
Di rumah pak imam.
Andra, pak imam, dan Ali tidak langsung masuk ke dalam rumah, mereka duduk di teras rumah sambil menunggu waktu shalat Isya tiba.
Andra terus saja terdiam memikirkan tentang fitnahan yang di dengarnya dari tiga wanita yang di mesjid tadi.
Apakah nama ku dan nama Viona sudah jelek di kalangan masyarakat? Apa sebaiknya aku dan Viona kembali ke rumah saja? Jika kabar ini di dengar oleh pak RT dan pak RW, bukan kah nanti mereka akan ikut mengucilkan pak imam? Karena pak imam menampung kami di rumahnya.
Ini baru saja beberapa jam kami berada di sini...kabar itu cepat sekali tersebar, seperti angin yang bertiup, seluruh permukaan akan terkena hembusan angin tersebut. Dion...dialah yang tahu aku dan Viona tinggal di sini. benak Andra. Dia menghela nafas.
Andra dan pak imam menyadarinya.
”Bang, dari tadi Abang dia....m saja. Abang mikirin apa? Masih memikirkan ucapan para gadis-gadis tadi?” tanya Ali.
”Ucapan apa yang sudah kamu dengar Nak Andra?” tanya pak imam.
”Itu, Pa...”
”Tidak ada Pak imam. Ali hanya asal menebak.” pangkas Andra. ”Em...aku masuk ke dalam dulu.” Andra berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Kini tinggal Ali dan bapaknya yang berada di teras.
”Kamu percaya dengan ucapan mereka?” tanya pak imam pada anaknya, Ali.
”Tidak semuanya, Pa. Pa, Ali kasihan sama abang Andra. Kenapa kita tidak beritahu saja pada Andra kalau Viona itu memang ada hubungan nya dengan siluman ular?”
”Andra akan mengetahuinya dengan cara Allah sendiri. Viona juga tidak tahu jika dia punya hubungan dengan siluman ular.”
”Lalu, bagaimana dengan ibu dan Anisa kalau mereka mendengar kabar burung ini, Pa.” Ali menatap papanya dengan serius.
”Bapak yang akan jelaskan pada ibumu dan adikmu.”
”Iya, Pa.” jawab Ali. Diam terdiam, seakan memikirkan sesuatu.
Di dalam rumah.
Andra pergi mencari Viona di dapur. Tapi, dia tidak menemukan Viona, ibu Ali, maupun Anisa di sana. Dia kembali ke depan. Dia bertemu dengan Anisa yang baru keluar dari kamar.
”Abang Andra, sudah pulang dari masjid?” tanya Anisa.
”Iya, bapak dan Ali ada di depan, di teras rumah. Em...Anisa, Viona apa ada di dalam kamar?”
”Kakak Viona masih berada di musholah. Setelah selesai shalat, Viona ingin melihat-lihat buku-buku yang ada di rak musholah.”
”Musholah?”
”Iya, bapak mendirikan musholah di rumah ini. Tempatnya ada di lantai dua rumah ini, dan untuk ke sana, Abang Andra bisa lewat pintu samping kiri, yang ada di teras rumah.” jelas Anisa.
”Oh, terima kasih. Aku pergi cari Viona dulu.”
”Iya, Bang.” sahut Anisa.
Andra kembali ke teras, dan terus berjalan ke sebelah kiri teras rumah.
”Loh, Andra, mau kemana?” tanya pak imam.
”Pak imam, Andra akan melihat Viona di musholah. Andra pergi dulu.” pamitnya. Dia melanjutkan langkahnya.
”Sepertinya, abang Andra masih memikirkan fitnahan tersebut.” ucap Ali.
”Iya...”
”Tapi...siapa ya Pa, yang tega menyebar fitnah itu di warga? Padahal, semuanya belum terbukti benar.” Ali penasaran.
”Tidak perlu memikirkannya. Cepat maupun lambat, akan ketahuan siapa yang membuat fitnah untuk Viona dan Andra. Tujuan mereka sebenarnya hanyalah Viona. Dan mereka ingin Andra menjauh dari Viona.” jelas pak imam.
__ADS_1
”Bapak benar. Selama ini, kampung aman-aman saja. Tapi, sekarang...sudah di ricuh kan dengan siluman ular. Oh, iya. Tadi, Ali melihat paman nya Dion mengajak Papa berbicara. Maaf, Pa...bukannya Ali ingin ikut campur urusan orang tua. Ali sangat tahu benar, kalau pamannya Dion tidak menyukai Papa. Tapi...tadi malah ajak Papa bicara, apa yang paman katakan, Pa?” Ali serius melihat papanya.
”Tidak ada yang penting. Suara tahrim di masjid sudah berbunyi. Panggi lah abang mu, kita akan ke masjid sebelum adzan di kumandangkan.” titah pak imam pada Ali.
”Iya, Pa.” Ali beranjak berdiri. Dia pergi ke musholah.
..... ..
Di musholah, rumah pak imam.
”Astaghfirullah! Kok, segitunya yah, Dra. Siapa ya kira-kira yang menyebarkan fitnahan tentangku? Apa menurut mu, Dion? Hanya Dion yang tahu kita akan tinggal di rumahnya pak imam sementara waktu.” Viona serius melihat Andra.
Andra menghela nafas. ”Aku juga berpikir begitu. Tapi..aku sedikit mengenal dia. Dia orangnya tidak gegabah. Apa mungkin...” Andra menggantung ucapannya. Dia dan Viona saling pandang.
”Nia?” ucap keduanya.
Ali yang mendengar percakapan mereka, terkejut.
”Lalu, menurut mu bagaimana? Kita baru saja menginjakkan kaki di sini beberapa jam yang lalu, apa kita harus kembali ke rumah mu?” tanya Viona.
”Aku di lema Vi..jika ingin tinggal, nama baik pak imam dan sekeluarga akan buruk di mata warga. Jika kembali di rumah, aku takut, aku tidak bisa melindungi mu sendirian.”
Ali yang mendengar ucapan Andra tersenyum. Andra mengkhawatirkan keluarganya. Dia kembali ke teras, menemui ayahnya.
”Dra, target mereka adalah aku. Bagaimana kalau aku akan cari tempat tinggal sendiri. Lagi pula, ada ular cobra emas yang akan menolong ku nanti.”
”Tidak! Aku tidak setuju! Ular emas itu tidak bisa akan melindungi mu terus. Kayak tadi sore...Vi...jangan berpikir kamu akan hadapi ini sendirian. Aku pacarmu, kita hadapi sama-sama.”
”Tapi, Dra...” ucapan Viona terhenti dengan pelukan erat Andra. Viona dapat merasakan tubuh Andra yang gemetar.
”Aku tidak mau mengambil resiko, membiarkan mu dalam masalah. Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku benar-benar tidak mau kehilangan kamu.” ucap Andra.
Tubuhnya Andra gemetar. Apakah dia benar-benar takut? Takut aku kenapa-napa? Bentuk cintanya aku suka, dia menghargai ku, melindungi ku, menjaga ku. Aku bersyukur di saat jatuh cinta, aku bertemu dengan Andra. benak Viona.
Viona membalas pelukan Andra, dia tidak ingin pria itu khawatir terus padanya. ”Baiklah! Maaf, aku sudah membuat mu khawatir.” ucapnya.
Viona mengangguk. ”Saat aku mengambil mukenah di rak, aku melihat buku ini. Karena penasaran, selesai sholat aku mengambilnya dan membacanya.” tuturnya.
”Lalu? Kamu menemukan sesuatu?”
”Belum baca semua, baru sekitar empat lima lembar yang ku baca, kamu sudah datang. Hanya saja...siluman itu memang ada, mereka tinggal di dunia ini bersama kita. Hanya, keberadaannya tersembunyi. Mereka juga punya kerajaan besar, pada waktu itu.” Viona memaparkan sedikit tentang siluman ular yang di bacanya dari buku pada Andra.
.. ..
Di teras rumah.
”Loh, datang sendirian? Mana abang mu?” tanya pak imam.
”Abang...dia masih bicara dengan Viona. Sebentar lagi pasti datang. Kita tunggu saja Pa.” jawab Ali, dia kembali duduk di kursinya. Dia kembali mengingat percakapan Andra dan Viona.
”Pa, selain Andra memikirkan tentang fitnahan itu, dia juga memikirkan tentang kita sekeluarga.” ungkap Ali.
”Kamu bukannya memanggil abang mu, malah mengutip pembicaraan mereka.”
Ali merasa bersalah, ”Gak sengaja kedengaran di telinga Ali, Pa.”
”Sudah jangan bahas lagi. Itu Andra dan Viona sudah turun.” ucap pak imam dengan pelan.
Ali menoleh ke sebelah kirinya. Benar saja, Andra dan Viona berjalan menghampiri mereka.
”Bang, sudah turun? Ayo Bang, kita ke masjid.” ajak Ali. Setelah Andra dan Viona sampai di depan mereka.
”Iya, Viona juga ingin shalat di masjid.” sahut Andra.
”Sebaiknya, kamu shalat di rumah saja Nak Viona bersama ibu dan adik mu.” ucap pak imam.
__ADS_1
”Tapi...” ucapan Viona terhenti saat melihat gelengan kepala Andra. ”Baiklah, Viona akan shalat di rumah saja.” dia menurut.
”Masuklah ke dalam, bilang pada ibu, kami sudah berangkat ke masjid.” kata pak imam.
”Iya, Pak imam.” Viona menurut. Dia masuk ke dalam rumah.
”Ayo, kita berangkat sekarang.” ajak pak imam.
Mereka pergi ke masjid.
.. ..
Di kediaman Nia.
”Nia, apa kamu yang menyebar berita siluman ular pada warga? Kamu bahkan menuduh Andra dan Viona sebagai komplotan siluman ular secara langsung.”
”Tidak, aku tidak berbicara pada siapapun tentang pembicaraan kita waktu itu.” Nia membela diri.
”Kalau bukan kamu, siapa lagi?” tanya Dion, penasaran.
”Mana aku tahu. Yakin, kamu hanya bicara padaku saja tentang Viona? Apa kamu gak melakukan kesalahan dengan sengaja mengatakan pada orang lain, selain aku?” Nia bertanya balik.
”Tidak ada, aku hanya memberitahu sama kamu saja, karena aku memikirkan Andra. Kalau bukan kamu, lalu siapa?” Dion nampak berfikir.
”Lalu, kamu akan melakukan apa untuk ini?” tanya Nia.
”Aku tidak tahu. Selama keluarga pak imam baik-baik saja, tidak mendapatkan teror dari siluman ular, biarkan saja mereka tinggal di sana. Tapi, jika...terjadi sesuatu...aku harus membuat Viona pergi dari sana.”
”Kalau begitu, biarkan saja berita Viona komplotan siluman ular terdengar di telinga para warga. Bukan kah, kalau terjadi sesuatu di rumahnya pak imam, para warga dapat membantu mu kan mengeluarkan Viona dari sana?”
Dion mengangguk. Ucapan Nia ada benarnya. Kekuatan para warga, bahkan pak imam juga tidak bisa mempertahankan Viona tinggal di rumahnya, jika warga mendesak pak imam untuk mengusir Viona.
Nia tersenyum licik, tatapannya menyipit melihat satu arah, seakan melihat orang yang di bencinya.
”Kamu ada benarnya.” Dion meraih gelas tehnya dan menghabiskan minumannya itu. ”Baiklah, aku pergi dulu.” pamitnya.
Nia tersenyum, ”Ok.” sahutnya.
Dion berdiri dan pergi dari rumah Nia.
.. ..
Di masjid.
Para jamaah telah membubarkan dirinya. Kali ini, Ali mengajak Andra untuk tetap berada di dalam masjid untuk menunggu pak imam.
Pak imam sebagai salah satu tokoh yang di hargai di desa mereka ini. Bahkan tetangga desa lain juga, sangat menghargai pak imam. Setelah selesai melaksanakan shalat, selalu saja ada orang-orang yang mengajak pak imam untuk berbicara.
Kadang mereka membicarakan soal pribadi, kadang mereka meminta pendapat pak imam untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.
Andra melihat keluar.
”Kenapa, Bang. Mencari gadis-gadis yang membuat gosip tadi? Abang ingin bertanya pada mereka, darimana mereka mendengar kabar itu?” tanya Ali.
”Kenapa tebakan mu selalu benar, jika menebak apa yang Abang pikirkan?” Andra bertanya balik.
”Gampang, Bang. Ali melihat dari cara pandang Abang yang selalu melihat keluar, memperhatikan gadis-gadis yang lewat.” ucap Ali, sambil tersenyum.
Andra menghela nafas. Dia melihat pak imam telah selesai berbicara dengan orang. Dan sekarang sedang berjalan menghampiri dirinya dan Ali. ”Pak imam kemari. Ayo berdiri.” ajaknya pada Ali.
Ali menoleh, melihat bapaknya. Dia dan Andra berdiri.
”Ayo, Nak, kita pulang.” ajak pak imam.
Ali dan Andra mengangguk.” Iya,” jawab mereka.
__ADS_1
Mereka keluar dari masjid dan pulang kembali ke rumah.