
Di jalan pulang ke rumah Sania.
Tubuh Sania masih bergetar ketakutan. Wajahnya masih terlihat pucat. Dia sungguh tidak menyangka jika Nia berkomplot dengan siluman ular.
Apakah Nia berbohong tentang Viona? Yang sebenarnya, yang berkomplot dengan ular itu bukan Viona, melainkan dirinya. Apakah kematian ibu Andra ada hubungannya dengan Nia?
Penyerangan dua kali di rumah pak imam juga ulah Nia? Ternyata, obat racun yang Nia berikan itu dari siluman ular, bukan tabib pakar bisa ular.
Oh, Nia menyukai Andra, untuk itulah dia ingin menjauhkan Viona dan Andra. Makanya dia berusaha untuk membuat Viona celaka.
Aku bersalah pada Viona dan Andra yang sudah menuduh mereka dengan begitu buruk. benak Sania.
Air mata penyesalan Sania mewakili rasa bersalahnya. Dia melihat ke belakang, tidak ada yang mengikuti. Dia mempercepat langkahnya.
Pantas saja rumahnya Nia masuk ke dalam sekali dari rumah-rumah yang ada di sekitar sana. Rumahnya juga sangat berjarak dari rumah warga lain. Dan lampu di depan rumahnya tidak ada.
Ternyata, dia siapkan untuk komplotan ularnya agar tidak ketahuan warga, jika mereka berkunjung ke rumahnya Nia. Dan lubang di belakang rumah Nia, jelas sekali lubang yang sering di pakai untuk keluar masuknya ular. benak Sania.
”Aaaaa!” teriak Sania saat merasakan ada sesuatu hewan yang berjalan melata di kakinya. Dia loncat-loncat agar terhindar dari hewan tersebut. Namun, hewan itu tidak pergi.
Sania berjongkok melihat kakinya di cahaya remang-remang. ”Cacing tanah!” Ia merasa lega.
”Jika terjadi sesuatu dengan ku di jalan ini, warga tidak akan mendengar ku jika aku berteriak. Sebaiknya aku berlari ke depan lagi, di dekat rumah warga lainnya.” gumam Sania, ia menghapus air matanya.
Dia menyingkirkan caci tanah dari kakinya. Lalu, dia kembali berjalan. Dia sangat ketakutan. Dia takut sekali jika saja hewan tadi itu adalah ular.
Dia berlari agar cepat menemui rumah warga lainnya.
Sania menghentikan langkahnya saat mendengar desis ular dari pinggir jalan. Dia melihat di pinggir jalan itu. Tidak ada ular!
Ini tidak mungkin! Desis suara ular sangat terdengar jelas di telinganya. Sania bergegas berlari dalam ketakutan.
”Tolong....! Tolong...!” teriaknya saat dia melihat rumah warga. Dia terus berlari.
Langkanya mendadak terhenti. Dua ekor ular hitam telah menghadangnya. Sania sangat terkejut sekali dan sangat takut, apalagi kedua ular itu berdiri dan melebarkan lehernya, lidahnya terjulur keluar masuk di mulutnya.
Matanya terbelalak sempurna menatap dua ular itu. Kedua tangannya memegang erat tali tasnya. Air matanya kembali mengalir. Dia menangis, ”Mama... Huhu...hu..hu...” Dia sangat sedih dan bingung dengan situasi yang dia hadapi saat ini.
Begini kah rasanya saat kamu di serang sama ular, Viona? Huhu....hu.... aku...aku...harus apa? Di sini tidak ada kayu panjang untuk melindungi diri. Pisau, aku... aku punya pisau di dalam tas. benak Sania.
Dia memasukkan tangannya ke dalam tas dengan pelan-pelan. Dia meraba-raba isi di dalam tas. Dia tidak menemukan pisau kecilnya, ” Mampus sudah aku hu...hu...hu...”
Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia melihat dua, tiga pintu rumah warga terbuka dan ada orang yang berdiri di depan pintu.
Dia tersenyum senang, ”To....! Argh! Argh!” tubuh Sania ambruk ke tanah merasakan kedua kakinya sakit, di patuk oleh kedua ular itu. ”To... tolong.....! Tolong aku....” teriak Sania sambil terisak.
Sania melihat kedua ular itu telah pergi setelah beberapa warga yang datang berlari ke arahnya.
Bisa racun kedua ular itu cepat merambat ke nadi Sania. Melumpuhkan beberapa jaringan otot di dalamnya. Sania tidak berdaya. Tubuhnya lemas dan lemah.
”Astaghfirullah! Sania!” seru para warga. Mereka terkejut, melihat Sania yang sudah tidak berdaya.
”Cepat! Cepat! Angkat Sania bawa ke rumahnya. Semoga saja dia masih bisa di selamatkan!” seru para warga lainnya.
Mereka mengambil satu buah sarung dan dua buah kayu bambu. Bambu tersebut di masukkan ke dalam sarung dan mereka meletakkan Sania di atas sarung. Empat orang pria mengangkat ke empat sudut ujung bambu tersebut. Mereka membawa Sania pulang ke rumahnya.
*
*
Di rumah Nia.
”Bagaimana ini! Apakah anak buah Papa berhasil mengejar Sania dan membunuhnya?” Nia menjadi panik. Dia mondar-mandir di teras rumahnya, di depan mama dan papanya.
”Kamu gak bisa duduk, Nia! Mama pusing melihat kamu yang tidak bisa diam!” omel mama Nia.
”Lapor, Tuan! Sania berhasil kami kejar dan kami melukainya dua kali. Kami langsung menyerang urat nadi dan saraf di kakinya. Orang-orang kampung sedang membawa Sania ke rumahnya.” lapor anak buah papa Nia pada tuannya, papanya Nia.
Nia dan mamanya tersenyum senang.
”Hahaha! Bagus! Kerja yang bagus! Sania tidak mungkin akan selamat!” ucap papa Nia.
”Bagaimana anakku? Apa kamu puas! Sudah tidak khawatir lagi?” tanya papa Nia pada anaknya, Nia.
__ADS_1
Nia tersenyum lebar. ”Sangat puas, Papa! Nia tidak perlu khawatir lagi jati diri Nia yang akan terbongkar.” sahutnya.
”Baiklah kalau begitu, Papa pulang sekarang.” pamit papa Nia.
”Iya, hati-hati di jalan, Papa!” ucap Nia dan mamanya Nia.
Papa Nia dan anak buahnya kembali pulang.
Nia kembali duduk di bangku. ”Mama, ada perlu apa Sania mencari ku?” dia penasaran.
”Tidak tau, Mama juga tidak bertanya. Dia hanya bilang mencari mu dan ingin bicara sama kamu.”
”Kamu tidak sedih kehilangan teman mu?” tanya mama Nia.
”Hanya merasa kehilangan saja! Jika saja dia tidak melihat segalanya, dia tidak mati dengan cepat. Salah dia telah mengetahui jati diriku.” jawab Nia, wajahnya datar, tanpa ekspresi apapun.
”Kamu sendiri bagaimana lukamu? Sudah sembuh?”
”Sudah dong, Ma. Makanya Nia minta pulang saja ke rumah. Oh, ini papa ada memberikan batu permata juga obat racun ular pada kita berdua, Ma.” Nia mencari obat dan batu permata itu dari dalam tasnya.
Dia menaruh dua botol obat dan buah permata di atas meja.
”Untuk apa ini?” tanya mama Nia.
Nia mengambil botol obat. ”Ini obat penawar racun. Di minum saat terkena racun ular,” jelas Nia.
Mama Nia mengambil botol obat tersebut.
Nia kembali mengambil batu permata. ”Yang ini jika terkena patukan ular, batu permata ini tinggal simpan saja di bekas gigitan ular, maka racun ularnya akan tersedot oleh batu tersebut,” jelasnya lagi.
”Oh, mengapa papa mu memberikan pada kita?” Ia penasaran.
”Untuk berjaga-jaga saja! Jangan sampai musuhnya bos nya papa mengincar kita, Ma.”
”Oh,” singkat mama nya Sania menyahuti.
”Mama tahu siapa musuhnya mereka?”
”Tidak tahu. Sudah malam, masuklah tidur!” titah mama Nia. Dia pun masuk ke dalam rumah.
Di kamar Nia.
Sania...maafkan aku jika aku membunuh mu...Jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri yang tahu kebenaran tentang ku. benak Nia.
Dia membaringkan diri di atas ranjang.
*
*
Di rumah Sania.
”Ya Allah, ada apa ini? Mengapa datangnya rame-rame di rumah ku? Itu, itu siapa?” tanya ibu Sania, yang kebetulan sedang berada di teras rumah.
Empat pria yang membawa Sania tadi langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi dari si pemilik rumah.
Ibu Sania menjadi cemas dan khawatir. Dia mengikuti orang-orang yang masuk ke dalam rumahnya.
”Ini...Sania nya belum datang, kalau ingin berobat. Dia sakit apa? Tunggu Sania datang dulu ya! Ini...anaknya siapa yang sakit? Kok, bawanya kemari pakai sarung begitu. Dan kenapa wajah kalian sedih begitu?” tanya ibu Sania.
Para warga tidak ada yang menjawab. Ke empat pria itu menurunkan sarung dengan pelan-pelan ke lantai, agar tubuh Sania tidak terketuk lantai.
”Hah! Ti__tidak! Ini...ini...tidak mungkin! Anakku...anakku tidak mungkin meninggal! Huhu... hu...” tubuh ibu Sania jatuh lemas di hadapan jasad anaknya itu.
”Sabar, Bu! Kami turut berduka cita atas perginya Sania.”
”Iya, Bu! Kami ikut merasa kehilangan sosok dokter di desa kita ini.”
”Yang sabar ya, Bu!”
”Kuatkan hati, Ibu!”
Ibu Sania tidak menyahuti bela sungkawa dari orang-orang. Dia terus saja menangis, memeluk anaknya itu.
__ADS_1
”Ini semua gara-gara Viona! Dia marah, dia dendam sama anakku karena kemarin anakku tidak datang untuk mengobatinya, saat Viona butuh pengobatan. Makanya dia membunuh anakku...” kata ibu Sania di sela isak nya.
”Gak boleh asal menuduh, Bu.” tegur salah satu warga.
”Asal tuduh bagaimana, Bu...Ibu?! Kita di sini semua sudah tahu kalau Viona adalah komplotan ular dan sedang mencari tumbal!” suara ibu Sania tinggi, dia kesal para warga tidak mempercayai ucapannya.
”Ha__hari ini, malam ini, anakku yang meninggal... Besok-besok pasti anak Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang akan menjadi korbannya.” ucap ibu Sania lagi, mengingatkan pada warga untuk berhati-hati.
Para warga terdiam, desas desus kabar Viona memang sudah tersebar di kalangan sebagian warga.
Berita tersebut ada yang di percayai ada juga yang tidak percaya.
”Malam-malam begini...Sania pergi kemana, Bu?”
”Dia pergi menemui Nia. Hu...hu...anakku... Mengapa kamu pergi dengan cepat..hu...hu....”
”Yang lain, beritahu pada warga berita duka ini. Yang lainnya, pergilah kabari pak imam.” titah salah satu warga di antara mereka.
”Iya,” seru para warga.
Beberapa warga lainnya mulai memberitahu pada warga berita duka dari Sania. Dan dua warga lainnya pergi ke rumah pak imam.
*
*
Di rumah pak imam.
Tok tok tok! ”Assalamu 'alaikum pak imam!” mereka berdua mengetuk pintu rumah pak imam dan memberi salam.
”Sekali lagi, To.”
”Iya.”
Tok tok tok! ”Assalamu 'alaikum pak imam!” kembali dia mengetuk pintu dan memberi salam.
Mereka mendengar pintu rumah pak imam terbuka.
”Wa 'alaikum salam! Ada apa ini malam-malam datang bertamu?” tanya Ali. Dia yang membukakan pintu rumah.
”Ini...kami mau sampaikan berita duka dari Sania. Saudari Sania telah meninggal dunia, dini hari.” jawabnya.
”Inna lilllahi wa inna ilaihi raji'un! Iya, terima kasih atas infonya. Aku akan kabari pada papa ku.” ucap Ali.
”Iya, kami permisi dulu. Assalamu 'alaikum! pamit mereka berdua.
”Iya, wa 'alaikum salam!”
Kedua pria itu pergi. Ali kembali masuk ke dalam rumah.
Ali tidak berani mengetuk pintu kamar papanya. Papanya sedang melakukan dzikir yang tidak bisa di ganggu.
Dia pergi ke kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya pelan. Dia mendekati Andra.
”Dra, bangun Dra!” Ali membangunkan Andra.
Andra terbangun. Bukan hanya Andra yang terbangun, tapi, Viona ikut terbangun dari tidurnya.
Viona dan Andra melihat jam dinding pukul 21 : 50, hampir jam sepuluh malam.
”Ali, ada apa?” tanya Andra dan Viona.
”Dra, Viona, Sania... Sania sudah meninggal dunia, baru saja.”
”Inna lilllahi wa inna ilaihi raji'un.” ucap Andra dan Viona terkejut.
Mereka seakan tidak percaya kalau Sania telah tiada. Sore hari, Sania sempat datang untuk mengunjungi Viona.
”Pak imam sudah tahu? Ayo, kita pergi ke depan.” ajak Andra.
Mereka bertiga pergi ke depan.
”Bapak masih berdzikir, tunggu setelah bapak keluar baru kita beritahu papa dan pergi melayat.” jawab Ali.
__ADS_1
Andra mengangguk. Mereka bertiga menghela nafas.