Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 12


__ADS_3

Di tengah hutan, di dalam sebuah goa.


”Nyonya, saya sudah dapatkan darahnya nona Viona.” lapor seorang wanita kepada nyonya nya.


”Bagus! Kerja bagus!” sahut sang nyonya dengan tersenyum lebar.


Wanita itu menyerahkan bungkusan plastik bening ukuran mini, yang berisi darah Viona pada nyonya nya.


”Dengan darah ini, aku bisa memverifikasi kan kalau gadis itu adalah anaknya kakak ku, Maria.” ucap sang nyonya sambil melihat darah Viona.


”Iya, Nyonya.” sahut wanita tersebut. Ia ikut bahagia melihat nyonya nya yang sedang hamil itu, sedang bahagia.


Berlia meneteskan darah Viona di atas batu permata keluarga, miliknya.


Berlia mengingat kembali kakaknya Maria dan adiknya Grenia. Juga mengingat kembali kebersamaan seluruh keluarga mereka semua, di kediaman sang ayah.


”Ayah, Ibu, apa itu yang Ayah dan Ibu buat? Warnanya dan bentuknya sangat cantik.” tanya Berlia pada ayah dan ibunya yang sedang merangkai perhiasan.


”Ayah dan Ibu lagi membuatkan gelang untuk kalian bertiga, Nak. Di ketiga gelang ini, nanti darah kalian akan di serap sama permata yang berjejer tiga di tengah gelang itu. Jadi, di saat kalian berpisah, kalian dengan mudah bisa saling bertemu. Atau...di saat ada masalah terjadi pada salah satu di antara kalian, kalian juga bisa tahu dari gelang ini.” jawab sang ibu menjelaskan.


”Memangnya bisa, Ma?” tanya Maria penasaran. Dialah anak yang paling tua di antara Berlia dan Grenia.


”Tentu saja bisa...di dalam gelang ini, Ayah sudah memberikan sedikit ilmu Ayah. Nah, yang ini sudah jadi, mari kita buktikan.” sambung sang ayah, menjelaskan.


”Iya, ayo tes Ayah. Aku mau lihat!” seru Maria, Berlia dan Grenia. Mereka sangat antusias sekali ingin melihat ajaibnya gelang itu.


”Baiklah, kita tes sekarang. Maria, kamu teteskan darah mu di permata yang merah ini. Berlia, kamu teteskan darah mu di permata emas ini. Dan kamu, Grenia__”


”Aku akan meneteskan sedikit darah ku di permata yang hijau itu kan, Ayah?” pangkas Grenia tersenyum.


Ayah dan ibunya tersenyum melihat Grenia. ”Iya, sayang. Anak pintar. Ayo, teteskan darah kalian di permata yang Ayah bilang,” titahnya.


”Baik, Ayah.”


Mereka bertiga mulai meneteskan darahnya di ketiga permata di gelang itu, ”Sudah, Ayah.” ucap mereka bertiga.


”Nah, sekarang coba lihat ini. Em...” sang ayah nampak melihat para dayang dayang dari ketiga anaknya itu.


Berlia melihat sang ayah seperti mencari seseorang, ”Ada apa Ayah? Ayah mencari siapa?” tanyanya, ia penasaran sambil melihat pandangan mata ayahnya tertuju.


”Tidak ada sayang.” jawab sang ayah.


”Kamu... coba kamu kemari.” titah sang ayah pada salah satu dayang prianya.


Si dayang pria itu menyeringai, mendatangi tuannya. ”Saya, Tuan!” Ia membungkukkan sedikit badannya menghadap sang tuan.


”Coba...coba kamu gertak sedikit Grenia. Buat dia seolah-olah Grenia dalam masalah.” titah sang ayah pada pelayannya.


Sang dayang melihat Grenia anak bungsu dari tuannya itu. Senyum jahatnya ia pancarkan.


Grenia jadi ketakutan melihat senyum jahat sang dayang dari ayahnya itu. ”Ayah, senyumnya jahat! Matanya sangat tajam! Grenia takut!” Ia berlari dan bersembunyi di belakang sang ibu.


Sang ibu dan ayahnya tertawa melihat tingkah anaknya yang berusia sepuluh tahun itu sedang ketakutan. Tingkahnya sangat menggemaskan.


”Sayang, tidak apa-apa. Dia adalah orang kita, dia tidak akan menyakitimu. Hanya terlihat seolah-olah seperti menyakiti saja.” jelas sang ayah membujuk Grenia.


”Benarkah?” tanya Grenia, ia kembali melihat raut wajah dayang ayahnya tersebut, sangat menyeramkan. ”Dia sangat seram, Ayah! Grenia sangat takut.” Ia masih bersembunyi di belakang ibunya.


”Kalau kamu takut, kamu di situ saja, di belakang ibumu.” sahut sang ayah. Sang ayah melihat dayang nya, ”Kamu, lakukan sekarang,” titahnya pada dayang tersebut.


Kalian bodoh! Anak kecil itu saja bisa tahu aku jahat, kalian masa tidak bisa? Baguslah! Tujuan ku kesini akan segera berhasil. Paling tidak, aku bisa membunuh anak bungsunya dan ibunya dulu. Kalau pun aku mati di sini, masih ada rekan ku yang lain, yang akan meneruskan tugas berikutnya. Keluarga ini harus hancur! Kerajaan ini, akan jadi milik tuan ku, tuan Genta! benak dayang tersebut.

__ADS_1


”Baik, Tuan!” Ia bergegas menghampiri Grenia yang ada di belakang nyonya nya. Dia mengeluarkan pisaunya yang paling tajam dari pinggangnya. Grenia sangat ketakutan.


Di saat dayang nya berjalan mendekati Grenia, permata warna hijau yang ada pada tengah gelang tersebut, yang ada di tangan sang ayah, berkedip-kedip.


Sang ayah tersenyum. ”Nah, coba kalian lihat! Saat Grenia merasa dalam masalah, permata hijau ini menyala berkedip-kedip, kan?” tanyanya pada ketiga anaknya tersebut.


”Iya, Ayah. Kami melihatnya.” seru Maria dan Berlia.


Sementara Grenia terus menatap ketakutan pada dayang ayahnya yang terus berjalan mendekatinya dengan senyum dan pandangan jahat.


Grenia benar-benar takut. Permata hijau semakin berkedip-kedip lebih terang dari sebelumnya.


Sang ayah juga khawatir. Ia melihat dayang nya yang sudah berhadapan dengan Grenia. ”Hei, kamu! Sudah cukup! Kembalilah ke tempat mu,” titahnya pada dayang.


Namun, dayang tersebut tidak mengindahkan perintah sang raja. Dengan cepat, dayang tersebut mengayunkan pedangnya ke badan Grenia.


”Argh! A__ayah, I__bu!” jerit Grenia kesakitan. Pedang tertancap di tubuh kecilnya.


Sang pelayan tersebut tertawa puas. Ia mencabut pedangnya dari tubuh Grenia. Grenia terjatuh di pangkuan sang ibu.


”Ah! Grenia...!” teriak sang ibu. Ia terkejut juga ketakutan melihat dayang nya sendiri yang masih berdiri di hadapannya, ”Argh!” jeritnya, tubuhnya ter-hunus pedang dari dayang nya.


”Ibu...! Adik...!” teriak Maria dan Berlia sambil berlari ke arah ibu dan adiknya.


”Tidak! Grenia...! istriku...!” Sang raja juga terkejut. Ia berlari ke arah anak dan istrinya.


Ia melihat pelayan tersebut ingin mengayun kan pedangnya kembali kepada kedua putrinya, Maria dan Berlia.


”Maria...! Berlia...! Awas!” teriak sang raja. Pedang kecilnya ia lemparkan pada dayang tersebut. Lemparan pedangnya tepat mengenai jantung pelayan yang membangkang itu, yang hampir menghunuskan pedang ke tubuh Maria.


”Nyonya! Lihatlah, darahnya Viona sudah menyatu di permata itu...” ucap wanita itu pada Berlia.


Berlia melihat permata leluhur miliknya. Darah Viona menyatu sempurna di permata itu. Bahkan, permata itu bersinar terang mengakui Viona keturunan mereka.


Berlia tersenyum lebar. ”Firasat ku tidak salah, aku mendatangi orang yang benar. Dia adalah anaknya kakak ku, Maria,” ucapnya senang.


”Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang Nyonya? Apakah kita akan mendorong Viona ke tempat kita? Dan menceritakan padanya siapa Nyonya dan hubungan antara Nyonya dan dia?” tanya wanita tersebut.


”Tidak! Jangan sampai ada yang tahu kalau dia adalah keturunan ular. Jika ada yang tahu, dia akan semakin di buruh sama anak buah Genta. Sekarang ini, kita lindungi saja dia diam-diam dari anak buah Genta yang menginginkan nyawa Viona.” ucap Berlia.


”Tapi...mengapa mereka menginginkan nyawa Viona jika mereka belum tahu Viona adalah salah satu keturunan ular, Nyonya?”


”Seseorang yang membayar anak buah Genta untuk memburu Viona, sepertinya saingan cinta.” jawab Berlia menerka.


”Apa Nyonya tahu siapa dia?”


”Sebelum anak buah Genta itu mati, dia tidak sempat menyebutkan nama wanita yang menyuruhnya.” jawab Berlia.


”Ibunya Andra beruntung, aku memberikan sedikit penawar racun di tubuhnya untuk bertahan pulang sampai ke rumah. Makanya beliau bisa bertemu dengan Viona dan Andra sebelum meninggal. Racun yang di semburkan sama si hitam pada ibu Andra sudah terlanjur menjalar di seluruh tubuh ibunya Andra. Aku terlambat menyelamatkan dirinya.” ungkap Berlia, wajahnya penuh sesal.


”Sudah waktunya si ibu itu meninggal, Nyonya. Nyonya tidak perlu menyalahkan diri Nyonya sendiri atas meninggalnya ibu Andra. Justru Nyonya sudah berbaik hati membuat ibu Andra meninggal di rumahnya, dan beliau sempat bertemu dengan anaknya sebelum meninggal. Jika bukan Nyonya yang menghambat jalannya racun dan membuat dua pria itu menemukan ibu Sumi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada jasad ibu Sumi.” papar wanita itu.


”Iya, kamu benar.” ucap Berlia.


*


*


Di rumah Andra.


Para tamu sudah mulai keluar dari rumah Andra. Mereka bersalaman dengan Andra dan Viona.

__ADS_1


Andra dan Viona tidak lupa mengucapkan terima kasih pada mereka yang datang di acara ke tiga hari ibu Sumi. Sekaligus mereka juga mengatakan kepada para tamu untuk datang lagi di hari ketujuh sang almarhumah.


”Alhamdulillah, acara haul hari ini berjalan dengan lancar.” ucap Viona bersyukur. Ia bersandar di dinding, menghilangkan penatnya setelah membersihkan rumah.


Andra duduk di samping Viona. ”Iya, Alhamdulillah. Terima kasih, Vi. Kamu sudah membantuku,” ucapnya tulus.


”Iya, sama-sama. Kita masak apa untuk makan malam ini?” tanya Viona.


”Apa kamu masih lapar?” tanya Andra.


”Tidak, aku masih kenyang. Tapi... tidak tahu kalau tengah malam sebentar, mungkin saja aku akan lapar.” jawab Viona.


”Kalau begitu nanti saja baru masak. Sekarang, kamu istirahat saja dulu. Semenjak tadi kamu sibuk terus dari mempersiapkan semuanya sendirian.”


”Hum, ini juga lagi istirahat kok.” sahut Viona.


”Vi...kamu gak kangen sama orang tuamu?”


”Apakah ada anak yang tidak kangen sama orang tuanya? Atau apakah ada orang tua yang tidak merindukan anaknya?” Viona bertanya balik pada Andra. Andra menggeleng.


Viona menghela nafas. Ia memikirkan kedua orang tuanya dan kakak nya. ”Anak dan orang tua pasti saling merindukan. Aku merindukan mereka. Tapi... aku masih kesel dengan mereka. Kenapa kamu bertanya begitu?”


”Gak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin mengingatkan mu saja pada orang tuamu. Mereka pasti khawatir dan terus mencari mu. Apa kamu gak kasian sama mereka?”


”Aku akan kembali di saat kamu kembali ke kota. Aku akan meminta maaf pada mereka karena aku sudah menyusahkan mereka dan membuat mereka khawatir.” ucap Viona. Ia mengerti maksud ucapan Andra.


”Sudah masuk Isya, adzan sudah berkumandang. Ayo kita berwudhu.” ajak Andra.


”Iya.” Viona berdiri mengikuti Andra ke belakang.


Semenjak kejadian itu, Andra selalu menemani Viona ke belakang. Berkat usulan dari beberapa orang, Andra dan Viona menggaris dan menaburkan kapur barus di setiap cela rumah yang di anggap bisa di lewati ular, mencegah ular masuk ke dalam rumah.


Katanya ular tidak suka pada bau-bau yang menyengat dan tajam. Selain kapur barus, Viona dan Andra juga menanam daun serai di bawah jendela-jendela di rumah tersebut. Semua mereka lakukan untuk mencegah agar ular tidak dapat masuk ke dalam rumah.


Viona dan Andra telah selesai berwudhu, sekarang mereka lagi shalat berjamaah di ruang depan.


Semenjak meninggalnya ibu Andra, mereka selalu shalat di rumah berjamaah. Hanya di hari Jum'at saja Andra shalat di masjid. Sementara Viona, shalat Dzuhur sendirian di rumah.


”Assalamu 'alaikum warahmatullahi”


”Assalamu 'alaikum warahmatullahi ”


Andra dan Viona telah selesai shalat Isya. Andra dan Viona sama-sama menengadahkan tangannya keatas untuk berdoa.


”Aamiin!”


”Aamiin!” sahut Viona. Mereka saling bersalaman.


”Kalau kamu ingin tidur, tidurlah. Lihatlah matamu yang sudah kecil itu.” titah Andra pada Viona.


”Iya. Tapi...aku tidak mau tidur di dalam kamar. Aku tidurnya di kursi itu saja.” ucap Viona.


”Hum, sebentar, aku ambilkan bantal dan selimut untuk mu.” ucap Andra, ia berdiri dan masuk ke kamar ibunya.


Viona melihat punggung Andra sambil tersenyum senang. Ia sangat bersyukur bertemu dengan Andra. Dia pria yang baik.


Andra keluar dari kamar ibunya dengan membawa bantal dan selimut. Ia menyimpan bantal dan selimut di kursi panjang.


”Vi... istirahatlah.” titah Andra pada Viona.


Viona tersenyum dan mengangguk. Ia berbaring meluruskan pinggang dan punggungnya di kursi. Ia memejamkan mata. Karena lelah, ia pun tidur dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2