Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 28


__ADS_3

Di kediaman pak imam.


”Assalamu 'alaikum!”


”Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Kakak Dokter sudah datang?” sahut Ali, yang duduk di teras rumah.


”Iya. Mau suntikkan obat penawar racun pada Andra. Kenapa, Andra nya sudah tidur, ya?”


”Belum. Bang Andra ada di atas, bersama kak Viona dan bapakku. Mari, Ali antar kakak Dokter ke atas.” ajak Ali.


”Iya.”


Dokter tersebut berjalan mengikuti Ali ke mushola. Mereka telah sampai di mushola. Ali dan dokter melihat Andra sedang berbaring dan memperhatikan buku yang di pegang Viona. Pak imam sedang membaca di meja, dekat rak-rak buku. Dan Viona sedang membaca di samping Andra.


”Assalamu 'alaikum!” sapa Ali dan dokter.


Andra, Viona, dan pak imam sama-sama menoleh, melihat Ali dan dokter.


”Wa 'alaikum salam.” sahut ke tiganya.


Viona menghentikan bacanya. Ali menghampiri papanya dan duduk di sampingnya memperhatikan Andra, dokter, dan Viona. Pak imam melanjutkan kembali membacanya.


”Andra, bagaimana perasaan mu sekarang?” sang dokter berjalan mendekati Andra. Dia mengecek suhu badan, nadi, dan melihat tangan Andra.


”Lumayan, Dok. Hanya ini masih terasa kram dan berat ini tangan.” jawab Andra.


”Apa ada keluhan lain, selain ini?”


”Kepala sedikit pusing, Dok.”


”Hum. Aku suntikan lagi obat penawar padamu. Dan ini ada obat penawar racun untuk kamu minum.” dia memperlihatkan obat botol kecil, obat penawar racun untuk di minum. Dia memberikannya pada Andra. Lalu, dia menyuntik tangan Andra.


”Iya, Dok.” Andra mengambil botol kecil itu.


”Ini kamu minum sampai habis. Hanya untuk sekali minum saja.


”Apa tidak apa-apa Dok, jika obatnya di double begitu? Dokter baru saja menyuntikan obat penawar racun padanya. Lalu, dia harus meminum penawar racun ini sampai habis, apa gak akan keracunan obat karena over dosis?”


”Iya, tidak apa-apa. Obatnya aman. Dan, kalau bisa kamu menjauh dari Andra. Banyak desas desus yang ku dengar kamu adalah komplotan siluman ular. Andra begini karena kamu. Beruntung fisiknya Andra kuat. Jika tidak....” dokter tidak melanjutkan bicaranya. Dia memandang Viona tidak senang dan marah.


Sania mengambil botol kecil obat penawar dari tangan Andra dan membantu Andra meminumnya.


Andra, Viona , pak imam, dan Ali terkejut. Benarkah kabar itu sudah meluas? Apakah penyerangan ini sudah di ketahui juga para warga? Tapi, siapa yang menyebarkan nya? Apakah Ali? Dokter? Selain kami dan dokter, kejadian ini masih di tutupi.


Viona menunduk. Ini semua memang karena ku. Ular itu mengincar ku. Tapi, aku tidak tahu kenapa ular-ular itu mengincar nyawaku. Bahkan melukai orang yang ada si sekitar ku. Apa sebenarnya salah ku? benaknya.


”Sania, tugas mu hanyalah mengobati Andra. Kamu tidak berhak mengomentari Viona, sementara kamu tidak tahu hal yang sebenarnya terjadi.” pak imam menasehati Sania.


”Bukan kah itu benar, Ali, Pak imam? Berita itu bukan rahasia lagi. Semua warga sudah tahu. mereka hanya berdiam diri tidak berani mengatakan langsung kepada Pak imam, kerena mereka menghargai Pak imam. Tapi saya, saya Dokter, saya peduli dengan keselamatan orang. Keselamatan Andra, bahkan keluarga Pak imam dalam bahaya karena wanita ini. Bukan kah mencegah lebih bagus daripada mengobati? Andra sudah menjadi contohnya, jangan ada lagi seperti Andra!” tutur dokter. Dia menatap tajam Viona yang menunduk.


Mata Viona berkaca-kaca. Jika saja itu tidak benar, dia sudah membalas perkataan wanita yang sudah menyudutkannya itu. Tetapi, yang di katakan wanita itu adalah benar. Itulah yang membuatnya tidak berdaya.


”Ini hanyalah musibah yang terjadi dalam keluarga ku. Tidak ada hubungannya dengan Viona. Sania, kamu jangan beralibi macam-macam menyudutkan Viona.” pak imam membela Viona.


Ali terdiam. Dia tidak berani mengeluarkan suaranya. Cukuplah papanya yang menjadi pembicara.

__ADS_1


”Kejadian ini tidak ada hubungannya dengan Viona. Dan Viona bukan komplotan siluman ular yang Dokter bicarakan.” Andra membuka suaranya membela Viona. Tangannya menggenggam tangan Viona. Viona melepaskannya.


Andra melihat Viona. Meskipun Viona menunduk. Andra melihat jelas, air mata Viona yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Bahkan keningnya dikerutkan. Apakah dia sudah menangis di dalam hatinya?


”Bukan komplotan siluman ular? Ibu mu meninggal di gigit ular! Kamu pindah dari rumah mu tinggal di sini karena di rumah mu tidak aman, kan? Kamu selalu dihantui sama siluman ular itu, ya kan? Masih ingin membelanya?” suara dokter meninggi mengomeli Andra.


”Ini bukan urusan mu, Sania! Mengapa kamu mengomentari tamu yang datang untuk tinggal di rumah ku?! Bukan kah kamu sudah lancang mengurusi keluarga ku? Jika sudah selesai memberikan obat pada Andra, urusan Dokter seharusnya sudah selesai. Ini sudah malam. Kami ingin istirahat.” suara pak imam meninggi, bahkan tangannya terlihat gemetar menahan marah.


Sania terdiam. Tatapannya tajam melihat Viona.


”Pak imam, maaf. Bukannya Sania mencampuri urusan keluarga Pak imam. Sania hanya khawatir saja dengan keselamatan keluarga Pak imam dan Andra.” suara Sania rendah.


Viona berdiri.


”Vi...mau kemana? Kembali duduk.” cegah Andra.


”Aku..aku..aku.. ke bawah dulu. Maaf,” suara Viona serak, bergetar karena menahan tangis. Dia melangkah.


Andra berdiri, namun, tidak leluasa bergerak. Dia kesusahan. ”Vi... kembali Vi..! Dengarkan aku...Vi..!” teriaknya khawatir.


Namun, Viona tidak mendengarkan panggilan Andra. Viona terus melangkah turun ke lantai bawah.


Andra sangat khawatir. Hatinya sedih merasakan kesedihan Viona saat ini. ”Ali, kejar Viona. Dia orangnya sangat nekat. Jangan sampai dia pergi.” Andra terlihat sangat khawatir. Dia kesal sama dirinya. Sakit yang dia alami ini, membuatnya tidak leluasa untuk bergerak.


”Ali, pergi lihat Viona.” titah pak imam pada anaknya.


”Iya, Pa.” Ali berdiri, dia menyusul Viona ke bawah.


”Biarkan saja kalau dia pergi! Tidak perlu di tahan.” ucap Sania.


”Kamu ja...”


”Sania, sebaiknya kamu pulang sekarang. Terima kasih, sudah mengobati Andra. Maaf, tidak mengantar kamu pulang.” pangkas pak imam.


”Baik,” Sania menurut. Sudah dua kali pak imam mengusirnya secara halus. Dia berdiri dan melangkah keluar dari mushola.


Andra berusaha menahan tangannya agar tidak bergerak. Dia berusaha berdiri.


”Kamu ingin turun ke bawah? Mengejar Viona?” pak imam menahan tubuh Andra yang sudah berdiri.


”Iya, Pak imam. Aku harus mencegahnya pergi. Ini sudah malam. Dia akan kemana? Dia tidak mungkin akan ke rumah ku. Kunci rumah padaku. Dan dia tidak memiliki uang untuk melakukan perjalanan.” Andra berjalan pelan keluar dari mushola.


”Bapak bantu pegangin kamu.” pak imam memegang tubuh Andra. Mereka turun ke bawah.


”Pak imam, ini baru beberapa hari kami tinggal di sini. Kami sudah membuat keributan di rumah Pak imam. Aku tidak enak hati sama Pak imam dan sekeluarga. Besok, kalau badanku sudah pulih. Aku dan Viona akan kembali ke rumah ku.”


”Bapak tidak izinkan! Di hari keseratus mendiang ibumu, baru kamu kembali tinggal di rumah mu. Sesuai dengan permintaan mu waktu kamu ingin tinggal di sini.”


”Tapi, Pak imam...”


”Tidak ada tapi-tapi!” mereka telah sampai di lantai bawah. Mereka masuk ke dalam rumah. Mereka melihat wajah bingung dari Anisa dan ibu Ali. Mereka sedang duduk di ruang keluarga. Ali juga bersama mereka.


”Anisa, Ali, mana Viona?” tanya Andra.


”Viona pergi ke belakang, mengambil jemurannya. Apa Abang Andra berkelahi dengan Viona? Viona masuk ke kamar dengan menangis. Dia mengemas kembali pakaiannya dari dalam lemari pakaian ku. Di saat aku bertanya, kenapa dengannya? Dia hanya menggeleng sambil menghapus air matanya dan pergi keluar.” ungkap Anisa.

__ADS_1


Andra menghela nafas, dia melihat pak imam.


”Sebenarnya apa yang terjadi, Pa?” tanya ibu Ali pada suaminya.


”Sania tadi menyinggungnya, Ma. Dia menyuruh Viona menjauhi Andra dan juga pergi dari rumah ini. Karena semua peristiwa yang terjadi, penyebabnya adalah Viona.” jelas pak imam.


”Astaghfirullah! Ibu si pemilik rumah ini saja tidak berani mengusir Viona, kenapa dia yang hanya orang luar berani berkata begitu?” ucap ibu Ali.


”Viona..kamu mau kemana?” tanya Anisa yang melihat Viona memegang tas pakaiannya.


Semua mata mengarah pada Viona.


”Viona...Viona. Ibu, Anisa, Ali, Pak imam, Andra...Maaf, Viona sudah menyusahkan semuanya. Viona berterima kasih, karena Pak imam, Ibu Ali sudah mengizinkan Viona tinggal beberapa hari di sini. Viona...Viona...akan pergi. Viona akan kembali ke kota.” Viona menunduk saat berucap.


Andra menatap Viona dengan tajam. ”Ke kota?” tanyanya.


Viona mengangguk, masih dalam menundukkan kepalanya.


”Vi.. cerita sama Ibu. Apa yang terjadi? Kamu, Ibu gak izinkan keluar dari rumah Ibu.” cegah Ali.


”Sebaiknya kamu masuk ke kamar dan istirahat saja, anakku. Pikiran mu sedang kacau sekarang.” nasehat pak imam.


”Maaf, Viona harus pergi sekarang.” Viona melangkah kan kakinya pergi dari sana.


Andra melemparkan pisau di lantai, di kaki Viona. Membuat Viona terkejut dan menghentikan langkahnya.


”Astaghfirullah!” Ali, Anisa, ibu Ali dan pak imam juga ikut terkejut saat Andra melemparkan pisau tersebut.


”Ingin pergi? Ambil pisau itu dan tikam kan padaku. Tunggu aku benar-benar sudah meninggal baru kamu boleh pergi.” Andra berdiri dan berjalan pelan ke arah Viona mematung.


Viona menelan saliva nya dengan susah. Di pandangnya pisau itu.


”Ambil pisaunya! Tikam kan padaku! Aku bukan kekasih mu, yang berguna! Bunuh saja aku dengan tangan mu. Aku rela mati di tangan mu dari pada mati di patuk ular! Ayo, lakukan!” titah Andra lagi. Menghadapi orang yang nekat, dia juga harus nekat. Dia sudah berdiri di hadapan Viona.


Viona menghapus air matanya yang jatuh di pipinya. Tangannya terulur mengambil pisau di lantai. Tangannya gemetar memegang pisau tersebut.


Dia mengambil tangan Andra dan mengembalikan pisau itu padanya. ”Kita...kita putus! Maaf, aku...aku harus pergi.” dia melangkah melewati Andra.


Andra menahan tangan Viona ”Argh!” jeritnya kesakitan. Dia menahan tangan Viona menggunakan tangannya yang sakit. Tangannya bergetar.


Viona terkejut dan khawatir. Tasnya terlepas dari tangannya. Dia berbalik. Kini dia yang memegang tangan Andra. ”A...Andra! Kamu...tangan mu...”


”Argh!...Pelan Vi...jangan gerakkan.. sakit..!” jerit Andra.


Pak imam mengulum senyum. Laki-laki memang punya beribu cara untuk mengambil hati kekasihnya. benaknya.


”Maaf, ah! Luka di kaki mu juga terbuka.” Viona terkejut melihat darah di lantai yang keluar dari kaki Andra. ”Ali, bantu aku papah Andra ke kamar mu!” titahnya pada Ali.


”Iya.” Ali membantu Viona memapah Andra ke kamar Ali sendiri.


Pak imam berdiri. ”Anisa, bawa masuk kembali tasnya Viona ke kamar.” titahnya. Dia menutup pintu dan menguncinya. Untuk mencegah sesuatu yang tidak di inginkan, kunci pintu tersebut di buka dari pintu.


”Iya, Pa.” Anisa mengambil tas Viona dan membawanya masuk ke kamar.


”Ma, aku lihat mereka dulu. Mama periksalah pintu di dapur dan pintu samping. Kunci dengan baik dan buka kuncinya. Mama istirahat lah duluan.” titahnya pada sang istri.

__ADS_1


”Iya. Pa.” ibu Ali menurut. Dia ke dapur dan memeriksa pintu, menguncinya, dan mencabut kunci dari pintu. Sesuai perintah suaminya.


__ADS_2