Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 7


__ADS_3

Di depan rumah Andra.


Pak RT dan Pak RW menggeleng kepala melihat Nia. Wanita muda, yang cantik di desa, yang tidak ada tandingannya. Ternyata, punya pikiran picik hanya kerena ingin mendapatkan seorang pria.


Andra sangat bahagia, ia terus melihat Viona. Rasanya, ia ingin sekali memeluk tubuh wanita itu sekarang. Tapi, apalah daya itu tidak mungkin ia lakukan sekarang.


Nia cemburu melihat Andra yang terus menatap wanita yang bernama Viona. Wanita yang telah menggagalkan rencananya untuk memiliki Andra. Padahal, tinggal selangkah lagi ia dan Andra akan menjadi sepasang kekasih.


Ibu Sumi menyesal karena tidak mempercayai ucapan Andra, anaknya. Padahal, ia sangat tahu jika anaknya tidak biasa bersentuhan dengan wanita. Ibu Sumi sampai melayangkan tamparan di pipi Andra dengan kuat karena tidak percayanya dia pada Andra.


”Nia, gak nyangka kamu berani memfitnah Andra yang sudah membantu mu.” ucap Pak RW.


”Kamu sangat cantik, Nia. Mengapa kamu punya pikiran yang picik seperti itu?” tanya Pak RT.


Nia menunduk, ia sangat malu. Dia tidak punya kata-kata untuk membela dirinya saat ini. Semua kebenaran sudah di lihat dan di dengar semua orang.


”Iya, padahal sangat cantik! Gak tahunya... hatinya busuk!”


”Kasihan Andra yang sudah mendapatkan tamparan berkali-kali, padahal... dia tidak bersalah!”


”Sungguh kasihan! Cantik-cantik kok hatinya dan pikirannya busuk! Apa ingin belaian seorang pria?”


Cibir para warga yang di tujukan pada Nia. Mereka menatap Nia dengan jijik seperti tatapan mereka pada Andra, sebelumnya.


Ibu Salsa merasa malu, dia dan Nia sudah menjadi pusat perhatian warga. Cibiran demi cibiran kasar dan hinaan terdengar di telinganya. Dia dan Nia merasa seperti tidak memakai pakaian sekarang, merasa ditelanjangi oleh perbuatan memalukan Nia.


Ini semua gara-gara wanita itu!Wanita sialan! benak Nia dan Ibu Salsa.


Ibu salsa melihat Viona dengan pandangan musuh. Ia memegang tangan Nia. ”Nia, ayo kita pulang!” Ibu Salsa menarik tangan Nia. Nia menurut.


”Eh! Enak ya kalian ingin pergi begitu saja setelah membuat ulah! Minta maaf pada Andra dan ibunya dulu sebelum kalian pergi.” titah Viona pada Nia dan ibu Nia.


”Iya, betul!” seru para warga.


Ucapan Viona pada Salsa dan Nia juga menyadarkan Pak RW yang ikut menuduh Andra telah berbuat dosa.


Pak RW melihat Andra dan ibunya. ”Andra, Ibu Sumi, saya meminta maaf atas kericuhan yang terjadi di sini. Saya sudah salah menuduh Andra yang tidak-tidak,” ucapnya.


”Gak apa-apa, Pak RW. Jadikan ini sebagai pelajaran. Jika ada lain kali kejadian seperti ini terulang, Pak RW harus mencari kebenarannya dulu baru memutuskan yang benar dan yang salah.” sahut Andra.


”Iya, kamu benar. Seharusnya saya mencari tahu kebenarannya dulu sebelum menuduh dan mengambil tindakan.” ucap pak RW.


”Kami juga minta maaf, Dra. Kami dibutakan dengan pandangan kami dan juga tidak mau mendengar penjelasan darimu.” ucap para warga meminta maaf.


Andra tersenyum. ”Iya. Ini juga jadi pelajaran untuk diri saya sendiri supaya berhati-hati agar tidak masuk dalam perangkap seorang wanita.” Ia melihat Nia


Mata Nia berkaca-kaca melihat Andra. Tapi ia tidak menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan pada Andra. Lelaki yang ia masih cintai sampai sekarang. Nia mendekati Andra dan berkata, ”Maafkan aku, Andra. Aku__”


”Lain kali jangan kamu perbuat hal ini pada pria lain. Belajarlah untuk menerima kenyataan.” pangkas Andra. Ia sengaja memangkas ucapan Nia. Ia tahu Nia sudah cukup malu karena dirinya bersalah. Ia tidak ingin menambah rasa malu Nia dengan mengucapkan kejahatannya sendiri.


Nia mengangguk. Tangannya menyeka air matanya yang jatuh ke pipi tanpa permisi.


”Maaf, aku sudah memukul mu.” ucap ibu Salsa dengan enggan pada Andra. Ia menarik tangan Nia dan pergi dari kerumunan orang-orang setelah ia berucap maaf pada Andra.

__ADS_1


Andra, Viona, ibu Sumi, Pak RT, dan Pak RW melihat ibu Salsa dan Nia yang sudah pergi dengan menggeleng kepala.


Pak RT melihat Andra dan ibunya dan berkata, ”Nak Andra, Ibu Sumi, sekali lagi kami minta maaf sudah salah paham pada Andra.”


”Iya, Pak RT.” sahut Andra dan ibu Sumi.


Pak RT melihat warganya. ”Semua sudah selesai! Sekarang... semuanya bubar,” ucapnya membubarkan kerumunan.


”Iya, Pak RT. ” para warga segera membubarkan diri dari depan rumah Andra. Mereka pulang ke rumahnya masing-masing.


”Kami permisi dulu Andra, Ibu Sumi.” pamit Pak RT dan Pak RW.


”Iya, Pak RT, Pak RW.” sahut Andra, ibu Sumi dan Viona.


Pak RT dan pak RW meninggalkan halaman rumah Andra. Semua orang telah pergi, tinggal Andra, Viona, dan sang ibu.


Wajah ibu Sumi sangat sedih melihat Andra. Ia sangat menyesal telah mempercayai orang lain daripada anaknya sendiri. ”An__”


”Ibu, Viona, ayo masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam baru kita bicara.” pangkas Andra. Ia tahu, ibunya nampak menyesal karena memukulnya dan tidak percaya padanya.


Viona dan sang ibu mengangguk. Mereka masuk ke dalam rumah.


*


*


Di dalam rumah.


”Sepertinya... sarapan kita sudah dingin.” ucap ibu Sumi.


”Iya, Bu. Kejadian tadi membuat perutku sangat lapar. Lebih baik kita duduk makan sekarang.” sambung Andra. Ia telah duduk duluan. Viona dan ibu Sumi juga ikut duduk.


”Andra, maafkan Ibu. Ibu sudah meragukan mu padahal... ibu sangat tahu kamu tidak mudah menyentuh seorang perempuan. Ibu terpengaruh karena ibu tahu wanita itu adalah wanita yang kamu cintai. Ibu berpikir... mungkin saja kamu khilaf saat berjumpa lagi dengannya, makanya kamu berbuat nekat.” ucap ibu Sumi menjelaskan.


”Sudah, Ibu. Tidak usah membahas ini lagi. Sekarang kita sedang berhadapan dengan makanan, ayo kita makan saja.” sahut Andra. Ia mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk ibunya.


”Vi, aku ambilkan makanan untuk mu?” tawar Andra pada Viona.


”Em, tidak usah Andra. Aku akan sendok makanan ku sendiri.” tolak Viona. Andra menurut.


Viona mengambil makanan untuknya sendiri. Mereka pun makan dalam diam.


*


*


*


Di kota, di kediaman Kevin.


”Pa, aku dapat sedikit info dari orang-orang mengenai Viona. Mereka melihat kalau Viona pergi dengan seorang pria. Mereka berdua naik bus.” ungkap Lirjan.


”Viona lari dengan seorang pria? Naik bus? Pergi kemana? Siapa pria itu? Apakah pacarnya?” tanya Kevin.

__ADS_1


”Mungkin saja, Pa. Karena Viona tidak mau di jodohkan dengan Rian, makanya dia lari bersama pacarnya...”


”Pantas! Selama ini Viona betah dalam pelariannya. Dia lari tidak sendirian, mungkin saja pria itu yang membelanjakan kebutuhan Viona selama kurang lebih dua bulan ini.” tebak Kevin.


Kevin menghela nafas. ”Kalau memang dia sudah punya kekasih... mengapa dia tidak bilang? Papa tidak mungkin akan menjodohkan dia dengan Rian,” ucapnya lagi.


”Mungkin Viona takut Papa akan menolak pria itu, makanya Viona lari untuk menghindar dari perjodohan...”


”Selidiki siapa pria yang kabur dengan Viona. Kalau pria itu sesuai dengan kriteria ku, aku terima pria itu menjadi menantuku. Jika tidak... aku akan menolaknya.” titah Kevin pada anaknya, Lirjan.


”Papa apa-apaan, sih? Viona akan semakin jauh dari kita kalau Papa akan bersikeras seperti itu.” protes Maria.


Lirjan dan Kevin menoleh bersama melihat Maria. Maria berjalan dengan wajah cemberut dan kesal mendekati mereka berdua yang sedang duduk di teras rumah.


Maria menarik kursi dan duduk di samping Lirjan, wajahnya masih tidak bersahabat.


”Ma, yang akan menjadi mantu kita itu harus jelas asal usulnya.” jelas Kevin.


”Menurut Mama, yang penting sudah jelas kedua orang tuanya siapa. Dan, anak kita dengan pria itu saling mencintai, saling menyayangi. Jika sudah seperti itu, pria tersebut sudah pantas untuk menjadi anak mantu kita.” ucap Maria dengan tegas.


”Tapi Ma__”


”Tidak ada kata ”Tapi”, Papa!” pangkas Maria. ”Papa juga begitu dulu, kan? Kedua orang tuaku menerima Papa menjadi anak mantu mereka tanpa melihat keterbatasan ekonomi Papa.”


Kevin terdiam. Ia teringat kembali waktu dirinya dan Maria berpacaran dulu. Dia memang bukan dari kalangan orang berada. Sedangkan Maria, Maria adalah putri satu-satunya dari Mahendra dan Lisna, si pemilik perusahaan yang kini di kelola Kevin.


Meskipun dirinya tidak sekaya Maria, dia tetap berani melamar Maria tanpa sedikitpun rasa gugup di hadapan kelurga besar Maria saat itu.


Apalagi, di saat Mahendra mempertanyakan tentang pekerjaannya. Dengan percaya diri, ia mengatakan kalau dirinya hanyalah seorang dosen honor di salah satu kampus, di kota ini.


Telinganya sempat menangkap ucapan negatif dari keluarga Maria, ucapan yang mengejek dirinya. Tapi satu hal yang membuatnya terkejut di tengah cibiran keluarga besar Maria.


”Jika kamu benar-benar mencintai putri ku, menyayangi putri ku, dan tidak akan menyakiti perasaan putriku lahir maupun batin. Aku, Mahendra beserta Lisna, istriku menerima kamu sebagai anak mantu kami.” ucap Mahendra.


Maria tersenyum bahagia saat itu, begitu juga dengan orang tua Kevin, mereka sangat bahagia. Lamaran anaknya di terima tanpa syarat apapun dari orang tua Maria, kekasih Kevin.


”Ya, Paman. Aku berjanji pada Paman, aku tidak akan menyakiti perasaan hati Maria. Aku sangat mencintai Maria. Tidak ada wanita lain di hatiku, selain Maria.” ucap Kevin dengan tegas dan penuh percaya diri dan keyakinan yang teguh.


Setelah melamar Maria, dalam sebulan lamanya Maria dan Kevin akhirnya menikah. Setelah Kevin menjadi anak mantu Mahendra, Kevin bekerja selama satu tahun di perusahaan Mahendra dan tahun berikutnya, ia menjadi CEO di perusahaan itu. Dan sekarang adalah pemilik satu-satunya dari perusahaan tersebut.


”Ekhem!” Lirjan sengaja berdekhem. Ia pun tahu perjalanan proses lamaran bapaknya dari cerita sang kakek, Mahendra. Waktu Lirjan masih duduk di bangku sekolah tingkat pertama.


Deheman Lirjan menyadarkan kembali ingatan Kevin.


”Mama, Mama jangan samakan Papa yang saat itu dengan anak muda jaman sekarang dong. Mama lihat kan anak tetangga kita itu? Mama juga lihat kan anak kemenakan Mama itu, yang menikah dengan pria yang hanya mengincar harta saja? Papa tidak mau hal itu juga terjadi pada putri kita, Ma.” ucap Kevin.


”Sifat setiap orang berbeda-beda, Pa. Kalau memang pria itu adalah kekasih Viona, berikan dia kesempatan. Kalau memang dia bukan pria yang baik, tentunya dengan kecerdasan yang di miliki Viona, Viona akan meninggalkan pria itu.” jelas Maria.


”Ucapan Mama ada benarnya, Pa.” sambung Lirjan.


”Baiklah, kalau memang pria itu adalah kekasih putri kita, maka kita akan berikan kesempatan padanya untuk membuktikan perasaan dan kesetiannya pada Viona.” ucap Kevin mengalah. Ia memang selalu tidak bisa berdebat dengan istrinya itu.


Maria tersenyum senang. Ia sangat bahagia dan bersyukur memiliki Kevin dalam hidupnya. Dari awal dia menikah dengan Kevin sedikitpun Kevin tidak pernah mengkhianati cintanya.

__ADS_1


Memarahinya pun tidak sampai melakukan kekerasan fisik. Kevin hanya menegur dengan suara yang pelan jika ia melakukan kesalahan.


.. ..


__ADS_2