
Di kamar Ali.
Syukurlah, dia tidak bersikeras untuk keluar tadi. Jika tidak, aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Jika dia jalan sendirian, itu sama saja dengan memberikan kesempatan para siluman ular untuk membunuhnya dengan sangat mudah. benak Andra.
”Argh! Vi... pelan.” jerit Andra.
”Sudah pelan ini, Dra! Mau bagaimana lagi supaya posisimu nyaman?”
”Tanganku agak geser sedikit, naikkan di atas bantal. Tapi, pelan ya.” ucap Andra.
”Sudah tahu tangan sakit! Masih paksa di gerakkan!” omel Viona. Dia menggeser tangan Andra yang sakit dengan pelan ke atas bantal.
”Kalau gak nahan kamu, aku bakal kehilangan kamu, Vi. Argh! Pelan Vi, naikkan celana ku!”
”Bawel! Mau di obati, gak?” ketus Viona.
”Iya. Tapi pelan Vi. Beneran sakit, nih!” keluh Andra.
Viona melihat Ali, ”Ali, tolong ambilkan aku obat luka di mushola, di rak-rak buku.” titahnya pada Ali.
”Iya,” dia keluar dari kamar.
Viona menaikkan celana Andra dengan pelan, luka di kaki Andra separuh sudah mengering, dengan celana Andra yang lengket di sebagian luka tersebut. Itulah yang membuat Andra menjerit kesakitan saat celananya di naikkan.
”Nak, Bapak membawakan air hangat untuk membersihkan luka Andra.” pak imam meletakkan baskom kecil berisi air hangat di atas kasur, di samping Andra beserta kain kecilnya.
”Eh? Terima kasih, Pak imam. Maaf, sudah merepotkan.” ucap Viona dan Andra. Mereka merasa tidak enak hati pada pak imam.
”Tidak perlu sungkan! Kalian berdua adalah anaknya Bapak, selain Anisa dan Ali. Cepat, bersihkan lukanya Andra. Bapak keluar dulu.” pamitnya.
”Iya, Pak imam. Terima kasih banyak.” ucap Andra dan Viona.
”Sama-sama.” pak imam memberikan senyum pada mereka berdua dan keluar dari kamar.
Viona segera membersihkan luka Andra dengan air hangat tersebut.
”Dra. Kenapa? Kepala mu pusing?” Viona semakin khawatir dengan Andra yang memijat pelipisnya sendiri sambil memejamkan mata.
”Hanya pusing sedikit saja. Kepalaku masih belum bisa menerima keputusan mu yang mendadak mengakhiri hubungan kita tanpa tahu di mana salah ku.”
Wajah Viona mendadak berubah. Dia merasa bersalah akan ucapannya. Dia melihat Andra dengan sedih. ”Andra, aku...maaf, aku...”
”Tidak apa-apa. Suatu hubungan memang tidak bisa di paksakan. Aku mungkin bukan orang yang pantas untuk mu. Meskipun kita sudah putus, kamu masih tetap tanggung jawab ku. Aku akan membawa mu kembali ke kota dengan selamat.” pangkas Andra.
Mata Andra terbuka sempurna. Ali yang baru masuk pun terkejut. Viona mendadak mencium bibir Andra. Mata Andra terpejam, menikmati ciuman lembut Viona dan dia membalas ciuman Viona.
”Argh! Vi...kamu kok menggigit bibir ku, sih!” keluh Andra, di saat Viona mengakhiri ciumannya, dia menggigit bibirnya.
”Habis aku kesal dengan ucapan mu. Siapa bilang kamu tidak pantas untukku? Hum?”
”Kamu yang mengisyaratkan padaku, jika aku tidak pantas untukmu. Makanya kamu memutuskan ku, kan?”
Mata Viona berkaca-kaca. Tidak ada keinginannya untuk putus dengan Andra. Pria yang sudah mengorbankan nyawanya untuk melindungi dirinya. Kata putus yang dia ucapkan, sengaja dia utarakan untuk membuat Andra membencinya dan tidak akan mencegahnya pergi. ”Andra, bukan begitu. Aku hanya...”
”Tidak apa-apa, Vi. Aku tidak menganggap serius ucapan mu. Aku mengerti mengapa mendadak kamu bicara begitu. Kamu, Viona masih kekasihku. Dengarkan aku, Vi. Aku tidak memberikan mu hak untuk meminta putus dengan ku. Hubungan kita akan benar-benar putus, apabila aku sendiri yang mengucapkan kata putus untuk mu.” pangkas Andra lagi.
Air mata Viona menetes, bibirnya mengukirkan senyum. Dia memeluk tubuh Andra. ”Andra, terima kasih. Aku mencintai mu.” ucapnya.
”Argh! Vi...tanganku..!”
”Oh, em..maaf.” Viona menarik dirinya.
__ADS_1
Tok tok tok! Terdengar suara ketukan di pintu.
Viona dan Andra menoleh ke pintu. Wajah Ali terlihat malu-malu melangkah maju menghampiri Andra dan Viona. Tanpa bersuara, Ali memberikan obat pada Viona dan segera keluar dari kamar. Dan kali ini, Ali keluar menutup pintu kamar.
Mendadak Viona tersadar. ”Apakah pintu kamar tadi tidak tertutup?” tanyanya pada Andra.
Andra mengangguk.
”Jadi, tadi... Ali....”
”Iya. Ali melihat kita sedang berciuman.” ungkap Andra.
Viona menjadi malu.
”Sudah, tidak apa-apa. Santai saja. Dia juga bukan anak kecil lagi. Dia bisa mengerti. Obati luka ku. Aku ingin istirahat. Kamu juga harus istirahat.” ucap Andra.
”Iya.” Viona mengoleskan obat luka pada kaki Andra. ”Sudah selesai.” Viona berdiri. ”Kamu istirahatlah. Aku keluar dulu.” pamitnya.
”Iya.”
Viona keluar dari kamar. Dia pergi ke kamar Anisa.
Melihat Viona sudah masuk ke kamar Anisa, Ali masuk ke kamarnya.
Di kamar Ali.
Ali menutup pintu dan menguncinya. Dia melihat Andra sedang melihat langit-langit kamar.
”Belum tidur, Bang? Lagi mengkhayal kan apa?” tegur Ali. Dia naik ke ranjang dan berbaring.
”Belum mengantuk. Apa yang kamu lihat tadi, anggap saja kamu tidak pernah melihatnya.” ucap Andra.
”Iya. Bang. Jadi, Abang dan Viona balikan kembali?” Ali penasaran.
”Sania adalah anak dari sepupu jauh ibu. Untuk hal darimana Sania tahu, aku juga tidak tahu. Dan aku, pribadi sendiri tidak pernah bercerita apapun padanya, termasuk penyerangan siluman ular sore tadi.”
Andra terdiam. Lalu, darimana dia tahu penyerangan ular sore tadi dan meninggalnya ibu ku? benak Andra.
”Sudah, Bang. Tidak usah di pikirkan. Lebih baik istirahat, pulihkan diri Abang agar bisa melindungi kekasih Abang.”
”Hum. Kamu juga istirahatlah.” sahut Andra.
”Iya, Bang.”
Mereka berdua saling terdiam dan memandang langit-langit kamar sejenak, baru tertidur.
.. ..
Di rumah Nia.
”Ini, Papa membawakan obat ramuan cinta ular untuk mu.” dia memberikan obat botol kecil pada Nia.
Nia tersenyum bahagia. Dia mengambilnya dan melihat botol kecil di tangannya itu.
”Obatnya itu langsung bereaksi. Jadi, berikan di waktu tepat dan di waktu yang pas.” pesannya.
”Hah! Se-manjur itu kah ramuan ini, Papa?” Nia tidak percaya.
”Iya. Obat itu sangat manjur, tapi, tentu saja tidak bisa di gunakan ke laki-laki lain. Karena nama yang tersemat di dalam ramuan itu adalah nama pria yang kamu sebutkan padaku. Kamu paham?”
”Paham, Papa.”
__ADS_1
”Hum. Kalau begitu, Papa pergi dulu.” pamit sang papa.
”Iya, Papa hati-hati! Jangan sampai terlihat lagi sama temannya Nia, seperti malam itu.”
”Iya. Malam itu kelalaian Papa. Tapi, ada untungnya juga kan buat mu?”
”Iya, sih! Tapi, Papa harus tetap hati-hati!” pesan Nia.
”Iya, sayang.”
Papa Nia pergi dari rumahnya Nia dalam wujud ular. Dia keluar lewat dari lubang belakang rumah, yang memang di buat khusus dirinya keluar masuk dari rumah.
Nia masuk ke kamarnya sambil tersenyum senang. Dia menyimpan botol obat itu dengan aman di bawah kasurnya.
”Ini baru setengah sepuluh. Seharusnya dia belum tidur, kan? Aku akan menemuinya.” gumam Nia.
Dia keluar dari kamar setelah dia berganti pakaian.
”Loh, Dion? Ada apa ke sini?” Nia terkejut saat dia membuka pintu rumahnya, Dion berdiri di depan pintu dan tangannya terangkat ke atas.
”Kebetulan sekali, kamu buka pintu saat aku ingin ketuk pintu rumah mu. Memangnya kenapa kalau aku datang? Gak boleh?” Dion berbalik ke teras dan duduk di kursi.
Nia juga ikut duduk di teras.
Sepertinya besok saja baru aku temui dia. Malam ini, harus temani Dion bercerita. benak Nia.
”Kamu mau kemana malam begini?” Dion kembali bertanya.
”Mau ke rumah teman sebentar, tapi, karena kamu datang. Ya.. gak jadi.”
”Kalau mau pergi, ayo. Aku temani kamu.” ajak Dion.
”Hah! Gak perlu. Oh, iya. Apa kamu sudah dengar Ali di serang sama ular di rumahnya?”
Dion mengangguk. ”Iya, aku baru dengar tadi dari tetangga-tetangga rumah. Tapi, yang kena apes malah Andra. Kasihan sekali dengan keluarga pak imam. Di jadikan korban berikutnya oleh Viona.”
”Itu lagi. Viona harus pergi dari rumah pak imam. Jika tidak, entahlah! Kita juga tidak tahu Viona butuh berapa tumbal untuk mencapai kesenangannya.” Nia semakin membuat Dion benci pada sosok Viona.
”Kamu benar! Tapi, kalau berbicara langsung dengan pak imam itu tidak mungkin. Apakah kamu punya cara?” Dion melihat Nia dengan serius.
”Aku tidak punya ide dan pikiran ku saat ini lagi kosong. Aku belum lihat keadaan Andra seperti apa sekarang! Aku khawatir, tapi takut untuk menjumpainya.” keluh Nia.
”Kalau kamu ingin menemuinya? Aku juga ingin pergi menjenguknya. Ayo, kita pergi jenguk dia besok sama-sama, di rumah pak imam. Sekalian, kita cari kesempatan untuk menyudutkan Viona di mata keluarga pak imam. Agar pak imam membuka matanya melihat siapa sebenarnya wanita yang sudah beliau tampung di rumahnya.”
Nia terdiam sesaat. Dia memikirkan ajakan dan rencana Dion. Kepalanya dia angguk-anggukan. ”Ok. Besok, kita pergi jenguk Andra. Jam berapa? Kalau pagi sekali aku tidak bisa.”
”Sekitar jam sepuluh pagi, besok. Gimana? Kamu bisa?” tanya Dion.
”Ok,” Nia setuju.
”Kita sudah sepakat. Tadinya aku kesini mau cerita padamu tentang Andra. Eh, padahal kamu sudah tahu duluan.”
”Kan mulutnya tetangga banyak, Dion. Apalagi di pasar, berita seperti itu jelas terdengar lah di telingaku. Hanya saja, itu tadi. Mau menjenguknya tapi takut.”
”Lagian, untuk apa kamu takut. Baiklah, karena sudah tidak ada yang di bicarakan lagi. Aku pulang dulu.” Dia beranjak berdiri.
”Iya. Besok, kamu datang jemput aku yah. Jangan sampai lupa. Dan hati-hati di jalan.” ucap Nia.
”Iya. Assalamu 'alaikum.” pamit Dion.
”Wa 'alaikum salam.”
__ADS_1
Nia melihat punggung Dion yang pergi dari rumahnya.
Bagus! Besok, punya kesempatan menyudutkan Viona. Aku gak sabar, menunggu Viona di usir dari rumah pak imam. Dan aku juga berharap, agar Andra tersadar kalau Viona bukan gadis yang baik. benak Nia.