Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 30


__ADS_3

Keesokan paginya.


Andra membuka matanya. Badannya terasa sangat sehat dan bugar. Dia mencoba menggerakkan tangannya. Dia terkejut, tangannya tidak sakit lagi. Bahkan, bekas lukanya hilang. Begitu juga dengan luka di kakinya, sembuh dan tidak berbekas.


”Obat yang di berikan sama Sania sangat manjur. Lukaku sembuh tanpa bekas. Bahkan luka di kaki juga sembuh gak berbekas.” gumam Andra dengan takjub.


Semalam, di saat Andra dan Ali tertidur nyenyak, Andra di datangi oleh dua orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.


Kedua orang itu tidak melakukan apapun pada Andra. Tetapi, kehadiran kedua orang tersebut tidak di sadari sedikit pun oleh Ali dan Andra. Meskipun mereka sedang bercakap-cakap, Andra maupun Ali tidak mendengar.


”Terima kasih, kamu telah memberikan obat penawar seribu racun pada cucuku. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada cucu ku satu-satunya ini.” terdengar suara seorang pria yang berbicara.


”Cucumu pantas mendapatkannya, kamu telah menolong ayah ku. Bukankah, seimbang?”


Lagi pula, cucu mu telah melindungi anak kemenakan ku dengan nyawanya. Jadi, untuk melindunginya. Aku memberikan obat penawar seribu racun dan kalung permata yang bisa menyerap racun yang masuk ke dalam tubuhnya. Sekaligus, permata itu akan menunjukkan pada cucu mu jika Viona dalam masalah. benak wanita itu.


”Dan sepertinya dia meminum lagi obat penawar racun dari dokter yang merawatnya.” dia menjeda ucapannya.


Dan ini tidak sederhana. Dari mana dia dapatkan obat penawar racun ular ini? Sementara dia hanyalah manusia biasa. benak Wanita itu.


”Jadi, cucu mu akan terlindungi dari berbagai macam racun, bahkan, cucu mu kebal dengan ilmu hitam yang akan menyerangnya. Itu adalah salah satu keuntungan obat yang aku berikan padanya.” ungkap wanita itu.


”Syukurlah! Aku sudah memberikan sedikit ilmu ku padanya. Jika ada kesempatan lain, di saat dia sudah sehat sekali, baru aku akan memberikan ilmu bela diri lagi padanya.” sahut pria itu.


”Iya. Sebaiknya kita pergi sekarang, biarkan dia istirahat.” ucap wanita itu. Dia pergi dari sana, dengan menghilang.


Pria itu mendekati Andra menyapu tangan dan kaki Andra yang sakit. Dia tersenyum dan menghilang dari kamar Andra. Dia pergi menemui temannya, di mushola.


Di mushola.


”Kamu sudah datang? Sudah lihat cucu mu?” sapa pak imam.


”Iya. Aku sudah melihat kondisi cucuku. Racun ular di tangannya sudah tidak ada. Dia telah di lindungi sebelumnya oleh seseorang, anak dari sahabat ku. Musthofa, maaf, karena cucuku dan kekasihnya tinggal di rumah mu, keluarga mu di Serang siluman ular.” sesal pria itu.


”Kamu bicara apa, Arifin? Andra seperti anakku juga. Cucu mu sangat mencintai gadis itu dan melindunginya dengan nyawanya. Apakah menurut mu tidak akan apa-apa?” tanya Musthofa.


”Kalau jodohnya gadis itu, mau bilang apa lagi? Aku juga tidak tahu, tapi, gadis itu juga sepertinya di lindungi oleh siluman ular lainnya.” ucap Arifin.


”Iya. Aku melihat bayangan wajah dan ular yang melindungi Viona, dari wajah Viona sendiri.” ungkap Musthofa.


”Hum. Ini sudah larut malam, Aku harus pergi. Oh, iya. Nanti bantu aku lagi untuk menurunkan ilmu bela diri pada cucu ku.” pinta Arifin.


”Lewat mimpi lagi? Kenapa kamu tidak menampakkan wujud mu pada cucu mu sendiri?”


”Setahunya, aku sudah meninggal. Dia akan kaget jika melihat ku secara nyata. Lagi pula, aku tidak bisa keluar dan berbaur dengan manusia lagi.” jelas Arifin.


”Jadi, masih ingin memakai wajah ku?”


”Iya.”


”Hum! Kalau kamu sudah ingin menurunkan ilmu mu pada cucu mu, aku siap membantu.” ucap Musthofa.

__ADS_1


”Terima kasih, aku pergi dulu.” pamit Arifin.


”Hum, sama-sama!”


Arifin pergi. Musthofa menghela nafas. Dia kembali ke dalam rumahnya untuk beristirahat.


”Bang Andra. Bagaimana perasaan Abang pagi ini?” tanya Ali. Yang baru masuk ke kamar.


”Aku merasa sangat baik. Lihatlah, luka di tangan dan di kaki ku sembuh tanpa berbekas!” Andra menunjukkan luka di tangan dan di kakinya pada Ali.


Ali melihatnya. Dia juga terkejut, apakah obat yang di berikan Sania semalam benar-benar ampuh? Bagaimana bisa hanya dalam satu malam saja luka-luka pada kaki dan tangan Andra sembuh tanpa ada bekas? ”Wow! Ini luar biasa! Obat yang di berikan Sania sangat mujarab.”


Andra mengangguk setuju. ”Dan lihatlah ini!” Andra menggerakkan tangan dan kakinya dengan bebas. ”Tangan dan kaki ku sudah bisa di gerakkan. Bahkan, aku merasa jauh lebih baik, lebih sehat, lebih kuat dari sebelumnya.” ungkap Andra lagi.


”Alhamdulillah, ini kabar bahagia. Em... ngomong-ngomong, Bang. Aku kesini untuk membangunkan Abang dan mengajak Abang keluar untuk sarapan pagi. Viona, bapak dan ibu sudah menunggu di meja makan.” tukas Ali.


”Oh, kalau begitu, ayo pergi.” Andra keluar dari kamar. Ali juga ikut keluar dari kamar. Langkah mereka sejalan pergi ke dapur.


Di dapur.


”Assalamu 'alaikum, Ibu, Pak imam, Viona.” sapa Andra. Dia menarik kursi dan duduk. Ali juga menarik kursi di samping Andra dan duduk.


Kening Viona mengerut melihat Andra. Dia bergerak dengan sangat bebas tanpa bantuan Ali, apakah Andra sudah sehat?


”Wa 'alaikum salam.” sahut pak imam, Viona dan ibu Ali.


”Bagaimana keadaan mu, Nak?” lanjut pak imam bertanya.


”Alhamdulillah! Aku sudah sembuh dan sangat sehat, Pak imam.” jawab Andra.


”Anisa mana?” tanya Andra, yang tidak melihat Anisa bergabung di meja makan.


”Anisa sudah berangkat ke sekolah, Bang.” Ali yang menjawab.


”Oh.” hanya itu sahutan Andra. Dia mengambil piring dan menyendok makanan setelah pak imam, ibu Ali, dan Viona menyendok makanan.


”Makan dulu, setelah makan, baru lanjut bercerita.” tegur pak imam.


”Iya, Pa.” sahut Andra dan Ali.


Mereka akhirnya makan dalam diam. Setelah beberapa menit berlalu, mereka telah selesai makan.


Viona dan ibu Ali membersihkan meja makan dan dapur. Ali, pak imam, dan Andra pergi ke depan, ke teras rumah untuk bersantai.


”Ibu, ibu akan ke pasar sebentar?” tanya Viona.


”Iya. Setelah Anisa pulang dari sekolah, Ibu dan Anisa akan pergi ke pasar untuk berbelanja. Kenapa, kamu mau ikut?”


”Hum?” Viona nampak berfikir. ”Tidak Ibu, Viona di rumah saja. Kecuali Andra pergi baru Viona ikut.” tutur Viona.


”Kalau begitu, Ibu akan ajak Andra untuk pergi.” senyumnya terukir di bibirnya melihat Viona.

__ADS_1


”Tapi, Andra baru saja sembuh, Bu. Apa tidak apa-apa jika dia pergi?”


”Tidak apa-apa. Sudah selesai bersihkan meja kompor?”


Viona mengangguk.


”Kalau begitu, ayo ke depan bergabung dengan mereka di teras.” ajak ibu Ali.


Viona kembali mengangguk. Dia dan ibu Ali pergi ke teras rumah.


Di teras.


Viona berwajah cemberut melihat Nia yang duduk di samping Andra. Nia sendiri, menunjukkan wajah tidak senangnya pada Viona.


Viona juga terkejut melihat Sania di samping Dion. Viona menarik kursi dan duduk di samping Ali.


”Loh, Dion? Nia? Sania? Sudah lama datangnya?” tanya ibu Ali.


”Baru saja, Ibu.” jawab mereka bertiga.


”Oh.” singkat sahut si ibu. Ibu Ali melihat Viona. ”Vi, buatkan minuman dulu buat ke tiga tamu kita.” titah si ibu pada Viona.


”Tidak perlu, Bu. Tidak usah repot-repot. Kami kesini cuma sebentar saja, melihat kondisi Andra.” tolak Sania.


”Iya, Bu. Nia tidak mau meminum buatan Viona. Dia adalah komplotan siluman ular. Bisa jadi di minuman kita, dia simpan kan racun ular.” tuduh Nia.


”Iya, aku setuju!” sahut Sania dan Dion.


”Astaghfirullah! Tuduhan macam apa ini yang kalian bertiga tujukan pada Viona?” tegur pak imam.


”Ini bukan sekedar tuduhan, Pak imam. Tetapi ini beneran. Viona adalah komplotan ular, yang sedang mencari tumbal untuk keuntungannya sendiri. Ibunya Andra meninggal karena di gigit ular. Karena kurang mendapatkan tumbal, maka Viona mengusulkan Andra untuk pindah ke sini. Dengan alibi, untuk keselamatan dia dan Andra. Tapi, itu hanya akal-akalan nya saja, tujuannya pasti menjadikan keluarga Pak imam tumbal.” ungkap Nia.


Viona menundukkan kepalanya. Dia benar-benar tidak berdaya di permalukan tiga orang sekaligus di hadapan Andra dan keluarga pak imam. Apakah tujuannya hanya untuk dirinya pergi dari rumahnya pak imam dan Andra? Viona menghela nafas.


Andra sedih dan khawatir melihat wajah Viona yang pasrah. ”Nia, kalau kamu tidak mengetahui hal sebenarnya, jangan memfitnah orang!” tegur nya.


”Ali, bukankah di saat kamu menggantikan Andra untuk menjaga Viona, ular-ular itu baru datang menyerang mu? Sementara di saat Andra yang menjaga Viona, semuanya baik-baik saja, kan? Viona menyukai Andra, makanya dia tidak tega menjadikan Andra target tumbal. Bukankah itu sudah jelas, kalau Viona menjadikan Ali sebagai tumbalnya!” kini giliran Sania yang berbicara, menyudutkan Viona, dengan alibi yang ada.


”Cukup! Tujuan kalian datang ke sini hanya untuk memprovokasi Viona? Apa kalian pernah melihat Viona berbicara pada siluman ular? Apa kalian bisa mempertanggung jawabkan ucapan kalian ini?” kini pak imam yang berbicara.


”Kami memang belum pernah melihat Viona berbicara dengan para siluman ular itu. Tapi, semua peristiwa yang terjadi sudah membuktikan hal itu. Kami hanya khawatir saja sama Andra dan keluarga Pak imam selama Viona masih berada di rumahnya Pak imam.” kini Dion yang angkat bicara.


”Kalau memang Viona komplotan siluman ular? Kenapa ular-ular itu juga ikut menyerang Viona?” Ali bertanya dengan geram.


”Heh! Itu hanya tipu muslihat dari Viona sendiri. Agar dia juga terlihat seperti korban.” Nia tersenyum sinis melihat Viona.


”Astaghfirullah! Sudah, kalian jangan memfitnah Viona lagi. Apa yang terjadi pada kemarin itu hanyalah musibah saja.” ibu Ali angkat bicara, membela Viona.


”Ibu, itu adalah musibah yang di ciptakan Viona sendiri.” ucap Sania.


Ya Allah, kepalaku sudah pusing. Dion, Nia, dan Sania terus menyudutkan ku, memfitnah ku. Lama-lama telinga ku panas juga mendengarkan kata tuduhan yang mereka lontarkan. benak Viona. Dia kembali menghela nafas.

__ADS_1


”Kalian sudah melihat keadaan Andra. Sekarang, kalian pulang saja.” usir pak imam.


Nia, Sania, dan Dion terkejut. Mereka mengira pak imam akan mengusir Viona dari rumahnya. Ternyata, malah sebaliknya, mereka bertiga lah yang di usir.


__ADS_2