
Di kediaman Pak imam, di kamar Ali.
”Ah... sa__sakit! Aku... aku tidak kuat lagi...” jerit Berlia.
Viona terbangun. Ia membuka matanya secara perlahan saat samar mendengar suara seorang wanita yang mengadu kesakitan.
”Ah...!” jerit Berlia lagi, tangannya mengelus pinggangnya yang terasa nyeri.
Mata Viona membesar, ia duduk seketika di atas ranjang. Ia melihat Andra, Ali, Anisa, Pak imam, Ibu Anisa dan dua orang wanita lainnya yang ia tidak kenali berkumpul di kamar.
Andra memeluk Viona saat melihat Viona sudah terbangun, ”Viona... terimakasih kamu baik-baik saja. Terimakasih...” Andra mencium pucuk kepala Viona. Jika saja tidak ada orang di dalam kamar itu. Andra akan mencium bibir Viona dalam waktu yang lama untuk menghapus rasa khawatirnya.
”Andra... bisa lepas pelukan mu sekarang? Aku malu jadi pusat perhatian,” bisik Viona pada telinga Andra. Andra melepaskan pelukannya seketika.
”Syukurlah kamu sudah sadar Nak. Ibu sangat khawatir sekali.” ucap Ibu Ali. Viona tersenyum sambil mengangguk.
”Ah... rasa sakitnya semakin sakit...” jerit Berlia. Tangannya beralih menggenggam erat tangan pelayannya.
”Sabar Nyonya. Tahan sakitnya. Ini tidak akan lama lagi,” sahut Si pelayan yang cemas.
Viona melihat wanita itu. Ia meringis melihat luka besar di kaki wanita tersebut, darah segar terus keluar. Pandangannya menyusuri tubuh wanita itu. Ia turun dari ranjang dan menghampiri wanita tersebut.
”Ah, kamu hamil? Perut mu sakit? Mungkinkah akan lahiran? Tapi... luka mu... kamu sudah banyak mengeluarkan darah. Wajahmu terlihat pucat.” ucap Viona khawatir.
”Aku... aku... ti__tidak apa-apa. Ka__kamu baik-baik saja?” tanya Berlia pada Viona.
Viona tersadar jika mereka sebelumnya di serang oleh sekelompok ular. Viona melihat tangannya, luka di tangannya sudah di tempelkan dengan obat salep luka. Ia menjawab pertanyaan Berlia, ”Iya. Aku baik-baik saja.”
”Oh iya, bagaimana dengan para siluman ular di depan rumah? Apakah semuanya sudah aman? Apakah mereka akan datang lagi?” tanya Viona sambil melihat Andra yang duduk di sisi ranjang.
”Semuanya sudah aman. Kamu tidak perlu khawatir untuk di serang dan di teror lagi sama siluman ular,” Pak imam yang menjawab pertanyaan Viona.
”Ah, benarkah?” Viona melihat Andra. Andra mengangguk. ”Alhamdulillah! Neraka menakutkan itu akhirnya terlewati,” ucapnya bersyukur. Ali, Andra, Ibu Ali, dan Pak imam tersenyum menanggapi.
”Viona, maafkan aku yang marah dan menuduh mu yang bukan-bukan. Maaf,” sesal Anisa.
”Tidak apa-apa. Aku bisa memakluminya. Aku maafkan kamu,” sahut Viona sambil tersenyum.
”Aaaah!” jerit Berlia dalam satu tarikan nafas. Membuat semua mata mengarah pada Berlia.
Viona terkejut. Bukan hanya Viona, Andra, Anisa, Ibu Ali juga terkejut saat melihat seekor ular yang lahir dari rahim wanita itu. ”Subhanallah!” ucap mereka semua sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Sang pelayan wanita tersebut tersenyum sambil mengangkat ular cobra kecil yang di lantai. Ia memperlihatkan pada wanita yang lemas itu dan berkata, ” Selamat Nyonya, anak Anda seorang putri. Ia sama seperti mu... berwarna emas.”
Berlia tersenyum. Ali... anak kita sudah lahir. Dia seorang perempuan. Maaf, aku tidak memberitahu keberadaan ku padamu. Semoga suatu saat kamu bisa bertemu dengan anakmu. Aku memberikan tanda yang jelas pada anak kita agar kamu bisa mengenalinya, benaknya.
”Cu__cucu ku su__sudah la__lahir?” tanya seorang pria yang berjalan masuk ke dalam kamar Ali.
Semua mata melihat pria tersebut. Viona meringis melihat keadaan pria tersebut. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka kecil dan besar. Wajahnya sudah pucat, melangkah pun sangat pelan dan ia baru sadari jika tangan pria itu hanyalah sebelah saja.
”Pelan-pelan Prayoga.” ucap Pria paruh baya yang memapah tubuh pria tersebut.
”Tuan besar. Cucu Anda telah lahir. Ia seorang perempuan. Lihatlah,” ucap pelayan tersebut. Ia memberikan ular itu pada Prayoga yang duduk di sampingnya, yang bersandar pada badan Arifin.
Prayoga meraihnya dengan tangan bergetar. ”Cu__cucu ku. Para leluhur akan melindungi mu...” ucap Prayoga sambil tersenyum melihat ular kecil itu.
Ular kecil itu terjatuh di lantai dari tangan Prayoga. Membuat Pak imam dan Arifin terkejut. Pak imam mengambil ular tersebut, ular kecil itu melilit tangan Pak imam dengan patuh.
”Ah, Prayoga? Pra__Prayoga!” Arifin terkejut, ia menepuk pelan pipi Prayoga namun, tidak ada tanggapan dari Prayoga.
__ADS_1
”Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un!” ucap Pak imam dan Arifin. Yang lainnya ikut mengucapkan lafadz tersebut.
”A__Ayah su__sudah pergi?” tanya Berlia sedih pada pelayannya. Pelayannya mengangguk. Berlia sendiri merasa waktunya tidak akan lama lagi.
”Be__berikan ka__kalung dan ge__gelangnya pa__pada Vi__Viona.” titah Berlia pada pelayannya.
”Baik, Nyonya.”
Viona terkejut mendengar ucapan wanita yang tidak ia kenali itu.
”Nona muda, ini adalah gelang dan kalung untuk anaknya nyonya. Mohon di terima.” ucap Sang pelayan pada Viona. Viona melihat gelang dan kalung yang ada di hadapannya, di tangan wanita itu.
”Ah, ti__tidak. Kenapa harus di berikan padaku? Aku... aku tidak mau,” tolak Viona.
”Vi__Viona. A__aku pe__percayakan a__anakku padamu. Ka__kamu... te__terima gelang sa__sama ka__kalungnya. Ya?” ucap Berlia terbata-bata pada Viona.
Viona menggeleng. Memelihara seekor ular? Yang benar saja!
”Viona, dia adalah ular cobra emas yang sering melindungi mu. Memelihara anaknya... bukankah itu hal yang tidak buruk?” bujuk Andra. Viona tetap menggeleng.
”Nona muda, Nyonya Berlia adalah__” ucapannya terhenti saat melihat gelengan kepala Berlia.
Oe...! Oe...! Terdengar suara tangisan bayi dari gendongan tangan Pak imam. Pak imam tersenyum melihat bayi tersebut. Ia jadi teringat pada sosok wanita yang ia ubah ke bentuk manusia dan tidak dapat berwujud ular lagi.
Semua mata melihat anak itu. Pak imam menghampiri Berlia dan berkata, ”Lihatlah, betapa lucunya anak mu.”
Berlia mengambilnya dengan tangan lemah dan bergetar. Ia menangis dan mencium bayi tersebut.
”Vi__Viona. Co__cobalah meng__menggendongnya.” pinta Berlia. Viona menggeleng.
”Vi... gendong lah! Ayok!” bujuk Andra, Ali, dan Pak imam. Viona melihat bayi mungil itu.
”Ah!” Viona mengambil bayi itu dan menggendongnya. Ia refleks mengambil bayi tersebut saat menangis. Kini bayi mungil itu terdiam dalam gendongannya.
Berlia tersenyum. Ia berkata pada Viona, ”To__tolong... ja__jaga putriku dengan baik.”
”Apa?!” Viona terkejut. Bagaimana mungkin dia akan merawat seorang bayi? Dia masih berusia 19 tahun. Pengalamannya pada seorang bayi tidak ada. ”Aku__” ucapannya terhenti saat melihat wanita itu telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ia menghela nafas.
*
*
*
Di kota, kediaman Kevin.
”Tidak....!” Maria berteriak hebat saat melihat permata emasnya telah meledak. Sedari tadi ia was-was saat permata itu bercahaya terang dan berkedip-kedip.
”Mama...” Kevin dan Lirjan terkejut.
”Ada apa Ma?” tanya Lirjan.
”Kenapa Mama berteriak dan sekarang menangis? Cerita ke Papa, Ma.” ucap Kevin.
Maria meluapkan tangisnya pada Kevin. Tentu saja dia tidak bisa bercerita tentang jati dirinya pada suaminya tersebut.
Apa yang harus ia ceritakan? Dirinya adalah seekor ular? Dan dia menangis saat ini karena baru saja kehilangan adiknya, Berlia? Apakah Kevin dan Lirjan akan menerima semuanya nanti saat ia menceritakan kehidupannya pada mereka berdua?
”Mama...!” Kevin dan Lirjan sama-sama memeluk dan mengusap punggung Maria dengan lembut, menenangkan Maria.
__ADS_1
”Mama... mama khawatir sama Viona. Mama... merasakan firasat buruk terjadi pada Viona...” hanya itu peralihan Maria.
Ia masih terisak memikirkan adiknya itu. Apa yang terjadi pada adiknya? Bagaimana cara dia meninggal? Apakah di bunuh sama Genta? Anak buahnya Genta?
Maria memukul dada suaminya. Ia mengutuk dirinya sendiri. Selama ini... ia sudah berusaha mencari keberadaan adiknya. Tetapi... ia tidak menemukannya.
Gelang yang dia pakai selalu tenang. Kalaupun berkedip, hanya sebentar saja... setelah itu kembali tenang. Hal itulah yang membuatnya berpikir, meskipun mereka tidak saling bertemu, Berlia dalam keadaaan baik-baik saja.
Hingga ia memutuskan tidak mencari keberadaan adiknya itu setelah ia di angkat menjadi seorang anak dari pasangan yang tidak memiliki keturunan. Mereka meminta Maria dari seorang pak imam.
Saat itu pak imam tidak tega dan tidak mau menyerahkan Maria pada pasangan tersebut tetapi, pasangan itu terus memohon dan Maria juga bersedia tinggal sama pasangan tersebut.
Kevin menahan pukulan Maria di dadanya, meskipun kadang Maria memukulnya dengan kuat, ia tetap menahannya.
Kevin dan Lirjan merasa bersalah karena tidak menemukan keberadaan Viona.
*
*
*
Di kantor polisi.
”Apakah ada bukti dari laporan mu itu Nak? Ini adalah jalur hukum. Bukan main-main. Semua harus jelas barang buktinya dan saksi mata.” tanya polisi pada Dion.
”Itu benar Pak polisi. Saya sendiri yang menjadi saksi__” ucapannya terpotong oleh seruan para warga.
”Saya juga menjadi saksinya!”
”Saya juga menjadi saksi! Nia adalah komplotan ular!”
”Saya juga menjadi saksi! Nia sendiri yang mengakui identitasnya.”
”Tenang... tenang...!” teriak Pak RT dan Pak RW menenangkan warganya.
”Pak, jika Bapak tidak percaya... mari kita pergi ke kediaman Pak imam sekarang. Para siluman ular sedang menargetkan Viona untuk menjadi korbannya. Dan untuk korban yang sudah meninggal adalah Sania dan ibunya Andra,” ungkap Dion setelah warga tenang.
”Saya sendiri mendengar teriakan Nia memanggil siluman ular dengan panggilan "Papa",” sambung Pak RT.
”Baik-baik! Saudara Nia dan ibunya kami akan tahan. Berikan kasus ini pada kami. Kami akan mengusutnya sesuai prosedur hukum,” ucap Pak polisi.
”Baik, Pak,” sahut Dion, dan Pak RT.
”Bawa Nia dan ibunya ke dalam sel.” titah Polisi pada bawahannya.
”Baik, Pak.” sahut Bawahannya. Ia membawa Nia dan ibunya Nia masuk ke dalam sel.
”Sekarang, kalian boleh bubar dan istirahatlah. Malam sudah semakin larut.” ucap Pak polisi.
”Baik, Pak.” seru para warga.
Semua warga berangsur-angsur meninggal halaman kepolisian.
Semoga ini sudah selesai. Tidak ada korban dari siluman ular lagi. Semoga Pak imam dapat mengalahkan siluman ular itu dan desa ini menjadi aman seperti semula.
Bagaimana dengan Viona? Aku sangat merasa bersalah padanya. Aku menyudutkannya, menuduhnya, membencinya. Apakah dia akan memaafkan ku jika aku meminta maaf padanya?
Ah... begonya aku! Padahal dia adalah wanita yang aku cintai... sekarang... jika aku mengatakan cinta padanya, setelah menyesali dan meminta maaf padanya, bukan kah aku orang bodoh? Dan itu sudah sangat terlambat, bukan! benak Dion. Ia menghela nafas.
__ADS_1