Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 17


__ADS_3

Di depan rumah pak RT.


Dion meraih tangan Nia, ketika Nia berhenti di depan rumah pak RT, ”Kamu ngapain ke sini?” bisik nya pada Nia.


”Aku akan melapor sama pak RT. Mereka berdua pasti sudah melakukan perzinahan di rumahnya. Apalagi tidak ada orang lain yang tinggal di rumah itu, selain mereka berdua.” ucap Nia dengan suara pelan, namun, terdengar ketus.


”Kamu gila! Kamu punya bukti apa kalau mereka berdua berzinah? Hah? Punya bukti apa?” Tanya Dion, ia melihat ke samping kiri, kanan, dan belakang jalan, tidak ada orang.


Dion menarik tangan Nia menjauh dari depan rumah pak RT, ”Nia, kamu ingat terakhir kali kamu menjebak Andra? Kamu ingat, kan? Harusnya kamu belajar dari kegagalan itu! Nyata-nyata nya waktu itu mereka mendapati Andra di atas tubuh mu, tapi Andra tidak terbukti bersalah, kan? Sekarang kamu ingin melapor sama pak RT, kalau Andra dan Viona melakukan perzinahan? Apa mereka akan percaya dengan kata-kata mu? Hum? Kamu pikir baik-baik!” ucap Dion, ia sedikit emosi menasehati Nia.


Nia terdiam. Ucapan Dion memang benar! Dia tidak punya bukti untuk menuduh dua orang itu berzinah. Kalaupun ada bukti, yang ada malah Andra dan Viona akan di nikahkan. Dan dia sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memiliki Andra.


”Lalu, aku harus bagaimana? Andra...aku sangat mencintai Andra.” ucap Nia, ia kembali menangis.


”Sudah! Jangan menangis! Menangis tidak akan membuat Andra jadi milikmu. Lebih baik, tidak usah pakai acara jebak menjebak. Mungkin mengikhlaskan akan lebih baik.”


Kening Nia berkerut melihat Dion, ”Kamu ingin mengikhlaskan Viona untuk Andra?” tanyanya.


”Aku masih berusaha memenangkan hati Viona. Jika memang tidak bisa, yang penting Viona bahagia, aku akan melepaskan dia untuk kebahagiaannya. Aku sudah lelah mengejarnya, mendoakan kebahagiannya...itu membuat ku bahagia.” tutur Dion.


Nia terdiam.


”Sekarang, ayo, kita pulang.” ajak Dion.


Nia mengangguk. Mereka berjalan pulang.


”Apa mungkin ada wanita lain yang kamu sukai selain Viona?” Tanya Nia. Pikirannya sedikit tenang sekarang.


”Tidak ada. Tapi, kalau aku masih gagal merebut hati Viona, mungkin...aku akan mencoba untuk mencari jodoh di kota.” ucap Dion.


”Kamu ingin pergi ke kota?”


”Iya.”


Dion dan Nia berhenti di depan rumah Nia. ”Masuklah ke rumah mu, pikirkan baik-baik ucapan ku.” nasehat Dion.


”Iya.” sahut Nia, ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Dion menghela nafas dan berjalan sendiri pulang ke rumahnya.


"Perkataan Viona membuat ku tersadar sekarang. Daripada aku sendiri yang sakit hati dan kecewa nantinya, lebih baik aku stop dari sekarang untuk mengejar apa yang tidak mungkin dapat ku kejar."


"Tapi, tidak ada salahnya aku mencoba sekali lagi untuk memenangkan hatinya Viona."


"Tapi, untuk mencoba mencintai Nia...aku tidak bisa. Sedikit pun hatiku tidak bergerak dan bergetar untuk Nia. Berbeda jika aku berada di dekatnya Viona. Berada di dekatnya... hatiku selalu bergetar." benak Dion.


Dion menendang pelan batu-batu kecil yang ada di depan kakinya. Matanya terpaku saat melihat sesuatu yang sedikit terang di dalam hutan, di belakang pohon besar.


Dia berjalan pelan mendekati pohon tersebut. Matanya menyipit melihat area tersebut, pendengarannya di pertajam.


Matanya terbuka lebar saat melihat apa yang terjadi di balik pohon itu, wajahnya pucat pasi. Dia bergerak mundur ke belakang dengan pelan dari pohon besar itu, ia berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Wajahnya masih pucat pasi, ketakutan masih terpancar di wajahnya. Dia telah sampai di rumahnya. Dion bergegas masuk ke dalam rumah, ia menutup pintu dengan cepat.


”Astaghfirullah!” ucap Dion beristighfar sebanyak tiga kali.


”Dion, ada apa? Kamu dari mana saja?” Tanya sang ibu.


”Mama, Dion dan Nia pergi ke rumahnya Andra. Dan, Dion baru habis mengantar Nia pulang ke rumahnya lalu Dion pulang.” jawab Dion.


”Lalu, kenapa mukamu pucat?”


”Oh...tidak apa-apa. Mama, Dion ke kamar dulu, ingin istirahat.” pamit Dion, ia bergegas pergi ke kamarnya, tanpa mendengar sahutan dari ibunya.


”Kenapa dengan itu anak?” gumam sang ibu sambil geleng-geleng kepala, melihat punggung Dion pergi ke kamarnya.

__ADS_1


*


*


Keesokan paginya di rumah Andra.


Andra keluar dari kamar. Dia tidak melihat Viona di depan. Dia pergi ke dapur, Viona tidak ada juga di dapur. Dia membuka pintu toilet dan pintu kamar mandi, Viona juga tidak ada, ”Di mana dia?” gumamnya.


"Apa dia masih tidur di kamarnya? Tumben sekali! Subuh tadi dia tidak bangun untuk shalat. Meskipun aku mengetuk pintunya, dia tidak mendengar ku."


"Dan sekarang sudah jam delapan pagi. Dia belum juga keluar dari kamar. Apa sesuatu sudah terjadi padanya?" benak Andra.


Andra mendekati kamar Viona. Tok tok tok! ”Vi...Viona! Apa kamu masih tidur?”


Tidak ada sahutan dari dalam kamar Viona.


Tok tok tok! ”Viona! Apa kamu mendengar ku?”


Masih tidak ada sahutan. Andra khawatir.


"Aneh! Gak biasanya Viona seperti ini! Pintu kamarnya terkunci gak, ya? Aku coba buka saja. Jika terkunci, aku tunggu dia setengah jam lagi untuk dia bangun. Jika tidak bangun juga, aku akan mendobrak pintunya." benak Andra.


Andra memegang ganggang pintu. Dia memutarnya, pintu terbuka. Andra membuka sedikit pintu tersebut, mengintip Viona dari bibir pintu.


Viona masih tidur. Andra masuk ke dalam kamar, ia menghampiri Viona.


Dia duduk di sisi ranjang, ”Vi, Viona...bangun Vi.” Andra membangunkan Viona dengan menepuk pelan bahu Viona.


”Vi...sudah pagi ini sayang! Ayo bangun!” Andra kembali membangunkan Viona.


Viona merasa terganggu, dia berbalik, namun, matanya masih terpejam.


”Vi...sayang! Bangun!” kembali Andra bersuara.


”Kamu kenapa? Tumben bangunnya telat sekali, subuh juga tidak shalat. Kamu kenapa? Hum?” Tanya Andra


Viona menghela nafas. Dia bangun dan duduk bersandar di ranjang, ”Semalam aku gak bisa tidur. Aku bisa tidur pas dengar suara orang mengaji di masjid,” ungkapnya.


Kening Andra mengerut, ”Gak bisa tidur? Kenapa? Apa kamu memikirkan sesuatu?” tanyanya.


Viona mengangguk.


”Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Andra lagi, ia merapikan rambut Viona yang menutupi pipi kirinya.


”Pertama, aku memikirkan kamu, yang kedua, aku memikirkan mimpiku. Semalam...aku sudah tidur setelah lelah memikirkan kamu. Tapi, aku terbangun dengan terkejut karena mimpi. Dari bangun itu, aku sudah tidak bisa tidur dengan tenang.” jelas Viona.


”Tau kamu takut, kenapa gak keluar dari kamar dan bangunkan aku saja? Biar aku temani kamu tidur.”


”Hum? Kamu temani aku tidur?” Viona menaikkan sebelah alisnya melihat Andra.


”Jangan salah paham! Kamu tidur di ranjang, aku akan tidur di lantai. Bukan tidur satu ranjang dengan mu.” jelas Andra.


”Oh...”


”Lalu, sekarang masih ngantuk?” Tanya Andra.


”Masih...”


”Lebih baik, kamu mandi dulu sekarang. Habis itu, kamu makan. Aku sudah memasak sarapan tadi. Setelah itu, jika kamu ingin lanjut tidur, maka tidur saja.” ucap Andra.


Viona mengangguk. Dia merenggangkan ototnya. Lalu beranjak dari ranjang. Dia mengambil handuk dan pakaian ganti.


Ia dan Andra melangkah keluar dari kamar Viona.


”Kamu duduk di dapur ya, aku mau mandi.” ucap Viona.

__ADS_1


”Sepertinya... halusinasi takut mu kambuh ya? Pergilah mandi, aku duduk di sini, menunggu kamu.”


Viona mengangguk. Ia masuk ke kamar mandi. Andra duduk di kursi meja makan.


"Apa yang dia pikirkan tentang ku? Dan apa mimpinya semalam? Sehingga membuatnya takut begitu." benak Andra.


Andra melihat pintu kamar mandi. Suara gemericik air terdengar kembali. Tidak lama, pintu kamar mandi terbuka, Viona keluar.


Handuk dia sematkan di kepalanya. Viona duduk di kursi, di depan Andra.


Andra membuka tudung saji, ”Ayo, makan dulu,” titahnya.


”Kamu gak makan?”


”Sudah tadi.”


Viona mengambil piring dan menyendok makanan. Dia makan.


Andra memperhatikan Viona, karena Viona tidak bisa tidur semalam, kantung matanya terlihat sedikit menghitam.


”Kamu mimpi apa semalam?” Tanya Andra.


”Aku mimpi... ibu datang padaku. Terus ibu bilang, ular yang mematuk ibu itu adalah siluman ular. Setelah ular itu mematuk ibu, ular itu berubah menjadi manusia.”


Viona menjeda ucapannya, menelan nasi yang sudah di kunyah nya. Andra memperhatikan ucapan Viona dengan serius.


”Tiba- tiba, manusia ular itu datang padaku. Dia menatap ku dengan sangat tajam, aku takut sekali! Apalagi, dia bilang...dia akan mencari ku dan akan membunuh ku. Aku sangat ketakutan saat melihat lidah ularnya keluar dari mulutnya, mengarahkan lidahnya pada wajah ku. Terus, pas aku sedang sendirian...ular itu datang dan ingin membunuh ku. Aku lari dengan ketakutan, ular itu mengejar ku. Suaranya terus bilang, aku akan membunuh mu, aku akan membunuh mu, aku akan membunuh mu. Saat di kejar sama ular itu, aku terbangun.” Viona memasukkan kembali nasi ke mulutnya setelah selesai bercerita.


”Seram juga ya mimpimu. Dari cerita mimpi mu, aku berfikir... memang ada orang yang ingin membunuh mu. Dan itu, sudah terbukti waktu tiga harinya ibu. Kamu ingat kan ular yang tiba-tiba menyerang mu dan menyerang ku?” Tanya Andra.


Viona mengangguk.


”Jadi... mimpi mu itu benar. Yang menjadi pertanyaan ku adalah mengapa ular-ular itu ingin membunuh mu? Dan mengapa sasaran pertamanya adalah ibu? Apa kamu pernah membunuh ular?” Tanya Andra lagi.


Viona kembali menelan kasar nasi di mulutnya dan meminum air, ”Aku sangat takut dengan ular. Bagaimana aku punya keberanian untuk membunuh ular? Itulah yang menjadi pikiran ku. Kenapa meraka menargetkan aku? Apa salah ku?”


”Bagaimana dengan ibu atau ayah mu juga kakak mu, apa mereka pernah membunuh ular?”


Viona menggeleng dengan yakin. Ia melanjutkan makannya.


Andra menghela nafas, ”Apa kamu keberatan jika mulai nanti malam, aku dan kamu tidur satu kamar?”


Viona memicing melihat Andra.


”Jangan pikiran macam-macam! Aku tidur di lantai, kamu tidur di kasur. Aku hanya takut, jika ular itu tiba-tiba akan datang saat kamu sendirian, seperti di mimpi mu itu.” jelas Andra.


Viona nampak berpikir. ”Ok! Yang penting kamu ingat bicara mu. Jangan macam-macam!” tegas Viona.


”Iya sayang!” jawab Andra.


Viona menghabiskan makanannya.


”Lalu, apa yang kamu pikirkan tentang ku?” Tanya Andra lagi.


Raut wajah Viona tiba-tiba berubah masam. Andra mengerut melihat perubahan wajah Viona.


”Kenapa?” Tanya Andra dengan bingung.


”Coba kamu pikir, kira-kira apa kesalahan mu semalam?” ucap Viona.


Kening Andra semakin mengerut melihat Viona. Apalagi sekarang Viona berdiri dan pergi dari dapur setelah menyimpan piring kotor di tempat cuci piring.


”Loh! Kok, dia malah pergi? Apa salah ku semalam ya?” gumam Andra.


Dia mengejar Viona sambil memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat semalam pada Viona.

__ADS_1


__ADS_2