kotor dan membersihkan dapur.


Andra tetap duduk di kursi, menemani Viona selama Viona berada di dapur. Ia sendiri takut jika ular itu kembali masuk saat Viona sendirian.


”Sudah selesai?” Tanya Andra, saat Viona kembali duduk di bangkunya.


”Iya.”


”Kamu duduklah di depan sana. Ini hampir jam delapan. Aku kumpulkan dulu sisa-sisa papan di belakang rumah dan menutup ventilasi. Jam sembilan kita ke pasar membeli kue. Setelah itu, kita ke kebun. Jam empat sore nanti, sudah waktunya untuk acara haul.” ucap Andra.


”Aku ikut kamu...”


”Kenapa? Masih takut? Kalau di depan sana, kan nanti banyak orang yang lalu lalang. Tidak mungkin ular akan datangi kamu di keramaian orang.” tukas Andra.


”Aku tetap ikut! Aku merasa, ular itu memang ada di sekitar ku. Entah kenapa, hawa kulitku bisa merasakannya.”


”Kok bisa? Ada-ada saja! Itu hanya perasaan mu saja. Udah, kamu duduk di depan saja. Di belakang rumah itu banyak paku yang masih tertancap di kayu dan di papan. Kalau kamu tidak hati-hati, malah ke-injak itu paku.” jelas Andra.


”Aku tetap ikut! Aku akan berhati-hati!” kekeh Viona. Ia memegang leher belakangnya, seperti orang yang merinding.


”Baiklah!” sahut Andra mengalah.


Mereka berdua beranjak berdiri dan pergi ke belakang rumah, di mana tumpukan kayu dan papan terkumpul.

__ADS_1


.. ..


__ADS_2