Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 32


__ADS_3

Kediaman pak imam.


Viona mengalah. Dia akan tidur di kamar Ali. Andra meletakkan koper pakaian Viona di dalam kamar Ali, di atas meja, di samping koper pakaiannya.


Anisa masih mengurung dirinya di kamar. Meskipun ibunya dan Ali memanggilnya, dia enggan untuk keluar dari kamar. Dia hanya menyahuti kalau dirinya akan keluar nanti.


Viona membantu ibu Ani menyiapkan makan siang di dapur. Viona tidak banyak bercakap. Dia hanya terdiam.


”Viona, selesai makan, kita ke pasar ya.” ajak ibu Ali.


Viona menggeleng cepat. ”Gak ibu, Viona di rumah saja.” tolaknya.


”Kenapa? Bukan kah pagi tadi kamu sudah setuju? Andra ikut loh!” bujuk ibu Ali.


”Ibu, Andra, dan Anisa saja yang pergi ke pasar. Viona tetap di rumah saja.” tolak Viona lagi.


”Apa menurut mu, Andra akan setuju kamu di rumah, tanpa pengawasan darinya?” ibu Ali tersenyum melihat Viona.


Viona menghela nafas, ”Kalau begitu, Ibu, Anisa dan Ali saja yang pergi ke pasar. Viona dan Andra di rumah saja.” tolak Viona lagi.


”Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?” ibu Ali penasaran.


”Tidak ada Ibu. Viona hanya malas jalan saja. Dan kalau Ibu tidak jalan sama Viona, Ibu tidak akan di cemooh.” alibi Viona.


”Bagus! Menjauh lah dari keluarga ku!” sindir Anisa. Akhirnya dia keluar juga dari kamar setelah hampir satu jam dia mengurung dirinya di kamar. Dia menarik kursi dan duduk di samping ibunya.


”Anisa! Kenapa kamu jadi begini, sayang? Mama dan papa tidak pernah mengajarimu seperti ini. Minta maaf sama Viona.”


”Anisa tidak mau! Anisa tidak salah. Dialah yang salah, sudah tahu dirinya komplotan ular, masih memilih tinggal di rumah orang lain untuk tinggal. Mana niatnya gak baik juga.” kesal Anisa.


”An...”


”Ibu, sudah! Anisa gak salah.” pangkas Viona. Dia melihat Anisa. ”Anisa, maaf, aku sudah banyak merepotkan keluarga mu. Aku ingin pergi dari rumah mu. Tapi, di banding emosiku, aku masih sangat menghargai keputusan pak imam. Bersabarlah, tinggal seminggu lagi kami aku tinggal di sini.” tutur Viona.


”Heh! Bersabar? Seminggu lagi? Apa kamu pikir dalam seminggu itu kamu dan komplotan kamu akan diam saja? Bukankah keinginan kalian belum tercapai? Katakan! Katakan, berapa tumbal yang kalian butuhkan? Hum!” tatapan Anisa tajam melihat Viona setajam kata-katanya.


”Anisa!! Istighfar, Nak! Mengapa kamu termakan sama omongan mereka? Kenapa kamu ikut menghakimi Viona? Apa tuduhan itu kamu sudah cek kebenarannya? Hum?!” ibu Ali sangat geram pada anaknya tersebut.


Viona menunduk. Dia menghela nafas. Ucapan Anisa, bagaimana caranya untuk dia patahkan? Dia memang tidak bersalah, tapi, bagaimana membuktikan dirinya? Semua kejadian mengarah membuktikan jika dirinya memang bersalah.


”Bukankah Mama sudah melihat saat kakak Ali di serang ular, saat menggantikan Andra menjaga Viona? Apa Mama pura-pura lupa itu?”


Ibu Ali terdiam. Yang di alami Ali memang seperti itu kenyataannya.


Viona terdiam. Dia mengambil bawang merah dan bawang putih.


Anisa dengan cepat merebutnya. ”Kamu pergilah, tidak usah membantu pekerjaan dapur! Siapa tahu saja di dalam tubuhmu mengandung racun ular dan kamu meracuni keluargaku.” cibirnya.


Plak!! ”Anisa! Kamu keterlaluan sekali!!” ibu Ali marah menatap Anisa. Dia tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menampar pipi Anisa.


Viona terkejut! Dia melihat ibu dan anak itu. Apa yang harus dia lakukan? Dia memilih pergi dari dapur.


Anisa terkejut, ”Ibu menampar Anisa hanya karena wanita pembawa masalah di rumah kita ini, Bu?!” matanya berkaca-kaca melihat sang ibu. Anisa berdiri.


Ibu Ali menahannya, ”Duduk!” titahnya.


Anisa kembali duduk, tangannya masih memegang wajahnya yang perih itu. Raut mukanya masih cemberut.


”Kamu sungguh sudah sangat keterlaluan dalam menuduh dan berbicara! Kamu tidak pikirkan bagaimana perasaannya orang!”

__ADS_1


”Tapi, Ibu! Viona memang salah!” Anisa membela dirinya.


”Dia salah dari mana? Lihat bapak mu, kamu tahu bapak mu orang seperti apa, kan? Kenapa bapak mempertahankan Viona, membela Viona dari cemooh orang-orang? Mengapa bapak mu lebih percaya Andra dan Viona dari pada ucapan orang-orang? Mengapa? Hum? Kenapa kamu tidak memikirkan sampai di situ?”


Anisa terdiam, memikirkan perkataan ibunya.


.. ..


Viona berjalan ke depan. Jalannya terhenti empat puluh centimeter dari pintu rumah. Jika dia melanjutkan jalannya, Andra, Ali, dan pak imam yang berada di teras akan menjadi curiga jika dia sedang tidak baik-baik saja. Dan jika mereka ingin telusuri, Anisa akan semakin di marahi. Dia tidak menginginkan itu.


Dia berbalik arah, dia masuk ke kamar Ali. Dia mencari pintu keluar dari kamar Ali, pintu yang bisa membawanya ke belakang rumah.


Dia menemukannya. Viona membuka pintu tersebut dan pergi ke belakang rumah. Dia menyendiri sendiri di belakang di sana.


Di belakang rumah.


Viona duduk bersandar di dinding belakang rumah. Matanya berkaca-kaca melihat di depan layar hapenya.


Mama, papa, kakak. Apakah ini hukuman Viona karena Viona kabur dari rumah dan menyusahkan papa, mama, dan kakak di sana?


Viona ngaku bersalah, ma, pa, kakak. Viona merindukan kalian semua. Maafkan Viona.


Viona menghapus air matanya yang membasahi kedua pipinya. Kejadian yang menimpanya teringat di matanya. Perkataan Dion, Nia, Sania, dan Anisa terngiang di telinganya. Dia begitu sedih.


.. ..


Di dapur.


Anisa masih membungkam dirinya dari berbicara. Dia membantu sang ibu hingga selesai memasak. Anisa kini menata makanan di atas meja.


Ibu Ali pergi ke depan, ke teras rumah, di mana suami dan kedua anak lelakinya berada.


”Pa, Ali, Andra, ayok masuk. Makan siang sudah siap.” ajak ibu Ali.


”Iya, Ma.” sahut pak imam dan Ali.


”Iya, Ibu.” sahut Andra.


Mereka beranjak berdiri. Andra tertegun saat melihat permata kalungnya menyala.


Ali dan pak imam juga tercengang melihat permata yang menyala di kalung, yang di pakai Andra.


Kening mereka bertiga mengerut.


”Loh! Kok pada diaman? Ayo, masuk!” ajak ibu Ali lagi.


”Ibu, Viona di mana?” Andra jadi khawatir saat di matanya terlintas wajah Viona.


”Mungkin dia ada di kamar Ali. Ibu akan memanggilnya untuk makan.” ibu Ali berjalan masuk ke rumah.


Andra menerobos masuk ke dalam rumah. Ali mengikuti langkah Andra. Pak imam ikut masuk ke dalam rumah.


.. ..


Di dapur.


”Si...siapa kalian sebenarnya?”


Kening Anisa berkerut mendengar suara di belakang rumahnya. Dia mempertajam pendengarannya.

__ADS_1


”Aku...aku bersalah apa sama kalian?”


Anisa berdiri dari duduknya. Dia membuka pintu belakang rumah dan pergi keluar setelah memastikan itu adalah suara Viona.


Di belakang rumah.


Kedua mata Anisa membulat sempurna. Tubuhnya gemetar. Kedua tangannya menutup mulutnya agar tidak bersuara. Dia bergeming di tempatnya melihat Viona.


Viona memegang kayu di tangannya dengan gemetar. Pandangannya tertuju pada tiga ekor ular di hadapannya.


Lidah ke-tiga ular itu terjulur keluar masuk dari mulutnya. Badannya semakin tinggi dan lehernya semakin melebar.


Anisa maupun Viona semakin gemetar ketakutan.


”Ka.. kalian sebenarnya siapa? Ke.. kenapa selalu mengusik ku? Apa salah ku sama kalian! Aku tidak pernah mengenal dan mencari masalah dengan kalian! Siapa kalian? Hah!” Viona sudah geram di datangi oleh ular-ular itu. Karena ular-ular itu membuatnya dalam masalah. Di benci, di cemooh, di salahkan sama orang-orang.


Air matanya masih saja keluar dari matanya.


Satu ular terbang ke arah Viona.


”Argh!” teriak Anisa. Dia memundurkan langkahnya.


Ular itu terhempas ke batu yang tajam ujungnya dengan kuat terkena hantaman kayu Viona. Mata ular tepat mengenai ujung batu itu dan tertusuk menembus mata sebelahnya. Ular itu mati, jasadnya berubah menjadi manusia dan menghilang.


”Hah! Si...siluman!” suara Anisa yang terkejut.


Viona juga terkejut mendengar suara Anisa. Namun, pandangannya tetap berwaspada pada dua ular di hadapannya. ”Anisa! Pergilah dari sini!” Viona memukul lagi ular yang terbang ke arahnya.


Anisa kembali menjerit saat melihat ular itu terbang dengan menyemburkan bisa nya ke arah Viona. Dia terduduk lemas di tanah.


Viona menghindar dari semburan racun ular itu. Namun, naas. Dia tidak dapat menghindar dari gigitan ular satunya, yang tiba-tiba menyerangnya.


”Anisa! Kamu kenapa?” Ali, Andra, ibu Ali, dan pak imam bertanya khawatir. Mereka semua bergegas menghampiri Anisa saat mendengar teriakannya.


”Vi...Vi...Viona! U...u...ular!” tunjuk Anisa, suaranya terbata-bata.


Andra khawatir dan panik, dia bergegas melihat Viona. Tubuh Andra lemas seketika, dia terduduk, terpaku di atas tanah.


”Ibu, Ali, bawa Anisa masuk ke dalam rumah.” titah pak imam.


Ali dan sang istri mengangguk dengan sedih. Mereka membantu Anisa berdiri dan memapah Anisa masuk ke dalam rumah. Pak imam menghampiri Andra.


Hati Andra pedih teriris melihat Viona terbaring lemah di tanah. Air matanya jatuh keluar. ”V....Vi...”


Tangan Andra gemetar hebat meraih tubuh Viona.


”A....Andra! Aku.... Ja..jangan menangis!” Viona memejamkan mata merasakan sakit di area kakinya, yang di gigit ular.


”Vi...buka matamu. Jangan tidur!” Andra ketakutan.


Pak imam terkejut melihat Viona, ”Andra, bawa Viona masuk ke dalam.” titahnya.


”Mau bawa masuk bagaimana Pak imam? Jika di gerakkan kakinya, bisa ular akan cepat menjalar ke seluruh tubuh Viona.” ucap Andra dengan sedih.


Pak imam duduk di hadapan kaki Viona. Dia menyentuh lima jari betis Viona dari jarak luka gigitan ular.


Andra melihat ada cahaya yang keluar dari telapak tangan pak imam yang tersalur di kaki Viona.


”Gendong Viona bawa masuk ke dalam rumah.”

__ADS_1


Andra mengangguk lemah. Dia menggendong tubuh Viona dengan pelan.


__ADS_2