Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 16


__ADS_3

Di kediaman Andra.


”Alhamdulillah, sudah satu bulan lebih kita tidak dapat gangguan dari ular-ular itu lagi. Lega rasanya!” ucap Viona.


”Iya. Alhamdulillah! Dan sekarang, empat puluh hari nya ibu sudah selesai. Dua bulan lagi kita berada di sini untuk menanti hari ibu yang keseratus. Apa kamu tidak masalah berlama-lama di sini? Sudah hampir setengah tahun kamu di sini.” ucap Andra, ia menatap wajah lelah Viona dengan lembut.


Wanita itu sudah menemaninya selama beberapa bulan ini. Makanan di sediakan olehnya, meskipun kadang mereka berdua masak bersama. Dan rumahnya sering kali Viona yang bersihkan.


”Bukan kah kita sudah berkali-kali membahas ini? Mau berapa kali aku katakan padamu kalau aku akan pulang saat kamu juga kembali ke kota. Atau...apa kamu sudah bosan dengan keberadaan ku di sini? Kamu mengusir ku secara halus?” Tanya Viona suaranya ketus, dia cemberut, marah, dan kesal.


”Jangan marah! Aku hanya bertanya saja. Mengapa aku akan mengusir mu? Bila perlu aku ingin sekali mengikat mu dengan pernikahan agar kamu selalu ada di sisi ku.” sahut Andra, ia berkata serius.


Viona menaikkan sebelah alisnya menatap Andra. Andra salah tingkah sendiri. Dia menjadi gugup.


”Em, itu__itu hanya kata-kata saja. Ja__jangan di salah artikan. Aku__”


”Sudahlah, aku mau mandi dulu.” pangkas Viona.


Andra mengangguk. Viona berdiri, berjalan masuk ke dalam kamar.


Andra menghela nafas,”Untung saja Viona tidak menganggap serius ucapan ku,” gumamnya.


Padahal apa yang Andra katakan untuk Viona adalah jujur keinginannya untuk memiliki Viona. Tapi, tingkat kesadaran dirinya lebih kuat dari pada egonya untuk memiliki Viona. Terlebih lagi, Andra belum tahu identitas Viona dan latar belakang gadis itu.


Dia melihat Viona telah keluar dari kamar, memegang handuk dan pakaian ganti dan sedang berjalan ke dapur.


Andra berdiri. Dia masuk ke dalam kamarnya. Mengambil handuk dan pakaian ganti. Dia duduk di dapur menunggu Viona keluar dari kamar mandi.


"Siapa sebenarnya Viona ini? Apakah dia orang biasa? Atau orang yang berpengaruh?" benak Andra.


"Dia gadis yang cantik, meski kulitnya gak terlalu putih. Awalnya dia gadis yang manja, tapi, sekarang, dia sangat mandiri. Dia cepat beradaptasi dengan lingkungannya."


"Selama ini, aku tidak pernah menanyakan identitas wanita itu dan keseharian wanita itu di kota. Dan di kota, dia tinggal di mana, pekerjaan orang tuanya apa. Aku tidak pernah menanyakannya. Dia juga tidak pernah menanyakan identitas dan pekerjaan ku apa."


"Dia hanya percaya padaku di saat pertama bertemu dan langsung menawarkan diri ikut dengan ku ke desa ini."


"Jika saja saat itu dia tidak bertemu dengan ku, dia bertemu dengan orang lain, apakah orang itu akan menjaga dan melindungi Viona seperti aku yang menjaga Viona selama ini? Ataukah mereka akan mencari keuntungan sendiri dari Viona."


"Astaghfirullah! Mikir apa aku ini...Viona adalah gadis yang baik, tentu saja, orang akan menjaganya. benak Andra."


Andra melihat ke arah pintu kamar mandi saat mendengar suara kunci pintu itu terbuka. Viona keluar dari kamar mandi. Handuk, ia sematkan di atas kepalanya.


”Mau mandi?” Tanya Viona.


Andra mengangguk.


Viona duduk di kursi, di depan Andra. ”Pergilah mandi!” titah Viona.


Andra berdiri dan masuk ke kamar mandi.


Viona berdiri dan pergi ke kamar, dia mengambil handphonenya. Di bukanya kode layar hape, ia membuka galeri.


Viona melihat foto-foto yang ada di galerinya. Dia tersenyum melihat foto dia dengan sang kakak yang tersenyum bahagia di danau, saat mereka memancing bersama.


Foto tersebut di ambil oleh sang ayah. Yang saat itu Viona mendapatkan ikan, namun, Viona tidak dapat menarik ikannya. Akhirnya, Lirjan membantu menarik tali senar pancingan Viona. Lirjan berhasil menarik ikan itu dan memperlihatkan pada Viona. Dalam suasana seperti itu, ayahnya mengabadikan dalam bentuk foto.


Viona menggeser kembali layarnya ke kiri. Foto-foto Viona bersama temannya di kampus, terlihat. Dia terus menggeser layar ponselnya.


Hingga terhenti pada Video di saat Andra di tuduh memperkosa Nia. Di putar nya kembali Video tersebut, dengan suara yang kecil.

__ADS_1


"Andra pria yang tampan. Memiliki pacar dengan wajah rupawan seperti dia, tidak memalukan. Tapi...latar belakang keluarganya tidak sepadan dengan latar belakang keluarga ku."


"Meskipun aku sedikit berharap bisa memiliki dia, menyayangi dia, mencintai dia, bagaimana dengan orang tua dan kakak ku? Apakah mereka akan menerima latar belakang Andra yang biasa ini?"


"Meskipun aku bisa kabur dalam perjodohan kali ini, aku, belum tentu bisa kabur pada perjodohan nanti. Papa dan kakak, pasti akan ekstra memperhatikan ku." benak Viona.


Viona tersenyum saat mengingat kembali saat Andra meminta izin untuk memeluknya. Dia juga mengingat pelukan erat Andra saat itu.


Ada rasa nyaman yang hadir saat Viona memikirkan pelukan Andra. Hatinya berdebar-debar. Wajahnya memerah.


"Ada apa dengan ku? Baru memikirkan pelukannya Andra saja sudah membuat ku seperti ini." benak Viona.


Ia mematikan video dan menyimpan hapenya. Dia keluar dari kamar. Dia tertabrak badan Andra saat berbalik, Viona hampir terjatuh saat kakinya terkait di kaki Andra saat ingin melangkah. Andra menahan tubuh Viona. Viona meletakkan kedua tangannya di dada Andra. Mereka berdua saling tatap.


Viona mencium aroma segar dan wangi pada tubuh Andra yang baru habis mandi.


Tanpa mereka sadari, di dalam benak mereka berdua tumbuh gejolak yang aneh. Andra menelan kasar saliva nya. Tatapan mereka berdua masih terkunci. Andra melihat bibir Viona. Viona juga seakan mendambakan bibir Andra. Pria yang sudah menafkahi hidupnya selama beberapa bulan ini.


Tanpa di sadari, mereka berdua mendekatkan wajahnya, semakin dekat...semakin dekat... Andra memiringkan wajahnya, napasnya menyapu wajah Viona.


Viona merasakan gejolaknya semakin jadi, begitu juga dengan Andra. Mereka saling mendekatkan kedua bibir mereka. Mereka sama-sama memejamkan mata, menikmati ciuman mereka.


Ciuman mereka semakin dalam, tangan Andra terangkat, menahan kepala Viona. Satu tangannya memeluk pinggang Viona, merapatkan tubuh Viona pada tubuhnya.


”Ugh!” lenguhan suara Viona saat merasakan sensasi yang hangat.


Viona sendiri mengangkat kedua tangannya, mengalungkannya pada leher Andra. Ciuman mereka semakin di perdalam. Gejolak yang mereka rasakan semakin membuncah, membakar gairah mereka.


Andra membuka kedua matanya, melihat wajah Viona yang masih memejamkan mata, menikmati ciumannya. Andra tersadar, dia melepaskan ciumannya dengan tiba-tiba.


Viona membuka mata. Dia pun tersadar, dia berbalik, membelakangi Andra. Dia malu.


”Ma...maaf. Vi, Aku__”


Andra terkejut sekaligus senang. Seharusnya, dialah yang menyatakan perasaannya duluan pada Viona. Tapi...tanpa di dugan Viona lah yang mengutarakan perasaannya duluan.


Andra membalikan badan Viona menghadap dirinya. Viona menunduk. Andra mencubit dagu Viona dan mengangkat wajahnya, agar Viona memandangnya. Kedua mata mereka saling bertemu.


”Aku juga mencintai kamu. Kamu mau menjadi bagian dari hidupku?” Tanya Andra.


Viona tersenyum dan mengangguk, ”Iya,” jawabnya.


Andra tersenyum bahagia, dia menarik tubuh Viona masuk ke dalam pelukannya. Viona membalas pelukan Andra.


”Terima kasih, Vi.” ucap Andra, setelah dia melepaskan pelukannya.


”Iya.”


Mereka berdua telah resmi menjadi sepasang kekasih. Namun, pengakuan perasaan yang tiba-tiba itu, membuat keduanya canggung.


”Em...malam ini...biar aku saja yang masak.” ucap Andra.


”Kita lakukan bersama saja, seperti biasanya.” sahut Viona.


”Oh, ok.”


Mereka pergi ke dapur dan memasak sama-sama. Setelah masak, mereka makan.


”Kita duduk di teras, yuk. Cuci piringnya besok pagi saja.” ajak Andra, setelah mereka selesai makan.

__ADS_1


”Iya.”


Mereka pergi ke teras rumah. Mereka sama-sama melihat di atas langit yang gelap. Hanya cahaya bintang dan rembulan bersinar terang, menerangi bumi.


”Apa yang kamu lihat di atas sana?” Tanya Viona pada Andra.


”Sedang membayangkan indahnya hubungan kita di masa depan. Kita akan membangun sebuah keluarga. Sebuah rumah yang di hiasi oleh suara tawa dan tangis anak-anak kita. Dan suara manja dari kamu.” jawab Andra.


Ia menoleh melihat Viona, yang ternyata wanita itu sedang melihatnya juga.


”Sungguh itukah yang kamu bayangkan?”


”Bukan hanya bayangkan, aku ingin mewujudkannya menjadi kenyataan bersama mu.” ucap Andra serius, menatap netra Viona.


”Hei...kalian berdua saling pandang, ada apa?” suara Dion terdengar dari arah depan mereka.


Viona dan Andra melihat ke depan, melihat pria yang baru saja bertanya pada mereka.


Raut wajah Viona seketika berubah melihat Dion. Belum lagi, di samping pria itu ada Nia, mantan sekaligus wanita yang masih mencintai Andra.


”Bukan apa-apa, ada apa kalian kemari?” Tanya Andra.


”Andra, aku masuk duluan ya.” pamit Viona.


Andra mengangguk. Viona berdiri, ia melangkahkan kaki.


”Vi...” Dion menangkap tangan Viona, menahan gadis itu untuk masuk ke dalam rumah, ”Kenapa di setiap aku datang untuk bertemu dengan mu, kamu selalu bersembunyi dariku? Apa kamu takut kamu akan jatuh hati padaku, jika kita bertemu terus?” tanyanya.


Mata Viona membulat, yang benar saja! Bukankah sikap ku jelas-jelas tidak suka dengan keberadaannya? Orang ini terlalu menganggap tinggi dirinya.


Viona berbalik melihat Dion, ia menarik tangannya dari tangan Dion. ”Apakah wajah mu bisa di bandingkan dengan wajah Andra? Bukan kah sudah ku bilang padamu, aku mencintai Andra? Mengapa kamu tidak mengerti?” ucap Viona.


Nia terkejut, matanya terbelalak melihat Andra lalu beralih melihat Viona. Dia baru tahu kalau Viona ternyata menyukai Andra.


”Ka__kamu men__mencintai An__Andra?” Tanya Nia pada Viona.


”Iya. Jadi, kalian berdua berhentilah mengganggu kami.” jawab Viona.


Nia melihat Andra, ”Apakah...apakah Viona gadis yang kamu cintai itu?” tanyanya.


Andra mengangguk tanpa ragu.


Mata Nia berkaca-kaca. ”Andra, aku sampai sekarang belum bisa menghapus kamu dari hatiku. Tapi kamu...kamu begitu cepatnya melupakan aku, Dra...”


”Nia, kamu tahu bagaimana aku mencintai seseorang. Aku tidak pernah mengecewakan kamu. Aku selalu mempertahankan cinta kita. Tapi...kamu...kamu yang tidak ingin mempertahankan cinta kita. Bukankah sudah ku bilang padamu, jika hubungan ku dengan seseorang sudah berakhir, aku tidak akan mungkin kembali lagi dengan orang itu, termasuk kamu....”


”Meskipun kamu masih mencintai ku?” Nia bertanya dengan suara bergetar, wanita itu menangis.


”Aku tidak mencintai kamu lagi, Viona, gadis yang aku cintai.” jawab Andra.


”Kamu kejam Dra...” Nia berbalik arah, berlari sambil menangis. Andra acuh saja terhadapnya.


”Nia!” teriak Dion. Namun, Nia terus berlari.


”Dion, kamu dan Nia sangat cocok. Mengapa tidak mencoba mencintai nya saja?” usul Viona.


”Meskipun Nia lebih cantik dari mu, aku mencintai kamu.” jawab Dion. Dia berlari mengejar Nia. Dia takut jika terjadi sesuatu pada Nia.


Viona menghela nafas dan masuk ke dalam rumah. Andra melihat punggung Dion yang berlari.

__ADS_1


Andra menghela nafas, ”Semoga dia bisa mengejar Nia, semoga Nia tidak apa-apa,” gumamnya.


Andra membuka pintu rumah, ia melangkah masuk ke dalam rumah. Dia menutup pintu rumah dan menguncinya.


__ADS_2