Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 21


__ADS_3

Di dapur, kediaman Andra.


Andra masih bergeming di tempatnya. Antara rasa penasaran dan takut, menghantui pikirannya. Apa yang harus dia lakukan? Percaya padanya kah? Pada siluman ular, yang ada di depannya itu? Bukan kah, biasanya, jika ular itu datang menemui Viona dan dirinya muncul, ular itu langsung menghilang? Kenapa sekarang malah muncul mencarinya?


”Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Percayalah padaku, datanglah kemari!” titah ular itu lagi.


Andra menelan saliva nya dengan kasar. Haruskah dia berjalan mendekat? Dia menggenggam erat pisau di tangannya.


Baiklah! Sudah beberapa kali, ular ini menolong Viona. Jika ular ini akan membunuh ku, di tangan ku masih ku genggam belati ini. Meskipun aku mati di gigit olehnya, ular itupun akan mati oleh pisau ku ini. benak Andra.


Dia masih menatap tajam ular cobra emas itu, perlahan dia mengangkat kakinya melangkah, mendekati sang ular.


Dia telah berada di dekat ular cobra emas, dengan tubuh yang gemetar. Ular itu semakin berdiri tinggi. Kedua mata Andra dan kedua mata ular itu saling pandang, tanpa putus.


”Ambillah botol itu dan minumlah airnya.” titah ular itu.


Pandangan Andra sejenak melirik botol itu, namun, dia tidak ingin kecolongan perhatian. Matanya kembali menatap sang ular.


”Jangan takut! Minumlah!” kembali ular itu mengeluarkan perintahnya.


”Si..siapa kamu sebenarnya?” tanya Andra.


”Aku bukan ular jahat yang seperti kamu kira, cukup itu yang kamu tahu tentang ku. Ambillah botol itu dan minumlah airnya. Kalung itu, pakailah. Aku berikan itu sebagai hadiah untuk mu, sebagai rasa terima kasih ku, kamu telah melindungi Viona.” tutur sang ular.


Hadiah? Melindungi Viona? Hah....apa dia sedang menjalankan trik padaku? benak Andra.


”A..apa hubungan mu dengan Viona? Me mengapa aku harus menuruti dan percaya dengan kata-kata mu?” kembali Andra bertanya pada sang ular. Suaranya gugup karena takut, namun, dia harus memperjelas identitas ular itu dan hubungannya dengan Viona.


”Andra...kamu sudah selesai, belum?”


Andra terkejut mendengar suara Viona. Dan langkah kaki Viona menuju dapur.


Ular itu juga seketika menghilang.


Kenapa ular itu menghilang saat Viona datang? benak Andra.


Andra melihat botol dan kalung di atas meja. Di ambilnya kedua barang itu dan di simpannya dalam kantong celananya, dengan cepat. Dia terlihat gugup.


”Andra, kenapa berdiri sendiri di sana? Apa yang kamu pikirkan? Masih merasa bersalah sudah membunuh ular itu?” tanya Viona.


”Ah...ehmm...tidak. Kamu sudah selesai mengemas pakaian?”


”Iya, kenapa wajahmu tegang begitu? Kamu juga terlihat gugup. Ada apa dengan mu?” Viona penasaran.


”Tidak apa-apa, sayang.” Andra menggandeng tangan Viona dan menariknya ke depan.


Kenapa tangannya Andra terasa dingin, saat memegang tangan ku? Aku juga bisa merasakan tangannya sedikit gemetar. benak Viona.


Andra melihat titik- titik darah ular di lantai.


”Oh, aku lupa bersihkan lantai. Aku bersihkan dulu lantainya, baru kita pergi.” dia melangkah kembali ke dapur mengambil kain pel.


Mata Viona menyipit melihat Andra, yang kembali dari dapur. ”Dra, kamu kok kayak menyembunyikan sesuatu dariku.”


”Tidak ada, sayang. Jangan banyak berfikir, yah?” Andra mengelus kepala Viona.

__ADS_1


Viona terdiam, melihat Andra yang membersihkan lantai.


Aku tidak yakin dengannya. Pasti ada yang dia sembunyikan dariku. Tapi, aku tidak tahu tentang apa itu. Yang jelas ada yang dia sembunyikan dariku. benak Viona.


”Hei...melamun kan apa? Ayo kita pergi.” ajak Andra.


”Hah, kamu sudah selesai bersihkan lantainya!”


Andra mengangguk. ”Sudah, dari tadi malah. Kamu melamun sih, makanya tidak melihat ku baik-baik membersihkan lantainya.”


Viona melihat lantai, benar, lantai telah bersih. Padahal dia melamun juga hanya sebentar saja, dan sambil melihat Andra mengepel. Tapi, dia tidak sadari kapan Andra menyelesaikan pekerjaannya.


”Ayo, sayang, kita pergi. Loh, malah masih melamun. Mikirin apa?” tanya Andra.


”Ah, gak ada. Iya, ayo pergi.” dia memegang tas pakaiannya sendiri dan mengikuti Andra keluar dari rumah.


Andra mengunci pintu rumahnya. Dia naik di atas motor. Tasnya di simpan di depannya. ”Vi...sini kan tas mu, ku simpan di sini.”


”Apa gak akan menghalangi jalan kemudinya nanti, jika tas ku juga tersimpan di situ? Biar aku sendiri yang pegang tas ku.” tolak Viona.


”Gak, sayang.” Andra merebut tas Viona dari tangan gadis itu. Dia simpan di atas tasnya. Andra men-stater motor. Motor telah berbunyi. ” Naik!” titahnya, pada Viona.


Viona naik di atas motor, berpegang pada perut Andra.


”Kalian mau kemana? Bawa tas lagi, mau ke kota sekarang? Dra, seratus nya ibu mu kan belum kelar. Kok, sudah mau pergi!” tanya Dion, pandangannya ke Viona, lalu melihat Andra.


”Gak, ini...kami mau tinggal di rumahnya pak imam untuk sementara waktu.” jawab Andra.


”Tinggal di rumahnya pak imam? Kenapa? Gak merasa aman tinggal di rumah sendiri?” Dion melirik Viona.


Andra menyadari lirikan Dion untuk Viona. ” Sori Dion, aku harus pergi sekarang. Pak imam sudah menunggu kami.” Andra langsung menjalankan motornya, tanpa memperdulikan Dion.


”Dra, pandangan Dion ke aku tampak berbeda. Dia..kayak membenciku sekarang. Apa itu hanya perasaan ku saja?” tanya Viona.


”Iya, itu hanya perasaan mu saja, sayang. Jangan di pikirkan!” jawab Andra.


Viona mengangguk.


.. ..


Di rumah Nia.


”Ngapain kamu datang ke sini?” tanya Nia.


”Ketus amat!” jawab Dion.


”Biasa saja! Kenapa? Mukamu kok serius begitu?” Nia penasaran, wajah Dion tampak serius, dan dia juga terlihat tengah berfikir.


”Nia, apa kamu masih mengharapkan cinta Andra?”


Mata Nia menyipit melihat Dion. ”Kenapa, kalau masih? Ingin menceramahi ku?” ketusnya.


”Gak, kalau begitu, berjuanglah untuk mendapatkan Andra. Aku akan mendukung dan membantu mu, untuk membuat Andra kembali padamu.”


Mata Nia semakin menyipit melihat Dion. Di wajah dan di mata pria itu tampak serius. Tapi, kenapa? Kok tiba-tiba sekali! Padahal, Dion sendiri yang memintanya untuk menyerah pada Andra. Mengapa kini malah membantunya untuk mendapatkan Andra?

__ADS_1


”Kamu sendiri? Viona...”


”Aku sudah menyerah untuk dia. Apalagi, ada yang tidak beres padanya.” pangkas Dion.


Nia menaikkan sebelah alisnya. Dia penasaran maksud ucapan Dion? Padahal, Dion sangat mati- matian mencintai Viona. Sekarang, dia kayak anti dengan Viona. Ada apa? Ada yang tidak beres pada Viona, perihal apa itu?


”Maksud mu? Tidak beres bagaimana?” Nia penasaran.


”Kamu pernah mendengar tentang manusia ular?” tanya Dion, suaranya pelan, tengah berbisik pada Nia. Dia takut bicaranya ini akan di dengar oleh orang, dan menyebarkan nya, sementara kebenarannya belum di ketahui.


Nia terkejut. Mukanya berubah pucat. Dia gemetar karena gugup, seperti pencuri yang ketangkap basah di tengah aksinya. Apakah Dion pernah melihat sesuatu? Apakah Dion mengetahui sesuatu?


Nia menenangkan dirinya sendiri. Berusaha menahan rasa gemetar yang dia rasakan saat ini. ”Maksudmu? Viona adalah manusia ular?” suaranya meninggi, dia berpura-pura terkejut.


”Sssttss! Pelan kan suara mu, ini baru praduga!”


”Ok, aku pelan kan suara ku. Maksud mu bagaimana tadi? Apa hubungan nya Viona dengan manusia ular? Lagi pula, manusia ular itu hanyalah dongeng belaka.” ucap Nia.


”Nah, kamu tahu kan malam waktu aku antar kamu pulang dari rumahnya Andra, saat kamu menangis itu?” tanya Dion.


Nia mengangguk.


Dion mulai menceritakan pada Nia apa yang dia temui dan di lihatnya, di malam itu. Dion juga bercerita tentang mimpi Viona.


Wajah Nia berpura-pura serius mendengarkan dengan seksama ucapan Dion. Dia sendiri sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya kembali pucat dan semakin pucat dari yang pertama.


”Nia, apa kamu mendengar ku?” tanya Dion.


”Ah, iya. Aku dengar kok!”


”Kok, mukamu pucat begitu? Ada apa?”


”Ah, gak. Aku...aku hanya tidak menyangka saja. Kalau siluman ular itu memang ada dan berburu manusia. Jadi, sekarang Viona di buru sama siluman ular itu?”


”Mungkin saja, karena tadi, aku bertemu sama Andra dan Viona yang pergi dari rumah dengan membawa tas pakaian...”


”Pergi dari rumah? Membawa tas? Apa mungkin mereka sudah mau pergi ke kota?” pangkas Nia.


”Gak, seratus hari ibunya belum kelar. Bagaimana mungkin dia mau kembali ke kota? Untuk sementara waktu ini, dia dan Viona akan tinggal bersama pak imam.” ungkap Dion.


”Tinggal di rumah pak imam? Memangnya tinggal di rumahnya gak aman?”


”Barangkali! Mau aman gimana, kalau yang di buru ada di dalam rumah? Menurut ku, mimpinya Viona, yang manusia ular memburu dirinya itu di ada-adakan. Yang ternyata, tujuannya adalah membiarkan Andra menjadi sasaran di buru. Dan untuk yang aku dengar sendiri pada malam itu, aku berasumsi. Mereka memburu Viona karena Viona gagal mencari tumbal untuk para siluman itu.” tutur Dion.


”Kenapa gak laporkan saja dia kepada pak RT dan pak RW? Biar dia di selidiki sama pak RT dan pak RW juga para tetua suku, jika terbukti dia memang berkomplot sama siluman ular, kita hukum gantung dia.” usul Nia.


”Untuk sementara, biarkan saja dulu. Bagus juga kalau mereka tinggal bersama pak imam. Pak imam bukan orang biasa, biar kebenaran terungkap di rumah pak imam. Cukup ibunya Andra saja yang menjadi korban. Jangan ada lagi yang menjadi korban selanjutnya, termasuk Andra. Jadi, kamu harus rebut Andra dari Viona, sesegera mungkin. Sebelum pria itu benar-benar di jadikan tumbal oleh si Viona.” tegas Dion.


Nia mengangguk, mengerti.


”Ya, sudah. Aku pulang dulu, kamu ingat! Pembicaraan kita ini, cukup kita berdua saja dulu yang tahu. Kalau sudah ada bukti tentang Viona, baru kita beberkan pada orang-orang. Mengerti?” tanya Andra.


”Iya, aku mengerti.”


”Dan satu lagi, cepat rebut Andra dari Viona.”

__ADS_1


”Iya, itu pasti.” jawab Nia.


Dion pun pulang dari rumah Nia, dengan perasaan lega. Dia lega setelah berbagi dengan Nia apa yang dia pikirkan dan risau kan.


__ADS_2