
Keesokan paginya, di pekuburan umum.
Jenazah Sania baru saja selesai di kebumikan. Semua warga telah pulang ke rumahnya masing-masing. Pak imam, Andra, dan Ali juga sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Kini tinggal ibu Sania yang masih menangis tersedu-sedu di pusara anaknya. Dion, Nia, dan Salsa, ibunya Nia menemani ibunya Sania.
”Sabar Tante... Tante jangan menangis lagi, Sania sudah pergi dengan tenang. Jangan di bebani dengan air matanya Tante. Kan kasihan di Sania nya nanti.” bujuk Nia. Ibunya Sania hanya mengangguk.
”Dengan Sania, sudah dua korban yang meninggal di gigit ular. Ini semua karena Viona. Kita harus kumpulkan warga untuk pergi ke rumahnya pak imam. Viona harus membayar nyawa yang sudah tiada.” ucap Dion dengan marah.
”Iya, aku setuju! Sebelum ada korban-korban lainnya, kita harus mencegahnya. Kita harus bertindak dengan cepat!” ucap Nia berapi-api.
”Iya.” sahut Dion dan ibunya Sania.
”Sebaiknya kita pulang sekarang. Tante tenangkan pikiran dulu.” bujuk Nia pada ibunya Sania. Ibunya Sania hanya mengangguk.
Nia membantu ibunya Sania berdiri. Dion dan ibunya Nia juga berdiri. Mereka beranjak pergi dari pekuburan umum tempat peristirahatan terakhir Sania.
*
*
Di teras rumah Pak imam.
”Assalamu 'alaikum!” sapa Pak imam, Ali, dan Andra pada ibu Ali yang duduk di teras rumah bersama Anisa.
”Wa 'alaikum salam.” sahut Ibu Ali dan Anisa.
Andra, Ali, dan Pak imam ikut duduk di teras rumah.
”Mama tidak mengajak Viona bergabung duduk di teras?” tanya Pak imam pada istrinya.
Ibu Ali melirik Anisa, ”Mama mengajaknya, tetapi Viona yang tidak ingin bergabung. Dia memilih berada di kamar saja.”
”Oh,” ujar Pak imam mengerti.
”Papa, Ali, Andra, lebih baik bersihkan diri dulu baru masuk sarapan. Semalam... kalian semua tidak tidur dengan nyenyak.” usul ibu Ali saat melihat pandangan mata suami dan kedua anaknya tersebut sayu dan mereka sering menguap. Meskipun Andra pulang di rumah semalam, tapi ia tidak tidur... dia berdzikir di dalam kamar Ali. Begitu pula dengan Ali dan suaminya yang berada di rumah duka, sudah pastinya tidak tidur sama sekali.
”Iya.” sahut semuanya. Semuanya beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Di dapur.
Viona, Anisa, dan Ibu Ali sudah duduk di kursinya masing-masing. Mereka menunggu Andra, Ali, dan Pak imam baru memulai sarapan.
Tiga menit kemudian, Ali dan Andra baru saja datang dan duduk di tempatnya. Dua menit kemudian, Pak imam datang dan duduk di kursinya.
”Semuanya sudah berkumpul. Ayo... mulai mengambil makanannya.” ucap Ibu Ali.
Pak imam telah selesai mengambil makanan, Ali, Andra juga sudah selesai. Viona, Anisa, dan Ibu Ali juga baru saja selesai mengambil makanan. Mereka makan dalam diam.
*
*
*
Di dalam goa, tempat Genta berada.
”Tuan, semua anak buah kita telah di kumpulkan. Tinggal menunggu Ibra dan para anak buahnya saja.” lapor salah satu anak buah Genta pada Genta.
”Hum. Kirim satu orang sampaikan pada Ibra untuk secepatnya berkumpul.” titah Genta pada sang anak buah.
”Baik, Tuan.” Anak buah tersebut beranjak pergi. Ia sendiri yang pergi mencari Ibra.
Genta membesarkan matanya melihat ke depan. ”Hahahaha. Saatnya keturunan mu juga akan mati... Prayoga! Mereka akan menyusul mu di neraka sana! Hahahaha... siap-siaplah kamu menyambut kedatangan anakmu dan cucu mu... Prayoga!!” ucap Genta.
”Berlia... kita akan bertemu lagi setelah beberapa bulan lamanya kita berpisah. Hahahaha....”
__ADS_1
”Aku... aku sudah tidak sabar untuk membunuh mu dan bayi mu dengan tangan ku... sendiri, Berlia!!”
”Tuan! Maaf, saya sudah lancang menggangu Tuanku. Nyonya memanggil Tuan.” lapor dayang dari istrinya Genta.
”Hum. Katakan aku segera datang.” jawab Genta.
”Baik, Tuan.” sahutnya sambil membungkukkan badan. Ia pergi dari sana.
Genta berjalan ke tempat istrinya berada.
Di kamar sang istri.
Semua dayang yang berada di dalam bergegas keluar dari kamar setelah pintu kamar terbuka dan melihat tuan mereka berjalan masuk ke dalam kamar.
”Hum... kamu memanggil ku?” tanya Genta. Ia duduk di sisi ranjang istrinya.
”Ssttsst! Pelan kan suara mu... anak kita baru saja tidur.” sahut sang istri. Ia bangun mencium kening putranya dan beranjak dari kasur. Ia berjalan ke kursi. Suaminya mengikutinya, ia duduk di kursi satunya.
”Aku mendengar kamu ingin pergi menyerang seseorang? Siapa dia?” tanya sang istri.
Siapa yang memberitahu istri ku tentang ini? Pasti ada salah satu dayang ku yang menjadi telinga dan matanya istriku. Siapa dia? Berani sekali! benak Genta.
”Tidak ada sayang. Siapa yang memberitahu mu berita itu? Kamu pasti sudah mendengar informasi yang salah.” jawab Genta.
”Benarkah? Genta... aku tidak mau kamu menyerang orang lagi. Kamu sudah hampir mati karena menyerang Prayoga saat itu. Kalau saja anak buah mu terlambat membawa mu pulang dan terlambat mendapatkan penanganan, kamu sudah lama pergi tinggalkan kami...”
”Lisna, sayang. Aku__”
”Genta, dari awal aku sudah melarang mu untuk berbuat dosa. Kamu sudah menyadari kesalahan mu yang menyerang saudara tiri mu sendiri hanya untuk sebuah tahta. Sekarang... kamu masih ingin berbuat dosa lagi? Kamu ingin meninggalkan kami semua? Berhentilah untuk percaya kepada Rifda, dia hanya menyesatkan mu.” pangkas Lisna menasehati Genta.
Genta terdiam. Memang waktu itu dia sangat terprovokasi oleh Rifda makanya dia menghabisi keturunan Prayoga. Ia berambisi untuk mendapatkan posisi raja menggantikan raja terdahulu. Siapa sangka... raja terdahulu malah memberikan tahtanya pada putra kandungnya Prayoga. Padahal ia sudah berangan-angan menjadi raja sesudah raja terdahulu... bagaimanapun, dia yang paling tua dari Prayoga. Untuk bisa menjadi raja maka dia harus menghabisi Prayoga. Dan untuk mencegah perebutan tahta di saat anaknya menjadi raja berikutnya, ia harus membunuh seluruh keturunan Prayoga.
Semuanya sudah aku lakukan dari awal. Tinggal titik terakhir perjuangan ku... apa aku berhenti? Ini semua untuk posisi raja anakku. Aku melakukannya sampai akhir. benak Genta.
”Sayang, kamu hanya mendengar berita yang salah. Aku hanya ingin melihat kericuhan di perbatasan. Katanya wilayah ku kedatangan siluman lain. Jadi, aku pergi melihatnya.” ucap Genta.
Genta berdiri, ”Jika tidak ada lagi yang mau di bicarakan... aku pergi dulu. Kamu jangan banyak berfikir, jaga saja dirimu dan anak-anak kita. Urusan kerajaan adalah urusan ku.” Ia mencium kening istrinya setelah itu, ia pergi dari kamar istrinya.
Lisna memandang punggung suaminya dengan sedih. Suaminya sudah di sesatkan oleh Rifda. Dia sudah berusaha untuk membunuh Rifda agar tidak menghasut suaminya lagi tapi... usahanya sia-sia. Rifda begitu kuat.
*
*
Di kediaman Genta.
”Kumpulkan semua para pelayan ku! Wanita maupun pria! Semuanya berkumpul di sini!!” titah Genta dengan marah.
”Kamu harus memusnahkan semua orang yang akan menghancurkan rencana mu.” ucap Rifda pada Genta.
Genta memukul tangan kursinya, ”Kurang ajar! Beraninya dia memprovokasi aku dan istriku!” Genta melihat para pelayannya semua sudah berdatangan yang pria maupun wanita. Para pelayannya semua duduk menunduk ketakutan di hadapannya.
”Siapa di antara kalian yang merupakan pelayan setia istriku?” tanya Genta pada para pelayannya.
Semua pelayannya tidak ada yang bersuara. Mereka hanya menunduk ketakutan. Keringat dingin sudah membasahi pelipis dan kening mereka. Tetapi... mata Genta yang jeli ia dapat menemukan pelayan dari istrinya itu yang menjadi mata dan telinga untuk istrinya.
Kedua pelayan itu terdiri dari seorang wanita dan seorang pria. Tubuh kedua pelayan itu gemetar hebat. Matanya juga membulat sempurna saat Genta menayangkan pertanyaan.
”Kamu, wanita yang memakai baju jingga menghadap sini! Dan kamu, pria yang memakai kalung dengan mainan bulan... maju ke sini!” titah Genta pada mereka berdua.
Aku...aku ketahuan! Ba__bagaimana ini? Ra__ratu... to__tolong aku. benak kedua orang itu.
Mereka berdiri dan berjalan pelan maju ke depan dengan keringat yang terus mengucur dari pelipisnya. Tubuhnya semakin gemetar ketakutan bahkan wajahnya sekarang pucat pasi.
”Sa__saya Tu__Tuan.” Hormat kedua orang itu dengan terbata-bata pada Genta.
”Lancang!! Beraninya kalian memprovokasi aku dan istriku!!” ucap Genta dengan marah.
__ADS_1
”A__ampun Tuan! Ka__kami tidak berda__daya. Moh__mohon am__ampuni sa__saya.” Kedua orang itu bersujud mohon ampun pada Genta.
”Bunuh saja dia!” titah Rifda.
Kedua orang itu semakin ketakutan. Genta menatap kedua pelayan tersebut.
Jika aku membunuh kedua pelayan ini... istriku akan sangat marah padaku. Dan jika kedua pelayan ini tidak kembali untuk melaporkan keseharian ku pada istriku... sudahlah... benak Genta.
”Apa kalian masih ingin memprovokasi aku dan istriku lagi?” tanya Genta.
”Ti__tidak Tuan! Sa__saya tidak berani lagi.” jawab keduanya.
”Jika istriku bertanya tentang ku, apa yang akan kalian jawab?”
”Tu__Tuan tidak melakukan hal apapun.” jawab kedua pelayan itu lagi.
” Bagus!! Cambuk kedua pelayan ini sebanyak dua puluh kali sebagai hukumannya!!” titah Genta. ”Bubar!!!”
Syukurlah hanya hukuman cambuk...benak kedua pelayan itu dengan lega.
Semua para pelayannya bubar dan kedua pelayan itu sekarang sedang menjalani hukuman cambuk.
”Genta! Kenapa tidak membunuhnya saja! Dia akan mengacaukan usaha keras mu selama ini.” ucap Rifda pada Genta.
”Mereka tidak akan berani! Mereka adalah pelayan istriku... istriku akan curiga aku sudah membunuh mereka sehingga mereka tidak datang menghadap panggilannya.” jawab Genta.
Rifda menatap Genta tanpa bersuara. Setelah itu ia pergi dari sana. Ia pergi ke rumah hukuman.
Di rumah hukuman.
”Tuan Rifda?”
”Bunuh mereka berdua!” titah Rifda pada penjaga rumah hukuman.
Kedua pelayan tersebut terkejut dan ketakutan. Badan mereka masih kesakitan karena hukuman cambuk... sekarang harus di bunuh pula.
”Tuan tidak memerintahkan untuk membunuh kami!” protes kedua pelayan tersebut.
”Tuan Rifda... tuan Genta hanya memberi hukuman cambuk pada mereka berdua. Ini....”
”Bawa mereka ke hutan dan biarkan di terkam hewan buas. Setelah meninggal, bawa ke kediaman ratu dan bilang pada ratu jenazah kedua pelayan tersebut di temukan di hutan dan di terkam hewan buas saat akan berzina. Tuliskan kata "kita akan bertemu di hutan, aku rindu padamu..." Dan selipkan di pakaian wanita. Lakukan!” Rifda pergi dari rumah hukuman.
Kedua pelayan itu menangis sambil terus menggelengkan kepala.
”Perhatikan dia! Pastikan semuanya mati! Jangan sampai usaha kita sia-sia... jangan sampai berita ini di dengar Genta.” ucap Rifda pada anak buah setianya.
”Baik, Tuan.”
Rifda pergi dari sana.
*
*
*
Di kota, kediaman Kevin.
”Kenapa perasaan ku tidak tenang begini? Aku selalu memikirkan Viona.” Maria menghela nafas, ”Viona... kamu di mana sayang? Semoga kamu baik-baik saja di manapun kamu berada.”
”Mama, kenapa duduk sendirian di sini? Apa yang Mama pikirkan?” tanya Lirjan, ia duduk di samping Maria, ibunya.
Maria kembali menghela nafas, ”Siapa lagi yang Mama pikirkan selain anak perempuan Mama, Lirjan? Hari ini... Mama selalu kepikiran Viona. Tidak seperti biasanya.”
”Mama, Lirjan minta maaf. Lirjan tidak menemukan Viona. Bus yang terakhir di pakai Viona ternyata sudah tidak beroperasi di daerah sebelumnya. Sudah berganti jalur, dan supirnya juga... bukan supir waktu itu. Lirjan merasa tidak berguna sebagai seorang kakak....”
Maria terdiam. Ia tidak tahu ingin menanggapi apa. Suami dan anaknya sudah berusaha keras mencari informasi dan mencari keberadaan Viona, meskipun usahanya sia-sia. Tempat berlarinya Viona sangat tersembunyi.
__ADS_1