Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 48.


__ADS_3

Keesokan paginya, di masjid.


Andra, Viona, Ali, Anisa, ibu Ali dan Pak imam telah berada di masjid sebelum para warga datang.


”Apakah semuanya sudah siap?” tanya Pak imam pada pihak masjid.


”Alhamdulillah, semuanya sudah siap, Pak imam. Tinggal menunggu para warga datang, acara sudah bisa di mulai,” jawab salah satu pihak masjid.


”Oh. Iya.” sahut Pak imam senang.


”Andra, Viona, kalian berdua sudah menyiapkan nama untuk si bayi, kan? Jangan sampai di saat pemberian nama... baru kalian kelimpungan,” kata Pak imam mengingatkan Andra dan Viona.


”Iya. Aku sudah menyiapkan nama untuknya. Pak imam tidak perlu khawatir.” Andra yang menjawab pertanyaan Pak imam.


Viona tersenyum melihat bayi yang ada di gendongannya. Sayang namamu sudah di siapkan oleh ayah mu, Andra. Kamu senang benaknya sambil mencolek hidung si bayi.


Si bayi tersenyum seketika meski matanya terpejam. Membuat Viona semakin melebarkan senyumnya.


Andra memperhatikan Viona, keningnya mengerut. Hal apa yang membuat Viona tersenyum bahagia? benaknya.


Pak imam tersenyum bahagia sambil menepuk pundak Andra. ”Baguslah. Bapak pergi keluar dulu. Kalian, duduklah dulu di sini. Setelah warga datang, kalian baru ke depan,” ucapnya.


”Iya, Pak imam.” sahut Andra dan Viona. Pak imam pergi ke depan, ke dalam tenda yang di siapkan untuk acara.


”Hal apa yang membuat mu tersenyum senang?” tanya Andra pada Viona, ia mencolek hidung si bayi.


”Bukan urusan mu,” ketus Viona menyahut.


”Vi, kamu masih marah sama aku? Ku kira setelah malam berlalu, kamu sudah memaafkan ku...” ucap Andra dengan sedih melihat Viona. Viona terdiam.


”Vi, bicaralah! Ku mohon...!” ucapnya lagi lirih. Viona masih terdiam. Bahkan, ia malah membuang muka dari Andra.


”Bukankah semalam kamu bilang tidak akan semakin marah padaku jika aku tidur? Semalam kamu masih berbicara baik padaku, kenapa sekarang... malah membuang muka dariku? Kamu sudah tidak mencintai ku lagi?”


Aku masih mencintaimu... tapi, aku masih tidak ingin berbicara dengan mu. Aku masih sebel... sudah dua tahun kamu putus dengan Nia. Tapi fotonya masih tersimpan rapi di dalam dompet mu, bahkan status mu sekarang adalah pacarku. Sudah enam bulan kita berpacaran, kamu masih menyimpan fotonya Nia di dalam dompetmu. Kalau bukan aku yang mengungkit foto tersebut, kamu tidak akan membuang foto itu, kan? Eh, tunggu! Apa... jangan-jangan...dompet itu... dompet pemberian Nia! benak Viona. Wajahnya berubah murung.


Andra memperhatikan Viona. ”Vi, kok wajah mu berubah murung? Apalagi salah ku?” tanyanya.


Viona melihat Andra serius, ”Apakah itu... dompet mu itu pemberian Nia?” tanyanya penasaran.


”Hah, dompet? Oh, bukan sayang! Dompetnya aku beli sendiri pakai uang gaji kedua ku. Aku ke kota setelah lulus SMA. Dan aku putus dengan Nia beberapa bulan sebelum ulangan kelulusan sekolah, bagaimana bisa Nia punya kesempatan untuk memberikan aku dompet? Aku sama dia sudah tidak punya hubungan apapun,” jawab Andra menjelaskan.


”Oh, baguslah! Jika saja itu pemberian Nia... jangan harap hubungan kita akan harmonis lagi,” ancam Viona.


”Tidak sayang! Dompet ini sungguh aku beli pakai uang ku sendiri. Tidak ada hubungannya dengan Nia. Percayalah padaku, sayang! Jangan cemburu lagi. Ok?”


”Andra, Viona, ayo ke depan, acaranya akan segera di mulai,” ajak salah satu pihak masjid pada Andra dan Viona.


”Oh, iya.” sahut Viona. Ia langsung melangkah mengikuti pihak masjid tersebut, meninggalkan Andra yang masih menantikan jawabnya.


Andra mendengus, menghela nafas. ”Huh! Cewek yang cemburu sama parahnya dengan pria yang pencemburu. Susah bujuknya. Sudahlah, selesai acara baru bicarakan lagi dengan Viona,” gumamnya. Ia melangkah menyusul Viona ke depan.


*


*


*


Di kota, di kamar, di kediaman Kevin.

__ADS_1


”Uhm...” Maria membuka matanya. Kevin tersenyum bahagia melihatnya.


”Sayang, kamu sudah bangun? Papa sangat khawatir padamu, kamu tertidur selama tiga hari tiga malam tanpa membuka mata. Papa sangat mencemaskan mu dan Papa sangat takut kehilanganmu, ini pertama'kalinya kamu sakit semenjak kita menikah. Maafkan Papa yang tidak bisa membahagiakan dan menjaga Mama dengan baik,” ucap Kevin pada Maria.


Apa? Aku...aku sudah tiga hari tertidur? Pantas saja ada selang infus di tangan ku. benak Maria.


”Papa. Kapan Viona akan di cari lagi? Mama tidak mau menunggu Viona pulang. Aku mau Papa dan Lirjan mencari Viona,” ucap Maria.


”Maafkan Papa, Mama. Papa belum mencari Viona tapi, menurut Papa, Viona baik-baik saja di manapun dia berada,” jawab Kevin. Ia tidak ingin membuat istrinya stres karena memikirkan Viona. Ia ingin istrinya sehat terlebih dahulu.


”Tapi Papa, ini sudah setengah tahun kepergian Viona. Kita tidak tahu di mana dia berada, bagaimana kondisinya, dan dia sedang apa. Mama benar-benar khawatir padanya!” ucap Maria.


Apalagi, sekarang adikku sudah tiada. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku khawatir pada Viona, jika benar dia pergi ke desa, takutnya dia pergi ke desa itu. Desa yang di mana kerajaan ayah ku juga berdiri di sana dan juga musuh-musuh ayahku berada. Takutnya identitas Viona akan ketahuan dari wajahnya Viona yang mirip dengan ku. Viona kamu harus baik-baik saja. benak Maria.


”Mama, kalau Mama sudah sembuh, Papa dan Lirjan akan kembali mencari Viona sampai ke pelosok desa-desa. Kami akan mencari Viona di setiap desa yang akan kami temui,” ucap Kevin serius.


”Mama sudah tidak apa-apa. Mulai besok, mulailah cari keberadaan Viona,” pinta Maria.


”Iya. Sekarang, Mama istirahat lah kembali. Atau... sebaiknya Mama makan dulu. Papa akan siapkan makanan untuk Mama.”


”Tidak, Mama tidak lapar. Mama mau istirahat saja,” sahut Maria. Ia kembali memejamkan matanya.


”Istirahatlah!” sahut Kevin. Ia menarik selimut menyelimuti tubuh istrinya. Kevin mencium kening Maria setelahnya ia duduk kembali di kursi, di tempat duduknya semula.


Tunggu! Sepertinya aku melihat kantung mata Kevin sudah menghitam. Apakah dia tidak tidur dengan baik selama tiga hari tiga malam ini? Aku... Maria membuka matanya memperhatikan Kevin. Benar! Kantung matanya benar-benar hitam. Jangan-jangan... dia juga tidak makan dengan baik! Aku sudah egois. benak Maria.


”Kenapa? Apa ada yang tidak nyaman? Apa ada sesuatu yang sakit? Papa akan panggilkan Sabil,” kata Kevin panik saat melihat kening istrinya mengerut dan wajahnya terlihat sedih.


”Tidak, Mama tidak apa-apa. Mama hanya sedang lapar saja,” ucap Maria.


”Baiklah, Papa akan buatkan makanan untuk Mama. Mama mau makan apa?”


”Baiklah Papa akan masakan dulu.”


”Iya,” sahut Maria.


Kevin melangkah keluar dari kamar. Maria duduk bersandar di ranjang dengan baik-baik menunggu Kevin datang dengan membawa makanan.


*


*


*


Di desa, di masjid.


Wah...apakah acaranya seperti ini? Sebelum rangkaian acara di mulai di dahulukan dengan mengaji. benak Viona dan Andra.


”Shadaqallahul adzim...” Pembaca alquran telah selesai membaca alqurannya.


”Baiklah, sekarang pemberian nama yang di lanjutkan dengan gunting rambut,” ucap Pengurus masjid.


”Andra, siapa nama bayi ini?” tanya Pak imam.


”Namanya adalah Viendra Goldnara,” jawab Andra.


Viendra Goldnara? Viendra, apakah dia mengambil Vie dari namaku dan ndra dari namanya sendiri? Goldnara, gold ciri has ular cobra emas. Nara artinya sangat banyak dari berbagai negara. Dalam islam sendiri api. Dalam bahasa persia artinya api unggun atau buah delima. Dalam bahasa Yunani Nara artinya perempuan yang selalu bahagia. Namanya aku suka. benak Viona. Ia tersenyum.


Pak imam mulai memberikan berkah pada si bayi.

__ADS_1


”Kamu suka namanya?” bisik Andra pada Viona.


”Jangan merayuku! Biarkan acara ini selesai baru kita bicara,” balas Viona berbisik.


Acara pemberian nama telah selesai, sekarang acara gunting rambut. Viendra, si bayi itu dalam gendongan Ibu Ali sekarang. Ia berdiri di samping Pak imam yang akan menggunting rambut Viendra pertama kali. Setelah Pak imam menggunting sedikit rambut Viendra, ibu Ali pindah pada orang di samping Pak imam untuk menggunting rambut Viendra juga. Begitu terus hingga ke sepuluh orang di sana mendapatkan giliran menggunting rambut Viendra.


Beberapa menit berlalu, rangkaian acara telah selesai di gelar. Para warga juga sudah selesai memberikan doa dan harapan pada si bayi. Para hadirin juga sudah menikmati masakan yang di sajikan tuan pesta.


Acara pun selesai dan para warga telah bubar.


”Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar,” ucap Ibu Ali, Pak imam, Viona, Andra dengan rasa syukur pada Allah.


”Iya, Alhamdulillah Allah melancarkan semuanya,” sahut Ali, Anisa, dan ketua pengurus masjid.


”Berkat jawaban Pak imam yang menjawab pertanyaan warga tentang asal usul bayi ini, para warga tidak bertanya lebih lagi tentang Viendra.” ucap Viona.


”Iya, terima kasih Pak imam. Kalau bukan Pak imam yang menyiapkan jawaban itu, kami akan bingung menjelaskan tentang hadirnya bayi ini,” sambung Andra.


”Ini juga karena anak buah Berlia, Arfa, yang bersedia berpura-pura sakit dan tidak mampu merawat bayi ini dan memberikan tanggung jawabnya pada Andra dan Viona sebelum acara tadi di mulai,” ucap Pak imam sambil melihat anak buah Berlia, Arfa. Semua mata melihat Arfa. Arfa hanya tersenyum saja melihat mereka.


Bagi Arfa itu semua tidak berarti apa-apa. Dia akan melindungi anaknya Berlia dengan segenap raga dan jiwanya.


”Baiklah! Semuanya sudah selesai, tenda juga sudah di buka, halaman sudah di bersihkan, sekarang waktunya kami berpamitan untuk pulang.” ucap Pak imam pada ketua pengurus masjid.


”Iya, Pak imam. Terima kasih telah mempercayakan saya yang merangkai dan mempersiapkan seluruh acara ini.” sahut ketua pengurus masjid.


”Iya. Sama-sama, kami pergi dulu,” pamit Pak imam.


”Iya, hati-hati di jalan.”


”Iya,”


Pak imam dan yang lainnya pulang kembali ke kediaman Pak imam.


*


*


*


Di kota, kediaman Kevin.


”Syukurlah kamu sudah sadar Maria, jika tidak, aku tidak tahu bagaimana cara suami mu akan menyiksaku lagi.” ucap Sabil pada Maria.


”Apa suami ku menyiksamu?” Maria bertanya tidak percaya. Kevin menatap Sabil.


Sabil menciut seketika. ”Ah, tidak. Aku hanya khawatir saja karena di saat kamu tidak sadarkan diri, suami mu tidak makan dan tidak tidur dengan baik. Ini baru dia memakan makanan, jika tidak, dia hanya meminum air dan memakan roti saja,” ungkapnya.


Maria melihat suaminya. Wajah Kevin berubah seketika, ia menjadi seorang pria yang butuh di kasihani dan perhatian dari istrinya.


”Baiklah! Kalau begitu, Sabil, maaf merepotkan mu lagi. Bisakah piring kotor ini kamu yang membawanya pergi? Aku ingin istirahat bersama suamiku,” pinta Maria.


”Iya, kakak ipar. Aku pergi dulu,” pamit Sabil. Ia mengambil piring kotor dari atas meja dan keluar dari kamar Kevin.


”Sayang, maafkan Mama, Mama sudah membuat Papa khawatir.” ucap Maria.


”Mama jangan meminta maaf, Papa yang salah. Papa yang harus meminta maaf pada Mama.”


”Sudahlah, mari, sini, di samping Mama. Mama ingin istirahat di pelukan Papa. Papa juga perlu istirahat.”

__ADS_1


Kevin menurut. Ia berbaring di samping istrinya yang sudah berbaring itu. Maria memeluk tubuh suaminya. Ia kembali memejamkan mata agar suaminya ikut tidur.


__ADS_2