
Jenazah ibu Sumi telah selesai di kebumikan. Para pelayat meninggalkan pekuburan yang sudah nampak mencekam, karena sekarang sudah malam hari.
Tinggal Viona dan Andra yang masih menetap di kuburan yang masih basah itu. Lampu strongkeng menjadi penerang bagi mereka.
”Andra, ayo kita pulang sekarang. Tidak lama lagi waktu Isya akan masuk. Kita mandi dan siap-siap sholat Isya sama-sama, yuk.” ajak Viona.
Andra mengangguk. Ia berdiri dan mensejajarkan dirinya dengan Viona. Mereka berdua berjalan meninggalkan kuburan umum, tempat peristirahatan terakhir ibu Sumi.
*
*
Di rumah Andra.
Andra dan Viona terkejut melihat Dion dan Nia yang duduk di kursi, di teras rumah Andra.
"Dion? Nia? Kenapa mereka ada di sini? Apa perlunya mereka?" benak Andra dan Viona.
Andra dan Viona menarik kursi dan duduk, ”Kalian__”
”Kami ikut turut berduka cita atas kepergian ibumu, Dra.” pangkas Dion dan Nia.
”Terima kasih.” hanya itu yang di ucapkan Andra.
”Dra, aku masuk ke dalam dulu.” pamit Viona. Ia beranjak masuk ke dalam rumah setelah melihat anggukan kepala Andra.
”Em, Andra, aku susul Viona di dalam dulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan dia, berdua. Kamu dan Nia berbicaralah saja.” ucap Dion, ia beranjak berdiri.
”Tidak, kamu tidak boleh masuk.” cegah Andra. Ia menahan tangan Dion, ”Kamu bukan siapa-siapa di rumah ini. Viona di dalam sana sendirian. Akan nampak tidak bagus, jika ada orang lain tahu kamu dan Viona berduaan di dalam rumah. Tetaplah berada di sini. Jika Viona keluar baru kamu bicara dengan dia. Kalaupun ingin masuk kedalam rumah tanpa aku, kamu tidak boleh masuk,” jelasnya.
Dion menghela nafas dan duduk kembali di bangkunya. Dia memang orang luar, dan apa yang di ucapkan Andra ada benarnya.
”Kalian berdua ada hal apa datang menemui ku?” Tanya Andra, ia melihat Nia, ”Bukankah, kamu dan ibumu akan pergi ke kota hari ini?” tanyanya pada Nia.
Nia mengangguk, ”Rencana jam 5 sore tadi berangkat. Tetapi, mendengar kabar duka tentang ibumu... kami menunda keberangkatan kami,” jelasnya.
”Aku kesini untuk melamar Viona, padamu.” ucap Dion berterus terang pada Andra.
”Kamu gila! Viona bukan adikku! Dia punya keluarga sendiri jika kamu ingin melamarnya, datangi keluarganya di kota.” ucap Andra, suaranya pelan namun penuh penekanan di setiap kata-katanya. Ia tidak ingin Viona mendengar ucapannya. Di samping itu, dia cemburu.
”Kapan kalian akan ke kota? Aku akan ikut bersama kalian.” ucap Dion.
Andra menatap Dion. Pria itu sangat kekeh mengejar Viona.
”Andra, apakah hubungan di antara kita berdua benar-benar sudah berakhir? Sudah tidak ada kesempatan aku untuk kembali bersama mu kah? Aku masih menyukaimu. Jujurlah, kamu juga masih menyukai ku, kan?” Tanya Nia, ia menatap Andra dengan serius.
”Hubungan kita memang sudah lama berakhir. Aku tidak mencintai mu lagi.” jawab Andra.
Bunyi tarim di masjid telah terdengar.
”Kami tidak tahu kapan akan kembali ke kota. Kamu tahu sendiri, ibuku baru saja selesai di kebumikan. Dan seratus harinya belum selesai.” ucap Andra pada Dion.
Andra melihat Nia, ”Dan untuk mu Nia, aku minta maaf sekali. Aku hanya menganggap mu teman biasa, tidak lebih dari itu. Jadi, jangan harapkan diriku. Menikahlah dengan pria yang sudah di jodohkan oleh orang tuamu...”
”Oh iya, waktu Isya hampir masuk, sebaiknya kalian berdua pulang lah. Aku juga ingin mandi dan sholat Isya.” ucap Andra lagi.
Dengan enggan, Dion dan Nia mengangguk. Mereka berdiri, ” Baiklah, kami pergi dulu,” pamit keduanya.
__ADS_1
”Iya,” jawab Andra.
Dion dan Nia pergi dari rumah Andra.
Andra menghela nafas dan bergegas masuk ke dalam rumah. Dia melihat Viona yang sudah berganti pakaian, ”Kamu sudah selesai mandi?” tanyanya.
”Iya, sengaja aku gak keramas. Kalau aku keramas di malam hari, aku gak bisa tidur dengan tenang.” jawab Viona.
”Kok bisa? Kamu memiliki sebuah penyakit?” Tanya Andra penasaran.
”Enggak, cuman, kalau keramas di malam hari selalu gak bisa tidur dengan tenang...”
”Kalau tidak sengaja kamu keramas, apa yang kamu lakukan sehingga bisa tidur?”
”Di peluk mama ku. Kalau tidak ada mama ku, aku suruh kakak ku yang temani aku tidur. Yang penting harus ada yang temani aku tidur.”
”Oh, kakak mu, perempuan?”
Viona menggeleng, ”Pria,” jawabnya.
”Oh, kamu tunggu aku. Kita sholat nya sama-sama. Aku pergi mandi dulu.” ucap Andra.
”Di rumah atau di masjid?”
”Di rumah saja.” jawab Andra. Ia melangkah masuk ke kamarnya.
Viona masuk ke dalam kamar. Ia terkenang dengan ibu Sumi. Biasanya, ibu Sumi lah yang selalu mengajak nya untuk sholat. Bahkan, mukena yang ia kenakan adalah pemberian dari ibu Sumi.
”Ibu, kehadiran mu masih terasa di rumah ini. Kalau ada ibu, kita bertiga pasti sekarang sudah berada di jalan untuk ke masjid.” gumam Viona.
Viona mengambil mukena lalu memakainya. Viona mengambil sajadah dan keluar dari kamar. Ia menggelar sajadah nya di lantai, di ruang depan, di posisi makmum. Ia duduk menunggu Andra.
Mereka berdua melaksanakan sholat Isya. Tidak sampai beberapa menit, mereka telah selesai menunaikan ibadah sholat Isya.
Viona menoleh ke samping sambil mengulurkan kedua tangannya, ingin bersalaman. Namun, ia tersadar, wanita paruh baya yang biasa ada di sampingnya ketika sholat, kini sudah tiada lagi.
Wajahnya berubah sedih. Ia menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas, sejajar dengan dada untuk berdoa, ketika melihat dan mendengar Andra membaca doa.
”Aamiin.” Andra menutup doanya, kedua tangannya menyapu wajahnya.
”Aamiin.” Viona juga melakukan hal yang sama dengan Andra.
Andra berbalik badan, menghadap Viona. Viona bersalaman dengan Andra.
"Alangkah bagusnya jika wanita di depan ku ini adalah istriku, ya Allah. Hamba menginginkan dia untuk menjadi pendamping hamba ya Allah." benak Andra.
Viona membuka mukena dan melipatnya dengan rapi. Begitu juga dengan sajadahnya, ia satukan dengan mukenah miliknya.
”Aku masak dulu. Kalau kamu ingin membaca Alqur'an, bacalah dulu, selagi aku memasak.” ucap Viona.
”Aku bantu kamu masak saja biar cepat masaknya. Perutku juga sudah lapar.”
”Baiklah, aku simpan mukena di kamar dulu baru kita ke dapur.” ucap Viona, ia berdiri dan pergi ke kamar.
Viona keluar dari kamar. Dia tidak melihat Andra di depan. "Mungkin dia sudah pergi ke dapur duluan," gumamnya.
Ia melangkah ke dapur. Benar, Andra sekarang ada di dapur. Kompor telah di nyalakan. Dari melihat pancinya, Andra sedang memasak nasi. Dan pria itu sedang melihat-lihat isi dalam kulkas.
__ADS_1
Viona mendekati Andra. Dia berdiri di belakang Andra, ”Ingin masak sayur apa?” tanya Viona yang ikut melirik isi kulkas.
”Kamu ingin makan sayur apa?” Andra bertanya balik pada Viona.
”Um, kalau tumis, ini sudah malam. Harumnya menumis bumbu akan tercium di tetangga. Mereka pasti akan berkomentar, ”Ini sudah malam, kok baru memasak?” celoteh Viona.
Andra tersenyum mendengar ocehan Viona, ”Em, kita masak sayur bening aja,” usulnya.
”Ok.” sahut Viona.
Andra mengambil satu buah jagung dan satu ikat sayur bayam dari kulkas dan satu buah kacang panjang.
Andra dan Viona memotong sayur sama-sama. Sayur telah selesai di potong-potong. Viona mengambil sayur itu dan mencucinya sampai bersih.
Ia melihat nasi telah masak. Ia mengangkat panci nasi tersebut dan memasak air sayur. Andra melihat Viona yang memasak sayur.
"Apa Viona akan benar-benar menepati janjinya pada almarhum ibuku? Tidak akan meninggalkan ku?"
"Viona, aku berharap itu adalah benar. Tetapi, jika perkataan itu hanya memenangkan arwah ibuku di alam sana, aku juga tidak akan masalah. Walau bagaimanapun, kita berdua bukanlah saudara ataupun teman, yang selamanya akan terus bertemu."
"Sesampainya di kota, kamu akan kembali pada aktivitas mu seperti biasa. Aku juga begitu. Kamu tidak mungkin akan mengikuti ku dan tinggal bersama di kos ku, kan? Kita akan berpisah."
"Dan di saat berpisah, apakah kita berdua masih bisa bertemu dan saling mengenal nantinya, di kota yang luas dan besar itu?" benak Andra.
Andra tenggelam dengan pikirannya sendiri. Hingga ia tidak sadari jika Viona sudah selesai memasak sayur dan telah menyiapkan makanan di atas meja.
”Dra? Kamu sedang memikirkan apa? Apa kamu melihat roh ibu di sini?” Tanya Viona pada Andra. Yang terus menatap satu arah, di meja kompor.
”Dra?” Viona menyentuh tangan Andra yang ada di atas meja. Membuat si pemilik tangan tersebut terkejut.
”Ah, eh Viona, kenapa?”
”Kamu yang kenapa? Mengapa melihat kompor terus? Makanan sudah siap di atas meja. Ayo kita makan.” ucap Viona ketus.
Andra melihat di atas meja makanan sudah siap, ”Oh iya, Maaf, aku melamun tadi,” sesalnya.
"Mungkin dia memikirkan ibunya." benak Viona.
Viona tersenyum sambil mengangguk, ”Iya, ayo kita makan,” ajaknya.
Andra mengambil makanannya, begitu juga dengan Viona. Mereka berdua makan dalam hening.
Beberapa menit berlalu, mereka berdua telah selesai makan.
”Biar aku saja yang bereskan meja makan dan dapur. Kamu istirahatlah di depan.” ucap Andra. Ia mencegah tangan Viona yang mengumpulkan piring kotor.
Viona mengangguk, ”Kalau gitu aku nunggu kamu di depan,” ucapnya. Ia memang merasa sangat lelah. Dan setelah makan, ia berasa malas untuk melakukan pekerjaan. Mungkin hari ini adalah hari yang paling melelahkan buat dia, menguras tenaga dan pikiran.
”Iya.” sahut Andra.
Viona pergi ke depan. Ia duduk di sofa panjang. Sedangkan Andra, ia sudah mulai membersihkan meja makan. Setelah selesai membersihkan meja makan, ia mencuci piring kotor.
Setelah selesai mengerjakan semuanya, ia pergi ke depan, menemui Viona. Dia tersenyum tipis melihat wajah lelah Viona yang tertidur pulas di kursi kayu yang panjang.
Ia tidak ingin membangunkan tidur Viona. Ia juga tidak ingin menggendong tubuh Viona, membawanya ke kamar.
Andra masuk ke dalam kamar ibunya dan mengambil bantal juga selimut. Ia mengangkat pelan kepala Viona dan meletakkan bantal. Lalu, ia meletakkan kembali kepala Viona di atas bantal dengan pelan. Lalu, ia menyelimuti Viona dengan selimut.
__ADS_1
Andra juga mengambil tikar, bantal, dan selimut dari kamarnya sendiri. Ia menggelar tikar di lantai. Ia tidur di lantai menemani Viona yang tidur di kursi.