Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 22


__ADS_3

Di rumah pak imam.


Andra menepikan motor di depan rumah pak imam.


”Kalian sudah datang? Ali....!” pak imam memanggil anaknya yang berada di dalam rumah.


Viona turun dari motor, dia menyalami punggung tangan pak imam. ”Asalamu 'alaikum. Iya, Pak imam, kami sudah datang.”


”Wa 'alaikum salam, warahmatullahi wabarakatuh. Duduk, Nak.”


Viona menarik kursi dan duduk. Dia melihat Andra.


Andra meletakkan tas Viona dan tas nya di atas tanah, lalu, dia turun dari motor. Dia mengangkat tas nya dan tas Viona berjalan masuk ke teras rumah.


Andra meletakkan kedua tas itu di atas teras dan pergi menyalami punggung tangan pak imam, dan duduk di kursi.


”Iya, Pa! Bapak tadi memanggil Ali?” Ali menyahuti panggilan bapaknya, dari pintu rumah.


”Iya. Ali... tolong bawa masuk koper pakaiannya Andra dan Viona ke dalam rumah.” titah pak imam pada anaknya, Ali.


”Ah, tidak usah Ali. Tidak perlu, Pak imam. Kami bisa membawanya sendiri.” cegah Andra.


”Tidak apa-apa, jangan tidak enak hati begitu. Kalian adalah tamu ku. Sudah seharusnya, kami menghormati kalian.” ucap pak imam, sambil tersenyum ramah.


”Tapi...”


”Ayo, Ali...bawa masuk ke dalam kopernya. Kopernya Andra langsung ke kamar mu saja. Koper Viona, bawa ke kamar adik mu. Sekalian, minta ibumu buatkan minuman.” sekali lagi pak imam memerintah anaknya.


Andra tidak mencegah Ali lagi untuk membawa masuk kopernya dan koper Viona.


”Iya, Pa. Tapi, ini...maaf. Yang mana tas milik Abang Andra?” tanya Ali pada Andra.


”Koper Coklat milikku dan koper ungu milik Viona.” jawab Andra.


Ali mengangguk mengerti. Dia mengambil kedua koper itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


”Terima kasih, Pak imam. Mungkin, selama kami tinggal di sini, kami akan banyak merepotkan keluarga Pak imam.” ucap Andra.


”Jangan bicara begitu. Aku menganggap kalian seperti anak-anakku sendiri.”


”Terima kasih, Pak imam.”


Tidak lama dari masuknya Ali, kini, ibunya Ali yang datang keluar dengan membawa nampan isi minuman. Dia meletakkan nampan itu di atas meja dan membagikan minuman pada Andra, suaminya, dan Viona.


”Terima kasih, Ibu. Maaf, sudah merepotkan.” ucap Andra dan Viona.


Ibu Ali tersenyum, ”Kalian tidak merepotkan, justru ini adalah rezeki buat keluarga kami.”


Pak imam tersenyum melihat istrinya yang baik itu. ”Nah, dengar sendiri kan kata Ibumu? Kalian tidak merepotkan kami. Ayo, di minum minumannya.” pak imam mempersilahkan Andra dan Viona untuk mencicipi minumannya. Pak imam sendiri, meminum minumannya.


”Kalian ngobrol dulu, Ibu masuk ke dalam dulu.”


”Eh...tunggu Ibu! Bolehkah Viona ikut ibu ke dalam?” tanya Viona.


Sang ibu tertawa geli, ”Ya, boleh lah. Ayo, masuk ke dalam.” ajaknya.


”Iya, Ibu. Terima kasih,” Viona berdiri dan memegang minumannya, masuk ke dalam rumah bersama ibu Ali.


”Andra, boleh kamu cerita ke Bapak tentang teman mu itu?” tanya pak imam.


”Maksud Pak imam, tentang Viona?”


Pak imam mengangguk.


Haruskah Andra bercerita jujur pada pak imam jika dia tidak mengenal Viona? Apakah dia harus bilang Viona hanya mengikutinya karena kabur dari rumahnya, karena menolak perjodohan?


Apa yang harus aku katakan tentang Viona? Aku sendiri belum bertanya pada Viona tentangnya, dan tentang keluarganya. benak Andra.

__ADS_1


”Viona dan Andra, adalah teman satu tempat kerja. Kami berdua berpacaran. Saat dia tahu aku mau ke desa untuk melihat ibu, dia mengikuti ku kemari. Dia ingin...”


”Kamu tidak sedang berbohong?” pangkas pak imam.


Andra terkejut. Dia terdiam. Bagaimana pak imam tahu kalau dia sedang berbohong?


”Sudahlah, Bapak tahu, kamu sedang melindungi gadis itu. Yang usulnya sama sekali belum kamu ketahui. Bapak tidak akan menyalah kan mu.” ucap pak imam.


Andra semakin terkejut. Pak imam benar-benar tahu dirinya berbohong. Dia memang tahu pak imam bukan lah orang sembarang di desa ini. Tapi, apakah pak imam sehebat itu? Bahkan bisa membaca dan menebak tepat pikiran seseorang?


Andra jadi malu sendiri. Dia mengambil minumannya dan meminum tehnya sambil melihat pak imam.


Pak imam tersenyum. ”Tidak perlu malu pada Bapak. Bapak sebagai laki-laki juga akan melakukan hal yang sama seperti kamu, melindungi orang yang kita cintai. Meskipun yah..kita sendiri yang terpuruk.” ucapnya lagi.


”Maaf, Pak imam. Andra bukan bermaksud untuk membohongi Bapak. Dan terima kasih, Pak imam mau mengerti Andra.”


” Tidak apa-apa. Baiklah, hari sudah mau masuk maghrib. Sebaiknya kita mandi dan bersiap-siap untuk shalat Maghrib, di mesjid.” ucap pak imam.


”Baik, Pak imam.” Andra menghabiskan tehnya.


Pak imam juga demikian, menghabiskan tehnya. Kemudian pak imam masuk ke dalam rumah. Andra menyusul masuk ke dalam rumah dengan membawa dua buah gelas kosong di tangannya.


Pak imam masuk ke kamarnya sendiri. Dan Andra, dia terus berjalan ke dapur. Di sana, dia melihat Viona tampak bersahabat baik dengan istri dan anak perempuan pak imam. Mereka sedang memotong sayur sambil bercerita.


”Permisi, ini gelas kotornya simpan di mana, ibu?” tanya Andra.


”Oh, simpan saja di sana, Nak!” ibu Ali menunjuk tempat cuci piring yang tidak jauh dari meja kompor.


Andra melangkah ke tempat cuci piring dan meletakkan gelas kotor itu di sana.


”Bu, kamar mandinya di mana ya, Bu?” tanya Andra lagi.


”Kamu masuk ke kamar Ali saja, Nak. Di dalam kamarnya Ali, ada kamar mandi pribadi. Jika Ali sedang mandi, dan kamu keburu, di sebelah dinding samping kiri itu adalah kamar mandi umum.” jawab Ibu Ali.


”Oh, iya, terima kasih, Ibu. Tapi, kamarnya Ali yang mana ya, Bu?” tanya Andra lagi.


”Kamarnya Ali... jika kamu melihat ada pintu kamar yang berwarna orange, itu adalah kamarnya Ali.” jawab ibu Ali.


”Tidak, Dra. Aku akan shalat di rumah saja bersama ibu dan Anisa. Ya kan, Bu? Nisa?” tanya Viona pada ibu dan anak itu.


”Iya, Nak Andra, Viona akan shalat bersama kami, di rumah.” ibu Ali yang menjawab.


”Oh, baiklah.” Andra pergi dari dapur. Dia melihat pintu kamar yang berwarna orange. Dia mengetuknya pintunya. ”Ali, apa kamu di dalam?”


Andra tidak mendengar suara sahutan dari dalam kamar. Dia juga tidak ingin langsung membuka pintu kamar tanpa seizin si pemilik kamar tersebut.


Sekali lagi dia mengetuk. ”Ali, apa aku boleh masuk?” tanya Andra.


”Bentar, Bang.” terdengar sahutan dari dalam kamar.


Andra bersandar di dinding kamar, menunggu pintu di buka. Tidak lama dia menunggu, pintu kamar terbuka.


”Masuk, Bang.”


Andra masuk ke dalam kamar dan kembali menutup pintu kamar. Ternyata dinding kamar Ali bernuansa orange, bukan hanya pintu kamarnya saja. ”Kamu suka warna orange?”


”Iya, Bang.”


”Kamu baru habis mandi?” Andra melihat rambut Ali yang masih basah.


”Iya, Bang. Makanya, Ali baru membukakan pintu untuk Abang. Bang, itu kopernya Abang, Ali simpan di atas meja kosong, di samping lemari pakaian Ali.” tutur Ali.


”Oh, iya.” Andra berjalan ke tempat koper pakaiannya. Dia mengeluarkan peralatan mandi dan handuk juga pakaian ganti. ”Kalau cuci baju, jemurnya di mana, Li?”


”Itu kak, ada pintu di samping kanan. Pintu itu terhubung langsung dengan jemuran, di belakang rumah.”


”Oh, ok. Aku mandi dulu.” Andra pergi ke kamar mandi setelah melihat anggukan kepala Ali.

__ADS_1


”Kasihan abang Andra, mungkin kalau dia tahu wanita yang dia lindungi punya hubungan dengan siluman ular, mungkin bang Andra tidak mau membawa wanita itu bersamanya ke desa ini.” gumam Ali, sambil melihat punggung Andra yang masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit berlalu, Andra telah selesai mandi dan telah berganti pakaian. Dia melihat Andra membuka pintu lain sambil membawa pakaian yang sudah dia cuci.


Setelah itu, Andra kembali masuk ke dalam kamar sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


Suara tahrim telah terdengar dari masjid. Ali segera mengenakan sarung. Begitu juga dengan Andra, dia memakai pakaian shalatnya.


”Yuk, Bang, tunggu bapak di teras.” ajak Ali.


Andra menurut. Dia dan Ali keluar dari kamar dan pergi ke teras, mereka berdua duduk menunggu pak imam.


”Bang, Abang sudah lama mengenal kak Viona?” tanya Ali.


”Iya, lumayan. Sekitar enam bulanan. Kenapa?”


”Gak apa-apa.” jawab Ali.


Adzan Maghrib sedang dikumandangkan. Bertepatan dengan itu, pak imam keluar dari rumah.


”Andra, Ali, ayo pergi.” ajak pak imam.


”Iya, Pak.”


Mereka bertiga berjalan bersama ke masjid. Masjid yang mereka tuju tidak terlalu jauh hanya melewati sekitar delapan buah rumah dari rumah mereka sendiri.


Tepat setelah adzan selesai, mereka telah menginjak teras masjid. Seseorang melihat pak imam telah datang, Iqamah pun di segerakan.


Semua para jamaah masjid berdiri dan berbaris, begitu juga Ali dan Andra mereka ikut berdiri di saf terakhir. Sementara pak imam, beliau terus ke depan. Pak imam yang memimpin berjamaah untuk shalat.


”Alla...hu Akbar!” pak imam memulai shalat memimpin shalat.


Semua para jamaah putra dan putri mengikuti langkah pak imam, tentu saja dengan kode ”Allahu Akbar”


”Allahu akbar!” ucap pak imam dengan suara rendah. Yang menandakan tasyahud akhir. ”Assalamu 'alaikum warahmatullaah” pak imam memiringkan kepala sedikit ke sebelah kanan.


”Assalamu 'alaikum warahmatullaah.” pak imam menoleh lagi ke sebelah kiri. Shalat Maghrib tiga rakaat telah selesai.


Kini mereka semua menengadahkan tangan ke atas untuk membaca doa.


”Aamiin!” pak imam menyapu wajahnya dengan kedua tangannya menutup doa.


”Aamiin!” sahut para jamaah, mengaminkan dan menyapu wajahnya dengan kedua tangan mereka.


Mereka semua berjabat tangan dan membubarkan diri dari masjid.


Andra dan Ali menunggu pak imam di teras masjid.


”Apa pak imam tidak tahu yah kalau wanita yang di bawa Andra ke rumahnya pak imam adalah komplotan siluman ular?”


”Iya, aku juga penasaran dengan hal itu.”


”Bukan hanya itu, aku dengar Andra bekerja sama dengan wanita itu untuk mencari tumbal.”


”Apa? Kasihan keluarga pak imam kalau di jadikan korban untuk tumbal dari wanita itu.”


Andra dan Ali mendengar bisik-bisik para jamaah putri yang melewati mereka.


Andra menunduk malu. Astaghfirullah! Kabar tentang siluman ular, apakah sudah tersebar di seluruh warga desa? Siapa yang menyebarkan ini? Apakah Dion? Dan teganya langsung menuduh ku dan Viona adalah komplotan ular. benaknya.


Ali melihat Andra yang terus menunduk. ”Sudah, tidak usah di pikirkan kabar burung yang tidak jelas itu, Bang. Lagi pula, kami percaya sama Abang dan Viona.” ucapnya. Dia hanya menghibur hati Andra.


Andra hanya tersenyum tipis.


”Ali, Andra, sudah lama menunggu Bapak? Maaf, Bapak sedang di ajak bicara oleh jamaah lain.” ucap pak imam.


”Tidak, Pa. Kami juga baru keluar dari dalam.” Ali yang menjawab.

__ADS_1


”Oh, mari kita pulang.” ajak pak imam.


Ali dan Andra mengangguk. Mereka bertiga berjalan bersama pulang ke rumah. Namun, sepanjang perjalanan Andra terus memikirkan siapa yang menyebar fitnah ini.


__ADS_2