Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 14


__ADS_3

Keesokan paginya, di goa, tempat persembunyian Berlia.


”Apa kamu sudah membuat kalung untuk anakku?” Tanya Berlia pada pelayanan wanitanya.


”Sudah Nyonya. Sesuai dengan keinginan Nyonya, di dalam kalung itu terdapat permata emas dan foto Nyonya dan tuan.” jawab sang pelayan.


Berlia tersenyum puas, ”Bagus, terima kasih,” ucapnya.


”Sama-sama, Nyonya.”


Berlia membelai perut buncitnya dengan tersenyum senang, ”Sayang! Tinggal beberapa hari lagi engkau akan lahir ke dunia ini. Mama tidak sabar lagi menantikan kehadiran mu,” ucapnya pada perutnya, seakan-akan sedang berbicara dengan si buah hati.


”Nyonya, sebaiknya Nyonya beristirahat saja.” saran sang pelayan.


”Aku tidak bisa bersantai saja di sini. Keberadaan kita masih di lacak oleh anak buah Genta.”


”Bukankah Nyonya sudah melindungi goa kita ini? Seharusnya mereka tidak dapat melihat keberadaan goa, mereka akan melihat goa ini sebagai hutan belantara.” ucap sang pelayan.


”Genta bukanlah orang yang pantas kita remehkan. Dengan kelicikan yang dia miliki, dia bisa menembus pertahanan sang papa, yang akhirnya membuat ku terpisah dengan papa dan kakak ku.” ungkap Berlia.


Ia teringat kembali saat mereka bersembunyi di goa kecil. Setelah mereka masuk ke dalam goa tersebut, papa mereka melindungi goa itu dengan mantra.


Mereka aman selama satu Minggu dari gangguan Genta. Namun, persediaan makanan mereka telah habis, beberapa prajurit pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan.


”Papa, Maria ingin ikut mereka mencari buah-buahan.” izin Maria pada sang ayah.


”Iya, pergilah. Tapi harus hati-hati.” jawab sang ayah.


”Iya Ayah.”


”Prajurit, pergilah! Jaga Maria dengan baik.” titah sang raja.


”Iya Tuan.” sahur para prajurit yang di tugaskan mencari buah.


Mereka pergi mencari buah. Mereka pergi semakin masuk jauh di dalam hutan. Sampai di hutan, mereka menemukan sebuah kebun yang menanam macam-macam buah. Mereka tahu kebun itu adalah kebun milik para warga, kebun tersebut terawat dan di pagari.


Mereka masuk dalam kebun dan mengambil beberapa buah hingga dua keranjang yang mereka bawa penuh. Dan mereka meninggalkan beberapa koin emas dan sebuah catatan di bawah pohon pisang yang mereka ambil buahnya. Catatan ungkapan terima kasih dan kata maaf sudah mengambil buah tanpa seizin pemiliknya.


Mereka kembali berjalan pulang ke goa. Di saat perjalanan pulang, salah satu prajurit meminta izin untuk berhenti. Dia ingin memenuhi panggilan alam.


Mereka berhenti sejenak. Prajurit itu pergi masuk ke hutan untuk membuang hajatnya. Tidak lama, ia kembali lagi.


Mereka melanjutkan kembali perjalanannya. Namun, ada yang aneh yang di tangkap oleh Maria dari prajurit yang memenuhi panggilan alam tersebut.


"Apakah ini hanya perasaan ku saja? Dia kayak bukan prajurit ayah. Tapi, pakaian dan topi yang di pakainya, memang pakaian dan topi dari prajurit ayahnya."


"Tapi... wajah prajurit itu tadi tidak seperti wajah sekarang ini. Apakah hanya karena aku yang kebanyakan berpikir? Tapi...kulit pria ini sedikit terang, berbeda dengan kulit prajurit yang tadi." benak Maria.


"Anak ini melihat ku terus, apa dia curiga padaku?" benak Genta.


Maria terus memandangi prajurit yang mencurigakan itu. Mereka berjalan telah sampai di mulut goa.


"Oh...jadi kalian bersembunyi di dalam goa ini. Pintar sekali kamu menyembunyikan keberadaan goa ini dari kami." benak Genta dengan geram.


”Papa, kami sudah pulang...” teriak Maria.


Sang papa tersenyum melihat kedatangan para prajurit dan putri tertuanya yang pulang dengan selamat.


”Kalian sudah pulang? Wah! Banyak juga buah-buahan yang kalian bawa.” ucap sang raja, ia membuka segel pertahanan di goa tersebut.


Maria melihat ada yang aneh dengan prajurit yang ia perhatikan sejak tadi.


"Kenapa tangannya terkepal kuat begitu? Kenapa dia menggerakkan jarinya?" benak Maria.


Mata Maria melihat suatu pergerakan di belakangnya, samping kiri dan kanan. Daun-daun bergerak tanpa henti. Maria mendengar sebuah panah yang di tembakan.


”Ayah, awas!” teriak Maria. Ia berlari di hadapan sang ayah.


”Argh!” jerit Maria. Panah tersebut mengenai betisnya. Di saat itu pula Berlia keluar dari dalam dalam goa.


”Maria!” teriak sang ayah, ia terkejut dan khawatir pada Maria yang ada di pelukannya saat ini.


”Kakak!” teriak Berlia sambil berlari mendekati kakak dan papanya.

__ADS_1


”Berlia, bantu kakakmu berjalan, kalian masuklah kembali ke dalam goa.” titah sang ayah.


Berlia menurut, namun, ia kesusahan untuk membantu kakaknya berdiri.


”Serbu!!!” seru Genta pada anak buahnya yang bersembunyi tidak jauh dari mereka semua.


Di saat prajurit dari ayah Maria pergi membuang hajatnya, di situlah kesempatan Genta membunuh prajurit itu dan ia menyamar sebagai prajurit itu. Dan menyuruh anak buahnya untuk ikuti pergerakan mereka secara diam-diam dan hati-hati agar tidak ketahuan.


”Genta!! Kamu lancang sekali!!” teriak sang raja. Tatapannya tajam melihat Genta. Ia mengeluarkan pedangnya bersiap beradu kekuatan dengan Genta.


”Kamu dan seluruh keturunan mu harus mati, Sekarang!!” teriak Genta. Ia mengayunkan pedangnya kepada ayah Maria.


Anak buah Genta keluar dari persembunyiannya. Anak buah Genta dan anak buah sang raja bertarung. Genta dan sang raja juga bertarung.


”Siapa yang bisa membunuh anak dan ayah ini! Akan mendapatkan hadiah besar dariku!” teriak Genta pada anak buahnya.


”Baik Tuan!” jawab para anak buah Genta.


Dua anak buah Genta melihat Maria dan Berlia yang sedang berjalan masuk ke dalam goa. Mereka berdua berlari mendekati kedua wanita kecil itu.


Sang ayah terkejut melihatnya, ”Maria! Berlia! Awas!!” teriaknya. Konsentrasi sang ayah hilang pada Genta. Hingga pedang Genta berhasil melukai lengan sang raja. ”Argh!” jerit sang raja.


Raja membalas, dia mengayunkan pedangnya pada Genta. Di kesempatan bagus, raja berhasil melukai lengan Genta. ”Argh!” jerit Genta kesakitan. Pedang sang raja membuat luka yang begitu besar dan dalam di lengannya.


Kedua anak buah Genta mengayunkan pedang pada Maria dan Berlia. Namun, salah satu prajurit ayahnya mengadang pedang untuk Maria. Pedang tersebut ter-hunus di badan prajurit. Dan sebelum prajurit itu tewas, ia membunuh anak buah Genta.


Berlia terjatuh, ia ketakutan. Anak buah Genta datang padanya dengan pedang yang begitu tajam.


”Ayah....! Kakak....!” teriak Berlia saat anak buah Genta mengayunkan pedang padanya.


Dengan cepat Maria mengambil pedang prajurit yang tergeletak di tanah. Dengan berani Maria mengayunkan pedang menghunus tubuh anak buah Genta.


Anak buah Genta berbalik hendak membunuh Maria yang menghunus pedang di tubuhnya. Namun, sebelum dia berhasil menghunuskan pedang pada Maria, dengan cepat Maria kembali menghunus pedang ke tubuh anak buah Genta itu. Dua kali tusukan pedang yang di berikan Maria pada anak buah Genta membuat anak buah Genta jatuh tersungkur di tanah.


Maria memeluk Berlia yang masih ketakutan, Maria menenangkan sang adik, ”Jangan takut, dia sudah mati. Kita aman,” ucapnya. Berlia mengangguk.


Sang raja dan Genta sama-sama mendapatkan luka-luka di sekujur tubuh mereka. Anak buah Genta dan para prajurit raja banyak yang gugur.


Gelang itu berubah menjadi seekor ular kecil berwarna kuning emas.


”Tapi Ayah!!”


”Cepat! Pergi! Jangan khawatirkan Ayah! Ayah akan datang menemui kalian!” titah sang ayah lagi. Ia berbicara sambil menangkis perlawanan Genta.


Maria dan Berlia menurut. Mereka berlari mengikuti jalan dari ular kecil itu. Untuk jaga-jaga, Maria memegang pisau kecil yang ia ambil dari ikat pinggang prajurit ayahnya, yang sudah meninggal.


”Tidak ada yang bisa pergi dari sini! Kalian semua harus mati! Kalian! Kejar kedua gadis itu! Bawa dia hidup ataupun mati di depan ku!!” titah Genta pada anak buahnya.


”Baik, Tuan.” sahut anak buah Genta.


”Tidak! Halau mereka!!” titah sang raja pada prajuritnya.


”Baik, Tuan!” sahut anak buah raja.


Dengan menggunakan kekuatan dan sihir sang raja, Genta berhasil ia cederai tangan kirinya. Pergelangan tangan Genta putus di makan pedang sang raja.


”Argh!” jerit Genta kesakitan.


Mendengar jeritan Genta yang kedua kalinya, anak buahnya membantu Genta melawan sang raja.


Tiga anak buah Genta lainya mengejar Maria dan Berlia.


*


*


”Kakak, kita istirahat dulu. Berlia sudah capek berlari.” keluh Berlia.


”Berlia, kita tidak bisa berhenti sekarang. Jika kita berhenti, anak buah Genta akan menemukan kita.” jelas Maria.


”Tapi kakak__”


”Tidak ada kata tapi, kakak saja tidak sanggup berlari lagi dengan betis kakak yang terluka ini. Tapi...kakak harus berlari. Ayo kita lanjut lari...”

__ADS_1


Berlia melihat luka di betis kakaknya, ”Iya, kakak,” sahutnya.


”Ayo!! Cepat kejar meraka!! Jangan biarkan mereka kabur dengan mudah!!” terdengar suara teriakan anak buah Genta.


”Kakak, bagaimana ini? Mereka hampir dekat sama kita.” ucap Berlia ketakutan.


”Berlia, kamu ikutlah ular penunjuk jalan itu. Kakak akan menghadang mereka.” titah Maria pada sang adik.


”Tapi... kak!”


”Saatnya bukan berpendapat! Turuti kakak. Kakak akan menyusul kamu ke sana.”


”Apa kakak tahu tujuan ular itu?” Tanya Berlia dengan khawatir.


”Iya, kakak tahu!” jawab Maria dengan berbohong, ”Ayo, sekarang pergilah! Jangan sampai kamu kehilangan jejak ular ayah,” titahnya pada sang adik.


Berlia menurut. Ia berlari mengikuti arah ular kecil itu.


Maria melihat anak buah Genta hampir mendekat. Dia melihat arah lari adiknya, adiknya tidak terlihat lagi.


Di saat anak buah Genta melihat Maria, Maria mengambil jalur lain untuk berlari. Ketiga anak buah Genta mengejar Maria.


*


*


Berlia terus berlari mengikuti ular tersebut. Dia berlari tanpa menoleh kebelakang. Meskipun begitu, ia tetap khawatir pada ayah dan kakaknya.


Ular itu masuk ke dalam goa, Berlia ikut masuk ke dalam goa. Ia terduduk dengan takut di goa tersebut. Ular ayahnya duduk di sampingnya.


”Bagaimana dengan kakak dan ayah?” gumam Berlia, ia mulai menangis. Ia takut sekali di goa itu sendirian.


Tidak lama, Berlia mendengar suara langkah kaki yang masuk ke goa. Berlia berdiri dengan senang melihat ayahnya, ”Ayah!” Ia memeluk ayahnya yang penuh dengan luka dan darah.


”Di mana Maria?” Tanya sang ayah.


”Berlia dan Maria berpisah ayah. Maria bilang dia akan menghalau anak buah Genta dan menyuruh ku berlari mengikuti ular ayah.” ungkap Berlia.


Ular tadi berubah menjadi gelang di hadapan sang raja, raja mengambil gelang itu. Sang raja memasukkan ilmunya di dalam gelang.


”Ular ini akan menjaga mu. Dia akan menurut dengan kata-kata mu sekarang. Kamu masih ingat kan apa yang pernah Ayah ajarkan pada kamu dan Maria? Pelajari dan jadilah orang yang baik.” ucap sang ayah, ia memberikan gelangnya pada Berlia.


Berlia mengambil dan memakainya, ”Ayah...”


”Ssttsst! Kamu pergilah dari sini.” titah sang ayah.


”Tapi Ayah__”


”Jadilah anak baik! Temukan kakak mu.” pangkas sang ayah, ”Pergilah sekarang,” titahnya.


Berlia menurut. Ia mulai melangkah mundur sambil melihat ayahnya. Dia pun berbalik dan berlari pelan keluar dari dalam goa.


Berlia berlari menjauhi goa. Langkahnya terhenti saat samar ia mendengar suara pedang saling bertaut.


Berlia kembali ke tempat goa, tetapi, dia bersembunyi di balik semak-semak.


Dia melihat ayahnya kembali beradu kekuatan dengan Genta. Ayahnya sudah tidak kuat lagi menahan pedang Genta. Berlia menangis sambil menggeleng, namun, tidak mengeluarkan suara.


Matanya terbelalak, saat melihat ayahnya jatuh di tanah. Pedang Genta menusuk dada ayahnya. Dan sang ayah balas menusuk perut Genta.


Berlia menahan mulutnya dengan kedua tangannya agar dia tidak bersuara. Dia semakin menangis.


Anak buah Genta datang menghampiri Genta, ”Tuan, Anda baik-baik saja?” tanyanya.


Genta mengangguk sambil melihat tubuh sang raja. Tubuh Genta berasa lemas sekarang, ”Bawa aku pergi,” titahnya.


Sang anak buah memapah tubuh Genta dan membawa pergi Genta dari sana.


Berlia berlari mendekati tubuh sang ayah, ”Ayah,” ucapnya pelan. Ia menutup mata ayahnya dan berdiri. Ia pun pergi dari sana.


"Sayang, maafkan ayah. Pergilah cari kakak mu, Maria." benak sang ayah. Dia membuka matanya melihat punggung Berlia yang berlari.


Berlia berjalan tanpa arah. Terus berjalan hingga ia bertemu dengan seorang lelaki muda dan lelaki muda itu mengajaknya bersama kerumahnya. Berlia menurut.

__ADS_1


__ADS_2