Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 46


__ADS_3

Di kediaman Pak imam.


Viona turun dari motor dan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa membawa satu pun barang belanjaannya. Wajahnya masih saja tidak bersahabat.


”Loh, Viona? Mukanya kenapa itu?” tanya Ali dengan heran saat melihat raut wajah Viona yang kusut dan cemberut. Viona acuh saja, dia tetap melangkah masuk ke dalam rumah.


Ali semakin bingung di buatnya. Ia memandang Andra. Andra mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan Ali lewat tatapan matanya.


Andra menghela nafas melihat punggung Viona yang melangkah masuk ke dalam rumah Pak imam.


Andra turun dari motor. Ia mengambil semua barang belanjaan dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Beginilah sepasang kekasih. Akur, kelahi, damai, berantem, bercanda, merajuk, menangis, tersenyum di setiap hari. Membosankan! Lebih baik, kalau sudah siap langsung menikah saja daripada berpacaran. benak Ali. Ia menyusul Andra yang masuk ke dalam rumah.


Di kamar Ali.


”Eh, Vi. Kamu baru datang dari luar. Pamali duluan gendong anak bayi. Pergi bersihkan diri dulu baru kamu gendong bayi mu,” tegur Ibu Ali pada Viona yang hendak menggendong ade bayi.


”Hah, emang ada hal seperti itu Ibu?” Viona menarik tubuhnya dari sang bayi. Ia melihat Ibu Ali dengan penasaran.


”Iya. Tidak tahu kalau di kota, tapi kalau kami di desa... begitu. Pamali kalau baru datang dari luar langsung menggendong anak bayi. Kita tidak tahu ada makhluk apa yang mengikuti kita dari belakang, jadi saat kita menggendong si bayi, bayinya terganggu dan akan menangis karena ketakutan,” tutur ibu Ali menjelaskan.


Viona mengangguk mengerti, meskipun baginya itu adalah takhayul, ia tetap mendengarkan nasehat ibu Ali. Viona mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Andra meletakkan belanjaan di atas meja sambil berkata, ”Ibu, coba lihat lagi...apakah masih ada barang yang kurang?”


Ibu Ali melihat semua belanjaan Andra dan Viona. ”Ini sudah lengkap Andra. Oh iya, bapak berencana lusa mau adakan acara untuk si bayi. Acara cukuran rambut sekaligus pemberian nama buat si bayi, bagaimana menurut mu?” tanyanya.


”Kalau tradisi nya seperti itu... Andra mana-mana saja Bu. Anggaplah adanya bayi ini, memberikan aku maupun Viona, Anisa maupun Ali sebagai contoh. Jadi kedepannya, jika kami ada anak bayi lagi sudah tidak kaku lagi dalam menyambut anak bayi juga tidak bingung lagi untuk melakukan tradisi yang harus di lakukan pada bayi,” tutur Andra sambil tersenyum.


”Ya sudah, kalau begitu... kamu sudah setuju ya kalau di acara kan besok lusa.” Ibu Ali memastikan.


”Iya, Bu,” jawab Andra.


”Iya... apaan ini?” tanya Viona penasaran Ia baru keluar dari kamar mandi. Viona telah berganti, handuk kecil melilit di kepalanya. Ia berjalan melewati Andra, ia duduk di sisi ranjang.


Andra sempat menghirup aroma wangi khas Viona. Membuatnya ingin sekali memeluk tubuh gadis itu dan mendaratkan bibirnya pada bibir gadis yang sedang merajuk padanya itu.


”Bapak ingin membuat acara syukuran untuk si bayi, besok lusa. Acara gunting rambut serta pemberian nama. Jadi... kamu dan Andra segeralah mencarikan nama buat bayi perempuan yang mungil ini,” terang Ibu Ali sambil mencolek hidung mancung si bayi.


”Tapi... kalau ada yang bertanya bayi ini anaknya siapa, apa yang harus kita jawab? Kalau mau bilang ini bayiku dengan Andra... kan tidak mungkin! Orang-orang tahu aku tidak hamil, aku dan Andra juga tidak menikah. Lalu, apakah kita harus bilang bayi ini adalah anak dari ular cobra emas? Apa kata orang-orang nanti?” ucap Viona serius.


”Iya, betul juga sih! Tidak kepikiran di situ. Lalu bagaimana ini? Em... tunggu bapak pulang baru kita bahas,” usul Ibu Ali.

__ADS_1


”Ais kenapa baru sekarang aku merasa menyesal menerima tawaran merawat bayi ini ya!”


”Vi, gak boleh bicara begitu...anak ini di titipkan padamu. Dia percaya padamu, mengapa sekarang kamu berbicara begitu?” Andra mengomeli Viona.


”Bukan begitu! Maksudku... aku baru sadar sekarang, untuk kejelasan status anak ini sedikit rumit. Aku masih bujang, belum menikah. Mau buatkan akta kelahiran untuk si bayi tanpa seorang ayah itu bisa saja tapi... proses nya lama, dan suatu saat akan menjadi bahan hinaan bagi teman-teman sebayanya karena dia tidak memiliki ayah. Orang-orang akan mengatainya "Anak haram" bukankah itu sangat buruk? Jika di buatkan akta kelahiran dan mengaku bayi ini adalah anak aku dan Andra mereka juga tidak akan percaya, karena buku nikah kami tidak ada. Aku juga tidak pernah hamil,” tutur Viona sedih.


”Tidak usah pikirkan itu. Sekarang pikirkan saja siapa nama anak itu. Urusan mengakui anak ini anaknya siapa dan akta kelahiran si bayi nanti baru di bicarakan bersama bapak kalau bapak sudah pulang,” sahut Ibu Ali.


”Baiklah, aku akan pikirkan nama anak ini dulu,” ucap Viona sambil menggendong si bayi.


”Baiklah, Ibu pergi ke dapur dulu melihat Anisa. Ali, kemari...ada yang ingin Mama bicarakan dengan mu,” ucap Ibu Ali pada Ali. Ali mengangguk. Ia berdiri mengikuti langkah kaki mamanya yang keluar dari kamar. Ali menutup pintu kamar.


Andra duduk di samping Viona. Ia sengaja merapatkan tubuhnya pada tubuh belakang Viona. Tangannya mencolek pipi si bayi.


”Andra, kamu terlalu dekat dengan ku...”


”Kalau tidak dekat dengan mu, aku harus dekat sama siapa? Pacar ku, kekasih ku adalah kamu,” jawab Andra. Tangannya masih saja mencolek si bayi mungil yang ada di gendongan Viona bahkan, dagunya ia simpan di bahu kanan Viona.


”Bagaimana kalau kita menikah saja?” ucap Andra seketika.


Deg! Deg! Suara detak jantung Viona berdetak dengan cepat. Wajahnya memerah karena malu juga bahagia. Viona tidak menjawab.


”Kita menikah secara agama saja dulu. Untuk mempermudah kita dalam pengakuan anak ini jika kita adalah orang tuanya yang sah. Lalu, mempermudah kita untuk membuatkan akta kelahirannya. Kamu setuju?” tanya Andra.


Kening Andra mengerut. Ia menarik dagunya dari bahu Viona. Bahkan, sekarang ia sedang berjongkok di hadapan Viona. Dia menatap wajah Viona. Viona melihat wajah Andra sekilas lalu ia kembali memperhatikan wajah bayi mungil yang ada di gendongannya.


”Vi, aku mencintai mu. Apa kamu meragukan cinta ku? Apa aku__”


”Dra, aku tidak meragukan cinta mu. Aku meragukan keberadaan hatimu,” sela Viona tanpa melihat wajah Andra.


Andra mengambil bayi yang ada di tangan Viona dengan tiba-tiba, membuat Viona terkejut dan berkata, ”Dra, apa yang kamu lakukan?”


Andra meletakkan bayi dengan pelan di atas ranjang sambil menjawab, ”Emang apa yang akan ku lakukan pada bayi kita ini?” Ia duduk di sisi ranjang, kedua tangannya diletakkan di kedua bahu Viona.


”Vi, ada apa sebenarnya? Sikap ku yang mana yang membuatmu tidak puas padaku? Aku sungguh-sungguh dengan mu, Viona!” ucap Andra serius.


”Bagaimana dengan hatimu, Dra...?” Viona menatap netra Andra dengan sedih. Matanya berkaca-kaca. Andra melepaskan tangannya dari bahu Viona. Keningnya mengerut. Ia benar-benar bingung dengan sikap Viona hari ini. Bahkan pandangannya menatap lantai.


”Kenapa diam? Bagaimana dengan hatimu?” tanya Viona lagi.


Andra kembali melihat Viona, ”Vi, aku benar-benar tidak mengerti dengan kamu hari ini. Aku mencintai mu, aku sungguh-sungguh, tentu saja hatiku ada padamu.” Andra menyakinkan Viona.


Viona tersenyum masam. ”Heh, hahaha. Dra. Kamu kira aku akan percaya sama kamu, Dra. Hatimu bukan padaku! Hatimu berada di tempat lain, aku... aku sudah beberapa kali melihat wajah mu yang sedih ketika melihat Nia sedih. Tadi, semenjak kita berada di kantor polisi, wajah mu tidak berseri sedikitpun. Kamu tidak rela melihat Nia menderita, kan? Kamu tidak bisa melihat Nia bersedih, kan?” Viona terisak.

__ADS_1


”Vi... itu tidak benar! Ak__”


”Bahkan fotonya Nia masih terpajang di dalam dompet mu,” sela Viona.


Oh, jadi gadis ku sedang cemburu padaku? Pantas saja semenjak dia mengembalikan dompet ku, reaksinya sudah berbeda. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal? Aku lupa untuk membuang foto itu. Jadi...aku sekarang sedang berhadapan dengan wanita yang marah karena cemburu. benak Andra.


Andra menghela nafas. Ia mengambil dompetnya dari saku celana. Ia mengeluarkan foto tersebut dari dalam dompetnya baru ia menyimpan kembali dompetnya di dalam saku celana. Viona hanya memperhatikan Andra.


”Aku lupa untuk membuang foto itu dari dompet ku. Aku sama sekali tidak menyukai Nia lagi. Hati ku sudah terkunci untuk mu.” Ia memberikan foto itu pada Viona. ”Ini...terserah kamu ingin apain foto itu. Aku tidak akan peduli,” ucapnya lagi.


Viona tidak mengambilnya. ”Kenapa? Tidak tega kalau kamu sendiri yang membuang atau merobek foto itu?” Viona berdiri. ”Dra. Kalau hatimu masih sama Nia, jangan membuat aku mencintaimu dan menyerahkan hatiku padamu. Itu tidak adil,” ucapnya lagi. Ia berjalan hendak keluar kamar.


Andra mendengus kesal. Ia tidak pernah membujuk wanita. Ia berdiri dan melangkah dengan cepat mencegah Viona keluar dari kamar.


Andra mengunci tubuh Viona di antara dinding pintu dan tubuhnya.


”Apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan kamu, Vi? Aku tidak pernah membujuk wanita. Jadi tolong katakan padaku, bagaimana aku akan membujuk mu agar tidak marah dan percaya padaku? Aku akan lakukan untuk mu,” ucap Andra.


”Menjauh dariku...”


”Tidak akan!” Andra membalikkan tubuh Viona menghadap dirinya. ”Viona, yang kamu lihat ekspresi ku saat melihat Nia mungkin benar. Aku sedih, tapi hatiku tidak ada padanya. Aku hanya sedih kenapa dia bisa sekejam itu Tidak ada maksud yang lain. Aku sungguh-sungguh padamu. Hatiku, jiwaku, hanya untuk mu. Percayalah padaku...!”


”Robek foto itu lalu bakar fotonya Nia,” ucap Viona.


Tanpa berkata Andra merobek foto Nia sampai robekan kecil-kecil. Ia menyimpan kertas kecil-kecil itu di lantai dan membakarnya tanpa ragu.


”Sudah, aku sudah merobek dan membakarnya. Apa kamu sudah percaya padaku sekarang?” tanya Andra dengan serius menatap netra Viona.


”Tentukan anak bayi kita. Aku akan kebelakang membantu mereka memasak. Setelah aku kembali, namanya harus sudah ada,” ucap Viona. Ia berbalik dan membuka pintu kamar.


”Vi...kamu__” ucapannya terhenti bertepatan dengan tertutupnya pintu kamar.


”Gadis ini, tanpa menjawab ku keluar begitu saja. Apa dia tidak tahu bagaimana hatiku sekarang? Hatiku sekarang sekarang sedang bergetar tidak karuan karenanya. Apakah dia masih merajuk atau tidak? Masih marah padaku atau tidak? Ah...Viona... bagaimana mungkin kamu menilai ku masih menyimpan perasaan pada Nia hanya karena sebuah foto di dalam dompet ku. Ah, sial!” Andra memukul-mukul dinding pintu kamar.


Di luar kamar Ali.


Viona tersenyum senang mendengar keluh kesah Andra di balik pintu.


Memang salah mu, siapa suruh tidak membuang foto itu dari dompet mu dan berwajah sedih saat melihat Nia. Jangan salahkan aku berasumsi seperti itu. benak Viona.


Ia sudah tidak mendengarkan suara tangan Andra yang memukul dinding pintu.


Apa sekarang dia sudah menghampiri si bayi dan memikirkan sebuah nama untuk si bayi? benak Viona lagi.

__ADS_1


Ia melangkah pergi dari sana. Ia pergi ke dapur.


__ADS_2