Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 37


__ADS_3

Di kediaman Sania.


Pak imam, Andra, dan Ali telah sampai di rumah Sania. Para warga sudah memenuhi rumah duka.


”Pak imam, Pak imam sudah datang? Mari Pak imam, masuk ke dalam rumah.” sapa salah satu warga. Dia membuka jalan agar pak imam leluasa berjalan masuk ke dalam rumah Sania.


”Terima kasih.” ucap pak imam. Pak imam melangkah masuk ke dalam rumah. Andra dan Ali mengikuti jalannya.


Mereka melihat ibu Sania yang bersedih atas meninggalnya Sania. Nia, Dion, mamanya Nia juga hadir di sana.


”Huhu..hu...hu... anakku...Sania... malangnya nasibmu, Nak.” ucap ibu Sania sedih. Dia memeluk tubuh anaknya.


”Sudah Tante, ikhlaskan Sania. Sania akan sedih melihat Tante menangis seperti ini.” bujuk Nia.


”....hu...hu...Sania anakku satu-satunya. Dia harapan ku satu-satunya...kenapa takdir kejam pada anakku? Dia dokter muda di desa ini, selalu merawat orang-orang yang sakit dengan ikhlas. Mengapa kematiannya dengan buruk begini? Hu...hu...”


”Assalamu 'alaikum!” sapa pak imam.


Semua mata menoleh pak imam, termasuk ibu Sania, Nia, dan mamanya Nia juga Dion. Semuanya melihat pak imam.


Ibu Sania menghapus air matanya, ”Wa 'alaikum salam, Pak imam. Terima kasih sudah datang,” sahutnya.


Kening Ali dan Andra mengerut melihat ibu Sania. Mengapa dia berkata seperti itu? Seolah-olah pak imam tidak akan datang.


Pak imam, Ali, dan Andra duduk di samping jenazah Sania.


”Bagaimana Sania meninggalnya? Tadi sore dia datang berkunjung ke rumah, dia baik-baik saja.” ucap pak imam.


”Dia pergi mengunjungi Nia. Sania meninggal di patuk sama ular di kedua kakinya. Para warga menemukan Nia sudah tidak berdaya di jalan pulang hu..hu..hu...” ungkap ibu Sania sambil menangis.


”Ini semua pasti gara-gara Viona! Wanita itu pembawa sial di desa ini. Sejak dia ada di desa ini, ular-ular sudah berkeliaran di tengah desa. Sekarang sudah ada dua korbannya yang meninggal, dan Andra korban yang selamat. Kenapa tidak mengusir dia dari desa ini saja? Atau...ikat dia di bawah pohon biar ular-ular itu memakan dirinya sampai habis tidak tersisa.” ucap ibu Sania ketus.


”Meninggalnya Sania tidak ada hubungannya dengan Viona! Jangan memfitnah orang, Tante!” tegas Andra membela Viona.


”Astaghfirullah! Kenapa su'uzon sama Viona? Memangnya apa yang sudah di lakukan oleh Viona? Viona seharian tidak pernah keluar dari rumah ku. Bagaimana bisa Viona di kaitkan dengan kematiannya Sania?” ucap pak imam membela Viona.


Ibu Sania memandang Andra dan pak imam dengan tajam, ia marah. ”Andra, Pak imam, tidak perlu membela Viona. Semua orang sudah tahu kalau Viona adalah komplotan ular siluman! Viona marah karena Sania tidak datang mengobati dia saat di patuk ular, kan? Jadi...dia membalas dendam untuk anakku! Hu...hu...hu...kenapa dia tidak mati saja saat di gigit sama ular....”


”Iya, benar Pak imam! Usir Viona dari desa ini!” seru salah warga.


”Keberadaan Viona meresahkan warga sekitar! Sampai kapan kita akan di teror sama ular? Usir saja Viona nya Pak imam!” seru warga lainnya.


”Iya, Pak imam! Usir dia!” seru sebagian warga yang datang melayat.


Tangan Andra terkepal erat, darahnya sangat mendidih sekarang karena amarah. Wajahnya nampak marah, namun, pandangannya ia tundukkan.


Ali menggenggam tangan Andra yang terkepal. Andra mendongak melihat Ali. Ali menggeleng. Andra menghela nafas dan perlahan membuka kepalan tangannya.


”Astaghfirullah! Apa kalian punya bukti yang kuat atas tuduhan ini? Lagi pula, apakah tujuan kalian datang ke rumah duka hanya untuk menghakimi Viona?” Tanya pak imam.


Semua warga terdiam dan menundukkan pandangan. Benar! Mereka datang ke sini untuk melayat, berduka atas meninggalnya Sania.


”Sebaiknya kita mengaji kan almarhum untuk menunggu pemakaman besok selepas sholat Dhuha.” usul pak imam.


”Baik, Pak imam.” seru semua para warga.


Semua orang mengambil Al-Quran yang terpisah per juz nya. Masing-masing mengambil satu juz dan mulai mengaji.


Warga yang tidak kebagian juz, mereka terdiam mendengarkan suara orang yang mengaji.


Andra, Ali, dan pak imam ikut mengaji. Mereka semua mengaji dengan khusyuk, mendoakan almarhumah Sania.


Sania adalah orang baik di desa itu, dia adalah seorang dokter, tetapi, dia tidak pernah menuntut atau memaksa orang untuk membayar biaya pengobatannya. Dia hanya menerima seikhlasnya dari pemberian para warga yang berobat.


Karena kebaikan yang di miliki oleh Sania, jasad Sania seperti orang yang tertidur, wajahnya mengukirkan senyuman tipis. Yang datang melayat juga hampir semua warga datang memenuhi rumah duka.


*


*

__ADS_1


Di rumah Pak imam.


Viona berbaring di ranjang dengan gelisah. Namanya sudah buruk di mata warga. Ia takut dengan meninggalkannya Sania akan menambah nama buruknya.


Apakah aku salah datang ke desa ini? Aku sungguh tidak beruntung. Tapi, semua yang terjadi sangat ganjil. Apakah aku salah jika menduga munculnya ular itu di sebabkan oleh Nia dan ibunya? Semenjak mereka berdua ku permalukan di depan warga, sore harinya ibu Andra di serang ular.


Aku juga di serang ular. Jika aku pikir dari mimpi ku tujuan ular itu adalah aku, kenapa ibu di serang? Targetnya memang aku, di setiap ular yang datang selalu menyerang ku. Untuk Andra, ular itu tidak berniat sungguh-sungguh untuk menyerangnya. Karena Andra adalah pria yang Nia sukai.


Iya, aku sangat yakin ini adalah Nia. Tapi, aku tidak punya bukti nyata untuk bisa balik menuduhnya. benak Viona.


Ia menghela nafas, ”Ini juga adalah hukuman ku karena aku kabur dari rumah dan menyusahkan mama, papa, dan kakak yang mencari ku. Hukuman ini sangat setimpal,” gumamnya pelan.


*


*


Di rumah Sania.


Nia terus melihat Andra yang serius mengaji. Ia sangat mendambakan pria itu. Karena pria itu alasan mengapa dia tidak jadi pergi ke kota.


Dia harus bisa menaklukkan hati Andra dan mereka pergi ke kota bersama-sama.


”Tundukan pandangan mu! Apa kamu tidak malu, semua orang memperhatikan cara pandang mu pada Andra.” bisik ibu Nia pada telinga Nia.


Nia melihat sekitarnya. Tidak semua orang memperhatikan dirinya yang menatap Andra, tetapi, para ibu-ibu dan para gadis sebagian besar memperhatikan dirinya. ”Iya Ma.” balas Nia berbisik.


”Tante, Nia numpang ke toilet sebentar, boleh?” izin Nia.


”Iya, kamu masuk saja belok sebelah kiri. Toiletnya berada di samping dapur.” sahut ibu Sania, mengizinkan.


”Iya, Tante.”


Nia beranjak berdiri, ia melangkah masuk ke dalam rumah Sania. Dia pergi ke toilet dengan petunjuk ibu Sania. Nia masuk ke dalam toilet.


Ia melihat ventilasi. Nia memanggil anak buah bapaknya dengan melempar sesuatu keluar dari ventilasi.


Ular hitam menjalar ke dinding sampai di lantai, ular itu berubah menjadi manusia. Manusia ular memberikan barang milik Nia yang di lempar sama Nia.


Nia mengambilnya dan menyimpannya. Ia menyalakan kran air dengan deras.


”Kalian pergilah ke rumah pak imam dan serang Viona. Malam ini tidak ada yang akan melindungi dia dari kalian, pak imam, Ali, dan Andra ada di sini.” ucap Nia pelan.


”Baik, Nona.”


”Jangan sia-siakan kesempatan emas ini! Dan aku tidak mau mendengar kata "Gagal", mengerti?!” ucap Nia.


”Iya, Nona.”


”Pergilah!”


Manusia ular itu berubah kembali menjadi ular hitam. Ia kembali menjalar naik ke dinding dan keluar dari ventilasi.


Nia menyeringai puas. Ia mencuci mukanya dan mematikan kran air. Ia keluar dari kamar mandi dan kembali ke depan. Ia kembali duduk di tempatnya semula, di antara ibunya dan ibu Sania.


Sebagian orang telah selesai mengaji, termasuk Andra, Ali, pak imam dan beberapa pria muda lainnya. Sementara yang belum selesai, mereka melanjutkan mengajinya.


”Pak imam, kami mendengar kalau Viona sendiri di patuk sama ular, benarkah?” Tanya salah satu warga pada pak imam.


”Iya, benar. Tapi, ada seekor ular emas yang membantunya, ular itu menghisap racun dari kaki Viona. Alhamdulillah, Viona bisa sembuh dari bisa ular.” jawab pak imam.


Kening Nia mengerut mendengar ucapan pak imam.


Seekor ular emas? Bukan kah itu...apa hubungannya dengan Viona? Aku harus memberitahu papa berita ini. Berarti yang menyelamatkan Viona dari serangan-serangan sebelumnya di rumah Andra adalah ular emas! Aku benar-benar penasaran apa hubungan keduanya? benak Nia.


”Alhamdulillah!” sahut warga tersebut.


”Kamu tidak menghakimi Viona atas apa yang terjadi?” Tanya pak imam pada warga pria di sampingnya.


”Pak imam, Andra, dan Ali sangat mempercayai Viona, kenapa aku harus ikut-ikutan menghujat Viona, sedangkan bukti nyata belum terlihat.” jawab pria itu sembari tersenyum.

__ADS_1


”Alhamdulillah! Terima kasih, sudah beranggapan seperti itu.” sahut pak imam.


Kening pak imam tiba-tiba mengerut. Siapa yang mencoba menembus pertahanan ku? Astaghfirullah! Kenapa mereka pintar sekali? Selalu menyerang Viona di saat yang tepat, benaknya.


”Ali, bisikan pada Andra untuk segera pulang melihat Viona. Kamu di sini saja.” bisik pak imam pada Ali.


Ali mengangguk.


”Bang, katanya Bapak, kamu pulang ke rumah melihat Viona. Sekarang Bang.” bisik Ali pada Andra.


Kening Andra mengerut melihat pak imam. Pak imam yang kebetulan melihat Andra, beliau mengangguk.


Andra mengangguk paham. Dia beranjak berdiri dan keluar dari rumah Sania.


”Loh, Dra, kamu mau pulang?” tegur salah satu warga yang melihat Andra memakai sendal.


”Iya, Viona belum tapi sehat. Ibu dan Anisa sedang tidur. Aku ingin melihat Viona.” jawab Andra.


”Dia pacar mu ya, Dra?”


”Em... keselamatannya adalah tanggung jawab ku. Itu janji ku pada orang tuanya Viona sebelum Viona mengikuti ku ke desa ini...”


”Maaf Bang, aku pamit dulu. Assalamu 'alaikum!” ucap Andra lagi berpamitan.


”Iya, wa 'alaikum salam!” sahut Warga tersebut.


Andra bergegas pulang ke rumah pak imam.


*


*


Di rumah pak imam.


Para siluman ular berkumpul di kediaman pak imam. Mereka mencoba masuk ke dalam rumah pak imam. Tetapi, mereka tidak bisa masuk, ada penghalang yang melindungi rumah pak imam.


Beberapa ular berusaha masuk lewat samping kiri, kanan rumah dan sebagian berusaha masuk melalui belakang rumah pak imam.


Tapi, sedikitpun mereka tidak bisa menembus pertahanan rumah pak imam.


”Rumah ini di lindungi, kita tidak bisa masuk ke dalam rumah.” keluh salah satu ular siluman itu.


”Iya, aku juga berusaha masuk lewat mushola juga tidak bisa.” keluh seorang lagi.


”Kita bisa menyerang kalau kita bisa membuat Viona yang keluar dari rumah.” ucap seorang lagi.


”Bagaimana cara memancingnya keluar?”


”Bagaimana dengan memakai suara samaran Andra untuk memancingnya keluar rumah?” usul salah satu di antara mereka.


”Siapa yang tahu suara Andra?”


Semua terdiam. Mereka melihat ke belakang saat mendengar suara langkah kaki. Seketika meraka bubar dari depan rumah pak imam saat melihat Andra.


Andra mengerutkan kening ketika menginjak teras rumah. Ia merasa sedang di ikuti dan di perhatikan oleh seseorang. Dia menoleh kebelakang, dia tidak melihat apapun.


Aku kira dengan mengikuti Andra, aku bisa masuk. Ternyata sama saja. Sial!! benak siluman ular.


Andra membuka kunci pintu dan membuka pintu rumah. Ia terus pergi ke kamar Ali.


Ia membuka pintu kamar dengan pelan, ia melihat Viona sedang melihat langit-langit kamar.


Andra masuk ke dalam dan menutup pintu, ”Kamu gak tidur?” Tanya Andra. Ia melepas kopiah dari kepalanya dan meletakkan di atas meja.


”Belum,” jawab Viona.


Andra pergi ke kamar mandi dia membasuh mukanya dan kembali ke Viona. ”Tidurlah, ini sudah larut malam,” titahnya.


Viona mengangguk. Ia mencoba untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2