
Di kediaman Pak imam, di dapur.
”Semuanya sudah masak. Vi, sebaiknya kamu makanlah duluan agar kamu bisa menjaga si bayi. Supaya Andra bisa berkumpul makan di sini,” usul Ibu Ali pada Viona. Viona mengangguk.
Ia mengambil makanan dan mulai memakannya.
”Bagaimana, sudah dapatkan nama untuk si bayi?” tanya Ibu Ali.
”Belum, Ibu. Viona serahkan pada Andra. Biar Andra saja yang mencarikan nama untuknya,” jawab Viona.
”Kalian berdua pasangan yang serasi. Semoga hubungan kalian bisa sampai ke tahap yang lebih serius. Andra bukan anak Ibu tapi, selama kalian tinggal di rumah ini, Ibu amati Andra adalah orang yang baik. Dia juga penyayang dan sangat melindungi mu. Jarang jika ada pacar yang bisa menjaga dan melindungi kekasihnya dengan nyawanya sendiri.” ucap Ibu Ali memuji Andra.
”Iya, Ibu. Andra adalah pacar yang baik dan kelak akan menjadi suami yang melindungi keluarganya. Aku juga sangat mengagumi pria ini,” sahut Viona sembari tersenyum malu. Ia memasukkan sesendok nasi lagi ke dalam mulutnya.
”Kenapa kalian tidak menikah saja?” tanya Ibu Ali.
”Ukhuk...ukhuk...!” Viona terbatuk-batuk karena tersedak makanan yang ada di mulutnya.
”Ah, Viona! Pelan-pelan sayang! Ini, minum dulu...!” Ibu Ali memberikan segelas air pada Viona. Ia panik saat Viona terbatuk-batuk dengan tiba-tiba.
Viona mengambil gelasnya dan meminum airnya sampai habis, sampai di tenggorokannya terasa lega.
”Apa kamu terkejut karena pertanyaan Ibu barusan?” tanya Ibu Ali lagi, ia merasa bersalah.
”Ah! Tidak Bu, Viona saja yang tidak hati-hati saat makan,” jawab Viona. Viona melanjutkan makannya.
”Ibu, Viona juga ingin memantapkan hubungan Viona dan Andra sampai di pelaminan. Ibu do'akan saja semoga hubungan kami akan selalu membaik dan bertahan sampai berujung di pelaminan,” ucap Viona lagi.
”Aamiin!” Ibu Ali mengaminkan.
”Mama sama Viona sedang membahas apa?” tanya Pak imam. Ia menarik kursi dan duduk.
”Bapak, baru datang atau dari tadi?” Ibu Ali bertanya balik.
”Baru saja. Melihat di kamar, Mama tidak ada. Melihat di kamar Ali, Mama juga tidak ada. Jadi, Papa langsung ke dapur dan ternyata... Mama ada di sini bersama Viona,” jawab Pak imam menjelaskan.
”Mama dan Viona membahas apa barusan?” Pak imam bertanya lagi.
”Oh, bukan apa-apa, Pak imam.” Viona yang menjawab pertanyaan Pak imam. ”Viona sudah habis makan. Viona akan memanggil Ali dan Andra untuk makan, juga akan memanggil Anisa,” ucapnya lagi.
Ibu Ali mengangguk, ” Iya, tolong panggil mereka.”
Viona berdiri, ia melangkah ke depan. Dia mengetuk pintu kamar Anisa. Saat Anisa membuka pintunya, ia mengatakan, ”Pak imam sudah datang. Ibu memanggil mu untuk makan.”
”Oh, iya. Aku segera ke sana,” jawab Anisa.
Viona pergi ke kamar Ali. Ia melihat Ali dan Andra sedang bermain dengan bayi kecil. Ia masuk menghampiri mereka. ”Bayinya tidak tidur?” tanyanya. Viona menggendongnya.
”Eh, ah, iya! Bayinya tidak tidur. Tapi... dia bayi pintar. Dia tidak menangis,” tukas Ali.
”Dia memang bayi yang pintar. Kalian berdua di tunggu sama pak imam dan ibu di dapur untuk makan. Pergilah makan!” ucap Viona.
”Kamu sendiri? Biar aku jaga bayi dulu, kamu makanlah duluan. Aku, nanti baru aku makan setelah kamu.” sahut Andra.
”Aku sudah selesai makan. Kalian pergilah, tidak baik membuat orang tua menunggu!” ucap Viona tanpa melihat lawan bicaranya.
Apa dia masih marah sama aku? Dia tidak mau melihat ku. benak Andra. Wajahnya terlihat sedih.
__ADS_1
”Ayo Bang, kita pergi makan,” ajak Ali pada Andra. Andra mengangguk. Ia beranjak berdiri dan melangkah ke luar kamar. Pandangannya masih melihat Viona, kiranya...ia bisa melihat senyuman Viona untuknya. Tetapi, harapannya sirna... Viona sama sekali tidak melihat dirinya, Viona hanya memperhatikan bayi mungil yang ada di gendongannya.
Apa sekarang aku menyesal karena menyuruh Viona menjaga bayi itu? Perhatian Viona sudah teralihkan pada bayi. benak Andra.
*
*
*
Di kota, sore hari, di kediaman Kevin.
”Apakah istriku akan baik-baik saja?” tanya Kevin pada dokter pribadinya. Wajahnya terlihat berbagai macam ekspresi yang di tunjukkan. Sedih, khawatir, cemas bercampur jadi satu.
”Suhu panas Maria sudah menurun semenjak subuh tadi. Kevin, Maria... sepertinya Maria banyak pikiran. Takutnya, jika pikiran Maria tidak di alihkan... Maria bisa-bisa... depresi,” ungkap Sabil, dokter pribadi keluarga Kevin.
”Apa?!” Kevin terduduk lemas
”Iya. Jika membiarkan dia kepikiran terus, takutnya Maria akan depresi. Sebaiknya, kalian berdua harus lebih memperhatikan Maria. Jangan biarkan dia menyendiri dan tenggelam dengan pikirannya,” ucap Sabil menasehati.
”Beberapa bulan terakhir ini dia memikirkan anaknya, Viona. Dan baru beberapa hari ini...dia... dia seperti ini. Menangis... berteriak... aku... aku seperti lelaki yang tidak berguna sekarang...”
”Kalian belum menemukan keberadaan Viona?” tanya Sabil. Kevin mengangguk lemah.
”Pa, Mama panas tinggi lagi!” terdengar suara teriakan Lirjan yang panik dari dalam kamar.
”Apa?!” Kevin kembali terkejut dan panik. Begitu juga dengan Sabil. ”Dokter, cepat periksa istriku...”
”Iya.” Dokter dan Kevin bergegas masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar.
Kevin, Lirjan, dan Sabil merasa iba dengan Maria.
”Mama...Viona baik-baik saja. Dia...dia lagi bersama temannya. Dia akan segera kembali,” sahut Kevin sedih. Ia menggenggam jemari tangan Maria yang terulur saat memanggil nama Viona.
Sabil mengetes suhu panas Maria. ”Panasnya tiga puluh sembilan derajat celcius,” ucapnya membaca angka di termometer.
”Apakah bahaya?” tanya Kevin dan Lirjan khawatir.
”Tidak berbahaya namun, harus tetap di perhatikan. Maria mengalami demam sedang, mungkin selama tujuh atau sepuluh hari mendatang akan terus panas. Tapi, jika imun dalam tubuh Maria kuat, panasnya paling hanya sampai tujuh hari saja. Aku sudah menyuntikan obat penurun panas pada infusnya. Mengompres air hangat akan membantu menurunkan kadar panas.” jawab Dokter.
”Lirjan, ambilkan Papa air hangat dan handuk kecil. Papa akan mengompres mama,” titah Kevin pada anaknya. Lirjan mengangguk. Ia mengerjakan perintah papanya.
”Sabil, selama aku ber-rumah tangga dengan istriku, baru ini istriku sakit. Aku...aku sangat takut. Kamu... selama istriku belum sehat... tinggallah dulu di sini,” pinta Kevin.
”Hah, bagaimana dengan tanggung jawabku di rumah sakit?” Sabil terkejut dengan permintaan Kevin.
”Rumah sakitnya milik siapa? Kepala rumah sakitnya juga siapa? Kamu ingin menolak ku?” Gertak Kevin, tatapannya tajam dan wajahnya marah melihat Sabil.
Sabil menciut takut. ”Aku...aku punya istri dan anak yang baru berusia dua bulan, bagaimana aku akan membiarkan mereka tidur tanpa aku? Siapa yang akan menjaganya?” Sabil masih berusaha menolak permintaan Kevin dengan memberi pengertian pada Kevin.
”Telfon istrimu untuk bersiap... supir ku akan menjemputnya,” ucap Kevin.
Sabil terdiam. Alis kirinya terangkat ke atas melihat Kevin.
”Kenapa? Kamu kira di rumah ku ini tidak ada kamar? Kamar tamu di lantai bawah... dua-duanya kedap suara. Jangan takut suara ******* istrimu akan terdengar keluar.” ucap Kevin.
__ADS_1
”Apa?! Kau...!” Sabil terdiam. Tidak lanjut bicara, berdebat dengan Kevin sama saja bohong. Ia duduk di sisi ranjang, ”Terserah!” Ia pasrah.
Kevin menelpon supirnya untuk menjemput anak dan istri Sabil di kediaman Sabil. Sementara Sabil, ia menelpon istrinya untuk bersiap.
*
*
*
Malam hari, di desa, di kediaman Pak imam.
”Viona, Andra, istriku sudah bilang pada kalian jika Bapak punya niat untuk acara kan anakmu besok, kan?” tanya Pak imam pada Andra dan Viona. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam.
”Iya, Pak imam.” jawab Andra dan Viona bersamaan. ”Tapi... Pak imam, keberadaan bayi ini tidak ada yang tahu hanya kita di dalam rumah ini saja. Lalu, kalau...para warga akan bertanya...apa yang harus kita jawab?” lanjut Andra bertanya pada Pak imam.
”Hum, untuk itulah Bapak mengadakan acara untuk bayi ini besok. Bapak memikirkan kalian, besok lusa kalian harus pergi ke rumah kalian untuk acara seratus harinya ibu kalian. Dan setelahnya, bukan kah kalian akan ke kota? Warga akan bingung jika melihat kalian membawa bayi ini bersama kalian. Biar warga tahu keberadaan anak ini, Bapak mengundang para warga dan untuk pertanyaan tadi... biar Bapak yang menjawab pada mereka,” jawab Pak imam.
Viona dan Andra saling memandang lalu mengangguk. ”Terserah Pak imam saja, kami akan nurut,” ucap keduanya.
”Hum. Kalian berdua siapkan saja nama untuk si bayi. Untuk perjamuan serangkaian acara akan di adakan di halaman masjid. Untuk persiapannya sudah di atur oleh pihak masjid. Besok, jam delapan pagi, kita harus sudah berada di masjid.” ucap Pak imam.
”Baik, Pak imam.” jawab Andra.
”Baiklah, sekarang... istirahatlah! Bapak juga ingin istirahat,” ucap Pak imam lagi.
”Iya, Pak imam.”
Pak imam berdiri dan pergi ke kamarnya. Istrinya menyusul. Andra dan Viona masuk ke dalam kamar Ali. Sementara Ali dan Anisa, masuk ke dalam kamar Anisa.
Meskipun Anisa dan Viona sudah berbaikan, Viona tetap tidur di kamar Ali di temani Andra yang tidur di lantai. Ali juga tidur di lantai di kamar Anisa dan pintu kedua kamar tersebut terbuka. Kamar hanya tertutup dengan kain gorden.
Di kamar Ali.
Viona naik ke atas ranjang, ia berbaring menghadap si bayi.
”Vi, kamu masih marah sama aku?” Andra duduk di sisi ranjang, tempat Viona berbaring. Viona bangun dan duduk.
”Vi, jangan marah lagi ya! Aku... aku tidak bisa tenang kalau kamu marah sama aku. Please, jangan marah lagi padaku.” bujuk Andra.
”Kamu sudah dapatkan nama yang cocok dan bagus untuk bayi ini?” tanya Viona.
”Aku tidak bisa memikirkan sebuah nama untuk anak ini, di dalam pikiran ku masih terbesit nama Viona. Aku selalu memikirkan mu yang marah padaku sepanjang hari,” jawab Andra.
”Kamu sedang menggombal diriku?” Viona melirik tajam Andra.
”Hah, tidak, tidak! Aku bicara serius! Sumpah!” jawab Andra jujur.
”Ayolah, kita jangan ribut lagi, ya?” bujuk Andra.
Viona kembali berbaring sambil berkata, ” Tidurlah dan pikirkan nama yang bagus untuk bayi ini. Jika aku senang dengan nama yang kamu berikan untuk si bayi, aku tidak akan marah lagi padamu.”
”Tapi __”
”Tidurlah jika tidak ingin aku semakin marah,” sela Viona ketus.
Andra menghela nafas. Ia kembali ke lantai dan berbaring.
__ADS_1
Ais...begini kah rasanya kalau membujuk seseorang tapi tidak terbujuk? Nama... nama... nama... nama apa ya yang bagus? benak Andra.