
Sore hari di kediaman Pak imam.
Pak imam, Andra, dan Ali merasa sangat gelisah. Mereka tidak tahu perasaan itu tiba-tiba saja muncul pada diri mereka.
Mereka mencoba beristighfar untuk menenangkan diri. Terkadang, mereka juga mengatur nafas mereka agar bisa tenang.
Mengapa perasaan gelisah ini tidak kunjung berhenti? Ada pertanda apa ini? benak Andra.
Apakah sesuatu akan terjadi di rumah ini? Mengapa aku sangat gelisah seperti ini? Sudah beristighfar... tetapi, kenapa rasa gelisah masih saja menghantui? benak Ali.
Kali ini... ada kejadian apa yang menunggu? Belum pernah aku merasakan kegelisahan yang seperti ini sebelumnya. Oh, ya Allah... lindungilah keluarga ku. Hanya padamu tempat kami meminta perlindungan. benak Pak imam.
Pak imam membuat benteng untuk memagari rumahnya. Ia duduk di kursi teras rumah.
”Pa, gak siap-siap pergi ke masjid? Tarim sudah berbunyi.” ucap Ali. Ia baru saja datang dari mushola. Ia menarik kursi dan duduk di samping papanya.
”Sepertinya Papa tidak akan sholat di masjid. Papa akan sholat di rumah saja. Hari ini... Papa merasa gelisah dan tidak ingin meninggalkan rumah,” sahut Pak imam.
”Kok sama ya, Pa! Ali juga merasa gelisah. Ali sudah beristighfar dan mengatur nafas supaya tenang... tapi tetap saja Ali merasa gelisah. Membaca buku pun tidak berkonsentrasi. Entah kejadian apa yang akan mampir di kediaman kita, Pa.” ucap Ali.
”Jangan berhenti beristighfar! Tawakal saja pada Allah swt. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya.”
”Aamiin...iya, Pa.” jawab Ali. Ia kembali melafalkan kalimat istighfar di dalam hati.
”Ali, Pak imam.” sapa Andra yang baru keluar dari dalam rumah. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Pak imam dan Ali.
”Andra. Kenapa kamu memegang pisau mu? Kamu mau pergi?” tanya Ali.
”Tidak. Hanya saja... tiba-tiba aku merasa gelisah dan tidak tenang kalau tidak memegang pisau ini.” jawab Andra.
”Loh, kamu juga merasa tidak tenang? Aku sama Papa juga demikian, merasa tidak tenang.” ucap Ali.
”Iya, kamu dan Pak imam juga merasa gelisah?” tanya Andra.
Ali mengangguk. Ali dan Pak imam mengerutkan kening melihat para warga berjalan ke rumahnya dengan wajah datar, marah, dan kesal.
Di barisan depan para warga ada Dion, Nia, Salsa, dan ibunya Sania.
”Pa, kenapa para warga... apa yang akan mereka lakukan?” tanya Ali, pandangannya masih memandang para warga yang berjalan menuju depan rumahnya.
”Papa juga tidak tahu. Kita akan tahu setelah mereka akan sampai...” sahut Pak imam
Andra yang bingung melihat Ali dan Pak imam memandang ke depan, ia menoleh kebelakang melihat ada apa di belakangnya.
Andra terkejut. ”Ini...” Andra menelan saliva nya. Ia sudah tahu apa tujuan para warga mendatangi rumahnya Pak imam. ”Sepertinya rasa gelisah kita sudah terjawab sekarang,” tebaknya.
”Ayo berdiri... kita sambut mereka di depan sana.” ucap Pak imam. Beliau telah berdiri dan sedang melangkah ke luar dari teras rumah. Andra dan Ali mengikuti.
”Bapak-bapak... Ibu-ibu... ada apa ini?”
”Pak imam! Tujuan kami kesini untuk Viona!” ucap Dion.
”Iya... benar! Kami kesini meminta keadilan untuk ketentraman desa ini!” ucap salah satu warga.
Sudah ku duga! benak Andra.
”Betul, Pak imam! Kami mau Viona... Viona harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di desa ini!” sambung warga lainnya.
Ali dan Andra menampakan wajah datar melihat para warga. Mereka tidak pernah menduga hal ini akan terjadi seperti ini.
__ADS_1
”Apa yang sudah Viona lakukan pada kalian semua? Mengapa kalian ingin menghakimi Viona? Viona tidak melakukan hal apapun. Ini sudah Maghrib, adzan sudah berkumandang di masjid. Pulanglah dan bersiaplah untuk sholat Maghrib.” ucap Pak imam menasehati.
”Pak imam jangan pura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi di desa ini! Pak imam jangan melindungi Viona!” Ibunya Sania yang berbicara.
”Pak imam jangan menutup mata dan telinga atas apa yang sudah menimpa warga di desa ini, hanya karena Viona tinggal dengan Pak imam.” sambung Salsa, ibunya Nia.
”Lancang!!!” ucap Ali dengan marah. Para warga terdiam sesaat melihat Ali yang marah. ”Kalian semua tidak berhak mengatai Papa ku seperti itu! Apa yang kalian tahu tentang peristiwa di desa ini!? Hah!?” lanjut Ali berbicara ketus.
”Ali, kamu jangan ikutan membela Viona seperti Andra yang selalu membela Viona. Viona adalah dalang dari para korban ular. Viona menjadikan warga di desa kita untuk menjadi tumbal bagi siluman ular. Kamu juga tahu itu, kan?” Dion yang berbicara menyahuti Ali.
”Itu semua tidak benar!!” Andra akhirnya angkat bicara.
”Tidak benar apanya!? Andra... apa kamu kira kami semua buta? Tidak bisa menafsirkan apa yang sudah terjadi? Viona menjadikan kita semua tumbalnya...” ucap Ibu Sania.
”Ibu mu... Sania... sudah menjadi korbannya! Saat dia sendiri yang di gigit ular... ular-ular itu malah menyelamatkannya. Apakah itu belum jelas kalau Viona adalah komplotan siluman ular?!” ucap Nia.
”Viona harus membayar nyawa-nyawa yang sudah tiada!” ucap Dion.
”Iya... benar! Bunuh Viona...” seru para warga.
Andra, Ali, dan Pak imam terkejut. Bagaimana bisa warga berpikiran untuk melenyapkan nyawa Viona?
”Kalian ingin membantah ku?” ucap Pak imam.
Warga mengabaikan ucapan Pak imam.
”Ayo masuk! Seret Viona keluar dari rumah Pak imam! Viona harus mati!” teriak salah satu warga.
”Iya... ayo masuk! Seret Viona!” sahut semua warga di sana. Mereka melangkah maju.
”Hei...! Kalian tidak bisa berbuat sembarangan di sini! Berhenti melangkah atau... aku tidak akan berbuat sungkan lagi pada kalian!” ancam Ali. Warga berhenti.
Bugh! Bugh!
Sesaat para warga terdiam melihat Dion yang terkena tinju dari Andra.
Dion memegang perutnya yang sakit, ia melihat Andra. Andra sangat marah menatapnya.
Dion menyeringai, ”Heeh! Jangan pedulikan aku... jangan takut! Masuk dan seret Viona!” ucapnya. Pandangannya menantang nyali Andra.
Para warga mulai bersemangat lagi. Mereka melangkah maju. Namun, langkahnya terhenti saat tiba-tiba melihat beberapa ekor ular hitam di depan rumah Pak imam. Bahkan mereka memundurkan langkahnya.
Andra, Ali, dan Pak imam menoleh ke belakang mendengar suara desis ular. ”Astaghfirullah!” ucap bertiga beristighfar.
”Lihatlah, Pak imam! Masih ingin melindungi Viona?” tanya Ibu Sania dengan lantang.
”Kalian semua mundur!” titah Pak imam pada para warga. Ia berjongkok dan membuat garis di tanah menggunakan telunjuknya. ”Jangan ada yang melangkah melewati garis ini, jika kalian tidak ingin kenapa-kenapa.” ucap Pak imam mengingatkan warga.
Para warga yang ketakutan dan menyayangi nyawa mereka tentu saja mereka mundur seketika beberapa langkah dari garis yang sudah di buat Pak imam.
”Andra, Ali, kalian berhati-hatilah! Mereka ini hanya pancingan saja. Masih ada kekuatan besar di belakang ini.” ucap Pak imam mengingatkan Andra dan Ali. Andra dan Ali mengangguk.
Andra sudah memegang pisaunya dengan erat. Ia sudah siap jika tiba-tiba ular-ular itu menyerang. Pak imam dan Ali sendiri sudah siap dengan tasbih di tangannya. Tasbih tersebut sangat kuat dan mampu untuk mengurus para jelmaan siluman.
Ali, Pak imam dan Andra berhati-hati. Enam ekor ular menghadang Andra, Ali, dan Pak imam. Sementara enam ekor ular lainnya menghadap rumah Pak imam. Enam ekor ular tersebut berusaha masuk ke dalam rumah Pak imam.
Syukurlah, aku cepat membentengi rumah sebelumnya. benak Pak imam.
Andra mengayunkan pisaunya saat seekor ular menyerangnya. Ular itu ter-tebas hanya dalam satu tebasan saja.
__ADS_1
Para warga terkejut melihat bangkai ular berubah menjadi manusia dan jasadnya menghilang.
Ali dan Pak imam ikut bertarung dengan ular lainnya.
Mata Andra dan para warga terbelalak sempurna saat melihat beberapa ekor ular datang lagi menghadang Andra.
Sepertinya ucapan Pak imam benar! Ular sebelumnya adalah pancingan. Aku membunuh satu ekor ular, tiga ekor lainnya menjadi pengganti. Apakah kami bisa menghadapi ular-ular ini? benak Andra.
Ali dan Pak imam juga terkejut. Ular yang mereka berhasil bunuh, penggantinya lebih dari satu yang datang.
Kalau begini? Apakah bisa selesai dengan cepat? benak Ali dan Pak imam.
”Viona...! Viona...! Hei, wanita pembawa sial! Cepat keluar...!” teriak Ibu Sania.
”Viona...! Keluar kau...!” teriak Nia dan ibunya.
”Viona...! Keluar...! Wanita iblis, jangan bersembunyi di dalam! Ayo keluar...!” teriak para warga.
Andra dan Ali yang sudah kelelahan menangani para ular-ular yang semakin berdatangan, begitu marah mendengar ocehan-ocehan para warga yang menyudutkan Viona.
Ali dan Andra menebas seekor ular lagi, mereka sengaja menebas ular itu mengarah para warga.
”Aaaaaah!” teriak para warga saat dua ekor ular yang sudah mati terbang ke arah mereka. Mereka mundur beberapa langkah, bangkai ular itu terjatuh di kaki mereka dan berubah menjadi manusia kemudian menghilang. Wajah mereka pucat pasi. Mereka semua terdiam.
Di dalam rumah Pak imam.
”Ma... itu... suara... su__suara desis u__ular, Ma.” ucap Anisa terbata-bata saat telinganya menangkap suara desis ular di belakang rumah.
Viona dan ibu Ali juga mendengarnya.
”Tenang... Anisa.” ucap Ibu Ali menenangkan anaknya, yang ia sendiri sedang khawatir.
Apakah ini arti dari rasa gelisah yang aku rasakan dari tadi? benak Viona.
”Andra...! An...Andra...!” Viona memanggil Andra agar menemani mereka di dapur. Namun, Andra tidak menyahuti sama sekali. ”Ibu, Anisa, aku panggil Andra atau Ali untuk menemani kita di sini.”
Ibu Ali mengangguk. Viona melangkah keluar dari dapur.
”Tidak, Ma! Sebaiknya kita juga pergi dari dapur.” ucap Anisa dengan ketus memandang punggung Viona.
Viona menghentikan langkah, ia berbalik melihat Anisa dan ibu Ali. Ia sangat tahu maksud Anisa. ”Iya, sebaiknya kita semua pergi dari dapur saja...” ucap Viona lirih.
Mereka pergi dari dapur bersama-sama. Viona membuka pintu kamar Ali, ”Andra...! Ali...!” Viona memanggil nama kedua pria itu yang tidak terlihat di dalam kamar.
”Ma... ada suara ribut apa di luar?” tanya Anisa.
”Iya, Bu. Viona juga mendengarnya.” Viona bergegas ke depan, ”Astaghfirullah!” Viona terkejut melihat keributan di depan rumah Pak imam. Dia lebih terkejut lagi saat melihat ada beberapa ekor ular yang berusaha masuk ke teras rumah. ”Ibu, Anisa... jangan ke depan. Tetaplah di dalam rumah.”
”Viona! Tetap di sana! Jangan kemari!” teriak Ali dan Andra.
”Ma, ada apa sih di luar sana? Kenapa Viona melarang kita ke depan? Kenapa juga Andra dan Ali berteriak pada Viona?” Anisa penasaran.
”Sudah, dengarkan saja. Kita tetap di sini.” nasehat Ibu Ali pada Anisa.
”Tidak, Ma. Anisa ingin lihat ada apa di depan sana.” Anisa melepaskan tangan mamanya dari tangannya. Ia melangkah keluar dari rumah.
”Anisa... kembali ke sini, Nak!” ucap Ibu Ali.
Anisa mengacuhkan ucapan ibunya. Ia terus saja melangkah. Anisa terkejut saat berada di bibir pintu. Matanya terbelalak lebar, tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar. ”Ma... Mama, ada u__ular....”
__ADS_1
Ibu Ali panik mendengar teriakan Anisa, ia bergegas ke depan. Ibu Ali ikut terkejut melihat Andra, Ali, dan suaminya sedang bertarung dengan para ular.