
Di rumah Ali.
Rupanya Ali hanya tinggal berdua bersama ibunya. Mereka tinggal di rumah sederhana yang terbuat dari papan. Berlia sangat di sayang oleh Ali dan ibunya Ali.
Seiring berjalannya waktu, Berlia tumbuh besar di kediaman Ali. Dan Ali menyukai Berlia.
Ali mengutarakan perasaannya pada Berlia. Berlia menerima Ali dengan hati lapang. Mereka menikah. Pernikahan mereka juga sederhana. Berlia menutupi identitasnya dari Ali dan ibunya.
Perjalanan cinta dan rumah tangga mereka berdua berjalan dengan bahagia. Namun, di saat Berlia tengah hamil lima bulan, di usia pernikahan yang baru berjalan hampir satu tahun itu, petaka datang menghampiri rumah tangganya.
”Ade, ayo ikut kakak. Kita sudah tidak punya waktu lagi.” ucap Ali dengan gemetar dan ketakutan.
Sang ibu dan Berlia bingung melihat Ali. Ali baru saja datang dan berbicara tidak jelas dan ketakutan.
”Ada apa Nak? Kenapa kayak orang kesetanan.” ucap sang ibu.
”Ibu, ibu juga harus ikut Ali. Kita bertiga harus pergi sekarang, kita harus tinggalkan rumah ini.” ucap Ali lagi.
”Ada apa sih Mas? Kok, Mas bicara sambil ketakutan dan melihat ke belakang terus? Ada apa?” Tanya Berlia penasaran.
”Ibu, Berlia, Mas gak ada waktu untuk menjelaskan sekarang. Ayo kita pergi dulu, kita keluar lewat pintu belakang saja” ucap Ali. Dia mengunci pintu depan dan mematikan lampunya.
Ali memegang tangan istrinya dan ibunya, membawa mereka keluar dari rumah. ”Ayo cepat Ibu, Berlia, kita masuk ke dalam hutan.” ucap Ali.
Berlia dan sang ibu yang tidak tahu apa-apa menurut saja. Meraka berjalan dengan cepat meninggalkan rumah. Mereka masuk ke dalam hutan yang ada di belakang rumah mereka.
”Itu rumahnya Ali! Wanita yang bernama Berlia ada di dalam, dia adalah istrinya Ali!” tutur salah satu warga. Suaranya yang keras terdengar di telinga Ali, Berlia, dan ibu Ali.
Ali, sang ibu dan Berlia berhenti sejenak saat mendengar suara itu. Mereka bersembunyi di balik rumput yang tinggi, melihat siapa saja tamu yang datang kerumahnya.
”Ketuk pintunya!” titah seseorang.
Berlia terkejut, dia tidak menyangka kalau Genta mencarinya sampai masuk di desa. Tapi, bagaimana dia tahu dirinya ada di desa ini?
”Sepertinya tidak ada orang Tuan!” lapor anak buah Genta, saat ia mengetuk tidak terdengar sahutan. Dia mengintip dari celah dinding, ”Gelap! Tidak ada cahaya, mungkin mereka sedang keluar.” lapor sang anak buah lagi.
”Tidak mungkin! Ada hawa Berlia di sini. Dobrak pintunya!” titah Genta.
”Baik, Tuan.” Mereka mendobrak pintu rumah Ali.
*
*
Ibu Ali terkejut melihatnya, ”Ya Allah, siapa mereka? Mereka merusak rumah ku.” Ia ketakutan.
”Kenapa mereka mencari mu, Berlia? Apa kamu mengenal mereka?” Tanya sang ibu dengan suara pelan, seperti tengah berbisik pada Berlia.
”Apa kamu pernah membuat mereka terluka? Atau pernah membuat masalah dengan mereka? Mereka sepertinya sangat marah padamu.” sambung Ali, ia berbicara dengan pelan pada Berlia.
Berlia bingung untuk menjawab. Apa yang harus dia katakan? Apakah dia harus bilang kalau orang itu dan dirinya adalah siluman ular?
”Mas, Mas tahu darimana kalau mereka mencari Berlia? Yang bernama Berlia di sini kan ada banyak Mas.” ucap Berlia.
”Mas mengutip pembicaraan mereka saat di warung. Mas tadi ingin membeli kan mu opor ayam sebelum pulang. Tapi...pas singgah di warung pinggir jalan di simpang tiga itu, mereka sedang membicarakan seorang gadis yang ciri-cirinya sama persis seperti kamu.”
Ali menjeda ucapannya.
”Mas penasaran. Sambil memesan opor ayam, Mas mendengarkan pembicaraan mereka. Dan saat Mas mau pergi dari sana, Mas mendengar salah satu warga di desa ini memberitahu kalau dia mengenal gadis itu. Dan itu adalah kamu, istriku. Mereka berencana menemui mu. Mereka punya niat jahat padamu. Mas buru-buru pulang, Mas gak ingin terjadi sesuatu padamu.” ungkap Ali.
”Siapa mereka Berlia?” Tanya sang ibu lagi, ia benar-benar penasaran dengan orang itu.
”Uhm...dia... dia adalah musuh dari orang tuaku__”
”Jadi, dialah orang yang kamu ceritakan itu?” pangkas Ali.
Berlia mengangguk. Berlia terkejut, Genta menggunakan penciuman ularnya untuk mengetahui keberadaannya sekarang.
__ADS_1
”Ayo kita pergi dari sini, sebelum mereka menemukan kita.” ucap Berlia.
”Iya, ayo.” sahut sang ibu dan Ali.
Namun, di saat mereka hendak pergi, sudah terlambat. Sang ibu menjerit kesakitan saat kakinya di patuk oleh seekor ular. ”Aduh, kakiku di patuk ular.” jerit ibu Ali.
”Ibu? Bagaimana ini?” Ali menjadi panik.
Berlia sangat marah. Tatapan matanya tajam membesar, di ambilnya ular yang mematuk ibu mertuanya dan di bunuh nya ular itu.
Berlia mengeluarkan permata nya miliknya dan menempel kan permata itu di bekas gigitan sang ular. Racun ular terserap di permata itu.
Sang ibu dan Ali sama-sama terkejut. Dari mana Berlia mendapatkan permata itu? Siapa sebenarnya Berlia ini?
”Mas, Mas papah ibu berjalan. Racunnya sudah keluar dari kaki ibu, setelah kita masuk ke hutan, Berlia akan mencarikan daun untuk mengobati kaki ibu. Ayo kita pergi dari sini.” ucap Berlia. Permata itu dia simpan kembali.
Ali dan sang ibu penasaran. Di mana Berlia menyimpan permata itu? Permata itu datang dan hilang begitu saja.
Sang ibu menjadi takut saat pikirannya menemukan fakta, jangan-jangan Berlia adalah manusia ular.
Sang ibu menarik tangan Ali, ”Jangan dekat padanya Ali! Ayo kita pergi dari dia,” ucapnya ketus.
Berlia dan Ali sama-sama terkejut. Ada apa dengan ibu?
”Bu, ada apa Bu? Berlia adalah istriku dan anak yang di kandungnya adalah anakku. Mengapa Ali harus menjauh dari istri sendiri?” Tanya Ali.
”Pokoknya kita harus pergi jauh dari wanita ini.” ucap ibu Ali dengan suara tinggi menunjuk Berlia.
”Tapi kenapa Bu?”
Suara tinggi mereka menjadi perhatian Genta dan anak buahnya. Mereka mendatangi asal suara keributan tersebut.
”Dia...dia pasti bukan manusia biasa! Dia pasti manusia siluman, Ali!” ucap ibu Ali.
Berlia terkejut, ibu mertua menebak dengan benar siapa dirinya.
Ibu Ali, Berlia dan Ali terkejut dengan hadirnya Genta yang memberitahukan identitas Berlia.
”Apa, dia siluman ular?” Tanya sang ibu pada Genta. Tangannya menunjuk Berlia.
Ali melihat Berlia, Berlia sedang ketakutan, tubuhnya gemetar. Dengan langkah cepat, Ali mengambil tangan Berlia dan menariknya, mengajaknya berlari.
”Nak, hentikan! Kembali! Dia bukan manusia! Ali, kembali anakku!” teriak sang ibu.
Namun, Ali terus berlari sambil memegang tangan istrinya. Mereka masuk ke dalam hutan. Hari sudah mulai masuk malam.
”Kejar mereka!” seru Genta pada anak buahnya.
”Baik, Tuan.” Mereka berlari mengejar Berlia dan Ali.
”Dasar anak bodoh! Sudah tahu wanita itu siluman, masih saja melindunginya!” omel sang ibu dengan kesal.
*
*
Di dalam hutan.
”Kita berhenti dulu di sini. Aku sudah tidak kuat berlari. Aduh, perutku!” keluh Berlia.
Mereka berhenti berlari. Berlia berpegangan pada batang pohon, sebelah tangannya mengelus perutnya.
”Ada apa? Kenapa perut mu? Kamu baik-baik saja? Kita harus segera pergi dari sini jika tidak, mereka akan menemukan kita. Aku akan menggendong mu.” ucap Ali, ia bersiap menggendong Berlia.
”Mas, Mas gak takut pada Berlia?” Tanya Berlia.
Ali menggendong tubuh Berlia, ”Kamu ini istriku, apa yang harus aku takutkan?” ucapnya.
__ADS_1
”Yang di katakan ibu dan orang itu benar Mas. Aku__”
Ali membungkam mulut Berlia dengan mencium bibirnya, ”Kamu tetaplah Berlia, istriku. Bukan siluman ular,” ucapnya kemudian setelah melepas ciumannya.
”Terima kasih Mas.” ucap Berlia.
Ali kembali berjalan sambil menggendong Berlia.
”Kalau Mas gak kuat, turunkan aku saja Mas. Aku bisa berjalan sendiri.” ucap Berlia.
Ali mengabaikan ucapan Berlia, ia tetap menggendong tubuh Berlia.
”Orang itu...maksudku si Genta, apakah dia juga siluman ular?” Tanya Ali.
”Iya. Adikku, Grenia, ayahku dan ibuku, di bunuh oleh dia. Dan aku berpisah dengan kakak ku. Aku tidak tahu bagaimana keadaan kakak ku sekarang dan aku tidak tahu apakah kakak ku itu masih hidup atau tidak?” ungkap Berlia.
”Kita masuk ke goa itu saja Mas.” ucap Berlia.
Ali melihat goa yang di tunjuk Berlia. Mereka masuk ke dalam goa. Ali menaruh tubuh Berlia di atas bebatuan dengan pelan.
”Kenapa dia ingin membantai seluruh keluarga mu?” Tanya Ali, ia masih penasaran dengan kisah hidup Berlia.
”Dia adalah saudara tiri dari ayahku. Dia tidak terima saat kakekku memberikan tanggung jawab istana pada ayah ku. Dia pun terpaksa mengakui ayahku sebagai raja, namun, diam-diam dia menyusun rencana licik untuk merebut tahta. Dia pun berkesempatan pada hari, di mana aku dan Mas bertemu pertama kalinya itu. Di hari itu, Genta membantai keluarga ku.” ungkap Berlia.
”Lalu, bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?”
”Maaf Mas, karena aku, Mas harus mengalami ini. Sebaiknya, Mas pergi saja. Tidak usah pedulikan aku. Aku akan baik-baik saja.” ucap Berlia.
”Apa? Kamu menyuruh ku pergi?” Ali bernada marah.
”Iya Mas, aku dan anakmu akan baik-baik saja. Mas pergilah, kembali pada ibu.” ucap Berlia.
”Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mungkin meninggalkan kalian berdua, kamu dan anakku. Aku suami mu sudah sewajarnya melindungi kamu dan anak kita. Jangan usir aku...”
Berlia beranjak berdiri. Ia keluar sedikit ke mulut goa. Dia tadi melihat ada tumbuhan obat untuk mengobati luka gigitan ular. Dia mengambilnya. Ali memperhatikan Berlia.
Berlia masuk kembali ke dalam goa, yang sebelumnya dia menutup mulut goa tersebut dengan ilmunya agar tidak terlihat.
”Mas, ini adalah obat. Mas haluskan saja dan tempelkan pada luka kaki ibu.” ucap Berlia, ia memberikan daun itu pada Ali.
Ali menolaknya, ”Tidak! Aku tidak akan kemana-mana! Jika mati, kita mati bersama. Jika hidup, kita hidup bersama. Aku tidak akan meninggalkan mu,” ucapnya.
Berlia tersenyum, dia mendekati Ali. Berlia menciumnya, Ali membalas ciuman istrinya. Tanpa di sadari oleh Ali, Berlia membius Ali dengan sihirnya. Mata Ali perlahan terpejam.
”Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa melakukan ini.” ucap Berlia, ia menghafal wajah Ali di matanya.
Berlia menyimpan daun obat di tangan Ali. Ia mencium kening Ali dan meninggalkan sebuah kalung untuk Ali.
Berlia pergi dari goa itu dari arah lain dengan mengubah dirinya menjadi seekor ular.
”Nyonya? Kenapa Anda menangis? Apakah Anda merindukan tuan?” Tanya sang pelayan.
Berlia tersadar dari lamunannya. Ia menghapus air matanya yang tidak sengaja keluar dari matanya, ”Iya, aku merindukan Ali. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya setelah empat bulan berpisah.”
”Kenapa Nyonya tidak mendatangi tuan saja? Tuan juga pasti merindukan Nyonya.” usul sang pelayan, menghibur Berlia.
”Ibu mertuaku pasti tidak akan suka jika aku kembali. Dia pasti membenci ku.” ucap Berlia dengan sedih.
”Tapi Nyonya...sebentar lagi Nyonya akan melahirkan, bukan kah tuan harus tahu?”
”Dia tidak perlu tahu. Jika ada jodoh, kami akan bertemu lagi tanpa sengaja. Tapi...untuk sekarang kita harus waspada pada Genta.”
”Iya Nyonya benar. Untung saja, serangan anak buah Genta waktu itu tidak berakibat fatal pada bayi dan Nyonya. Sekarang, mereka tahu Nyonya sedang hamil, cucu asli penerus keturunan raja. Mereka akan semakin mencari keberadaan Nyonya dan akan membunuh calon pewaris juga membunuh Nyonya.” tutur sang pelayan.
”Untuk itulah kita harus tetap berhati-hati.” sahut Berlia.
"Sebelum itu terjadi, aku akan mencegahnya. Setelah anak ini lahir, aku akan berikan pada kakak sepupunya, Viona, anak dari kakak ku, Maria. Mereka pasti akan melindungi anakku." benak Berlia.
__ADS_1