Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 8


__ADS_3

Sore hari, di desa, di kediaman Andra.


Viona terbangun dari tidurnya. Ia melihat layar hapenya, waktu menunjukkan pukul 16 lewat 20. Ia keluar dari kamar sambil menguap.


”Kalau masih ngantuk, tidurlah kembali.” ucap Andra.


Viona melihat Andra, pria itu sedang duduk santai di kursi. Viona berjalan menghampiri Andra, ia duduk di bangku sebelah Andra.


”Dimana Ibu?” Tanya Viona.


”Ibu pergi ke kebun, memetik sayur.” jawab Andra.


”Dari tadi?”


”Jam tiga sore tadi.”


”Oh.” Viona beranjak berdiri melangkah ke dapur. Andra mengikuti langkah Viona.


Viona masuk ke dalam kamar mandi. Andra duduk di kursi dapur menunggu Viona keluar dari kamar mandi.


Tidak berselang lama, Viona keluar dari kamar mandi. Ia bingung melihat Andra yang duduk gelisah di kursi meja makan.


”Kamu kenapa? Kok gelisah begitu?” Tanya Viona, ia menarik kursi hendak duduk.


Andra menahan Viona yang hendak duduk, ”Vi, bolehkah aku memeluk mu? Sebentar saja,” pintanya. Ia menatap mata Viona penuh harap, agar wanita di depannya itu mengizinkan dirinya untuk di peluk.


Viona dapat merasakan tubuh Andra yang gemetar dari pegangan tangan Andra yang memegang tangannya.


"Pria ini betul-betul! Sudah tahu gak biasa bersentuhan dengan wanita, masih meminta memeluk ku. Lihat, menyentuh tangan ku saja gemetarnya minta ampun! Apalagi kalau memeluk tubuh ku."


"Lagi pula, ingin memeluk saja masa ia harus izin sih? Kalau orang-orang kota kalau peluk ya peluk. Aneh rasanya minta izin begini." benak Viona.


”Apa kamu benar-benar seorang pria?” Tanya Viona, ”Lihatlah dirimu, memegang tangan ku saja gemetaran begini. Bagaimana kalau kamu peluk aku? Lagi pula, emang harus izin ya kalau mau memeluk seseorang,” ucapnya.


Andra mengangguk polos.


Viona menatap Andra heran, "Orang kota dan orang desa emang berbeda." benaknya.


”Peluklah! Satu menit, gak boleh lebih,” ucapnya kemudian.


Andra tersenyum. Ia berdiri dan memeluk Viona. Viona dapat merasakan tubuh Andra yang semakin gemetar dan detak jantung Andra yang berdetak dengan cepat.


Pelukan Andra terasa hangat, sangat hangat. Ada perasaan lain yang timbul di hati Viona. Begitu juga yang di rasakan Andra, ia merasakan kehangatan pada tubuh Viona.


Deg Deg Deg! Detak jantung mereka berdua saling menyahut. Pelukan Andra semakin terasa hangat. Tangan Viona terangkat ingin membalas pelukan Andra. Tangannya tertahan, pelukan Andra melonggar.


”Terima kasih Vi. Terima kasih, kamu sudah membantu ku mengatasi tuduhan palsu Nia.” Ia melepaskan pelukannya.


Viona mengangguk sambil tersenyum kecil. Sebenarnya, ia tidak rela Andra melepaskan pelukannya. Ia masih ingin merasakan hangatnya tubuh Andra. Tapi, dia sudah mengatakan Andra untuk memeluknya hanya satu menit saja. Dan benar saja, Andra benar-benar memeluknya hanya satu menit.


”Hum, mengingat kembali kejadian itu...aku jadi ilfil dengan pelukan mu barusan.” ucap Viona, wajahnya cemberut.


Andra bingung melihat Viona, ”Ilfil?”


”Iya, aku merasa ilfil. Bajumu, tanganmu, bau badanmu, masih lengket tubuhnya Nia. Aku harus mandi untuk menghilangkan jejak Nia di tubuh ku.” jelas Viona.


Andra tersenyum, apakah Viona cemburu?


”Kamu cemburu?”


”Hah! Cemburu? Sama siapa? Nia? Enggaklah! Dia juga bukan apa-apa mu kenapa aku harus cemburu?” elak Viona.


Andra semakin tersenyum lebar, ”Kalau dia pacarku, berarti kamu cemburu ya,” ucapnya menggoda Viona.

__ADS_1


”Hah! Enggak-enggak, mana ada! Jangan sembarangan mengartikan kata-kata! Aku ini sudah ada pacar, mana mungkin aku cemburu, kamu bukan pacar ku!” elak Viona lagi.


”Udah...aku mau mandi!” ketus Viona. Ia langsung melenggang pergi meninggalkan Andra yang masih berdiri di dapur. Ia pergi ke kamar ibu Sumi.


Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menghela nafas. Dia melihat kamar ibunya kembali terbuka dan melihat Viona yang membawa handuk dan pakaian ganti, berjalan ke arah dapur.


Dia melihat Viona yang terus melenggang pergi ke kamar mandi tanpa menghiraukan dirinya.


Andra kembali duduk memikirkan perkataan Viona. Apakah perasaannya yang memang salah mengartikan ucapan Viona? Ataukah Viona yang mengelak akan kebenaran?


Wajahnya berubah sedih seketika, ia tersenyum masam. Viona telah memiliki pacar. Dia tidak mungkin bisa mendapatkan Viona. Kedekatan dan pertemuan mereka tinggal satu Minggu lagi.


Siapkah dia untuk berpisah dengan Viona yang sudah membuat hari-harinya bahagia?


”Andra! Buka pintu rumah mu, cepat!” terdengar suara di depan rumah Andra. Ketukan di pintu juga terdengar tergesa-gesa.


Andra berdiri dan cepat melangkah ke depan. Dia membuka pintu, ia terkejut melihat ibunya yang di papah dua orang pria. Dan kondisi ibunya dalam keadaan tidak baik.


”Ibu, apa...apa yang terjadi sama Ibu ku?” Tanya Andra, ia mengambil alih ibunya. Membawa ibunya masuk ke dalam rumah. Ia membantu ibunya duduk di kursi.


Sang ibu terasa lemas untuk berbicara. Andra sedih melihat ibunya yang seperti itu.


”Andra, kami menemukan ibumu terduduk di jalan saat kami pulang dari kebun. Kaki ibumu terluka, di gigit ular. Kami sudah mengikat betis ibumu dengan kuat, agar rancunya tidak menjalar.” ungkap pria yang memapah ibu Sumi.


Andra melihat kaki sang ibu, benar! Di bawah mata kaki kanan ibunya terdapat dua titik bekas patukan dari ular.


”Ibu, kita harus ke rumah sakit sekarang.” ucap Andra, ia sangat khawatir. Ia takut akan terjadi apa-apa pada ibunya jika tidak segera di obati.


Ibu Sumi menggeleng, ”Ibu sudah gak kuat, rumah sakit juga jauh dari desa kita. Tidak akan sempat lagi. Racunnya sudah menjalar di tubuh Ibu,” ucapnya, ia berusaha berbicara meskipun gemetar dan suaranya terdengar pelan dan lemas.


”Tapi Bu! Viona... Viona...” teriak Andra.


Dua pria yang memapah ibu Sumi sedih juga khawatir. Racun memang sudah menjalar di tubuhnya ibu Sumi. Apakah ikatan di betisnya kurang kuat? Atau bisa ularnya yang sangat tinggi, hingga masih bisa menjalar di tubuh ibu Sumi?


*


*


Di kamar mandi.


Viona masih bertatapan dengan ular cobra emas yang masuk lewat ventilasi kamar mandi.


Tubuhnya sangat kaku. Ia ingin bergerak namun takut dengan sang ular yang mengulurkan lidahnya, sambil melihat dirinya.


Teriakan Andra ia dengar, tapi sedetik saja ia tidak berani bergerak. Bahkan, bernafas saja dengan hati-hati dan pelan.


"Mama, papa, kak Lirjan, Andra. Tolong aku, aku sangat takut!" benak Viona.


Sang ular cobra menjalar di dinding menghampiri dinding tempat Viona bersandar sekarang


Tubuh Viona semakin gemetar ketakutan. Ia menelan saliva nya dengan susah payah saat melirik ular itu sudah dekat dengan dirinya, sejajar dengan bahunya.


"Mama, ularnya mendekat, aduh! Tuhan tolong." benak Viona.


Mata Viona terpejam saat merasakan kepala ular sudah berada di pundaknya.


"Aku tidak mau mati di sini! Aku mau ketemu mama, papa, kak Lirjan." benak Viona.


Ular itu menjalar di tubuh Viona. Mata Viona terpejam kuat. Jantungnya berpacu dengan cepat. Kulitnya putih pucat merasakan ular yang menjalar di tubuhnya dari bahu sampai ke kakinya dan kembali lagi ke pundaknya. Tubuh Viona merinding di buatnya.


Viona membuka mata setelah tidak merasakan ular di tubuhnya. Ia melihat ular itu kembali menjalar ke dinding dan keluar lewat ventilasi kamar mandi.


Viona terduduk lemas seketika. Ia bernafas dengan cepat, tangannya di simpan di dada nya.

__ADS_1


”Viona...” terdengar kembali suara Andra yang memanggilnya.


Viona bergegas berdiri, meski lututnya masih lemas dan gemetar. Ia membuka pintu kamar mandi dan bergegas mendatangi Andra.


*


*


Di ruang depan.


Viona terkejut melihat Andra yang menangis dan sang ibu terduduk lemas di kursi, mata si ibu terpejam. Untuk bernafas, terlihat sangat susah untuk menghela nafasnya.


Viona duduk di samping Andra, ”Andra, apa yang terjadi dengan Ibu? Kenapa kakinya ibu membiru?” tanyanya, ia cemas dan khawatir melihat ibu Sumi saat ini.


”Ibu... Ibu terkena racun, Vi.” ucap Andra dengan sedih.


”A__apa! A__Andra, kita harus bawa ibu ke rumah sakit. Ayo, cepat.” titah Viona.


Andra menggeleng, ”Tidak akan sempat. Ibu juga tidak mau pergi. Ibu... racunnya sudah menjalar di seluruh tubuh Ibu. Ibu...Ibu menanyakan mu tadi. Kesadaran Ibu sudah lemah,”ucapnya.


Viona melihat wajah ibu Sumi. Wanita paruh baya itu kesulitan bernafas. Ia menggenggam tangan ibu Sumi, ”Ibu, ini Viona, Bu. Maaf, Viona baru datang. Viona baru habis mandi,” ucapnya pelan.


”Vi__Viona, ja__jangan ting__tingg__tinggalkan An__An__dra.” Mata ibu Sumi tetap terpejam saat berucap, ”An__Andra su__suk,” nafasnya terputus. Kalimat nya pun tidak terlanjut.


Andra dan Viona menangis seketika.


”Inna lillahi wa inna ilahi rojiun!” ucap dua pria yang memapah ibu Sumi tadi.


Kepala Viona di simpan di pangkuan sang ibu. Meskipun ibu Sumi bukan ibunya, tapi, ia dapat merasakan kasih sayang ibu Sumi yang tulus padanya.


Selama dia tinggal bersama ibu Sumi dan Andra. Mereka berdua tidak pernah merepotkan Viona sedikitpun.


”Kami turut berduka cita, Dra.” ucap kedua pria yang memapah ibu Sumi.


Andra mengangguk, ia menghapus air matanya. Ia melihat Viona yang menangis di pangkuan ibunya.


Andra sangat sedih sekarang. Di dunia ini tidak ada lagi keluarganya, ayahnya sudah lama meninggal, sekarang ibunya yang pergi meninggalkan dirinya.


Saudara dari pihak ibunya tidak ada. Keluarga dari pihak ayahnya sudah tidak memperdulikan Andra dan ibu Sumi lagi semenjak ayahnya Andra meninggal.


Viona masih menenggelamkan wajahnya di pangkuan sang ibu, kedua bahunya gemetar karena menangis.


”Andra, kami akan memanggil para warga lainnya dan memanggil ustadzah untuk mengurus jenazah ibumu.” ucap kedua pria itu.


”Iya Bang. Maaf, sudah merepotkan.” sahut Andra.


”Gak Dra, kami gak merasa kamu merepotkan kami. Kami pergi dulu.” pamit kedua pria itu.


Andra mengangguk. Kedua pria beranjak pergi dari rumah Andra.


Andra memegang pundak Viona, ”Vi, kita baringkan ibu di lantai,” ucapnya pelan.


Viona mengangkat kepalanya melihat Andra. Ia mengangguk. Ia beranjak berdiri dan menyiapkan tikar di lantai untuk ibu di baringkan.


Andra membantu ibunya berbaring di atas tikar yang sudah di gerai di lantai dengan pelan


”Maafkan salah ibu, Vi. Kalau ibu ada buat salah sama kamu selama kamu tinggal di sini.” ucap Andra.


Viona menggeleng, ”Ibu sangat baik sama Vi. Justru Viona yang sering merepotkan Andra dan ibu,” ucapnya. Viona menghapus air matanya, ”Dra, apa kamu tahu kelanjutan ucapan ibu tadi?” tanyanya penasaran.


Andra melihat Viona dengan serius. Yah, dia tahu, sangat tahu. Tapi tidak mungkin dia akan mengatakannya pada Viona.


Dia menggeleng, ”Maaf, aku tidak tahu,” jawabnya.

__ADS_1


Viona menghela nafas. Ia melihat wajah sang ibu yang pucat, ”Viona janji bu, Viona tidak akan meninggalkan Andra. Andra teman yang baik untuk Viona. Ibu tenang saja di alam sana.”


__ADS_2