
Di kediaman Kevin.
Maria masih memikirkan permata emas yang berkedip-kedip siang tadi, saat berbelanja. Warna itu hampir saja berkedip terang dan tanpa henti. Tapi untungnya, kedipnya gak lama dan kembali normal.
Namun, ia tetap khawatir pada adiknya, Berlia. Apa yang terjadi padanya tadi? Pertanyaan yang selalu ada di pikiran Maria untuk sang adik. Meskipun kini ia tahu, adiknya itu sudah baik-baik saja.
Ia kembali mengingat saat peristiwa yang merenggut nyawa adiknya, Grenia dan sang ibu tercinta.
Saat ayahnya memeluk ibu dan adiknya yang berlumuran darah, yang terbaring lemas. Gelang yang di pegang ayahnya terjatuh.
Maria mengambil dan melihat warna hijau pada permata itu semakin berkedip, tiada henti dan sangat terang.
”Ayah...sa__sakit. Tu__buh Gre__Nia sa__kit, A_ayah.” ucap Grenia terbata.
”Maafkan Ayah, sayang! Maaf, kamu sudah mengingatkan Ayah tentang perangai pelayan itu. Tapi...Ayah mengabaikan mu. Maafkan Ayah.” ucap sang raja dengan sedih, memeluk tubuh gadis kecilnya Grenia. Ia sangat menyesal. Matanya berkaca-kaca.
”Jangan salahkan dirimu, Pa. Ini semua terjadi di luar kendali kita.” ucap istrinya, yang terlihat tidak berdaya lagi.
Sang ayah mengangguk pasrah.
Maria melihat permata hijau semakin berkedip kencang dan...boom! Permata nya pecah di tangannya. Ia terkejut.
”Grenia...!” teriak sang ayah. Dan tidak lama dari meninggalnya Grenia, sang ibu pun menyusul pergi, ”Istriku...! Maaf kan Ayah...Ayah gak bisa menjaga kalian dengan baik.” Ia menahan tangisnya.
Maria terkejut, saat permata hijau itu pecah ternyata, nyawa Grenia pun melayang bersamaan dengan meledaknya permata hijau tersebut. ”A__adik....” Ia melihat Grenia yang sudah tidak bernyawa lagi.
Maria dan Berlia menangis sambil berpelukan. Mereka berdua mendekati sang ayah dan memeluknya.
”Ayah, i__bu... a__adik sudah pe__pergi.” ucap Maria dan Berlia terbata-bata sambil menangis.
”Ssttsst! Jangan menangis! Apa pesan ibu pada kalian sebelumnya, hum? Apa kalian sudah lupa?” Tanya sang ayah pada kedua putrinya. Padahal, mata sang ayah sendiri berkaca-kaca menahan tangis atas kepergian istri dan anaknya.
”Ingat, Ayah. Kalau lihat ibu atau siapapun anggota keluarga yang berbaring, memejamkan mata, meskipun penuh darah, mereka hanya tertidur.” jawab Berlia dan Maria.
”Anak pintar!” puji sang ayah. Sang raja melihat kericuhan di kediamannya. Para prajurit setianya berkelahi dengan si pengkhianat yang sudah masuk bebas ke dalam kediamannya.
Sebagian para prajuritnya telah tewas di tangan si pemberontak. Dan nyawa dari si pemberontak itu banyak yang hilang di tebas pedang prajuritnya.
”Semua, mundur perlahan!” titah sang raja pada bawahan setianya yang masih ada. Sang ayah memegang tangan Maria dan Berlia. ”Ini sudah terencana dengan rapi. Di luar sana mungkin saja masih ada prajurit yang akan datang menyerbu kita. Kita harus pergi dari sini.” titah sang raja.
Para prajuritnya mengerti, mereka perlahan mundur sampai ke raja sambil terus berperang melawan musuh di hadapannya.
Dengan petunjuk sang raja mereka kabur dari goa, dari jalan rahasia yang di bangun oleh raja sendiri. Mereka pergi dari goa meninggalkan jasad Grenia dan ibunya, yang tergelatak begitu saja di kediaman. Para prajurit separuh ikut dengannya dan yang lainnya masih bertaruh hidup dan mati, mengahalau para pemberontak mengejar raja dan kedua anaknya.
Setelah mereka keluar dari jalan rahasia tersebut, jalan rahasia itu di hancurkan dengan ilmu yang di miliki sang raja.
”Mama, Mama memikirkan apa?” Tanya Kevin.
Pertanyaan Kevin menyadarkan lamunan Maria pada ingatan masa lalunya.
”Ah, apa Pa?” Maria bertanya balik. Ia memang tidak mendengar jelas pertanyaan suaminya. Ia hanya terkejut, saat pundaknya di sentuh sang suami.
”Mama melamun kan apa? Papa perhatikan Mama melamun terus dari pulang berbelanja siang tadi. Lirjan juga bercerita Mama melamun saat antri berbelanja. Mama pikirkan apa?” Tanya Kevin lagi.
”Em...Mama hanya memikirkan kemana perginya putri kita. Sudah selama ini kita belum tahu di mana keberadaannya. Dan dia juga belum pulang ke rumah, seakan-akan kebutuhan hidupnya selalu terpenuhi.” jawab Maria dengan sedih.
”Alhamdulillah! Papa sangat bersyukur jika kebutuhan Viona terpenuhi sama-sama laki-laki itu. Tapi...jangan sampai Viona kembali dengan pria itu. Jika tidak, Papa tidak tahu apa yang akan Papa perbuat pada pria itu! Dia sudah membuat kita makan, tidur, kerja tidak tenang di setiap hari.” ucap Kevin dengan geram.
"Viona, semoga di manapun kamu berada, para leluhur mu akan menjaga dan melindungi mu, atas izin Allah. Aamiin." benak Maria.
”Pa, Mama masuk istirahat dulu.” pamit Maria. Kevin mengangguk. Maria beranjak dan pergi ke kamar.
"Ku rasa yang di lamun kan sama Maria bukan Viona, anaknya. Jika Maria memikirkan Viona, Maria pasti akan menceritakan isi pikirannya padaku. Siapa yang dia pikirkan? Apakah pria yang di ceritakan oleh Lirjan? Teman lamanya Maria?" benak Kevin, ia cemburu.
__ADS_1
"Istriku masih terlihat muda dan masih sangat cantik, meskipun usianya sudah tua. Jangankan para duda, para lelaki muda pun pasti akan tertarik padanya." benak Kevin lagi.
Ia pun menyusul sang istri ke kamar.
*
*
Di kamar Lirjan.
”Bagaimana, kalian sudah tahu siapa pria yang jalan dengan Viona?” Tanya Lirjan pada anak buahnya.
”Maaf Pak Lirjan, kami masih belum mengetahui pria itu. Kami sudah menanyakan pada mahasiswa dan mahasiswi di kampus Viona, tapi...kami tidak dapat mengorek informasi apapun terkait pria itu.” jawab anak buah Lirjan.
”Ya sudah, kalian tetap melanjutkan mencari keberadaan Viona dan identitas pria itu.” titah Lirjan.
”Siap Pak!” sahut sang anak buah.
”Ya sudah!” tut tut tut! Lirjan memutuskan sambungan telfonnya.
”Siapa pria itu sebenarnya? Jika saja dia membuat adikku menderita, akan ku habisi dia tanpa ampun!” geram Lirjan.
*
*
Di kamar Kevin.
Kevin geleng-geleng kepala. Ia mendapati istrinya bukan istirahat, tetapi kembali melamun sambil melihat langit-langit kamar.
"Apakah dia sedang mengkhayalkan pria, teman lamanya itu?" benak Kevin.
Ia berjalan cepat menghampiri sang istri. Dia mengecup lembut keningnya. Membuat sang istri tersadar.
”Mama, kalau Mama masih melamun lagi, Papa akan cemburu loh!” ucap Kevin.
”Papa apaan sih? Sudah tua, ngapain cemburu! Siapa juga yang menyukai Mama yang sudah bersuami ini?”
”Habis Mama melamun terus, dan saat Papa tanya apa yang Mama lamun kan? Mama gak jawab Papa. Papa berpikir, mungkinkah Mama sedang melamun kan pria yang Mama temui di mall itu? Mama masih terlihat cantik dan menarik, siapa yang tidak akan tertarik dengan Mama? Papa saja selalu tergoda.” ucap Kevin.
Maria melihat suaminya, jika suaminya sudah cemburu dia pasti seperti anak-anak. Bahkan sikapnya melebihi seorang anak kecil.
”Papa, suamiku tercinta, tersayang. Jangan ragukan cinta Mama, Mama hanya mencintai Papa. Papa juga masih ganteng, masih energik, ngapain Mama mencari yang lain sedang di rumah begitu memuaskan.” ucap Maria, sedikit menggoda Kevin.
Kevin tersenyum, ”Karena aku begitu di matamu, berhentilah melamun. Aku melarang mu melamun kan orang lain. Cukup Papa saja yang harus Mama lamun kan,” sahutnya. Ia masih menggambarkan rasa cemburu.
”Iya sayang, iya. Hanya Papa, Viona, dan Lirjan yang Mama pikirkan, rindukan, sayangi, dan cintai, tidak ada orang lain. Jadi, Papa jangan membuat diri Papa sendiri sakit karena memikirkan cemburu yang gak jelas.” ucap Maria menasehati sang suami.
"Dan aku juga memikirkan ayahku dan adikku Berlia. Bagaimana kabar mereka sekarang? Sudah lama sekali kami tidak berjumpa setelah kami berpisah secara tidak sengaja di waktu itu." benak Maria.
”Baiklah, hati Papa akan puas jika Mama memberikan hak Papa sekarang. Papa lagi ingin.” pinta Kevin.
Maria tersenyum, tangannya ia kalung kan pada leher Kevin, suaminya. Ia berinisiatif mencium sang suami duluan, ”Aku milikmu,” ucapnya setelah ia melepaskan ciumannya.
Kevin tersenyum bahagia. Ia membalas ciuman sang istri. Hak mereka sebagai suami istri pun sedang di jalani.
*
*
*
Di desa, di kediaman Andra.
__ADS_1
Viona terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam di dinding, pukul 23 : 15. Ia melihat Andra yang tertidur pulas di lantai, menghadap kursi.
Viona ingin pergi ke toilet dan perutnya juga terasa lapar. Ia beranjak dari tempat tidurnya, mendekati Andra.
”An__” ucapannya ia hentikan. Dia menarik tangannya yang ingin menyentuh pundak Andra.
Andra tertidur sangat pulas. Viona juga tidak tahu jam berapa Andra tertidur. Ia melihat ke arah dapur, lampu dapur menyala.
Ia menghela nafas, menghalau rasa takutnya. Ia berdiri dan memantapkan langkahnya pergi ke dapur.
Viona masuk ke toilet. Setelah selesai dengan urusan di toilet, ia keluar. Dia memeriksa panci. Semua isi panci kosong. Bukan hanya kosong, tetapi, panci juga sangat bersih.
Ia pergi ke meja makan, membuka tudung saji. Ia terkejut, tudung nasi terjatuh di lantai, menimbulkan suara gaduh, gelas ikut terjatuh tersenggol tudung saji tersebut. Gelas pecah di lantai.
Tidur Andra terganggu mendengar suara gelas pecah. Matanya terbuka namun, tidak lebar. Ia tidak mendengar suara apapun lagi, matanya kembali terpejam.
Viona mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri karena terkejut, wajahnya pucat pasi. Matanya masih memandang di atas meja tersebut.
Ular emas berdiri dan memekarkan kepalanya dengan sempurna, melihat dirinya. Viona menelan saliva nya dengan susah.
Darimana ular ini masuk ke dalam rumah? Di setiap jalan masuk keluarnya ular telah di taburi dengan wangian yang menyengat. Di bawah jendela-jendela rumah juga di tanami tumbuhan yang baunya menyengat.
Viona masih bergeming di tempatnya sekarang, wajahnya pucat pasi. Ia teringat mereka bukan ular biasa. Mereka adalah jelmaan.
”Si__si__siapa ka__kamu? A__apa pe__perlumu. A__aku... aku ti__tidak pernah mengganggu mu.” ucap Viona terbata-bata pada ular cobra emas.
Andra kembali membuka mata saat mendengar suara Viona yang berbicara terbata-bata. Ia segera melihat ke kursi, tempat Viona tidur. Viona tidak ada, ia bergegas berdiri dan mencari Viona.
”Jangan takut! Aku__” ular cobra menghilang saat mendengar suara langkah kaki Andra masuk ke dapur.
Viona terkejut, ular itu tiba-tiba menghilang, Viona penasaran apa yang akan di bilang oleh ular cobra emas, padanya?
”Viona, kamu__” ucapan Andra terhenti, Viona menghambur ke pelukannya. Ia membalas pelukan Viona, ”Ada apa? Ular cobra emas mendatangi mu lagi kah?” tanyanya.
”Iya, dia pergi pas kamu datang.” jawab Viona. Ia melepaskan pelukannya dan menarik diri dari Andra.
”Kamu kenapa di dapur?”
”Aku lapar. Aku mau periksa ada apa di dalam tudung nasi. Tapi...aku terkejut malah ular emas yang ada di dalam tudung nasi saat ku buka tudungnya.” jelas Viona.
”Ular emas? Kok, ular emas bisa masuk? Apa yang dia lakukan padamu? Kenapa kamu gak membangunkan aku saja untuk menemani mu di dapur?” ucap Andra. Ia memungut tudung saji yang ada di lantai. Dia juga melihat pecahan gelas. Dia membersihkan pecahan gelas.
"Ternyata bunyi yang ku dengar tadi adalah pecahan gelas ini." benak Andra.
”Kamu tidur dengan lelap. Aku juga gak tahu kapan kamu tertidur, jadi aku gak tega gangguin tidur mu.” jawab Viona.
”Kan sudah ku bilang, meskipun aku baru saja memakai sarung untuk bersiap tidur, aku tidak akan terganggu sama kamu dan akan tetap menemani kamu. Keselamatan mu terpenting bagiku.” ucap Andra kesal. Ia telah selesai membersihkan pecahan gelas.
”Sudahlah kalau kesal, kesal saja. Aku mau makan.” sahut Viona.
Andra melihat di atas meja. Makanan masih rapi seperti yang ia atur sebelum tidur. Andra sengaja memasak makanan sebelum tidur untuk Viona. Jangan sampai Viona beneran lapar di tengah malam.
”Makanan ini memang tidak tersentuh. Tapi... makanan ini jangan kamu makan lagi. Tidak tahu apa yang telah di lakukan ular itu di dalam tudung nasi. Aku masak me instan sama telur saja buat kamu. Ok?”
”Tidak usah, aku akan makan ini saja. Bukankah kamu sendiri bilang padaku jika ular emas melindungi ku, kan? Jadi... tidak mungkin dia akan menyakiti ku.” ucap Viona, ia duduk di kursi.
”Tapi Vi__”
”Tidak ada tapi- tapi! Aku makan ini saja.” pangkas Viona. Ia mengambil piring dan mengambil makanan. Viona beneran memakan makanan tersebut.
Andra terdiam. Ia menarik kursi dan duduk menemani Viona.
”Terima kasih Andra, kamu sudah masak buat aku.” ucap Viona. Andra mengangguk.
__ADS_1