
Keesokan harinya, di mushola, kediaman pak imam.
”Vi, kamu gak tidur semalam?” tanya Andra.
Viona mengangguk. ”Iya, aku tidur dengan gelisah. Seandainya ada kamu, kalau aku gak bisa tidur, aku lihat wajah mu, lama-lama aku akan tertidur.” keluhnya.
Andra tersenyum. ”Merindukan ku?” dia sengaja menggoda Viona.
”Iya.”
Andra terdiam. Rupanya Viona menjawab dengan jujur.
”Itu sebabnya kamu mengajak ku ke sini? Ingin memandang wajah ku?” goda Andra lagi.
”Iya, aku ingin berbaring di sini dan kamu duduk diam temani aku. Kalau aku gak tidur sekarang, kepala ku akan berat dan pusing.”
”Baiklah, kamu tidur lah. Ingin jadikan pahaku bantal mu?” tanya Andra.
”Tidak, ada bantal di rak paling atas, di rak buku. Bisa tolong ambilkan?”
Andra mengangguk. Dia berdiri dan melangkah ke bagian rak buku. Dia melihat bantal yang di maksud Viona. Dia mengambil bantal itu dan kembali ke Viona. ”Ini sayang.” dia memberikan bantal itu pada Viona.
Viona mengambil dan menaruh nya di samping Andra. ”Aku tidur dulu, kamu jangan kemana-mana ya.” titahnya pada Andra.
”Iya, sayang. Tidurlah.” Andra membelai kepala Viona.
”Sebenarnya, semalam selain aku gak bisa tidur karena gak ada kamu. Aku juga gak bisa tidur karena merindukan keluarga ku. Aku juga gak bisa tidur karena aku terganggu oleh mimpi.”
Kening Andra mengerut melihat Viona. ”Kamu mimpikan apa?” dia penasaran.
”Aku bermimpi, aku berjalan di tengah hutan dan menemukan sebuah goa. Goa itu sangat besar. Saat memasuki goa itu, aku bisa mendengar suara gelak tawa sebuah kekuarga yang harmonis. Cuman, aku tidak melihat siapapun di sana. Dari suara gelak tawa tersebut berubah menjadi sebuah tangisan. Tangisan yang pilu. Juga suara teriakan. Aku merinding dan bergegas keluar dari goa itu. Namun, di saat aku berada di mulut goa. Aku terperanjak kaget dengan hadirnya ular hitam di depan ku. Ular itu ingin menerkam ku. Tetapi, tiba-tiba ada cahaya terang yang muncul di hadapan ku, menghalangi ular itu. Ular itu pergi dan aku terbangun.”
”Jadi, kamu memikirkan suara-suara aneh itu?” tanya Andra.
Viona menggeleng. ”Bukan suara itu yang aku pikirkan.” elaknya.
”Lalu?”
”Aku merasa, seseorang sengaja menunjukan hal itu padaku, Dra. Aku merasakan seperti nyata masuk ke dalam goa itu. Saat di mimpi, kaki ku tergores oleh batu yang tajam saat aku mundur beberapa langkah menghindar ular itu. Telapak tangan ku juga tergores saat berpegang pada dinding goa. Di saat terbangun, aku merasakan kaki dan tangan ku perih. Dan aku lihat, ternyata kaki dan tangan ku terluka. Dan goresannya sama dengan yang aku dapatkan di mimpi.” tuturnya.
Apa? Bagaimana bisa aku dan Viona sama-sama memimpikan berada di dalam goa? benak Andra.
”Itu sebabnya, waktu kamu masak sayur tadi, kamu meringis kesakitan? Menahan rasa perih di telapak tangan mu karena uap panas dari sayur itu.” tanya Andra.
Viona mengangguk.
”Mana lukanya, coba aku lihat.”
Viona bangun, dia menaikkan sedikit celana panjangnya dan memperlihatkan luka goresan di kakinya. Dia juga memperlihatkan luka goresan di telapak tangan kanannya pada Andra.
”Mengapa kamu gak obati? Goresan luka di kaki mu cukup dalam. Aku turun ke bawah dulu, mengambil obat luka.” Andra beranjak berdiri.
Viona menahan tangan Andra, ”Nanti saja baru obati. Aku mau tidur, kepala ku pusing.” cegahnya.
Andra melihat Viona. Mata gadis itu begitu sayu. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin terlihat jelas. ”Baiklah,” dia menurut. Andra kembali duduk.
Viona menurunkan kembali celananya. Dan dia kembali berbaring.
Andra membelai lembut kepala Viona. ”Tidurlah, jangan pikirkan mimpi mu lagi. Aku di sini, menemani mu. Untuk kerinduan mu pada orang tua mu, sabarlah. Tidak lama lagi kita akan kembali ke kota.” ucapnya lembut.
Viona mengangguk. Dia merasa tenang dengan belaian tangan Andra di kepalanya. Perlahan matanya terpejam. Dia tertidur.
Andra melihat Viona. Sesampainya di kota, apakah kisah asmara kita akan terus berlanjut, Viona? Aku harap demikian. Aku sudah sangat jatuh cinta padamu. benak Andra.
__ADS_1
Dia menarik tangannya dari kepala Viona. Dia sempat melihat selimut di atas rak. Dia berdiri dan mengambil selimut itu. Dia menyelimuti Viona.
Apa tidak apa-apa, jika aku tinggalkan Viona sebentar? benaknya.
Dia menghela nafas. Dia tidak tega meninggalkan Viona tertidur di mushola sendirian. Dia pun tetap menemani Viona di sana.
Dia bersandar di dinding mushola, memikirkan mimpinya semalam.
.. ..
Di kota, di kantor Kevin.
Tok tok tok! ”Tuan, boleh saya masuk?”
”Hum! Masuklah!”
Wira masuk ke dalam ruangan. ”Tuan, ada orang yang ingin bertemu dengan Tuan. Orang ini tahu lelaki yang pergi dengan nona Viona.”
”Bawa dia masuk!” titah Kevin.
”Baik.” dia berbalik dan membuka pintu ruangan. Dia kembali menghadap pada Kevin dengan membawa seseorang di sampingnya. ”Bicaralah!” titahnya pada orang itu.
Kevin dan Lirjan sama-sama menatap orang itu. Membuat orang itu ketakutan saat ingin berbicara.
”Apa yang kamu ketahui?” tanya Lirjan. Dia tidak sabar lagi. Pemuda yang ada di hadapan papanya masih saja terdiam. Meski Wira telah menyuruhnya berbicara.
Pria itu meraih handphone dari dalam tasnya. Dia menggeser layarnya dan membawa ponsel tersebut pada Kevin.
Kevin melihat sejenak foto itu. Dia menggebrak meja dengan kuat. Hingga membuat Wira dan pemuda itu terkejut dan ketakutan.
Kevin marah, ”Kamu mempermainkan saya? Untuk apa kamu menunjukan foto mu padaku? Hum?” suaranya sangat tinggi. Tatapannya sangat tajam melihat pemuda itu.
Alhamdulillah, untung saja hape ku tidak jatuh. benak pemuda itu.
Pemuda itu terduduk. Kakinya lemas gemetar karena ketakutan. ”Ma..maaf, Tuan. To..tolong Tuan perhatikan lagi fotonya dengan baik.” ucapnya, sambil menunduk.
Lirzan berdiri dari duduknya. Dia mendekati meja papanya. Di raihnya ponsel itu. Dia menggeser layarnya. Tapi, tidak bisa. ”Layarnya terkunci. Apa kata sandinya?” tanyanya.
”Ko...kosong enam lima belas sembilan dua.” jawab pemuda itu.
Lirjan menekan angka itu. Layar terbuka. Dia memperhatikan foto pemuda itu baik-baik. Dia melihat di belakang pemuda itu nampak sosok Viona yang tersenyum dengan seorang pria. Pria itu memegang tangan Viona, mengajak Viona naik ke dalam bis.
Matanya memicing memperhatikan wajah pria itu. Wajah pria itu pernah dia temui di kantor papanya ini. Pria itu bekerja menjadi office boy.
”Papa, coba perhatikan baik-baik pria ini.” Lirjan menunjukan foto tersebut pada Kevin, papanya.
Kevin menyipit melihat pemuda itu. Dia teringat beberapa kali dia bertemu dengan pria itu di lantai dua, di kantornya sendiri. Saat itu, dia memerintahkan pria itu untuk membersihkan ruangannya. ”Telfon HRD.” titahnya.
Lirjan mengangguk. Dia menelfon pihak HRD. Telfon tersambung.
”Halo, Pak. Ada yang bisa di bantu?”
”Bawa semua identitas pekerja office boy ke sini.” titah Lirjan.
”Baik, Pak.”
Telfon terputus. Tiga puluh menit kemudian.
Tok tok tok! ”Permisi, Pak!”
”Masuk!”
Ketua HRD melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia terkejut melihat seorang pemuda yang duduk ketakutan di lantai.
__ADS_1
Dia terus melangkah sampai ke meja Kevin. Dia meletakkan map-map yang berisi identitas pekerja office boy di Mitra grub, di atas meja Kevin. ”Ini Pak, daftar identitas mereka.” ucapnya.
”Lirjan, Wira, Wati, temukan identitas pria ini.” titah Kevin.
”Baik, Pak.” jawab Wira dan Wati setelah melihat foto pria tersebut.
Mereka membagi map-map tersebut, sepuluh map untuk satu orang. Mereka mulai membuka satu persatu map-map yang ada di hadapannya.
Tinggal dua map yang tertinggal pada Lirjan. Dia membuka map yang terakhir. ”Ini dia, Pa.” dia menunjukan identitas pria itu pada Kevin.
Kevin mencocokan kembali foto pria itu dari hape dan foto lamaran kerja. Mereka adalah orang yang sama.
Wati kembali merapikan map-map yang ada di atas meja.
Kevin dan Lirjan sama-sama membaca biodata pria itu.
Nama : Andra Irwayasa.
Usia : 26 tahun.
Alamat : jln. Pattimura, nomor 30.
Pekerjaan : Office boy.
Gaji : 2. 800.000,00/ bulan.
”Di mana orang ini sekarang?” Kevin bertanya pada Wati.
”Dia sedang meminta cuti beberapa bulan lalu, untuk menjenguk ibunya, di kampung halamannya. Dia meminta cuti selama tiga bulan, namun, sampai sekarang dia belum kembali.” ungkap Wati.
”Buatkan surat pemecatan pada pria ini. Berikan dia pesangon 10.000.000,00. Dan beritakan pada perusahaan, mal-mal, cafe, yang berada di bawah naungan Mitra grub untuk tidak menerima pria ini bekerja.” titah Kevin.
Kasihan sekali kau, Andra. Kamu adalah pria yang paling baik di mitra grub ini. Kamu rajin, murah senyum, suka berbagi. Entah, salah apa yang telah kamu perbuat sehingga nasibmu naas begini. benak Wati.
”Baik, Pak.” sahut Wati.
”Apa kamu tahu di mana kampung pria ini?” tanya Lirjan.
”Maaf, Pak. Saya tidak tahu.” jawab Wati.
”Hum! Kamu pergilah. Bawa kembali map-map ini.” titah Kevin.
”Baik, Pak.” Wati mengambil kembali map yang sudah rapi dari atas meja Kevin. Dia keluar dari ruangan Kevin.
”Apa kamu tahu, bis ini tujuan kampung apa?” tanya Kevin pada pemuda, pemilik hape.
”Ma..maaf, Tuan. Sa..saya tidak tahu.” jawab pemuda itu.
”Hum! Ambil hapemu.” titah Kevin.
Pria itu berdiri dan berjalan dengan gemetar ke meja Kevin. Dia mengambil hapenya dan berjalan mundur ke belakang.
”Wira, siapkan 5.000.000,00. Berikan pada pemuda itu, dan keluarlah.” titah Kevin pada Wira.
”Baik, Tuan.” Wira keluar dari ruangan bersama pemuda itu.
”Apa Viona sudah gila akal? Menyukai pria yang bekerja hanya office boy, sedangkan Rian, yang bekerja sebagai dokter, dia tolak.” ketus Lirjan berucap.
”Cari informasi bis itu tujuan apa dan kirim orang untuk mencari mereka.” titah Kevin.
”Baik, Pa.” jawab Lirjan.
Lirjan keluar dari ruangan papanya. Dia pergi ke ruangannya sendiri.
__ADS_1
Kevin mendengus kesal dan menghela nafas. Dia keluar dari ruangannya.
.. ..