Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 27


__ADS_3

Malam hari, di kediaman pak imam.


”Loh, Ma. Itu sisa bakaran apa?” tanya pak imam.


”Bapak? Bapak sudah pulang? Ini Pa, Mama membakar bangkai ular.”


”Bangkai ular? Apa terjadi sesuatu selama Bapak pergi?” pak imam terlihat khawatir, namun, tetap tenang.


”Iya, Pa. Baiknya kita duduk cerita di teras saja, Pa. Ayok.” ajak sang istri.


Mereka berdua duduk di kursi, di teras rumah.


”Bapak sudah shalat Maghrib?” tanya sang istri.


”Sudah, Ma. Dari rumah Dendi, Papa langsung ke masjid.” jawab pak imam.


”Pa, tadi empat ekor ular menyerang Ali dan Viona.” istri pak imam menceritakan semuanya kepada suaminya. ”Begitu, Pa. Pa, Mama mulai kepikiran dengan perkataan orang-orang. Masa iya selama Andra yang menjaga Viona tidur, ular tidak datang. Dan setelah Ali menggantikan Andra, ular-ular itu datang menyerang. Aneh kan, Pa?”


Pak imam menghela nafas, ”Astaghfirullah, Mama. Mama gak boleh berpikir begitu tentang Andra dan Viona. Coba Mama pikir, jika benar tujuan mereka mengorbankan Ali, kenapa Andra harus membantu Ali menyerang ular itu? Terus, kalau memang Viona komplotan ular, mengapa ular itu ikut menyerang Viona? Bahkan hampir mematuk Viona. Terus Andra, jika memang dia komplotan ular itu, mengapa dia malah membunuh ular itu?”


Istri pak imam terdiam. Ucapan suaminya memang benar. ”Maaf, Pa. Habisnya semua terjadi tiba-tiba. Kan Mama jadi curiga.” sesalnya.


”Jadi, mereka masih ada di mushola?”


”Iya, Pa.”


”Baiklah, Papa ke mushola dulu melihat Andra. Mama masuklah ke dalam temani Anisa memasak.” titah pak imam.


”Iya, Pa.”


Ibu Ali masuk ke dalam rumah. Pak imam pergi ke mushola.


Di mushola.


”Andra, bagaimana perasaan mu sekarang?” wajah cemas Viona masih terlihat di wajahnya.


”Hanya lemas saja. Tangan ku juga kram.”


”Andra, setelah kejadian ini, Viona takut jika pak imam dan keluarganya beranggapan bahwa kita komplotan siluman ular dan menjadikan mereka korban.”


”Terus terang, itu juga yang sedang aku takutkan. Aku sendiri menjadi bingung, kenapa di saat aku yang menjaga mu, ular itu tidak datang menyerang. Dan di saat aku menyuruh Ali yang menjaga mu, para ular itu malah menyerang.” Andra menghela nafas.


”Kenapa gak kamu suruh Ali saja yang pergi ambilkan obat untuk ku?”


”Karena di dalam tas ada pisaunya. Aku tidak ingin Ali mencurigai ku karena melihat pisau itu.” jelas Andra.


”Lalu, kita harus gimana? Apa masih tetap tinggal di sini atau kembali ke rumahmu saja?”


”Aku memilih di sini saja dulu. Paling tidak, selain diriku, masih ada Ali dan pak imam yang akan melindungi mu.”


”Atau... lebih baik, aku pergi saja dari desa ini. Aku akan kembali ke kota, sendirian. Aku tidak mau membahayakan dirimu dan keluarga pak imam. Yang mereka incar adalah aku. Jika aku tidak bersama kalian, kalian semua akan aman.” usul Viona.


”Kalau begitu, lebih baik kamu bunuh saja aku, Vi. Ini, ambillah pisau ku. Bunuh lah aku!” suara nada Andra ketus dan wajahnya menyimpan marah.


”Maaf, jangan marah. Aku hanya memikirkan keselamatan kalian saja.” sahut Viona sedih.


Hati kedua orang ini sangat bersih. benak pak imam.


Dia melangkah masuk ke dalam mushola setelah memutuskan tidak ingin mencuri dengar pembicaraan Andra dan Viona.


”Assalamu 'alaikum.” sapa pak imam.


”Wa 'alaikum salam. Pak imam.”


”Kamu baring saja dulu. Jangan paksakan dirimu bergerak.” cegah pak imam. Saat melihat Andra yang ingin bangun dari baringnya.


”Maaf, Pak imam. Kejadian ini karena adanya kami di rumah ini.” ucap Andra dan Viona.


”Jangan menyalahi diri sendiri. Kejadian ini adalah musibah untuk keluarga kami.”


”Bagaimana keadaan mu?”


”Selain badan lemas dan kram di tangan, yang lainnya sehat-sehat saja Pak imam.” jawab Andra.


”Alhamdulillah. Adzan Isya telah berkumandang. Bapak pergi sholat dulu.” pamit pak imam.


”Iya, Pak imam.”

__ADS_1


Pak imam pergi dari mushola.


”Tidak menyangka pak imam tidak menyalahkan kita atas penyerangan ini.” ucap Viona.


”Pak imam adalah orang yang baik.” sahut Andra.


.. ..


Di dalam goa.


”Maaf, Bos. Kami tidak berhasil membunuh gadis itu.


”Argh!” dia melemparkan parang pada bawahannya tersebut. Parang itu tepat menembus jantung bawahannya. ”Tidak berguna! Kenapa tidak mati saja di tebas sama mereka!”


Bawahannya yang lain terdiam dan menunduk mendengarkan amarah bos-nya.


”Bos, anak Anda datang berkunjung.” lapor sang bawahan.


”Bawa dia masuk!”


”Baik, Bos.”


”Kalian, bereskan mayat ini!” titahnya pada bawahan lainnya.


Sang bawahan mengangguk. Mereka mengangkat mayat temannya dan yang lainnya membersihkan darah yang berceceran di lantai goa.


”Papa.”


”Anakku, apa yang membuatmu mengunjungi Papa? Bukan kah sudah Papa bilang, biar Papa saja yang pergi mengunjungi kalian.”


”Aku marah sama anak buah Papa. Dia telah mencelakai orang yang ku cintai.”


”Orang yang kamu cintai? Siapa? Mengapa kamu tidak bilang pada Papa, kalau kamu mencintai seseorang?”


”Aku lupa bilang pada Papa. Aku hanya berfokus sama wanita sialan itu!” wajahnya marah menyebut wanita yang di maksud.


”Papa sudah menghukum mati orang tidak berguna itu. Jangan marah-marah lagi.” bujuk sang Papa.


”Pa, aku kesini meminta obat penawar racun ular. Aku akan pergi mengunjunginya, dan mengobati lukanya. Aku ingin dia segera pulih.”


”Baik, Bos!” salah satu dari mereka pergi ke ruang obat dan mengambilkan obat penawar racun. Kemudian, dia kembali kepada bos-nya. ”Ini obatnya, Bos.” dia memberikan obat itu pada bos-nya.


Sang bos mengambilnya. Dia memberikan obat itu pada anaknya. ”Ambillah obat ini. Di minum sampai habis.”


”Terima kasih, Pa.” dia mengambil obatnya, dengan tersenyum senang.


”Siapa pria itu Nak? Kalau kamu butuh bantuan Papa, Papa akan membantu mu mendapatkan pria itu.” tawar sang papa.


”Apakah Papa bisa membuat aku mendapatkan pria yang ku cintai itu?”


”Iya. Ramuan cinta ular. Dengan meminum ramuan cinta ular, pria itu akan selalu mengejar mu tidak mau melepaskan mu. Kemana pun kamu pergi, dia akan mengikuti mu. Obat itu juga yang Papa gunakan untuk mendapatkan ibu mu.” ungkap sang papa.


”Baiklah, aku membutuhkan ramuan cinta ular ini Pa.”


”Papa akan menemui mu besok malam. Papa akan datang sekalian membawakan obat itu padamu.”


”Kenapa gak sekarang saja sih, Pa?” wajahnya cemberut.


”Ramuan ini tidak sembarangan, anakku! Butuh proses lama untuk membuatnya dan Papa membutuhkan nama pria itu untuk membuat ramuannya.”


”Hum? Siapa tadi namanya? Papa kurang jelas mendengarnya. Coba ulangi, bisikan lagi nama pria itu!” titah sang papa.


Kepala sang papa mengangguk mengerti setelah anaknya membisikkan kembali nama pria itu. ”Dari namanya, sepertinya orangnya tampan.” tebak sang papa.


”Iya, dong, Pa. Kalau tidak tampan, belum tentu anakmu ini tergila-gila padanya. Baiklah, Pa. Aku pulang dulu. Terima kasih, obat penawar racunnya.”


”Sama-sama, anakku.” sahut sang papa. ”Kalian, antar anakku pulang.” titahnya pada sang bawahan.


”Baik, Bos.” sang bawahan menjalankan perintah. Dia mengawal anak sang bos untuk pulang.


.. ..


Di kediaman pak imam.


”Kita makannya bagaimana ini, Pa?” tanya ibu Ali.


”Kita makan bersama di mushola saja. Kasihan Andra kalau seandainya dia turun. Tangannya belum bebas untuk di gerakkan.” jawab pak imam.

__ADS_1


”Iya, Ma. Kakak dokter juga bilang seperti itu. Kata kakak dokter, setidaknya bang Andra mendapat suntikan sekali lagi untuk menetralkan sisa bisa ularnya. Dan sepertinya, sejam lagi harusnya kakak dokter akan datang untuk memberikan suntikan pada bang Andra.” ungkap Ali.


”Kalau begitu, Anisa, Ali, bantu ibu mengangkat makanan, membawanya ke mushola. Papa, langsung ke mushola saja.” titah ibu Ali.


”Iya, Ma.” sahut mereka.


Anisa dan Ali masuk ke dalam rumah menyusul sang ibu. Pak imam pergi ke mushola.


Di mushola.


Pak imam melihat ke sekeliling mushola. Dia tidak melihat Andra dan Viona di sana.


”Ah, pelan-pelan Vi...” jerit Andra.


”Maaf, maaf, tidak sengaja.”


Pak imam melihat arah toilet mushola. Dia melihat Viona agak kesusahan memapah Andra.


Pak imam menghampiri mereka. ”Sini, biar Bapak bantu.” dia mengambil alih tubuh Andra dari Viona.


”Pak imam, biar Andra duduk bersandar saja.” ucap Viona.


”Hum.” pak imam mendudukkan Andra dengan pelan. ”Selain tangan mu, ternyata kakimu juga terluka. Kenapa kamu gak bilang kalau kaki mu terluka?” tanya pak imam.


”Iya, Pak imam. Awalnya Viona juga tidak tahu. Sekarang ini saat memapah Andra pergi ke toilet baru Viona tahu saat dia menjerit kesakitan melangkahkan kakinya.” ungkap Viona.


”Sakit kenapa kakimu? Apa di gigit ular juga?”


”Bukan, Pak imam. Ini karena kesalahan Andra sendiri. Andra yang tidak hati-hati.” jawab Andra.


”Eh, ibu, Anisa, Ali, kok makanannya di bawah ke sini? Viona dan Andra jadi merepotkan ibu.” ucap Viona.


”Tidak apa-apa. Sesekali kita makan di mushola. Ibu juga ingin merasakan bagaimana makan di tempat yang sedikit terbuka ini.” jawab sang ibu.


”Kalau begitu, Ali, kamu duduklah. Biar Viona yang membantu ibu dan Anisa.”


Pak imam mengangguk saat anaknya, Ali melihat dirinya, meminta pendapat.


”Baiklah.” Ali duduk di samping papanya.


Anisa, Viona, dan sang ibu kembali ke bawah mengambil makanan.


”Coba Bapak lihat luka di kakimu.”


”Ali, tolong angkat celana panjangnya ku, yang kanan.” titah Andra pada Ali.


Ali menurut. Dia menaikkan celana panjang Andra. ”Loh, kok bisa luka begini, Bang?” Ali terkejut melihat luka pada tulang kering Andra.


”Saat aku berlari ke mushola, kaki ku tersandung dan saat terjatuh, pisau yang ku pegang ternyata melukai kaki ku.” ungkap Andra.


”Kenapa gak ngomong sih Bang, kalau kaki abang terluka. Kan bisa sekalian tadi kakak dokter mengobati lukanya Abang.” omel Ali.


”Aku lupa, lagi pula aku tidak menyadari kalau kaki ku terluka. Sakitnya juga tidak aku rasakan. Sekarang ini, baru terasa sakitnya.”


”Astaghfirullah, cukup besar luka di kaki mu, Andra.” Viona terkejut dan panik melihat luka di kaki Andra. Dengan cepat dia menaruh piring di lantai.


Dia mengambil obat luka yang ada di rak buku. Dia mendekati Andra. ”Lukanya perlu di bersihkan. Tunggu, Viona akan membersihkan lukanya dulu.” Viona lari terburu-buru turun ke bawah.


Dia mengambil handuk kecil, yang halus dari dalam tasnya. Kemudian dia pergi ke dapur, mengambil air hangat di tempat-tempat kecil. Dia segera naik ke atas.


Dengan pelan dan hati-hati, Viona membersihkan luka Andra. Sesekali Viona meniupnya saat Andra meringis kesakitan.


Begini kah rasanya bahagia di perhatikan, di rawat, dan khawatirkan oleh kekasih sendiri? Aku beruntung mendapatkan kasih sayang Viona. Terima kasih, Vi. Atas cinta yang kamu berikan untukku. benak Andra.


Ibu Ali, pak imam tersenyum melihat wajah panik dan khawatir Viona untuk Andra.


Luka Andra telah bersih. Viona mengoleskan obat luka pada luka Andra tersebut. ”Sudah selesai.”


”Terima kasih, Vi.” ucap Andra dengan tulus.


”Sama-sama.”


”Karena lukanya sudah di obati, sekarang waktunya kita makan. Ayo, makan.” ajak ibu Ali.


Mereka pun mengambil makanan untuk makan. Viona mengambil makanan untuk dirinya dan Andra. Dia menyuapi Andra dan dirinya, bergantian.


Pak imam tersenyum senang melihat dua insan yang saling mengerti itu.

__ADS_1


__ADS_2