
Di teras rumah pak imam.
”Pak imam, apa Bapak tidak salah mengusir orang? Kami salah apa? Kami hanya ingin menjaga keselamatan keluarga Pak imam dari rencana licik Viona. Percayalah pada kami, Viona adalah komplotan siluman ular! Dia yang harus Pak imam usir, bukan kami!” tutur Dion.
”Aku pernah tidak sengaja di suatu malam, aku dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku melihat siluman ular itu berbicara telah berhasil membunuh ibu Andra, dan mereka sedang memburu Viona. Pasti tumbalnya kurang, makanya memburu Viona. Karena Viona tidak ingin menjadi korban akan ketamakannya sendiri, dia menjadikan keluarga Pak imam untuk di ja....”
”Stop!” pak imam berwajah marah. Tatapannya tajam melihat Dion saat memangkas ucapan pria itu. ”Kalian bertiga, pulanglah! Jangan membuat ku naik pitam dan melakukan hal yang tidak di inginkan pada kalian bertiga!” ancamnya.
Dion, Nia, dan Sania saling pandang. Mereka menciut melihat pak imam yang marah. Mereka melihat ibu Ali. Ibu Ali membuang wajahnya, tidak ingin melihat mereka. Mereka melihat Ali, Ali hanya memandang mereka dengan wajah datar. Mereka melihat Andra, Andra juga berwajah datar melihat mereka bertiga. Mereka melihat Viona. Viona hanya menunduk, wajahnya terlihat sedih.
”Muka munafik! Berwajah sedih meminta simpatik! Cih, dasar wanita berwajah dua.” cibir Nia.
”Kalau sampai terjadi sesuatu lagi pada Andra, kamu akan berurusan dengan ku. Kamu pantas untuk mati!” kecam Nia.
”Nia!!” geram Andra, tajam melihat Nia.
Nia menciut dan terdiam.
”Kalau sampai terjadi sesuatu pada keluarga pak imam, kamu akan berurusan dengan seluruh warga kampung.” ancam Sania pada Viona.
Pak imam sangat geram. Dia membuka telapak tangannya, cahaya kuning terpancar dari telapak tangan tersebut.
”Kenapa kalian masih berani membuka suara mengancam dan mencibir Viona? Bukankah bapakku sudah mengusir kalian pergi? Maka pergilah! Jangan membuat ricuh di sini!” usir Ali.
”Ok! Kami akan pergi! Kalau terjadi apa-apa dengan keluarga kalian, jangan salahkan kami tidak mengingatkan kalian.” kesal Dion.
Pak imam menarik kembali kekuatannya. Beliau menghela nafas. Jika saja beliau tidak mendengar Dion berkata akan pergi, dan masih menyudutkan Viona, tanpa sungkan beliau akan membuat mereka saling menampar wajah dan pergi dari rumahnya.
Dion, Nia, dan Sania berdiri.
”Andra, datanglah ke rumah ku nanti untuk mengecek apakah masih ada racun ular di dalam tubuh mu atau tidak. Aku menunggumu sore ini.” ucap Sania pada Andra.
Andra tidak menjawab.
Sania melihat Ali, ”Ali, antar Andra ke rumah sore nanti untuk cek up menyeluruh.” ucapnya.
Ali juga tidak menjawab.
”Ibu, Pak imam, kami pergi dulu. Assalamu 'alaikum.” pamit mereka bertiga.
”Wa 'alaikum salam.” jawab Ali, ibu Ali dan pak imam dengan enggan.
Mereka pergi dari sana.
”Andra, Pak imam, sebaiknya Viona pergi dari rumah Pak imam. Jika Viona masih berada di sini, ketenangan di rumah Pak imam akan terganggu.” ucap Viona.
Semua mata melihat Viona, gadis itu masih menunduk, air matanya menetes membasahi tangannya. Viona menangis dalam diam. Keningnya mengerut.
Andra terdiam. Dia tidak berani membuka suaranya. Dia menanti tanggapan dari pak imam.
Ali juga terdiam. Dia bukan pemegang keputusan siapa saja yang boleh dan tidak boleh tinggal di rumahnya. Keputusan semuanya di tangan bapaknya, Musthofa.
”Kalau kami mengizinkan kamu pergi dari rumah kami, sejak semalam kami tidak akan menahan mu untuk pergi.” ucap ibu Ali.
”Kalian boleh pergi dari rumah Bapak, sehari sebelum hari seratus ibu Sumi.” tegas pak imam.
”Tapi, Pak imam, Ibu...”
”Tidak ada kata tapi, Nak!” pangkas pak imam dan ibu Ali, bersamaan.
Viona terdiam.
__ADS_1
”Loh! Kok Anisa sudah pulang sekolah? Ini baru jam sebelas lewat, loh!” Ali terkejut melihat adiknya yang sedang berjalan masuk ke pekarangan rumah.
Semua mata melihat Anisa. Wajah Anisa nampak lesu, kusut, cemberut, dan kesal.
”Assalamu 'alaikum!” sapa Anisa.
”Wa 'alaikum salam!” sahut semuanya.
Anisa menyalami punggung telapak tangan kedua orangtuanya. Dan duduk di lantai, di teras rumah, melepas sepatunya. Dia menyimpan sepatunya di rak sepatu.
”Sudah pulang sekolah? Cepat sekali!” ucap Ali, dia penasaran. Pasti ada sesuatu makanya adiknya itu pulang dengan cepat.
”Belum jam pulang, kak. Anisa pulang sendirian.” suaranya terdengar ketus.
”Kenapa? Kesal sama teman sekelas mu lagi?” tebak pak imam.
Anisa menggeleng. Dia memandang Viona.
Viona dan Andra saling menatap. Viona kembali menunduk. Sepertinya dia sudah memahami situasi Anisa. Andra kembali melihat Anisa.
”Semua teman sekolah Anisa mencerca keluarga kita keluarga yang bodoh. Menerima orang yang menjadi penyebab suatu masalah, tinggal di rumah.” ungkap Anisa.
Viona menghela nafas sesaknya. Sungguh keterlaluan mulut orang-orang yang mengatai pak imam orang bodoh. Dan itu karena dirinya.
Ali dan Andra terdiam. Ibu Ali dan pak imam saling pandang.
”Lihatlah Ibu, Pak imam. Sebelum semuanya semakin buruk, biarkan Viona pergi dari sini.” ucap Viona, dia masih menunduk. Dia tidak berani memandang wajah keluarga pak imam. Dia sangat malu. Karena dirinya, keluarga pak imam di cemooh.
”Ucapan Viona benar, Bapak. Sebelum semuanya menjadi buruk, lebih baik biarkan dia pergi dari rumah kita. Anisa tidak bisa mendengar orang-orang mengatai Bapak dan Ibu orang bodoh atau apalah. Jika mereka hanya menghinaku dan kak Ali, Anisa tidak menjadi masalah. Tapi, ini...Bapak dan Ibu pun di katai. Anisa tidak punya kesabaran untuk itu. Tadi Anisa memukul mereka yang mencemooh Bapak dan Ibu. Setelah itu Anisa pulang, karena emosi Anisa semakin jadi dan ingin membunuh mereka saja.” ungkap Anisa.
”Adik!!” bentak Ali.
”Astaghfirullah! Ngomong apa kamu, Nak! Istighfar, anakku!” nasehat ibu Ali.
Anisa menunduk.
Viona berdiri. Andra terkejut, dia menjadi panik, apa yang akan di lakukan Viona?
”Pak imam jangan memarahi Anisa. Anisa tidak salah. Viona juga akan melakukan hal yang sama seperti Anisa, jika Viona mendengar orang lain berkata sembarangan kepada orang tua Viona. Ini semua salah Viona, kalau Pak imam ingin marah, Viona lah yang harus Pak imam marahi. Bukan Anisa.” tutur Viona, membela Anisa.
Viona melihat Anisa, Anisa membuang mukanya. Dia tidak butuh di bela sama Viona.
Viona tersenyum masam. Gadis yang berbagi kamar dengannya, sudah membencinya. Apakah dia masih punya hati untuk tidur satu kamar dengan gadis itu lagi? Viona masih memiliki rasa malu.
”Masalah sudah seperti ini, izinkan Viona pergi. Jangan karena Viona, hubungan keluarga Pak imam jadi renggang.” Viona melangkah masuk ke dalam rumah.
”Vi...!” Andra berdiri mengejar Viona yang masuk ke dalam rumah.
Dia memegang tangan Viona yang baru keluar dari kamar Anisa dan mengajaknya ke kamar Ali.
Di teras rumah.
Ali, ibu Ali, Anisa, dan pak imam saling terdiam.
”Jadi, bagaimana ini, Pa?” ibu Ali terdengar khawatir.
”Viona akan nekat untuk pergi. Semalam, masih di tahan oleh Andra yang lagi sakit. Tidak tahu kali ini.” Ali juga sama khawatir nya.
”Viona tidak akan pergi dari rumah. Bapak sudah menegaskan pada Viona dan Andra, tidak ada yang boleh pergi.” tutur pak imam.
”Biarkan saja Viona pergi, Pa. Nama Papa sudah buruk di mata warga.”
__ADS_1
”Anisa! Kenapa kamu jadi memerintah Papa?” tegur Ali.
”Anisa, Mama tahu kamu kesal mereka mengatai Papa dan Mama. Tapi, kamu tidak boleh menghakimi Viona seperti itu.” nasehat sang ibu.
”Andra maupun Viona, tidak ada yang boleh pergi.” tegas pak imam.
”Kenapa Papa, Mama, kak Ali membela Viona?! Anisa adalah anak kandung Mama dan Papa. Viona hanya orang yang menumpang di rumah ini, seharusnya Mama dan Papa juga kakak membela Anisa. Bukan Viona!” Anisa berdiri dan masuk ke dalam rumah.
”Adik!”
”Anisa!”
Pak imam menghela nafas, ”Biarkan dia! Emosinya masih menguasai akal sehatnya. Setelah dia tenang baru bahas ini.”
Mereka masih duduk di teras rumah. Memikirkan semua ucapan Anisa dan Viona, juga ucapan Dion, Nia, dan Sania.
Di kamar Ali.
”Kamu tenang! Ok?” Andra masih membujuk Viona. Tangannya mengelus punggung Viona. Dia mengecup pucuk kepala Viona.
”Tapi, Dra!” Viona masih menangis di dalam pelukan Andra.
”Ssttss!! Semuanya akan baik-baik saja. Bawa kembali koper pakaian mu di kamar Anisa.” titah Andra.
Viona terdiam sesaat. ”Apakah masih baik, aku tidur satu kamar dengan Anisa? Sementara dia memandangku sebagai musuh! Aku..aku akan tidur di mushola saja.” usul nya.
”Kalau kamu mau tidur di mushola, aku akan temani kamu.”
Viona menggeleng. ”Kamu tidur di kamar saja. Kalau kamu ikut tidur di mushola, kamu bukannya tidur, malah menjaga aku.” tolaknya.
”Lalu, menurut mu aku akan tidur dengan nyenyak di sini?”
Viona mengangguk.
Andra menghela nafas kesal. Dia menyentil kening Viona dengan kuat.
”Aduh, Dra! Sakit!” keluh Viona, tangannya menyapu dahinya sendiri.
”Makanya kalau ngomong itu di pikir dulu! Dari mana nya aku akan tidur nyenyak jika kamu sendirian tidur di mushola? Hum?” geram Andra.
”Hum! Sudah, aku gak mau berdebat dengan kamu. Aku ke mushola dulu.” Viona memegang kembali tasnya. Dia keluar dari kamar Ali.
Andra mengikuti langkah Viona. Mereka keluar dari rumah.
”Loh, Dra! Viona?” Ali terkejut melihat Viona memegang tasnya.
Semua mata melihat Viona.
”Viona, bukankah Ibu sudah bilang kamu tidak boleh pergi dari rumah ibu!”
”Em...Viona gak pergi Ibu. Viona hanya ingin pergi ke mushola.”
”Apa Anisa yang mengusir mu dari kamarnya?” tanya pak imam.
”Bukan! Ini kemauan Viona sendiri. Tidak ada hubungannya dengan Anisa. Pak imam, Ali, tolong jangan marahi Anisa. Dia tidak bersalah.” tutur Viona.
”Kamu jangan tidur di mushola. Kamu tidur di kamar Ali saja. Ali dan Andra biar tidur di kursi.” ucap pak imam.
”Jangan! Biar Viona tidur di mushola saja.” tolak Viona.
”Biarkan saja Pak imam. Andra akan temani Viona di mushola.” sambung Andra.
__ADS_1
”Kalau begitu, kamu tidur di kamar Ibu dan Bapak saja. Biar Ibu dan Bapak yang tidur di mushola.” ucap pak imam.
Viona dan Andra saling pandang. Viona menunduk, memikirkan keputusannya.