
Di kediaman pak imam, di kamar Ali.
”Vi...jangan tutup matamu, tetaplah terbuka...” suara Andra sudah serak. Dia sangat khawatir sekali. Mata Viona nampak berat untuk terbuka, ”Vi...kamu mendengar ku? Aku...aku tidak izinkan kamu tinggalkan aku! Aku akan membawamu kembali ke kota dengan selamat. Tetap terjaga Vi, bantu aku...jangan tertidur, ya?” bujuk Andra.
Viona mengangguk.
”Maaf, Pa, Bang Andra, Sania sedang tidak ada di rumahnya. Jadi... harus bagaimana sekarang?” tanya Ali, ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Dia baru saja pulang dari rumah Sania dengan berlari. Dia mencari Sania untuk mengobati Viona.
”Apa?!” Andra dan Pak imam sama-sama terkejut, khawatir dan panik.
”Tidak apa-apa, Pak imam, Andra. Bukan kah sudah aku bilang tidak usah memanggilnya. Kalaupun dia ada di rumah saat ini, dia tidak akan bersedia datang untuk mengobati ku. Aku...aku tidak apa-apa. Pak imam, Ali, terima kasih, sudah begitu baik pada Viona. Andra, terima kasih, sudah menjaga Viona dan menjadi kekasih Viona. Viona sangat bahagia bisa mengenal kalian semua. Sampaikan maaf ku pada ibu dan Anisa. A__Andra, to__ tolong bantu aku menulis su__surat untuk orang tuaku.” tutur Viona, suaranya terbata-bata di akhir kalimatnya.
Andra menggeleng, dia masih menangis, di ciumnya tangan Viona yang dia genggam erat. ”Jangan banyak bicara...kamu akan baik-baik saja! Aku...aku akan menghisap racun ularnya.” Andra menunduk di kaki Viona yang terkena gigitan ular.
Viona menggeser kakinya dengan pelan, menjauhkan dari mulut Andra, ”Ja__jangan! Aku...aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, Dra.”
Andra terdiam. ”Lalu aku harus bagaimana, Vi? Aku juga tidak ingin membiarkan kamu seperti ini...aku tidak kamu kenapa-kenapa...,” ucapnya, wajahnya sangat sedih.
”Apa kamu bertanya pada mereka kemana perginya Sania?” tanya Pak imam pada Ali.
”Iya. Ali bertanya pada ibunya, katanya, beliau juga tidak tahu kemana perginya Sania. Beliau hanya bilang kalau Sania sedang pergi ke rumah temannya.” jawab Ali.
”Apa perlu Ali lihat Sania di rumahnya Nia?” tanya Ali.
”Ti__tidak usah, Li.” cegah Viona.
”Iya, pergilah lihat Sania di rumahnya Nia. Kalau tidak ada di rumahnya Nia, cari dia di rumahnya Dion.” titah Andra.
Ali melihat papanya. Pak imam mengangguk.
”Baiklah! Viona, kamu harus bertahan sampai aku datang. Ok!” pinta Ali. Dia bergegas keluar dari rumah.
Pak imam merasakan sesuatu hawa yang mencoba menembus pagar yang di buatnya. Selama ini, beliau tidak pernah membuat pagar di siang hari. Beliau hanya membuat pagar di malam hari saja, ketika hendak tidur.
Tetapi, dengan kejadian barusan, membuat pak imam harus berwaspada, jadi beliau memagari rumahnya di siang hari juga.
Pak imam melangkah keluar dari kamar Ali, beliau pergi ke luar rumah, di belakang rumahnya. Beliau ingin melihat siapa yang ingin menembus pertahanannya, di siang bolong begini! Beliau terkejut melihat seekor ular emas cobra yang berdiri tinggi dan melebarkan lehernya, yang berusaha menerobos pertahanan beliau. Ular itu nampak sedih.
”Beraninya mengganggu kediaman ku!” ancam Pak imam. Beliau mengangkat tangan kanannya dan memutar telapak tangannya dua kali, ada cahaya api yang terlihat di atas telapak tangan pak imam tersebut. Beliau siap menyerang ular emas itu.
”Tunggu! Jangan serang saya, Musthofa! Saya mohon! Tolong, buka pagar yang Anda buat Musthofa. Izinkan saya masuk ke dalam rumah Anda. Viona dalam masalah sekarang.” pinta sang ular.
”Apa kamu kira aku akan percaya dengan ucapan mu? Pergilah! Sebelum aku menyerang mu!” usir Pak imam.
”Tidak! Tolong, izinkan saya masuk! Em...kalau tidak, tolong bilang pada Andra untuk meletakkan batu permata yang ada di mainan kalungnya, letakkan di titik gigitan ular.”
Apakah dia wajah wanita ular yang aku lihat dari wajahnya Viona? Dia tampak mengkhawatirkan Viona. Apa aku harus memberinya kesempatan? benak Pak imam.
”Jika kamu membuat ulah di dalam rumah ku, apa konsekuensinya untukmu?” tanya Pak imam dengan tegas.
”Bunuh aku saat itu juga. Aku tidak akan melawan.” ucap sang ular dengan yakin dan tegas.
__ADS_1
Pak imam memadamkan api di telapak tangannya. Beliau mengangkat kedua tangannya, menyentuh udara di depannya. Pagar yang beliau buat di belakang rumahnya, terbuka. ”Masuklah,” titahnya.
”Ah! Terima kasih, Pak imam.” sang ular masuk ke dalam. Dia menunggu pak imam yang sedang menutup lagi pagar yang di buatnya.
”Kamu masih di sini? Pergilah lihat Viona,” titahnya.
”Saya menunggu Anda, Pak imam.”
”Baiklah, ayo masuk!” ajak Pak imam. Beliau melangkah masuk ke dalam rumah. Sang ular mengikuti di belakangnya.
Andra dan Viona mempertajam pendengarannya. Desis ular begitu tajam tertangkap di pendengaran mereka. Andra menghapus air matanya.
”Andra, mereka datang lagi! Kamu...kamu pergilah! Biarkan aku sendiri di sini!” ucap Viona.
”Jangan bodoh, Viona! Apa kamu kira aku akan meninggalkan mu, sendirian? Jika mati, mati bersama!” Andra mengambil pisaunya dan bersiap.
Pak imam sampai di kamar Ali. Sang ular bergegas menghampiri Viona.
”Hiya...!” Andra mengayunkan pisaunya kepada ular itu.
”Andra tahan!” cegah Pak imam. Namun, sudah terlambat, Andra telah mengayunkan pisaunya pada sang ular, tanpa melihat siapa ular tersebut.
Andra dan Viona terkejut melihat cobra emas. ”Hah! Kamu..?”
”Andra, kekuatan mu lumayan kuat! Jika saja aku tidak hati-hati dan cepat menghindar, aku sudah mati terbelah oleh pisau sakti mu itu. Ini saja leher ku tergores.” ucap sang ular.
Andra menarik lagi pisaunya yang berada di leher sang ular. ”Maaf!”
”Gunakan permata yang ada di kalung mu untuk menyerap racun di dalam kaki Viona.” titah sang ular.
”Andra! Cepat lakukan yang di bilang sama ular.” Pak imam mengingatkan Andra.
”Ah! I__iya.” Andra membuka kalungnya. Permata kalung tersebut dia simpan di atas kaki Viona, di bagian titik gigitan ular.
Andra dan Viona terkejut. Batu permata itu benar-benar menyerap racun ular. Mereka melihatnya sendiri darah kotor yang berbaur dengan bisa ular keluar dari titik gigitan ular dan terserap di dalam permata tersebut.
Meskipun permata itu banyak mengisap darah kotor yang berbisa, tapi, tidak membuat permata kecil itu berubah warna. Batu permata berhenti menghisap.
”Ah! Apakah sudah selesai?” tanya Andra, di sela terkejutnya.
”Iya. Batu permata itu hanya akan menyerap racun. Tidak menyerap darah bersih. Jika tidak ada racun yang terdeteksi, permata itu akan berhenti sendiri.” jelas sang ular.
Andra mengambil kalungnya di perhatikan permata itu, ”Kenapa di saat Viona dalam bahaya, permata ini bercahaya?” tanyanya, penasaran.
”Karena di dalam permata itu ada darah Viona. Jadi, di saat Viona dalam bahaya atau masalah, permata itu akan memberitahu mu.” jawab sang ular.
”Dari mana kamu dapatkan darahnya Viona?” Andra semakin penasaran. Namun, tiba-tiba di matanya terbayang saat seorang Wanita menubruk Viona. Dan saat itu tangan Viona terluka.
”Racun sudah keluar dari tubuh Viona. Tinggal obati saja luka luarnya agar tidak membekas.” ucap sang ular.
”Siapa kamu sebenarnya? Kenapa di saat Viona di serang ular kamu tidak datang melindunginya? Bahkan di saat aku terkena gigitan ular juga, kamu tidak datang menolongku. Kamu sengaja?” tanya Andra.
__ADS_1
Sang ular merasakan sakit pada perutnya. ”Maaf, aku harus pergi sekarang!” sang ular menghilang. Tapi, dia kembali lagi. Dia tidak bisa keluar. ”Pak imam, aku tidak bisa kembali, terhalang dengan kekuatan mu. Aku harus pulang sekarang.” sang ular terlihat cemas.
”Maaf, aku tidak memperhatikannya.” Pak imam membuka kekuatannya. ”Pulanglah!” titah Pak imam pada sang ular.
”Terima kasih, Pak imam.” sang ular kembali menghilang.
Pak imam kembali mengunci kekuatannya. ”Alhamdulillah! Viona kamu sangat beruntung Nak. Sekarang tinggal mengobati luka luar mu saja. Kamu istirahat lah. Andra, jaga Viona. Bapak pergi melihat Anisa dan ibunya dulu.”
Viona dan Andra tersadar. ”Ah, iya. Anisa... tunggu Pak imam.. aku ikut.” ucap Andra dan Viona.
”Tidak usah, kamu istirahat saja, Nak. Dan Andra, jagalah Viona. Lagi pula, mungkin saja saat ini kebencian Anisa pada Viona semakin besar.” ucap Pak imam.
Andra dan Viona saling memandang, mereka mengerti. ”Baiklah, Pak imam.” ucap keduanya.
Pak imam keluar dari kamar Ali.
Andra memeluk tubuh Viona sepeninggal pak imam. ”Vi...sumpah! Aku sangat ketakutan tadi...” Dia mencium kening, pipi kiri, kanan dan terakhir bibir Viona. Dia meluapkan kekhawatirannya pada ciumannya tersebut.
Viona membalas ciuman bibir Andra. Lalu dia melepaskan tautan bibir mereka. ”Sudah, Dra. Bukankah kamu sangat yakin sekali aku akan sembuh? Lalu, mengapa kamu takut di saat kamu merasa yakin?”
”Vi, aku hanya manusia biasa. Wajarlah, ada rasa yakin dan takut sekaligus yang hadir menyelimuti ku,” jawabnya.
”Iya. Aku tahu kok apa yang kamu rasakan. Itu juga yang aku rasakan saat kamu di gigit ular. Dra, kamu terlalu menekan tubuhku. Bisa lepaskan pelukan mu sekarang?”
”Maaf,” Andra menarik dirinya, ”Aku akan membalut kan salep luka luar untuk kaki mu. Kamu istirahat lah. Aku akan menjaga mu di sini...”
”Iya.” Viona memejamkan mata. Dalam pikirannya, dia sedang memikirkan ular cobra emas.
Andra mengambil obat salep dan mengolesinya pada luka Viona. Kemudian, dia mengambil tikar tipis dan menggelarnya di lantai. Dia juga mengambil bantal lalu, dia berbaring di lantai. Pisaunya, dia simpan di bawah bantal.
...
Di kamar Anisa.
”Anisa sangat ketakutan sekali, Pa. Mama takut akan mengganggu mentalnya.” ibu Ali khawatir, melihat Anisa yang sedang tidur.
”Tidak apa-apa. Anisa akan baik-baik saja. Mental dan fisiknya sangat kuat.” sahut Pak imam.
”Bagaimana dengan Viona, Pa? Apa Sania sudah datang mengobatinya? Mama sangat khawatir kalau begini terus, Pa.” ibu Ali berwajah sedih.
”Sabar, Ma. Semuanya pasti akan berlalu. Cobaan ini begitu kuat, jadi, kita juga harus kuat menghadapinya.” bujuk pak imam.
”Sania belum datang. Tetapi, Viona sudah baik-baik saja sekarang. Ada seekor ular yang menolongnya.” ucap Pak imam.
”Syukurlah!” perut ibu Ali keroncongan. ”Hah karena kejadian ini, kita sekeluarga belum makan siang. Perut Mama sudah lapar. Tapi, Mama takut pergi ke dapur sendirian. Mama juga tidak mau meninggalkan Anisa sendiri. Mama juga tidak mau makan sendirian.” keluh ibu Ali.
Pak imam tersenyum, ”Aku akan ambilkan makanan untuk Mama. Mama makanlah saja dulu. Papa, akan makan setelah Ali datang dan Anisa, juga Viona terbangun dari tidur,” ucapnya.
”Baiklah! Mama sudah sangat lapar sekali, jika tidak terlalu lapar, Mama akan menunggu semuanya baru makan. Maaf, Papa. Mama merepotkan Papa mengambil makanan ke dapur.” sesal ibu Ali.
Pak imam tersenyum, ”Tidak apa-apa, Ma. Melayani istri sendiri tidak dilarang. Lagi pula, bukan hanya kali ini Papa melayani Mama. Di saat Mama sakit, Mama hamil, dan sehabis melahirkan kan Papa yang melayani Mama. Jadi, Mama jangan merasa bersalah seperti itu,” tuturnya. Beliau mencium kening sang istri sebelum keluar dari kamar.
__ADS_1
Ibu Ali tersenyum melihat punggung suaminya yang sudah menghilang di balik pintu.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur memiliki suami yang pengertian seperti suamiku ini. Terima kasih, ya Allah, Engkau memberiku suami yang penyayang. benak ibu Ali.