
Di kediaman Pak imam.
”Hati-hati Viona!” ucap pria yang ada di belakang Viona.
”Iya, Paman.” sahut Viona.
Ibu Ali dan Anisa sangat khawatir, ular-ular hitam itu tiada habisnya berdatangan. Meskipun begitu, mereka berdua juga bersyukur dengan kehadiran dua orang yang tiba-tiba yang tidak tahu datangnya dari mana, datang untuk membantu Pak imam, Ali, dan Andra untuk menyerang para ular.
Anisa sendiri memiliki keahlian bertarung tetapi, ia sangat takut terhadap ular. Kekuatannya menciut seketika jika berhadapan dengan ular.
”Prayoga! Kita bertemu lagi. Tidak di sangka, umur mu sangat panjang sehingga masih bernafas dengan tenang dan berdiri tegap di sini melawan anak buah ku.” ucap Genta.
”Apa kamu kira aku bisa mati dengan begitu mudah? Aku akan mati jika kamu mati! Aku hidup ditakdirkan untuk membunuh mu, Genta!” sahut Prayoga.
”Lancang!! Hiyaat!” Ibra mengayunkan pedangnya menyerang Prayoga. Amarahnya tersulut karena ucapan lancang Prayoga terhadap Genta, tuannya.
Prayoga yang lihai memainkan pedang, meskipun hanya menggunakan satu tangan, ia menangkis serangan dari Ibra.
Anisa, Ibu Ali, Ali, dan Andra terkejut dengan hadirnya dua orang lagi dengan tiba-tiba. Namun, yang datang kali ini adalah pihak musuh.
Pertarungan mereka semakin sengit.
Genta membantu Ibra menyerang Prayoga. Prayoga tidak gentar menghadapi Genta dan Ibra sekaligus.
Splash! Pedang Prayoga berhasil melukai lengan Ibra.
”Tidak...! papa...!!!” teriak Nia saat melihat darah segar keluar dari lengan Ibra. Detik berikutnya ia menutup mulutnya dengan membulatkan matanya.
Ah! Bodohnya aku...! benak Nia.
Teriakan Nia tentu saja membuat semua orang terkejut, termasuk Nia dan ibunya sendiri.
Dasar anak bodoh! Mengungkap identitas sendiri! Sebaiknya, aku harus membawa Nia kabur dari sini. benak Salsa.
”Hei, kalian dengar kan, apa yang baru saja di ucapkan Nia?” tanya salah satu warga pada warga lainnya.
”Iya, aku dengar dengan jelas Nia meneriaki pria baju hitam yang terluka itu dengan kata "papa" Dengan kata lain, Nia adalah anaknya siluman ular.”
”Iya, benar!”
Dion sendiri terdiam mematung. Ia tidak percaya jika Nia adalah anak dari siluman ular.
Dia kembali mengingat meninggalnya Ibunya Andra tepat di saat masalah Nia dengan Andra. Kematian Sania juga... dia meninggal di saat perjalanan pulang dari rumah Nia. Dia juga mengingat waktu pertama kali dia melihat sekelompok ular itu berada tidak jauh dari belakang rumah Nia. Dia masih memikirkan semua kemungkinan peristiwa yang terjadi.
Ibunya Sania juga terdiam mematung mengingat anaknya yang tiba-tiba meninggal di gigit ular saat pulang dari rumahnya Nia.
Tubuh Nia dan Salsa gugup dan ketakutan. ”Nia, kita harus pergi dari sini,” bisik Salsa pada Nia. Nia mengangguk.
Mereka berdua mencari kesempatan kabur dari kerumunan warga.
”Hei! Mereka mau kabur! Tahan mereka...!” teriak warga. Warga yang lebih dekat dengan Nia dan Salsa, bergerak dengan cepat menahan Nia dan Salsa.
”Tidak! Lepaskan aku!” berontak Nia dan Salsa.
”Kami butuh penjelasan dari mu!” ucap salah satu dari kerumunan warga tersebut, yang tiada lain adalah Pak RT.
”Argh!” jerit Viona.
Ibra dan Genta tertawa senang. ”Bagus sekali! Mereka datang di waktu yang pas. Sekarang... kita tunggu Berlia dan Maria untuk datang. Hahahaha. Malam ini... Prayoga dan turunannya harus mati! Hahahaha,” ucap Genta.
Prayoga terkejut mendengar jeritan Viona. Ia mengabaikan ucapan Genta. Ia mengayunkan pedangnya ke lengan Genta yang sedang lengah.
Splash!! Lengan Genta terluka.
”Vi__Viona..!” teriak Andra dan Ali khawatir.
”Viona...!” teriak ibu Ali dengan khawatir.
Prayoga yang berada di belakang Viona juga khawatir. ”Viona! Ada apa? Kamu baik-baik saja?” tanyanya sambil terus menangkis serangan Genta dan Ibra.
__ADS_1
”Aku...tangan ku... terkena panah,” jawab Viona.
”Panah?” Prayoga terkejut. Itu artinya ada pasukan pemanah di sekitar mereka, anak buah dari Genta dan Ibra.
”Aaaa” Viona mencabut panah itu dari tangannya. Ia menusuk ular yang hendak menggigit kakinya. Viona terduduk di atas tanah menahan rasa sakit di tangannya.
”Vi__Viona!” Andra sangat khawatir tapi, ia tidak bisa mendekati Viona.
Ali, Pak imam, Arifin pun tidak bisa bergerak dari tempatnya. Mereka masih bertarung dengan ular-ular yang tidak putus-putus datangnya.
”Viona__”
”Ibu jangan kesini! Viona tidak izinkan Ibu membantu Viona. Tetap di sana.” pangkas Viona, ia mencegah Ibu Ali yang ingin turun dari teras untuk membantunya. Ibu Ali berhenti di tempatnya.
Mata Viona terasa berat, ia ingin memejamkan mata. Sesak... ia merasakan sesak pada nafasnya.
Gedebug! Viona terbaring di atas tanah.
”Viona....” teriak Andra, Ali, dan Ibu Ali bersamaan. Mereka khawatir dan cemas pada Viona.
Teriakan Andra, Ali, dan ibu Ali menjadi perhatian Pak imam, Arifin, dan Prayoga sendiri. Tetapi... mereka tidak berdaya untuk menghampiri Viona.
”Viona... bangun! Jangan pejamkan mata mu...” ucap Berlia. Ia mengeluarkan batu permata nya dan menaruhnya di tangan Viona yang terkena panah.
Andra, Ali, dan Ibu Ali merasa lega. Para warga terkejut dengan hadirnya ular emas yang mengeluarkan batu permata menolong Viona. Mereka lebih terkejut lagi saat mendengar ular emas itu bersuara.
Apakah itu ular emas yang Pak imam katakan pada kami? Ular emas yang menolong Viona dari maut? benak salah satu warga.
Mata Nia dan Salsa membulat dengan hadirnya ular emas cobra itu. Ular emas yang melindungi Viona.
”Berlia, syukurlah kamu datang di waktu yang tepat. Apa yang terjadi dengan Viona?” tanya Prayoga.
”Viona terkena panah yang beracun. Tapi tidak apa-apa, Ayah. Permata ku telah menghisap racunnya.
”Panah beracun? Hati-hati! Ada anak buah Genta yang bersembunyi di kegelapan.” ucap Prayoga.
”Bunuh semua musuh yang ada di sini. Sebagian pergi ke sisi kanan dan kiri dari rumah ini! Bunuh semuanya!” titah Berlia pada anak buahnya.
Anak buah Berlia berpencar. Ada yang membantu Andra dan Ali, ada yang melindungi di sekitar Berlia dan Viona. Ada yang pergi ke sisi rumah Pak imam untuk menyerang ular lainnya yang bersembunyi di sana.
”Arifin, kamu memiliki pedang? Bantulah teman mu.” titah Mustofa pada Arifin. Arifin mengangguk. Ia membantu Prayoga.
Di kota.
Perasaan Maria semakin gelisah. Ia ingin gila rasanya dengan rasa gelisah yang dia rasakan sekarang.
”Tidak...! Viona...!” teriak Maria dengan suara lantang secara tiba-tiba.
Kevin dan Lirjan terkejut sekaligus panik mendengar teriakan Maria dari dalam kamar. Mereka berdua bergegas berlari ke kamar.
Mereka berdua khawatir melihat Maria yang menangis histeris di lantai kamar. Mereka menghampiri Maria.
”Ma. Ada apa, Ma?” tanya Lirjan khawatir.
”Ma, kenapa Mama menangis?” tanya Kevin.
”Hu..hu...hu...Papa, Lirjan. Viona... Mama hu...hu... Mama khawatir sekali, Pa.” ucap Maria sambil terisak.
Kevin dan Lirjan sedih sekaligus marah. Mereka sedih melihat Maria yang seperti ini. Mereka marah pada pria yang sudah bawa kabur Viona.
”Ma...kalau Mama seperti ini, Papa dan Lirjan tidak bisa berbuat apa-apa.” ucap Kevin menenangkan istrinya.
”Hu...hu... Mama benar-benar tidak bisa sembunyikan rasa gelisah dan khawatir ini untuk Viona, Pa. Hu...hu... kita tidak tahu apa yang terjadi pada Viona saat ini, Lirjan. Mama sungguh khawatir...hu...hu...Viona....”
Lirjan dan Kevin terdiam sambil memeluk Maria, menenangkan perasaannya. Meski nyatanya Maria semakin terisak.
Di kediaman Pak imam.
Dengan datangnya Berlia dan anak buahnya membuat semua menjadi ringan. Banyak anak buah Genta dan Ibra yang gugur.
__ADS_1
Anak buah Berlia juga ada yang gugur saat melawan anak buah Genta dan Ibra dan separuh gugur saat melindungi Berlia dan Prayoga. Ada juga yang gugur saat melindungi Andra dan Ali.
Ekor ular cobra emas terluka karena melindungi Viona yang hampir di tebas oleh anak buah Genta.
Andra melindungi Berlia dari anak buah Genta yang ingin menikam Berlia dari arah belakang Berlia, saat Berlia melindungi Viona.
Badan Viona masih lemas. Ia telah di baringkan di atas ranjang di kamarnya Ali. Ibu Ali dan Anisa yang menjaga Viona.
Arifin, Prayoga, Genta dan Ibra masih saling beradu kekuatan, meski sekarang luka-luka sudah memenuhi tubuh mereka yang terkena pedang dari sang lawan.
Pak imam telah membuka benteng yang ia buat setelah di rasa semuanya sudah agak aman.
Duagh! Splash! Prayoga menendang dan menebas Ibra dalam satu gerakan pedangnya.
”Papa...!” refleks Nia kembali berteriak saat melihat Ibra, papanya jatuh tersungkur di atas tanah.
Kini Andra, Ali, Pak imam terkejut mendengar teriakan Nia.
”Apakah Nia adalah anaknya Ibra?” tanya Prayoga dengan bingung pada Berlia.
”Iya, Ayah. Nia adalah anak dari Ibra yang tidak banyak di ketahui oleh orang. Ibunya Andra meninggal di gigit ular karena Nia yang menyuruh ular untuk membunuhnya. Bahkan Viona juga di buru untuk di bunuh, itu semua suruhannya Nia. Dia cemburu pada Viona karena Andra menyukai Viona. Dia melenyapkan ibu Andra karena ia tahu setelah kejadian itu, ibu Andra tidak akan merestui hubungan Nia dengan Andra lagi. Bahkan kematian Sania juga karena Nia. Sania mengetahui rahasia Nia, jika Nia adalah yang berkomplot dengan siluman ular bukan Viona,” ungkap Berlia.
”Apa?” semua orang terkejut dengan kebenaran yang di ungkapkan oleh Berlia.
Andra menatap Nia dengan pandangan yang tidak bisa di tafsirkan dengan mudah. Marah, benci, kecewa, iba, Andra sendiri tidak tahu rasa apa yang harus ia tampakkan untuk Nia. Wanita yang pernah mengisi relung hatinya selama beberapa tahun, semasa ia masih sekolah dulu.
”Kita selama ini telah terperdaya dengan omongan Nia yang menyudutkan Viona. Padahal, dialah yang sebenarnya komplotan siluman ular!” ucap para warga.
”Iya. Kita sangat bersalah pada Viona.” sambung warga lainnya.
Plak! Plak! Nia mendapatkan tamparan dari ibunya Sania. Nia meringis menahan sakitnya tamparan ibunya Sania. Ia ingin mengelus wajahnya tapi, tangannya di pegang erat sama warga.
”Kamu telah membunuh anakku, yang merupakan sahabat mu sendiri. Kamu sungguh biadab, Nia!” ucap Ibu Sania. Matanya berkaca-kaca.
”Kamu bilang nyawa di bayar dengan nyawa, haruskah aku membunuhmu dengan tangan ku sendiri untuk menebus nyawanya anakku?” ucap ibu Sania
Nia dan Salsa terkejut.
”Jangan kotori tangan mu dengan membunuhnya. Kita seret mereka ke kantor polisi sekarang juga. Kita minta keadilan untuk nyawa Sania dan nyawa ibu Andra. Nia dan ibunya harus di hukum gantung!” ucap salah satu warga memberi usul.
”Tidak...! Jangan...! Lepaskan aku...!” teriak Nia dan Salsa. Mereka mencoba memberontak tetapi... kekuatan warga lebih kuat dari pada mereka.
”Iya, benar! Seret mereka ke kantor polisi. Sekarang!” seru para warga.
”Iya! Ayo...!” seru warga.
Para warga menyeret Nia dan Salsa pergi ke kantor polisi. Termasuk Dion dan ibu Sania, mereka juga pergi ke kantor polisi untuk menjadi saksi.
Genta melihat Prayoga lengah. Ia menendang Arifin dan menghunuskan pedangnya ke perut Prayoga.
”Ayah...!” teriak Berlia.
Di kesempatan itu Prayoga menyerang balik Genta, ia berhasil menghunuskan pedangnya ke jantung Genta.
Genta dan Prayoga sama-sama terbaring di atas tanah. Berlia berubah menjadi manusia dan menghampiri ayahnya.
”Ayah... bertahanlah!” ucap Berlia.
”Prayoga... bertahanlah!” ucap Arifin, yang juga menghampiri Prayoga.
”Argh...! Ayah... perutku sakit....” jerit Berlia sambil memegang perutnya.
”Nyonya!” Pelayan setia Berlia datang memapah tubuh Berlia.
”Lebih baik, kita masuk ke dalam rumah.” ucap Pak imam.
Arifin memapah tubuh Prayoga masuk ke dalam rumah Pak imam.
Ali, Andra, dan Pak imam ikut masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Pelayannya Berlia memapah Berlia masuk ke dalam rumah.