
Sore hari di kediaman pak imam.
”Andra dan Viona kemana, Pa? Mengapa tidak terlihat dari tiga jam yang lalu? Apa mereka berdua sedang keluar berjalan-jalan?” tanya Anisa.
”Andra dan Viona ada di mushola. Jangan ganggu mereka. Mungkin ada hal yang ingin di bicarakan oleh mereka, berdua saja.” jawab pak imam.
”Oh. Pa, besok Anisa sudah mulai masuk sekolah lagi. Anisa bakalan pusing lagi deh.” keluh Anisa, wajahnya cemberut.
Pak imam tersenyum melihat anaknya itu. ”Pusingkan apa? Ngurusin teman-teman mu yang sulit di atur?” beliau bertanya balik.
”Iya, Pa. Anisa malas jadi ketua kelas. Tapi sayangnya, Anisa gak bisa menolak saat guru wali kelas menunjuk Anisa jadi ketua kelas. Jadi, bagaimana dong Pa, jika mereka tetap susah di atur? Kalau pun Anisa melaporkan mereka pada wali kelas, malah Anisa dapat omelan dan ocehan pedas dari mereka. Bahkan, Anisa sengaja di cegat di jalan saat pulang dari sekolah. Mereka memarahi Anisa untuk melampiaskan kekesalannya pada Anisa.”
”Laporkan saja mereka pada wali kelas mu. Jika mereka mengatai mu, dengarkan saja. Kecuali, kalau mereka sudah bertindak lebih. Seperti memukul mu, menindas mu, baru kamu boleh melindungi diri dengan apa yang sudah Papa ajarkan padamu.” nasehat pak imam.
”Iya, Pa. Oh, iya, Pa. Semalam, Anisa mendengar Viona bergumam ketakutan, saat Viona tidur. Dia bergumam "Siapa kamu? Tolong...!" tetapi, Anisa tidak berani untuk membangunkan Viona dari tidurnya. Apakah mungkin siluman ular yang Bapak ceritakan pada Anisa dan ibu, yang di impikan sama Viona?” Anisa penasaran.
”Papa tidak tahu. Mungkin saja manusia ular itu yang datang mengganggu Viona dalam mimpinya.”
Kalau saja aku tidak membentengi rumah ku, di saat sebelum tidur. Mungkin saja siluman ular itu bukan datang dalam mimpi untuk mengganggu Viona. Tapi, siluman ular itu secara nyata akan datang membunuh Viona langsung, di rumah ini. Bukan hanya Viona, jika saja ular-ular itu berhasil masuk ke dalam rumah, nyawa anak dan istriku, bahkan nyawa ku sendiri bisa terancam. benak pak imam.
Anisa dan pak imam melihat motor yang berhenti di depan rumah.
”Alhamdulillah, ibu dan abang Ali sudah datang.” Anisa tersenyum melihat ibunya dan kakaknya berjalan ke teras rumah.
”Asslamu 'alaikum, Papa, Anisa.” sapa ibu Ali dan Ali.
”Wa 'alaikum salam, Mama.” sahut Anisa dan pak imam.
Ibu Ali dan Ali menyalami punggung telapak tangan pak imam. Ali dan sang ibu duduk di kursi, mengusir rasa lelah. Anisa masuk ke dalam rumah dengan membawa belanjaan yang di pegang ibunya.
”Pa, saat kami keliling berbelanja di pasar tadi. Kami mendengar banyak orang-orang yang berbisik-bisik membahas Viona adalah komplotan siluman ular.” ungkap ibu Ali.
”Iya, Pa. Bahkan, mereka juga bilang sekarang giliran keluarga kita yang akan di jadikan korban. Mereka ingin mendatangi Bapak memberitahu tentang sebenarnya Viona ini siapa, pada Bapak. Tetapi, mereka tidak punya keberanian untuk itu, karena mereka tidak punya bukti yang jelas untuk menuduh Viona.” sambung Ali.
Pak imam tersenyum. ”Biarkan saja. Cukup dengarkan saja apa yang mereka katakan.” sahutnya.
”Tapi, Pak. Takutnya kalau benar para ular itu akan menyerang Viona ke rumah kita, para warga akan datang ke sini untuk menindas dan mengusir Viona.”
”Rupanya mereka sudah tidak sabar untuk menunjukkan siapa diri mereka.” ucap pak imam.
”Maksud Bapak?” Ali dan sang ibu tidak mengerti maksud ucapan pak imam yang ambigu.
”Maksud Bapak, orang yang membenci Viona sudah tidak kuat untuk menyembunyikan diri lagi. Dia tidak sabar untuk menunjukkan siapa dirinya.” jelas pak imam.
”Ooh,” Ali dan sang ibu manggut-manggut, mengerti.
Ibu Ali menghela nafas. ”Hum, kasihan juga ya si Viona. Gadis kota yang jalan-jalan ke desa untuk bertemu dengan mama mantunya, malah kena fitnah dari sebagian warga desa.” dia merasa iba pada Viona.
”Iya, Mama benar.” sambung Ali.
”Mama, Bapak pergi ke rumah paman Dion dulu. Beliau ada perlu sama Bapak. Bapak juga sudah janji untuk menemuinya sore ini, di rumahnya.” pamit pak imam pada sang istri.
”Iya, Pa. Hati-hati di jalan.” sahut sang istri.
”Iya, Ma. Assalamu 'alaikum.”
”Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” sahut Ali dan sang istri.
Pak imam pergi ke rumah paman Dion dengan berjalan kaki. Ibu Ali beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumah. Ali sendiri, dia pergi ke mushola.
.. ..
Di mushola.
__ADS_1
Ali memperlambat dan memelankan suara langkah kakinya saat melihat Andra dan Viona tidur di dalam mushola.
Ali mendekati Andra. ”Bang, bangun Bang.” dia membangunkan Andra dengan suara se pelan mungkin agar tidak menggangu tidurnya Viona.
Andra membuka matanya. Pertama kali yang dia lihat adalah Viona. Lalu, dia melihat Ali. ”Ali, aku bisa minta tolong?” tanyanya. Suaranya juga begitu pelan.
”Iya, Bang. Ada apa?”
”Kamu tolong duduk di sini, gantikan aku sebentar, menjaga Viona. Aku ingin turun ke bawah mengambil obat. Boleh?”
Ali mengangguk. Andra berdiri. Ali duduk menggantikan posisi Andra. Andra turun ke bawah.
Semoga Viona terbangun saat bang Andra datang. benak Ali. Dia melihat Viona.
Keningnya mengerut melihat goresan luka di telapak tangan Viona.
Viona terluka? Gara-gara apa? Sejak kapan? benak Ali.
Belum hilang rasa penasarannya, kini Ali di kejutkan dengan suara desis yang datangnya dari arah tangga mushola. Ali mempertajam pendengarannya.
Astaghfirullah hal 'azim. benak Ali.
”Viona...bangun Viona...” Ali membangunkan Viona dengan suara pelan dan tepukan ringan di lengan Viona.
Viona membuka matanya. Dia terkejut, matanya membulat sempurna melihat seekor ular di kayu tiang mushola, di atas kepalanya.
Ular? A...apa yang harus ku lakukan? Aku harus lari kemana kalau ular itu tiba-tiba terbang ke bawah? benak Viona.
Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar ketakutan. Dia tidak berani menggerakkan badannya.
Ali mengikuti arah pandang Viona. Matanya ikut membulat. Tubuhnya jadi gemetar ketakutan setelah tiga ekor ular lainnya sudah berdiri, melebarkan lehernya, pada jarak dua meter dari tempatnya dan Viona berada.
Astaghfirullah, apakah mereka ini siluman ular? Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam mushola? Bagaimana ini? Jika ke empat ular ini menyerang sekaligus, apa yang harus aku lakukan? Mana bapak sedang pergi. Abang Andra masih berada di lantai bawah. Lalu, bagaimana ini? benak Ali.
Di mana-mana yang namanya ular, mereka akan diam jika aku diam kan? Dan akan bergerak jika aku bergerak kan? Semoga begitu. benak Ali. Dia masih berdiam diri. Namun, tangannya tidak henti memetik tasbih.
.. ..
Di kamar Ali.
Andra telah mengambil obat luka dari dalam tasnya. Tiba-tiba dia terdiam. Keningnya mengerut melihat permata yang menyala dari kalung, di lehernya.
Ada apa ini? Kenapa permata ini menyala? benak Andra.
Tiba-tiba di matanya tergambar wajah Viona.
Viona? benaknya lagi.
Dia mengambil pisau miliknya dan bergegas keluar dari kamar. Dia berlari cepat pergi ke mushola.
”Vio...” ucapannya terhenti, begitu juga dengan larinya. Saat melihat tubuh Viona yang gemetar ketakutan sambil memegang sapu. Di hadapannya dua ekor ular siap menyerangnya.
Dia juga terkejut dan khawatir melihat dua ekor ular yang siap menyerang Ali. Sementara Ali hanya berbekalkan kalung tasbih yang ada di tangannya.
”Ali...Hati-hati!” Dalam gerakan cepat Andra berlari ke arah Ali dan menyerang ular yang terbang menyerang Ali. Ular yang terkena pisaunya mati terbelah.
Sementara Ali sedang beradu kekuatan dengan ular yang satunya.
Andra melihat Viona yang dengan berani memainkan kedua ujung sapu untuk menghalau patukan dari kedua ular itu.
Namun, perhatian Viona kalah cepat dari sang ular. Saat ular satunya dia pukul dengan ujung sapu, ular satunya terbang ke arahnya.
Andra berlari dan memeluk Viona dari belakang, hingga ular itu berhasil mematuk tangan Andra.
__ADS_1
”Bang Andra!” teriak Ali. Dia telah melumpuhkan ular yang menyerangnya dengan beberapa kali kena pukulan dan hantaman dari tasbih Ali yang terbuat dari kayu Sulaiman.
Andra berbalik dan satu gerakan pasti dia menyerang ular itu saat ular itu kembali ingin menyerang Viona. Ular itu mati terbelah dua, oleh belati tajam Andra.
Viona terkejut mendengar suara jeritan Andra. Dia melepas sapu saat ular yang menyerangnya sudah pergi.
”A...Andra...” suara Viona bergetar. Tubuhnya semakin gemetar ketakutan. Dia menangkap tubuh Andra yang lemas, yang terjatuh. Dia menangis. Ali juga mendekati Andra dengan wajah cemas dan khawatir.
”Vi... Ali...kalian berdua baik-baik saja?” tanya Andra dengan lemah.
”Bang, bagaimana ini Bang? Apa Abang bisa bertahan? Kita pergi ke rumah sakit ya Bang.” ajak Ali.
”Andra...jangan tinggalin Viona. Kamu janji akan terus melindungi Viona. Hu...hu...hu....”
Andra mengeluarkan obat dari sakunya. Dia memberikan pada Viona. ”Ambil ini dan oleskan pada luka di kaki mu dan di telapak tangan mu.”
”Berhentilah mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja! Tapi kamu....hu...hu...hu...aku akan menghisap racunnya.”
Viona mengangkat lengan Andra yang kena patukan ular.
Andra menarik tangannya. ”Jangan lakukan itu. Aku....aku senang jika aku meninggal karena melindungi kekasih ku dari bahaya.”
”Bicara apa kamu Dra! Aku tidak suka bicara mu itu! Berhentilah berbicara!” Viona marah.
”Ah, Viona kamu jaga lengannya Andra supaya jangan banyak bergerak, agar bisa ularnya tidak menjalar. Aku turun ke bawah dulu.” Ali bergegas turun ke bawah.
Viona melakukan apa yang di ucapkan Ali. Dia menjaga lengan Andra agar tidak banyak bergerak. ”Bertahanlah, mungkin Ali ada obat untuk membunuh racun. Kamu tidak boleh pergi. Aku tidak izinkan itu. Kamu harus tetap hidup untuk menjaga ku.” air mata Viona menetes di pipi Andra.
”Iya. Aku akan bertahan untuk mu.” jawab Andra, meski suaranya terdengar lemah.
Beberapa menit dari kepergian Ali, kini Ali kembali ke mushola dengan Anisa, ibu Ali dan seorang wanita cantik.
”Kakak, ini pasiennya.” Ali menunjuk Andra.
Wanita cantik itu, berjongkok melihat lengan Andra. Dia menyuntikan obat penawar racun pada Andra. ”Saya sudah menyuntikan obat racunnya. Untuk mencegah segala sesuatu, lebih baik, bawa ke rumah sakit.” usulnya.
”Tidak apa-apa, Dokter. Cukup rawat di rumah saja.” tolak Andra.
”Tapi...Dra!”
”Aku tidak apa-apa. Percaya padaku, ok?” pangkas Andra.
Viona mengangguk, pasrah.
”Baiklah, kalau ada seperti rasa mual, pusing, atau ada pembengkakan jangan panik. Saya akan datang di setiap tiga jam sekali untuk melihat kondisi Andra. Untuk sekarang, saya pulang dulu. Sebentar lagi waktunya shalat Maghrib.” pamit sang dokter.
”Iya,” sahut Andra, Viona, Anisa, dan sang ibu.
”Iya, kakak. Terima kasih, mari kak saya antar turun ke bawah.” ajak Ali. Ali dan dokter jalan kebawah.
”Ibu, itu ada bangkai ular tiga ekor.” tunjuk Anisa.
”Kita ambil dan bakar saja. Biar ibu yang urus. Kamu bersihkan lantainya ya.” tawar sang ibu.
”Iya, Ibu.” Anisa berdiri dan mengambil pel lantai. Dia juga meyiapkan air, dan so klin lantainya.
”Ibu, maaf, ini semua terjadi di rumah Ibu.” ucap Andra dan Viona.
”Tidak apa-apa. Alhamdulillah, kamu masih selamat Nak. Dan jangan pusingkan dirimu dengan memikirkan ini. Yah? Ibu pergi bakar bangkai ular dulu.” sang ibu berdiri dan pergi mengambil bangkai ular. Memasukkannya ke dalam tong sampah yang ada di mushola dan membawanya turun ke bawah.
”Bagaimana keadaan mu? Apa yang kamu rasakan?” tanya Viona khawatir.
”Tangan ku rasanya keram, dan membengkak. Sakit? Iya, sakit. Tapi, akan lebih sakit lagi aku rasakan jika seandainya kamu yang di gigit ular itu.”
__ADS_1
Viona berdecak kesal. Andra sudah kesakitan masih saja menggoda dirinya.