
Malam hari, di depan rumah pak imam.
”Jadi bagaimana ini? Rumah ini sudah di pagari oleh kekuatan yang kuat. Kita tidak bisa menembusnya.” ucap siluman ular pada temannya sendiri. Ia jadi panik, tugas mereka kali ini akan gagal lagi.
”Aku juga tidak tahu. Sikap nona sangat galak, entah apa yang akan terjadi pada kita setelah nona tahu kita gagal menyerang Viona.” sahut siluman ular lainnya.
”Kita pergi dari sini,” titahnya, ”Aku akan mendatangi nona dan memberitahu nona jika kita gagal,” ucapnya lagi pada rekan-rekannya.
”Bagaimana kalau kita minta bantuan pada tuan untuk menghancurkan kekuatan yang melindungi rumah ini? Baru kita serang Viona.” usul salah satu di antara mereka.
”Itu ide yang buruk! Kalian tahu kan kalau tuan tidak suka di ganggu saat sedang beristirahat? Dan sekarang tuan sedang beristirahat di rumah nyonya. Jika kalian tidak ingin hidup lagi, pergilah minta bantuan pada tuan.” ucap salah satu di antara mereka.
Mereka terdiam sambil memandang rumah di depan mata mereka. ”Ayo kembali.” ajak salah satu dari mereka yang memimpin dalam menyerang Viona.
Akhirnya mereka kembali lagi dengan kegagalan. Mereka tidak menyangka meskipun kini pak imam berada di kediaman duka, ternyata pak imam masih bisa membentengi rumahnya.
*
*
Di kediaman Sania.
Nia merasakan kehadiran anak buah papanya datang menemuinya. Tetapi, ia tidak memiliki alasan untuk bisa diam-diam menemuinya. Alasan ke kamar mandi tidak bisa ia gunakan lagi.
”Mama, Sania akan di kebumikan besok pagi, bagaimana kalau kita pulang saja. Besok baru kita datang lagi.” usul Nia pada mamanya.
”Iya, kita pamit dulu sama ibunya Sania,” sahutnya berbisik pada Nia.
”Tante, aku dan Mama kembali di rumah dulu. Besok pagi baru kami kembali ke sini.” pamit Nia.
”Iya, hati-hati di jalan. Terima kasih sudah sempatkan waktu datang ke sini.” sahut ibunya Sania.
”Iya. Sama-sama, Tante.”
Nia dan mamanya beranjak berdiri. Mereka keluar dari rumah Sania. Separuh warga juga pulang ke rumahnya setelah mengaji. Besok mereka akan kembali lagi untuk mengantar kepergian Sania di tempat peristirahatan terakhirnya.
*
*
Perjalanan pulang ke rumah Nia.
”Maaf, Nona. Kami gagal menyerang Viona.” lapor anak buah papanya pada Nia sambil menunduk.
”Hah, kalian tidak berguna! Kesempatan bagus untuk menyerang kalian sia-siakan!” Nia memarahi anak buah papanya.
”Maaf, Nona. Rumah kediaman pak imam di lindungi oleh mantra. Kami, yang hanya memiliki ilmu standar tidak mampu menembus pertahanan yang di buat pak imam. Kecuali...” Ia menghentikan ucapannya.
Nia dan mamanya menghentikan langkah kakinya. ”Kecuali apa?” Nia penasaran. Ia melanjutkan lagi langkahnya.
”Kecuali meminta pada papanya Nona untuk membuka pertahanan pak imam baru kami bisa masuk menyerang Viona.” jawab anak buah papanya.
Nia terdiam. Mereka tidak saling berbicara lagi. Mereka telah tiba di rumah Nia.
__ADS_1
*
*
Di dalam rumah Nia.
”Papa, tolong bantu Nia,” ucapnya memelas memandang papanya. Papanya terdiam.
”Kenapa kamu tidak bisa membantu anak mu kali ini?” tanya mamanya Nia pada papanya Nia. Papanya Nia menghela nafas melihat anak dan ibu dari anaknya itu.
”Papa bisa menembus pertahanan pak imam tetapi... tubuhnya Papa akan melemah dan kekuatan Papa akan menghilang. Kekuatan pagar pak imam sangat kuat. Itu adalah resiko jika ingin memaksa menembus pertahanannya,” jelasnya pada Nia dan ibunya Nia. Nia dan ibunya saling pandang.
”Papa belum mencobanya sudah menyerah duluan... ayolah Papa, ini kesempatan emas untuk menyerang Viona sekarang. Kalaupun Andra ada di sana, dia tidak akan bisa melindungi Viona terus.” bujuk Nia pada papanya. Mamanya Nia hanya memandang papa dari anaknya itu.
”Please, Papa...” Nia kembali memelas melihat papanya.
”Jika Papa terluka... sembuhnya akan lama. Butuh enam bulan untuk memulihkan tenaga Papa tapi tidak untuk kekuatan Papa. Kekuatan Papa akan hilang. Kamu ingin Papa sakit selama itu?”
”Apa Papa pernah mencoba menembus pertahanan pak imam sebelumnya?” Nia penasaran.
Papanya Nia terdiam. Dia berdiri. Dia belum pernah melihat dan bertemu dengan pak imam yang menampung Viona dan Andra tinggal saat ini. Tetapi, ia pernah bertemu dengan pak imam lainnya saat mengejar Maria dulu.
Ia hampir saja membunuh Maria saat itu, tetapi...entah dari mana seseorang muncul saat mendengar suara teriakan Maria yang meminta tolong. Dia seorang pria yang berpakaian muslim rapi dengan sorban di kepalanya.
Ia berhadapan dengan orang itu dan ia kalah telak dari orang itu. Dia kabur untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Akhirnya Maria di selamatkan sama orang itu, semenjak saat itu ia tidak ingin berhadapan dengan yang namanya pak imam, pak ustadz, atau semacamnya.
”Papa pernah bertemu dan beradu kekuatan dengan orang yang sejenis pak imam ini. Papa sudah kehilangan separuh kekuatan Papa dan Papa membutuhkan waktu enam bulan untuk memulihkan tubuh Papa,” ungkapnya. ”Jadi, kamu masih ingin Papa melakukan itu?”
Nia menghela nafas dan terdiam. Ia teringat semua.
”Tentang apa itu?” Ia kembali duduk di bangkunya. Ia melihat Nia dengan serius.
”Viona masih hidup. Dia di selamatkan oleh ular cobra emas.”
”Apa? Ular cobra emas?” Papanya Nia terkejut, ia mengulang memastikan jika pendengarannya tidak salah mendengar.
”Iya, Pa. Ular cobra emas. Tadi... Nia mendengar percakapan pak imam dengan warga saat di rumah Sania. Pak imam mengatakan kalau Viona di lindungi oleh ular cobra emas,” ungkapnya.
”Dia adalah Berlia, anak kedua dari Prayoga yang kami cari-cari. Ada hubungan apa dia dengan Viona?” Papa Nia penasaran.
”Nia juga tidak tahu, Pa. Cuman... Nia pikir pasti mereka ada hubungan. Tidak mungkin ular cobra itu melindungi Viona jika tidak ada kaitan darah,” jelasnya.
”Hum, informasi ini sangat penting. Papa pergi dulu menghadap bos.” pamit Papa Nia.
”Papa akan pergi begitu saja tanpa membantu Nia?” Nia marah pada papanya yang tidak bisa membantunya.
Papa Nia mendekati Nia, dia menaruh tangannya di kepala Nia. ”Maaf, sayang. Kali ini tidak bisa. Tapi... bisa di pastikan kalau Viona akan mati kali ini saat berhadapan dengan Papa nanti. Untuk sekarang, kamu bersabar dulu dengan dendam mu ini,” bujuknya.
”Hum...baiklah.” Nia mengalah. Ia membiarkan papanya pergi.
”Sebaiknya kita istirahat sekarang. Besok harus kembali ke rumah Sania.” ucap mamanya Nia.
*
__ADS_1
*
Di goa, di istana kerajaan Prayoga, tempat Genta sekarang.
”Kenapa kamu kesini? Tuan sedang istirahat.” Penjaga kamar Genta menghadang seseorang yang ingin menemui Genta yang sedang istirahat. ”Pergi dari sini! Apa yang ingin kamu sampaikan, sampaikan saja besok pagi.”
”Tapi... ini... yang datang ingin bertemu sama tuan adalah kaki tangannya tuan sendiri.” ucap anak buah tersebut.
”Bukankah dia tahu jam sekarang jam istirahatnya tuan? Kenapa dia datang mengganggu tuan malam-malam begini?”
”Ada apa ini ribut-ribut di depan kamar ku?” tanya Genta.
”Tuan, maaf.” kedua orang itu menunduk dan membungkukkan badan menghormati Genta.
”Tuan, tuan Ibra datang ingin bertemu dengan Tuan.” lapor anak buah Genta.
”Ibra? Malam-malam begini? Ada apa?” gumam Genta. ”Di mana dia?” tanya Genta pada anak buahnya.
”Tuan Ibra menunggu Tuan di depan,” jawabnya dengan menunduk.
”Hum.” Genta berjalan mendatangi Ibra di depan sana.
Genta melihat Ibra yang mondar-mandir di ruang depan dengan wajah serius.
”Ada apa tengah malam ini datang menemui ku?” tanya Genta. Ia duduk di kursi kebesaran raja.
Ibra berbalik menghadap Genta. Ia membungkuk menghormatinya, ”Tuan!”
”Hum.” sahut
Ibra menegakkan kepalanya. Ia duduk di kursi yang ada di sana.
”Ada berita penting apa?” tanya Genta.
”Tuan, Berlia tidak pergi kemana-mana. Dia ada di desa sekitar kita.” lapor Ibra pada Genta.
”Apa kamu sudah menemukan di mana tempat persembunyiannya?”
”Maaf, Tuan. Saya belum menemukannya. Akan tetapi... kita bisa memancing kehadirannya lewat seseorang...”
Kening Genta mengerut melihat Ibra.
”Ada gadis baru di desa kita. Kabarnya gadis itu di lindungi oleh seekor ular cobra emas. Sudah banyak anak buah ku yang meninggal di tangan ular cobra emas saat anak buah ku menyerang gadis itu.” ungkap Ibra.
”Ular cobra emas adalah Berlia. Siapa gadis itu?” Genta penasaran.
”Dia adalah Viona. Dia tinggal di rumahnya pak imam yang tinggal tidak jauh dari masjid di desa ini.” ungkap Ibra lagi.
Genta menyeringai, ”Bagus!! Siapkan anak buah mu. Kita akan pergi menyerang gadis itu. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Berlia lagi. Seharusnya, kandungannya sekarang sudah membesar. Itu bagus sekali... keturunan Prayoga harus mati semua...”
”Baik, Tuan! Saya permisi dulu.” pamit Ibra.
”Hum!” sahut Genta.
__ADS_1
Ibra beranjak dan pergi dari kediaman Genta.
Genta menyeringai menatap ke depan.