
Di kediaman pak imam, di dapur.
Anisa, Viona, Andra, Ali, pak imam dan ibu Ali berkumpul di meja makan. Mereka semua sedang makan malam bersama.
Sikap Anisa kepada Viona semakin keras. Dia berpikir Viona sengaja berakting sedih dan berpura-pura tidak mengenal dengan komplotannya.
Kenapa dia tidak mati saja karena serangan komplotannya sendiri? Apa dia kira aku akan percaya dengan aktingnya yang memukau siang tadi? benak Anisa.
Pak imam dan ibu Ali telah selesai makan.
”Anisa, Viona, tambah nasi nya, sayang.” tawar ibu Ali, saat melihat piring nasi Anisa dan Viona telah kosong.
”Tidak, ibu. Viona sudah kenyang.” tolak Viona. Dia meminum airnya.
”Tidak, Ma. Anisa sudah kenyang. Anisa ke kamar dulu, Ma, Pa,” Anisa menghabiskan air minumnya dan beranjak dari dapur.
”Anisa, kembali duduk! Lihatlah, kakak mu Ali dan Andra belum menyelesaikan makannya. Di mana sopan santun mu?!” tegur pak imam.
Anisa kembali duduk dengan enggan. Dia melirik makanan kedua kakaknya itu. Makanan mereka berdua tinggal sedikit lagi akan habis.
”Anisa, kamu ajak kembali Viona tidur bersama mu, di kamar mu.” ucap pak imam lagi.
”Tidak, Pa. Anisa ingin tidur sendirian. Lebih aman tanpa ada bau Viona di kamar. Kalau ada bau dari tubuh Viona di kamar Anisa, Anisa yakin, Anisa gak akan bisa tidur nyenyak.” tolak Anisa. Bicaranya ketus dan pedas.
Viona menunduk. Tangan Andra yang berada di bawah meja menggenggam tangan Viona. Menenangkan perasaan wanita nya tersebut.
Viona tersenyum kecut melihat Andra yang melihatnya.
”Astaghfirullah! Nak, kenapa kamu bicara seperti itu!? Kamu sudah su'uzon sama Viona. Istighfar!” tegur ibu Ali.
”Pak imam, Ibu, jangan di paksa Anisa nya. Viona akan tidur di kamar Ali saja. Ucapan Anisa juga ada benarnya. Jika para ular tidak mencium hawa tubuh Viona di kamar Anisa, Anisa akan aman.” Viona berkata membela Anisa.
Anisa membuang mukanya kala bertatapan dengan Viona.
Ibu Ali terdiam. Pak imam juga terdiam, apa yang di ucapkan Viona memang benar adanya. Penciuman ular sangat tajam. Mereka akan mengetahui musuh dari menghafal baunya dan juga wajahnya.
Ali dan Andra sudah selesai makan.
”Untuk berjaga-jaga saja, Ali akan tidur di kamar Anisa. Ali akan tidur di lantai dengan menggelar tikar.” ucap Ali.
”Iya, Papa setuju. Kamu jaga adik mu dan Andra menjaga Viona.” sahut pak imam.
”Terserah kakak. Yang penting bukan Viona yang tidur di kamar ku.” balas Anisa. Dia memandang Viona dengan ekor matanya. Jelas sekali dia sangat tidak menyukai Viona.
Viona mengumpulkan piring kotor di meja makan dan membawanya ke tempat cuci piring. Dia menghentikan langkahnya yang ingin menyapu meja makan dari abu makanan mereka yang jatuh di atas meja, saat melihat Anisa yang telah membersihkannya.
Dia berbalik lagi menghadap tempat cuci piring. Dia mencuci piring kotor.
”Viona, kamu bisa sendiri di dapur, kan? Kamu pergi ke depan dulu.” ucap pak imam.
”Iya, Pak imam.” sahut Viona.
”Pak imam, aku disini saja, menunggu Viona.” ucap Andra.
”Ah, iya. Kalau begitu kami ke depan dulu. Kalau sudah selesai, ikut gabung di depan saja.”
”Iya, Pak imam.” sahut Andra.
Ibu Ali, pak imam, Ali dan Anisa pergi dari dapur. Andra masih tetap berada di tempatnya. Dia menunggu Viona sampai selesai mencuci piring.
”Vi, maaf, karena sudah mengajak mu tinggal sementara di sini... kamu dapat fitnahan dan di benci sama orang-orang.” wajah Andra terlihat sedih.
Viona menoleh melihat Andra, dia tersenyum saat pria itu melihatnya. ”Yang terpenting adalah kamu tidak membenci ku.” Ia kembali melihat piring kotor nya. Menyelesaikan mencuci piring yang tersisa.
__ADS_1
Andra terdiam. Dia menghela nafas.
Kapan semua ini akan berakhir? Hari, cepatlah berlalu agar aku dan Viona akan pergi meninggalkan desa ini. benak Andra.
”Sudah selesai cuci piringnya?” tanya Andra saat Viona duduk di sampingnya.
”Iya. Andra, aku di kota adalah wanita manja yang selalu mengandalkan kekuatan papa dan kakak ku. Urusan dapur, ada pembantu yang memasak. Begitu juga dengan kebersihan rumah, ada pembantu yang mengerjakannya. Aku, sedikitpun tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur dan rumah. Di kota, aku kebanyakan berfoya-foya, memanjakan diri di salon. Hidup yang ku jalani sangat mudah karena tidak kekurangan apapun, sedikitpun. Kadang aku memandang rendah mereka yang hidupnya, yang bergantung pada penghasilan kerja.” Viona menunduk menceritakan dirinya pada Andra.
Andra terdiam. Dia tercengang, Viona tiba-tiba menceritakan hidupnya, padanya.
Itu artinya, Viona bukan gadis biasa. Dia orang berada. Apakah pantas aku bersanding dengannya? Apakah orang tuanya, kakaknya, akan setuju pada hubungan kami berdua ini? Yang mana, pekerjaan ku hanyalah Office boy. benak Andra.
Viona melihat Andra. ”Setelah aku ikut dengan mu, melakukan pekerjaan ini, dan itu. Mendapatkan masalah, membuat ku tersadar. Ternyata, hidup itu sangat keras. Mereka yang bekerja sangat tidak gampang, keringat membasahi setiap tubuhnya, bahkan membasahi pakaiannya, hanya untuk mendapatkan upah, untuk biaya kebutuhan mereka. Andra, bersamamu, aku mengerti akan kehidupan, perasaan, dan cinta. Andra, kamu jangan pernah tinggalin aku. Ya?” tatapan mata Viona penuh harap menatap netra Andra.
Mata gadis ini berkata yang jujur. Dia benar-benar mencintai ku dan sangat berharap padaku. Dia percaya padaku. benak Andra.
Andra menelan saliva nya kasar. Dia mencubit dagu Viona. Pandangannya turun pada bibir ranum Viona. Dia mencium bibir itu. Viona membalas ciumannya.
”Iya,” jawabnya, setelah dia melepas ciumannya.
Viona tersenyum bahagia, ”Terima kasih,” sahutnya.
”Em...ayo kita ke depan. Gabung bersama mereka.” Andra menggenggam tangan Viona. Mereka berjalan ke depan.
.. ..
Di goa.
”Papa, Nia sudah tidak apa-apa! Sekarang, Nia memilih lebih baik pulang di rumah saja.” pinta Nia.
”Tapi, sayang.”
”Nia mau pulang, Pa.” tegas Nia.
Nia mengangguk.
”Pergi beritahu mama Nia, jika putrinya akan pulang malam ini. Dia tidak jadi menginap di goa.” titah papa Nia pada anak buahnya.
”Baik, Tuan!” jawab sang anak buah. Dia pergi melaksanakan perintah tuannya.
Papa Nia dan beberapa anak buahnya mengantar Nia kembali pulang ke rumah.
.. ..
Di rumah Nia.
”Tante, apa Nia nya masih lama datangnya?” tanya Sania.
”Iya, mungkin! Tante juga tidak tahu. Tante sendiri sedang menunggu Nia pulang.” jawab mama Nia, berbohong.
Tentu saja dia tidak mungkin akan memberitahu yang sebenarnya pada Sania jika anaknya tidak akan pulang malam ini, jika anaknya akan tidur di goa, di rumah papa kandungnya.
”Dia tidak bilang tujuan nya kemana sebelum dia pergi, Tante?” tanya Sania lagi.
”Iya. Tante juga lupa bertanya padanya, kemana tujuannya. Dia cuma bilang kalau dia ada urusan di rumahnya temannya. Tante kira dia menemui kamu, ternyata bukan.”
”Ya udah deh, Sania akan tunggu sebentar lagi. Gak apa-apa kan, Tante?”
Mama Nia tersenyum, yang di paksakan. ” Iya, tidak apa-apa. Sekalian, kamu temani Tante dulu di sini.” jawabnya.
Sebaiknya kamu pulang saja sekarang. Kenapa harus menunggu Nia? Gak bisa apa tunggu besok saja baru temui anakku. benak mama Nia.
”Tante, Sania masuk ke dalam dulu ya, numpang toiletnya.” izin Sania.
__ADS_1
”Iya, masuk saja.” mama Nia mempersilahkan Sania masuk ke dalam rumahnya.
”Terima kasih, Tante.” Sania beranjak berdiri, dia masuk ke dalam rumah Nia.
Dia bergegas pergi ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega. ”Alhamdulillah!”
Sania melangkah kembali ke depan. Langkahnya terhenti saat mendengar suara desis ular. Dia mempertajam pendengarannya.
Suaranya dari belakang rumah Nia. benak Sania.
Dia melihat ada lubang di dinding rumah Nia, kening Sania berkerut. Dia mengintip ke luar dari lubang tersebut.
Matanya terbelalak sempurna melihat Nia yang datang dari arah hutan di samping Nia ada seorang bapak-bapak yang belum terlihat tua, usianya sekitar 40-45 tahunan.
Di belakang Nia dan laki-laki itu ada empat orang yang memakai baju hitam, di tangan kanan mereka memegang pedang. Yang membuat Sania lebih terkejut sampai pucat pasi adalah, di samping ke enam orang itu ada beberapa ekor ular yang mengiringinya.
Jarak mereka semakin dekat dengan rumah Nia. Sania mendadak menarik badannya ketika tatapannya bertemu dengan tatapan pria itu.
Sania terperanjat semakin kaget dan ketakutan, tubuhnya gemetar. Dia berjalan ke depan sambil mengatur nafasnya.
”Sania? Ada apa dengan kamu? Kenapa tubuh mu gemetar begitu? Wajah mu juga pucat. Kamu sakit?” Mama Nia khawatir.
”Ah! Em...Sa__Sania ku__rang enak ba__badan Tante. Sania tidak jadi menunggu Nia. Sa__Sania pu__pulang dulu.” Sania mengambil tasnya di kursi dan pergi dari rumah Nia dengan terburu-buru.
”Kenapa dengan Sania? Apa dia melihat sesuatu di dalam?” Mama Nia penasaran. Dia masuk ke dalam rumah untuk melihat ada keanehan apa di dalam yang membuat Sania ketakutan di sekujur tubuhnya.
Di belakang rumah Nia.
”Ada apa, Pa?” tanya Nia yang mendadak melihat papanya berhenti berjalan dan fokus melihat dinding belakang rumah.
”Papa melihat seseorang mengintip dari lubang itu.” jawab papa Nia.
”Mungkin itu mama, Pa. Ayo, lanjut jalan.” Nia menarik tangan papanya.
Di dalam rumah.
”Malam, Nyonya. Tuan dan Nona muda dalam perjalanan ke sini.” lapor anak buah papa Nia pada mamanya Nia.
”Hah! Kenapa Nia berubah pikiran dan pulang ke rumah? Kamu sudah lama datangnya?” tanya mama Nia pada anak buah papanya Nia
”Maaf, Nyonya. Mungkin Nona muda mengkhawatirkan Nyonya yang tidur sendirian di rumah. Saya baru saja datang, Nyonya.” jawab sang anak buah.
Kalau dia baru saja datang, lalu apa yang membuat Sania ketakutan begitu? benak Mama Nia.
”Ma...Mama! Nia pulang bersama Papa.” terdengar suara Nia dari depan rumah.
Mama Nia bergegas ke depan.
Kening Nia mengerut melihat wajah bingung yang terpancar dari wajah mamanya. ”Mama kenapa? Kok bingung begitu?” Nia penasaran.
”Ah, Mama memang sedang bingung. Barusan, Sania buru-buru pulang setelah dia dari kamar mandi. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat pasi. Suaranya bergetar saat berpamitan pulang.” ungkap mama Nia.
”Apa!? Sania yang barusan di dapur?” Nia terkejut. Dia melihat papanya. ”Pa, yang Papa lihat itu benar!” ucapnya.
”Apa?! Sania melihat kalian?” kini mamanya Nia yang terkejut.
”Ini tidak bisa di biarin! Dia harus mati!” ucap Nia, mama Nia dan papa Nia, serentak.
”Pengawal! Kejar dia! Bunuh dia! Jangan sampai lolos!” titah papa Nia pada anak buahnya.
”Baik, Tuan!” sahut sang anak buah. Mereka pergi menjalankan perintah.
Nia, mama Nia terduduk dengan lemas di kursi, tanpa bersuara.
__ADS_1
”Tenang! Dia akan mati! Kalian jangan panik!” bujuk papa Nia, menenangkan Nia dan ibu dari anaknya itu.