Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 19


__ADS_3

Di rumah Andra, di ruang depan.


”Huh! Mulai lagi kita di teror sama ular. Bagaimana kita akan duduk tenang tinggal di rumah, kalau begini lagi? Aku yakin, kali ini mereka akan lebih bringas dan bukan cuma satu ular saja yang datang pada kita. Tapi... pasti ada banyak para siluman ular yang akan datang memburu kita.” keluh Andra.


”Maaf, semua ini karena aku.” ucap Viona.


”Ini bukan karena mu, jangan menyalahkan dirimu sendiri! Viona...bagaimana kalau kita tinggal di rumahnya pak imam? Orang yang pernah aku ceritakan padamu sebelumnya.” usul Andra.


”Ok. Aku setuju.”


”Ok, ya?” Andra memastikan.


Viona mengangguk yakin. Dia juga tidak mau jika Andra menjadi korban berikutnya jika memang ular-ular itu mengincar nyawanya.


”Kalau begitu kita pergi ke rumahnya pak imam sekarang dan mengatakan keinginan kita. Setelah pak imam menyetujui, aku akan kembali sendiri ke rumah untuk mengambil pakaian.”


"Dia akan kembali ke rumah sendirian? Itu sangat berbahaya! Untuk sekarang iyakan saja dulu." benak Viona.


”Iya.”


Andra dan Viona pergi ke rumah pak imam.


*


*


Di rumah pak imam.


”Assalamu 'alaikum! Pak imam.” sapa Viona dan Andra, saat melihat pak imam sedang duduk bersantai di teras rumah bersama.


”Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatu. Mari, mari, silahkan duduk.” pak imam mempersilahkan Viona dan Andra untuk duduk.


Viona dan Andra duduk di kursi, yang berhadapan dengan pak imam.


”Ali...bilang pada umi buatkan minuman untuk tamu, dua gelas teh.” titah pak imam pada anaknya Ali, yang usiannya lebih muda dua tahun dari Andra, delapan belas tahun.


”Iya, Abi.” Ali berdiri dan masuk ke dalam rumah.


”Ada apa Nak Andra datang kemari?” tanya pak imam.


”Maaf, Pak imam, kalau boleh, saya dan Viona sementara ini tinggal di rumahnya Pak imam. Nanti di hari ke seratus ibu, baru kami kembali ke rumah, mempersiapkan haulnya ibu. Dan setelah itu, kami akan pergi ke kota.” Andra menyampaikan keinginannya pada Pak imam.


Pak imam menatap Viona. Viona menunduk di tatap sama pak imam.


”Permisi, Abi. Ini minumannya.” Ali datang dengan membawa nampan yang berisi tiga cangkir teh. Dia menyimpan nampan itu di atas meja dan membagikan teh kepada Abi nya, Andra, dan Viona.


”Terima kasih,” ucap Andra, Viona, dan pak imam pada Ali.


”Sama-sama. Ali masuk ke dalam dulu, Abi.” pamit Ali.


”Iya.”


Ali masuk kembali ke dalam rumah dengan memegang nampan kosong di tangannya.


”Nak Andra, Viona, silahkan di minum teh nya.”

__ADS_1


”Iya, Pak imam.” sahut Andra dan Viona. Mereka mengambil tehnya dan meminumnya beberapa teguk dan menyimpan kembali ke atas meja.


Pak imam juga meminum tehnya sambil melihat Viona. Dia benar-benar penasaran dengan sosok gadis di depannya itu.


Andra pun tidak mengerti mengapa pak imam terus memandang Viona seperti itu. Apakah ada yang salah dengan Viona?


Memang ini adalah pertama kalinya pak imam bertemu dengan Viona, bahkan pak imam sendiri tahu kalau Andra tidak punya saudara perempuan maupun laki-laki.


Tentu saja, pak imam sedikit penasaran dengan Viona. Dan pak imam juga tidak tahu jika Viona tinggal dengan dirinya beberapa bulan ini. Karena Andra tidak menceritakan sosok Viona yang tinggal di rumahnya pada orang lain. Andra hanya melaporkan keberadaan Viona pada pak RT dan pak RW saja, biar tidak menjadi kesalahpahaman pada warga setempat. Apakah pak imam penasaran dengan identitas Viona?


”Maaf, Pak imam. Dia ini adalah teman Andra dari kota, namanya Viona. Dia sudah tinggal bersama Andra selama berapa bulan ini, selama di desa.” Andra memperkenalkan Viona pada pak imam.


”Salam kenal Pak imam, nama saya Viona. Saya adalah teman Andra dari kota. Saya mengikuti Andra ke desa karena penasaran dengan suasana di desa.” Viona pun memperkenalkan dirinya sendiri pada pak imam. Namun, dia menutup alasan yang sebenarnya makanya dia ikut Andra ke desa.


”Apa kamu punya keluarga di desa ini, Nak Viona?” tanya pak imam pada Viona.


”Tidak ada, Pak imam.” jawab Viona.


Pak imam menghela nafas.


”Apa kamu masih di ganggu sama ular, Andra?” pak imam bergantian bertanya pada Andra. Dia kembali meminum tehnya, setelah bertanya.


”Alhamdulillah! Selama hampir dua bulan ini, kami tidak di ganggu ular lagi, Pak imam. Setelah saya mengikuti anjuran Bapak. Tapi, sepertinya, ular-ular itu tidak takut pada tanaman yang baunya menyengat, Pak imam. Dan biasanya yang datang cuma seekor ular, tapi, ini sudah lebih dari seekor, Pak imam.” ungkap Andra.


Pak imam kembali menatap Viona yang sedang meminum teh. Andra dan Viona sama-sama bingung, kenapa pak imam terus menatap Viona?


”Bau yang menyengat itu akan berlaku hanya pada ular biasa. Kalau siluman ular, tidak akan berlaku padanya.” pak imam kembali melihat Viona.


Apakah pak imam menyadari sesuatu? benak Andra dan Viona.


”Ya, kalian berdua juga tahu maksud Bapak ini.” pangkas pak imam.


Andra dan Viona saling pandang. Benarkah pak imam benar-benar tahu tentang manusia ular?


Andra menghela nafas, ”Benar, Pak imam. Yang meneror kami bukan lah ular biasa. Melainkan siluman ular.” ungkapnya.


”Semalam, Viona bermimpi di datangi oleh almarhum ibu dan ibu mengatakan pada Viona, jika ibu sengaja di bunuh sama ular itu. Dan juga, ular itu memburu Viona, ingin membunuh Viona juga.” Andra menjeda ucapannya. Dia kembali menghela nafas.


”Sebenarnya, saya bingung Pak imam, kenapa ular itu tiba-tiba menyerang keluarga ku. Bahkan, Viona yang orang luar juga menyerang Viona.” lanjut Andra.


Pak imam mengangguk-angguk kan kepalanya mendengar cerita Andra. Dia kembali melihat Viona.


”Nak Viona, apa benar, kamu tidak mempunyai keluarga di desa ini?” pak imam kembali mempertanyakan keluarga Viona pada Viona.


”Iya, Pak imam. Ibu saya bercerita bahwa ibu adalah anak tunggal di keluarganya. Dan ayah sendiri, saudaranya ada di kota B dua orang dan satu orang berada di kota S.” jawab Viona dengan yakin.


”Nak Andra, apa kamu yakin, ular itu datang menyerang mu?” pak imam berganti bertanya pada Andra.


Andra terdiam. Memang benar, ular itu menargetkan Viona. Bukan dirinya. Akan tetapi, kenapa ibunya di bunuh sama manusia ular itu? Apakah Viona memang berkomplot dengan manusia ular untuk mencari tumbal?


Ah...apa yang aku pikirkan? Tidak mungkin! Viona tidak mungkin akan berkomplot dengan ular, apalagi mencari tumbal. benak Andra.


Pak imam kembali menatap Viona. Andra dan Viona benar-benar di buat penasaran oleh pak imam ini. Mengapa pak imam selalu melihat Viona?


”Maaf, Pak imam. Pak imam menanyakan ini terus padaku. Dan, Pak imam juga terus menatap ku, apa ada sesuatu pada diriku, Pak imam?” Viona tidak tahan lagi dengan rasa penasaran yang menggelitik hatinya.

__ADS_1


Andra juga sama penasarannya seperti Viona. Kenapa sampai pak imam mengulang pertanyaannya pada Viona? Apakah Viona memiliki keluarga di desa ini? Bagaimana mungkin?


Viona adalah gadis kota. Menginjak desa ini karena kabur dan ikut Andra. Bahkan Viona sempat mengeluh tentang desa yang di pijaknya, karena dia tidak tahu desa itu seperti apa.


”Tidak apa-apa. Hanya saja..saat Bapak melihat wajah mu, Bapak teringat pada seseorang. Meskipun kalian tidak mirip, tapi, ketajaman mata kalian yang indah, sama persis. Bentuk bibir, warna rambut dan panjang rambut juga sama. Maaf, Bapak terlalu banyak berpikir.” jelas pak imam.


”Oh, ternyata begitu. Maaf, Pak imam, Viona lancang bertanya.” ucap Viona. Dia sedikit malu.


Pak imam tersenyum, ”Tidak apa-apa. Bapak juga minta maaf, karena Bapak sudah lancang memperhatikan Viona.”


”Tidak apa-apa, Pak imam. Saya dapat memakluminya setelah mendengar penjelasan Pak imam.” sahut Viona.


Mereka terdiam dalam beberapa saat untuk meminum habis minumannya.


”Jadi, bagaimana, Pak imam? Apakah kami berdua bisa tinggal semetara waktu di sini?” tanya Andra. Dia kembali pada topik tujuannya datang menemui pak imam.


”Baik, untuk Viona bisa tidur dengan anak Bapak, Anisa. Dan untuk kamu Andra, bisa tidur sekamar dengan Ali.” jawab pak imam.


Viona dan Andra tersenyum senang. ”Terima kasih, Pak imam.” ucap keduanya.


”Sama-sama.” jawab pak imam.


”Kalau begitu, saya kembali dulu ke rumah untuk mengambil pakaian. Terima kasih, untuk teh yang Pak imam suguhkan pada kami” ucap Andra.


”Iya. Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut.” nasehat pak imam.


”Iya, Pak imam. Saya pergi dulu.” Andra berdiri. Viona ikut berdiri. Andra melihat Viona. ”Vi...kamu tinggal saja di sini, biar aku saja yang ambilkan pakaian mu.”


”Aku ikut. Aku tidak mau kamu mengambil resiko di sana sendirian. Tujuan mereka juga adalah aku.” ucap Viona.


”Justru tujuan mereka adalah kamu, kamu baik-baik di sini. Mereka tidak akan melukai ku.” bujuk Andra.


Pak imam hanya memperhatikan Andra dan Viona, yang berbicara.


”Aku ingin ikut!” kekeh Viona.


”Vi...”


”Biarkan dia ikut.” akhirnya pak imam membuka suaranya, memangkas ucapan Andra.


Andra dan Viona melihat pak imam.


”Baiklah, ayo kembali sama-sama.” Andra mengalah.


Viona tersenyum senang. Dia mengangguk.


”Pak imam, kami berdua pergi dulu.” pamit Andra.


”Iya.” sahut pak imam.


Andra dan Viona berjalan ke motor. Andra menyalakan mesin motornya dan Viona naik ke atas motor. Andra menjalankan motornya.


Tiga puluh menit dalam perjalanan, mereka telah sampai di rumah Andra. Mereka berdua menatap rumah itu sekejap.


Apakah ularnya masih ada di dalam rumah ini? benak Viona dan Andra.

__ADS_1


.. ...


__ADS_2