Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 45


__ADS_3

Keesokan harinya, di kantor polisi.


”Baiklah, dari keterangan-keterangan yang sudah kalian berikan, sudah bisa menjadi bukti kejahatan yang di lakukan oleh Nia dan ibunya. Sesegera mungkin kami akan membawa kasus ini ke pengadilan, agar mereka berdua bisa di adili dengan adil,” ucap Pak polisi.


”Saya mau mereka di hukum mati! Tindakan kriminal yang mereka lakukan akan setimpal jika di hukum mati!” ucap Ibu Sania dengan marah.


”Tenang, Ibu. Semua ini akan berjalan sesuai dengan prosedur hukum. Jika di lihat dari kasusnya, hukuman mereka memang tidak ringan,” sahut Pak polisi.


”Apa masih ada hal lain lagi, Pak? Jika tidak, kami boleh pulang sekarang?” tanya Andra.


”Iya. Semuanya sudah selesai. Untuk rumah Nia, masih dalam penyidikan kepolisian. Penyidikan akan berjalan selama tiga hari. Selama dalam masa penyidikan, tidak boleh ada orang yang masuk ke dalam rumah itu.” ucap Pak polisi.


”Baik, Pak. Saya sendiri yang akan menjaga orang-orang untuk tidak mendekati rumah Nia,” ucap Dion.


”Baiklah, kalau begitu... kami pergi dulu, Pak.” pamit Viona.


”Iya. Silahkan,” sahut Pak polisi.


Mereka semua keluar dari ruangan polisi setelah berjabat tangan.


”Viona.” panggil Ibu Sania.


Viona menoleh melihat ibu Sania, ”Ya, Tante. Ada apa?”


Ibu Sania menelan saliva nya. Ia merasa bersalah dan malu pada Viona atas perlakuan buruknya. ”Tante minta maaf. Tante... Tante sudah menuduh mu yang bukan-bukan. Tante sangat menyesal. Maafkan Tante, ya?” ucapnya.


Viona tersenyum. ”Tidak apa-apa. Viona sudah memaafkan Tante. Ini semua juga terjadi karena rasa cemburu Nia padaku, hingga dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Andra,” ucapnya sambil melirik Andra di sampingnya.


”Baiklah, terimakasih sudah memaafkan Tante. Tante pulang duluan,” pamit Ibu Sania.


”Iya Tante. Hati-hati di jalan.” sahut Andra dan Viona.


Ibu Sania telah pergi. Andra dan Viona menghela nafas. Andra menggenggam jemari tangan Viona. Viona membalas menggenggam jemari tangan Andra dengan tersenyum.


”Ayo, kita pulang,” ajak Andra.


”Kita ke pasar dulu... kita belum membelikan keperluan bayi,” sahut Viona.


”Ah, aku hampir lupa pada bayi itu. Iya, ayo kita ke pasar...”


Mereka melangkah pergi.


”Vi...” panggil Dion dari arah belakang Viona dan Andra.


Viona dan Andra menghentikan langkahnya. Mereka berbalik melihat Dion.


Dion menatap jemari tangan Andra dan Viona yang saling menggenggam erat. Viona menyadari tatapan mata Dion, ia melepaskan genggamannya namun, Andra semakin mengeratkan genggamannya. Tidak ingin melepaskan tangan Viona.


”Vi, bolehkah aku bicara berdua sama kamu? Sebentar saja,” ucap Dion memelas. Wajahnya penuh penyesalan menatap Viona.


Mau bicara apalagi dia sama Viona? Mau katakan menyesal? Mau katakan sudah salah paham? Mau menyatakan perasaannya lagi setelah Viona memaafkan dirinya nanti? Aku tidak mau. benak Andra.


”Maaf Dion, kami harus segera pergi. Orang rumah sudah menunggu kami,” ucap Andra.


”Dra. Izinkan aku bicara dengannya sebentar, ya?” ucap Viona pada Andra.


Andra menelan saliva nya dengan susah. Ia tidak rela membiarkan Dion dan Viona berbicara berdua. Dia tidak senang, dia cemburu. Dia melepaskan tautan jemari tangan mereka. Ia mengangguk sekali.


Andra pergi ke halaman parkir polisi. Dia duduk di atas motornya memperhatikan Dion dan Viona.


”Kamu ingin bicarakan apa?” tanya Viona.

__ADS_1


”Vi. Aku minta maaf sama kamu. Aku...aku sudah salah paham padamu, membencimu, dan menuduh mu sembarangan. Aku...”


”Aku sudah memaafkan kamu. Tidak perlu lagi kamu memikirkan hal ini. Ok? Kalau tidak ada hal lain lagi... aku pergi dulu,”


Viona balik badan dan hendak melangkah. Dion menahan tangannya. Viona berbalik melihat tangan Dion yang memegangi nya.


Ia beralih melihat si pemilik tangan tersebut. Wajah Dion tampak penyesalan dan sangat sedih, dari matanya juga ia mengharap sesuatu.


”Vi... aku... aku masih sayang kamu. Aku... mau kah kamu menerima ku? Aku tulus padamu... jangan menolak ku karena kesalahan yang sudah aku lakukan padamu. Vi, berikan aku kesempatan untuk bersama mu...”


Viona menarik tangannya dengan pelan. ”Dion... aku minta maaf, aku... kamu sudah tidak punya kesempatan lagi. Aku dan Andra sudah bersama selama ini,” ungkapnya.


”Vi... kamu tidak membohongi ku, kan? Kamu dan Andra hanya berteman saja, kan? Tidak ada hubungan khusus iya, kan?” Dion kembali mengambil tangan Viona. ”Vi, aku sungguh-sungguh padamu... tolong jangan lihat kesalahan ku sebelumnya. Jika kamu mencintai ku, katakan saja cinta. Jangan gunakan Andra alasan mu menolak ku.” kekeh Dion.


Viona menggeleng. Ia kembali melepaskan tangannya dari tangan Dion.


Dugaan ku benar, kan? Dia gak malu ya! Sudah menyudutkan Viona, sekarang malah menyatakan cinta. benak Andra.


”Viona dengan ku memang sudah berpacaran. Hubungan kami sudah terjalin hampir enam bulan ini. Kamu percaya atau tidak, itu urusan mu,” ucap Andra. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi melihat Dion yang menahan Viona untuk pergi. Akhirnya, ia lah yang mendatangi mereka berdua.


Dion dan Viona melihat Andra. Wajah Andra sangat tegas melihat Dion.


Andra memegang tangan Viona. ”Sayang. Ayo kita pergi.” Ia melangkah sambil menarik tangan Viona.


”Vi...!” panggil Dion dengan lirih. Viona mengacuhkannya.


Di parkiran motor.


”Dra, pergelangan tangan ku sudah sakit... kamu menggenggamnya sangat kuat,” keluh Viona.


Andra tersadar. Ia melepaskan tangan Viona. Viona mengelus pergelangan tangannya.


”Gimana rasanya di tembak sama pria lain?” tanya Andra ketus.


Apakah Andra sedang cemburu? benak Viona.


”Kamu gak sedang cemburu kan, Dra?” goda Viona.


”Vi...”


Pft! Viona menahan tawa melihat ekspresi wajah Andra. ”Ehm. Aku sih... rasa bahagia. Ternyata, masih ada yang menyukai ku. Aku merasa tersanjung... jika aku dan kamu belum be__” ucapannya terhenti saat bibir Andra mendarat di atas bibirnya.


”Dra, ini di depan umum! Malu tahu!” protes Viona setelah Andra melepaskan ciumannya. Viona memukul dada Andra dengan pelan.


”Makanya, jangan memancing ku! Ayo naik, kita pergi ke pasar membeli perlengkapan bayi baru pulang ke rumah.” ajak Andra.


Viona tidak jadi mendebat ucapan Andra. Mereka harus segera pergi ke pasar dan kembali pulang ke rumah. Viona naik di atas motor. Andra menjalankan motornya.


Dion sangat cemburu melihat Andra dan Viona. ”Kalau saja aku tidak berburuk sangka pada Viona... mungkinkah yang berpacaran dengan Viona adalah aku bukan Andra? Bodohnya aku...,” gumamnya lirih.


*


*


*


Di pasar.


”Dra, baju dan celana bayi ini...bagus gak?” tanya Viona pada Andra sambil mengangkat baju bayi tersebut memperlihatkan pada Andra.


”Em... bagus! Ambil beberapa warna,” jawab Andra. Viona mengangguk. Ia mengambil beberapa lembar dalam satu warna. Setelah membayar baju tersebut, mereka kembali berjalan mencari kebutuhan lain dari si bayi.

__ADS_1


”Itu... kita lihat-lihat botol dot dan susu bayi.” ucap Andra sambil menunjuk toko yang menjual perlengkapan mandi bayi, susu bayi dan botol dot bayi. Dan juga berbagai macam bedak dan kasur bayi. Viona melihat toko tersebut.


”Wah, sepertinya lengkap di situ. Ayo pergi. Sepertinya, ini toko terbesar di pasar ini ya, Dra?” ucap Viona. ”Eh... tunggu!” cegahnya.


”Kenapa?” tanya Andra dengan bingung.


”Itu... apakah... uang mu cukup?” tanya Viona ragu-ragu.


Andra tersenyum sambil membelai kepala Viona. ”Tentu saja. Jangan takut, uang penghasilan ku selema dua tahun, masih bisa menghidupi kita selama satu tahun. Jangan ragu, ayok ke sana.” ajak Andra. Ia menggandeng tangan Viona dan pergi ke toko tersebut.


”Bukan apa sih, selama hampir enam bulan ini... biaya hidupku kamu yang tanggung. Dan sekarang ditambah lagi dengan seorang bayi. Belum lagi, minggu depan adalah acara 100 harinya ibu. Pengeluaran mu sangat banyak, Dra.” ucap Viona menjabarkan pengeluaran Andra.


”Aku tahu. Aku yang setuju membawa mu ke desa, tentunya aku sudah siap untuk menanggung kebutuhan mu. Itu tanggung jawabku. Masalah bayi ini, anggaplah hutang budi ku pada Berlia karena sudah menolong ku dan menolong mu di saat kita menghadapi masalah. Aku tidak keberatan merawat kamu dan bayi tersebut. Jangan banyak berfikir.”


”Jika seandainya hubungan kita berakhir, apakah kamu tidak akan menyesal karena telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk menghidupi aku dan si bayi?” tanya Viona penasaran. Andra menghentikan langkahnya. Ia menatap netra Viona dengan serius.


”Vi... tolong deh! Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir. Suka duka sudah kita lewati bersama. Hidupku, jiwaku, hatiku, sudah menyatu bersama mu. Kita sudah berkomitmen untuk bersama dan menghadapi cobaan yang ada dengan bersama. Jangan membuatku untuk segera mati, Viona.”


Mata Viona dan Andra saling menatap dengan dalam. Viona dapat merasakan cinta yang begitu besar dari Andra untuknya.


”Aku sudah berjanji akan memperjuangkan hubungan kita apa pun yang akan terjadi nanti. Percayalah padaku. Aku juga sangat mencintai mu,” ucap Viona.


”Pertanyaan ku tadi, hanya umpama kan saja. Tidak berarti apa-apa. Jangan risau!” ucap Viona lagi.


”Hum, jangan bahas yang tidak-tidak lagi dengan ku. Kecuali kamu sudah tidak mencintai ku dan ingin aku segera meninggal, boleh kamu bicarakan padaku.” ucap Andra mengingatkan Viona.


”Iya, Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga tidak ingin kamu meninggalkan aku.”


Andra membelai kepala Viona dan wajah Viona sambil berkata, ”Maaf, aku sudah bicara ketus padaku. Ayo, kita harus segera membeli kebutuhan bayi. Keluarga pak imam pasti sudah menunggu kita.”


Viona mengangguk. Mereka kembali berjalan memasuki toko tersebut.


Viona mengambil perlengkapan mandi bayi, satu set tas bag bedak bayi. Satu set kasur bayi, satu pak pampers ukuran s yang perekat untuk bayi dan membeli botol dot juga susu formula untuk bayi. Selimut bayi dan kaos kaki bayi. Barang-barang tersebut di simpan di atas troli belanja.


”Bagaimana? Apakah masih ada yang kurang?” tanya Andra.


”Tidak. Semua sudah cukup,” jawab Viona.


”Dan kamu? Kamu tidak ingin membeli sesuatu?” tanya Andra lagi.


”Tidak ada,” jawab Viona lagi.


”Kalau begitu... kita pergi ke kasir.” Andra mengambil dompetnya dan memberikannya pada Viona, ” Ini... kamu yang pegang. Aku akan tunggu kamu di luar toko.”


Viona mengambil dompet Andra sambil mengangguk. Viona mendorong troli belanja ke kasir. Andra berjalan keluar toko.


”Ok, semuanya satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah,” ucap Penjaga kasir.


”Oh iya,” Viona membuka dompet Andra. Ia terkejut saat pertama kali membukanya. Ia mengeluarkan uang senilai perbelanjaan nya. ”Ini Mba, uangnya.” Ia memberikannya pada kasir. Kasir tersebut mengambil dan menghitungnya.


”Ok, uangnya pas ya! Ini barangnya. Terimakasih sudah berbelanja di sini,” ucap Penjaga kasir.


”Sama-sama!”


Viona keluar dari toko. Ia melihat Andra berdiri sambil bersandar di dinding toko dengan tangan yang menyilang di atas dada.


Viona cemberut mendatangi Andra. ”Ini dompet mu,” ucapnya ketus. Andra mengambil dompetnya dengan bingung melihat wajah kusut Viona.


Viona segera pergi ke motor. Andra menyimpan kembali dompetnya ke dalam saku celana. Ia menyusul Viona ke motor.


Viona menggantung barang di gantungan motor. ”Cepat nyalakan motor! Aku capek, ingin segera pulang dan istirahat,” ucapnya masih ketus.

__ADS_1


Andra mengangguk dengan bingung. Ia menyalakan mesin motor dan menjalankannya.


Ais... hati perempuan susah sekali di tebak! Sekarang apa lagi yang membuatnya tidak senang? benak Andra.


__ADS_2