Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 24


__ADS_3

Tengah malam di kamar Ali.


Andra tidak bisa tidur. Pikirannya tiba-tiba mengingat kejadian sore hari saat di dapur, di rumahnya sendiri.


”Jangan takut! Percayalah padaku!”


”Ambil botol itu dan minum airnya. Kalung itu pakailah!”


”Jangan takut! Minumlah! Pakailah!”


”Percayalah padaku...percayalah!”


Ucapan ular emas cobra terngiang di telinganya.


Andra bangun dari baringnya. Dia melihat Ali, Ali telah tertidur lelap. Dia mengeluarkan botol kecil dan kalung dari sak celananya.


Di lihatnya kedua benda itu. Benda yang dii berikan oleh ular cobra emas.


Apa tidak apa-apa, aku meminum isi dari botol ini? Tapi...aku masih ragu untuk meminumnya. Apa aku pertanyakan hal ini pada pak imam dulu, ya? Jika tidak apa-apa di minum, aku akan meminumnya. Jika tidak baik, di buang saja. Tapi, apa tidak apa memberitahu hal ini pada pak imam?


Ah...aku bingung sekali. Harus ku apakan kedua benda ini? Tapi..jika aku tidak meminumnya, aku tidak akan tahu apa maksud dari minuman ini. Kalung ini juga. benak Andra.


Dia menghela nafas, dengan bismillah dia memakai kalung itu. Kalung yang terlihat biasa saja. Karena kalungnya terbuat dari benang. Tapi, benangnya sangat kuat. Mainannya juga terlihat seperti barang imitasi dari batu permata, yang terbuat dari bahan plastik, bahkan bisa terbakar api. Namun, itu adalah mainan permata asli, jika permata ini berada di bawah cahaya lampu, pasti akan bersinar terang.


Sementara botol kecil, dia simpan kembali ke dalam sak celananya. Dia pergi ke kamar mandi. Mengambil air wudhu dan kembali berbaring.


Ini pertama kalinya aku tidur di rumah orang dan sekamar dengan orang. Apakah Viona bisa nyaman tidur bersama Anisa? benaknya.


Ah, sudah pasti dia tidur dengan nyaman di samping Anisa. Dulu, pertama kalinya datang di rumahku, dia juga tertidur nyaman di samping ibuku. benaknya lagi.


Dia pun memejamkan matanya.


.. ..


Di kamar Anisa.


Viona sendiri tidak bisa tidur. Dia masih penasaran dengan buku siluman ular. Tapi, sayangnya, buku tersebut tidak bisa di bawa keluar dari mushola. Jika ingin membaca, baca di dalam mushola saja.


Apakah Andra sudah tidur? Tidur seperti ini membuat ku rindu padanya. Biasanya dia yang menemani ku tidur. Jika aku tidak bisa tidur, dengan menatap wajahnya yang tidur pulas di lantai, lambat laun aku pun tertidur.


Hais...aku merindukan suasana di rumah Andra.


Hum...bagaimana kabar mama, kakak, dan papa ya di sana? Semoga baik-baik saja. Tapi...untuk kuliah ku, pasti tidak akan baik.


Mungkin saja saat ini surat dikeluarkannya aku dari kampus sudah di terima oleh papa dan mama.


Ya ampun...bagaimana aku bisa tidur kalau begini? Apa sebaiknya aku coba ambil air wudhu, istighfar baru tidur. benak Viona.


Dia pun bangun dari ranjang, pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah itu, dia kembali ke ranjang dan berbaring. Dia beristighfar sambil memejamkan matanya.


.. .. ..


Di kamar Ali.


”Hah! Hiyat....! Argh!”

__ADS_1


Mata Ali perlahan terbuka saat samar mendengar suara-suara itu. Dia mempertajam pendengarannya.


”Argh...! Hah...!”


Suaranya jelas terdengar dan itu adalah suara Andra. Ali bangun dan memperhatikan Andra.


Matanya terpejam, dia sedang tertidur. Tapi, keringatnya memenuhi wajah dan tubuhnya sehingga baju kaos yang di kenakan setengah basah.


”Argh!” igauwan Andra kembali terdengar, ekspresi di wajahnya juga berubah. Bahkan kedua tangan Andra terkepal kuat.


”Bang...Bang Andra...bangun Bang!” Ali mencoba membangunkan Andra dari tidurnya.


”Bang...ayo bangun! Bangun Bang Andra...Bang!” kembali dia membangunkan Andra. Kali ini dengan menepuk pelan pipi Andra.


”Hah! Hah....Hah...!” Andra terbangun karena terkejut. Dia mengatur nafasnya terlebih dahulu.


Ali juga membiarkan Andra mengatur nafasnya. Beberapa menit berlalu, Andra sudah bernafas dengan normal kembali. Andra juga terlihat tenang.


”Bang Andra habis mimpi apa? Kok sampai keringatan begitu!” Ali penasaran.


”Hah! Masa?” Andra melihat bajunya. Benar saja keringat sudah membasahi bajunya. Bahkan, keringat di wajahnya masih terus mengalir dari pelipisnya.


Masa hanya di alam mimpi sampai benar di kenyataan? benak Andra.


”Iya, Bang. Abang bermimpi sedang berkelahi dengan orang?” Ali masih penasaran.


”Hah! Tidak. Tidak apa-apa. Ini juga hanya sekedar mimpi, hanya bunga-bunga tidur saja. Maaf, aku sudah membangunkan tidur mu. Kamu kembalilah tidur. Aku ke kamar mandi dulu.” Andra turun dari ranjang.


Dia mengambil baju di dalam tas pakaiannya dan pergi ke kamar mandi.


Dia kembali berbaring. Namun, tidak tidur. Dia menunggu Andra kembali ke ranjang.


Di kamar mandi.


Andra membuka bajunya yang basah. Dia meletakkan di gantungan baju, di belakang pintu kamar mandi.


Dia berbalik melihat dirinya di pantulan kaca. Ada bekas telapak tangan yang terlihat di perut, di dada nya, di kedua lengannya.


”Siapa orang yang ada di mimpi ku itu? Bagaimana bisa aku berada di alam itu? Dan orang itu mengajari ku seni bela diri. Saat tangannya mengenai ku, terasa sangat sakit. Sakitnya juga masih terasa sampai sekarang. Dan dia mengalirkan kekuatan di dalam tubuh ku. Kekuatan itu mengalir sangat kuat di dalam tubuh ku, seperti merobek nadi darah ku. Siapa mereka? Semua ini ku alami dalam mimpi, tapi, seperti kenyataan. Bekas telapak tangan ini, apakah bisa hilang dari tubuh ku? Sebentar, orang itu juga meminta ku untuk meminum air di botol kecil, botolnya sama dengan botol yang di berikan ular cobra emas padaku. Apakah aku tadi berada di dalam kerumunan ular cobra?”


Badan Andra merinding seketika. Dia mengambil botol kecil dari kantong sak celananya.


”Apa aku minum saja yah?” Dia membuka penutup botol, mencium aromanya. Aromanya biasa saja seperti air putih.


”Bismillah!” Dia meminum airnya dalam satu kali teguk. ”Argh!” Dia menjerit memegang dadanya. Dadanya terasa panas.


Tok tok tok! Bang, Bang Andra kenapa?” terdengar suara Ali di depan pintu kamar mandi.


”Aku....tidak apa-apa. Hanya kaki ku tersandung di pinggir bak kamar mandi.” alibinya. ”Argh!” Dia menjerit pelan, masih memegang dadanya.


Minuman apa ini? Dadaku terasa panas. Jika racun, tenggorokan ku pasti serasa tercekat. Dan ini tidak sama sekali. Tunggu...sekarang sudah terasa biasa. Rasa sakit yang ku rasakan dari tadi juga hilang. Badan ku lebih enteng untuk di gerakkan. Apakah itu karena minuman ini? benak Andra. Dia melihat botol kosong itu.


Tok tok tok! Abang baik-baik saja di dalam?” kembali terdengar suara Ali yang khawatir, dari depan pintu kamar mandi.


”Iya, aku baik-baik saja.” jawab Andra.

__ADS_1


Andra menaruh kembali botol itu ke dalam saku celananya. mengambil handuk kecil dan mengeringkan keringat yang ada di tubuh dan wajahnya. Setelah itu, dia memakai baju yang kering.


Dia membuka pintu kamar mandi, Ali masih berdiri di sana.


”Abang beneran baik-baik saja?” Ali kembali bertanya.


Andra mengangguk. ”Iya, aku baik-baik saja. Maaf, sudah membuat mu khawatir. Ayo, kita tidur lagi.” dia merangkul pundak Ali, membawanya ke ranjang.


”Gak usah tidur lagi, Bang. Sudah jam empat lewat dua lima. Lebih baik, kita ke musholah yuk, Bang!” ajak Ali.


Andra melihat jam dinding. Ternyata benar. ”Ok,” dia setuju.


Mereka keluar dari kamar. Mereka pergi ke mushola. Mereka telah sampai di mushola.


”Bapak?” sapa Ali


”Pak imam?” sapa Andra.


”Andra, Ali, kalian kemari? Kenapa, tidak bisa tidur?” tanya pak imam.


Andra dan Ali duduk di hadapan pak imam. Pak imam mampu mencium kekuatan yang ada di dalam tubuh Andra.


”Iya, Pa. Ali terbangun karena mendengar igauwan Abang Andra yang seperti berkelahi.” ungkap Ali.


”Kamu mimpi apa Nak Andra?” tanya pak imam.


Andra menghela nafas. Membohongi pak imam pun percuma. Dia memilih untuk bercerita sebagian dan menutupi sebagiannya.


”Aku bermimpi berada di alam yang aneh. Aku berada di goa, tapi, malah seperti sebuah kerajaan. Saat memasuki goa itu, aku malah di sambut dengan baik. Wajah-wajah mereka tidak terlalu kentara di bawah cahaya yang temaram. Dia terlihat seperti wanita, tetapi merasakan tenaganya, seperti seorang pria.”


”Apa kamu merasakan mimpimu seperti nyata?” tanya pak imam lagi.


”Iya, Pak imam. Dalam mimpi, tubuhku berkeringat dan membasahi sebagian bajuku. Setelah terbangun. Aku dalam posisi yang sama dalam mimpi.” jawab Andra.


”Hum! Tidak apa-apa. Apa yang kamu alami itu bukan hanya sekedar mimpi. Roh mu yang berada di sana, jasad mu yang terbaring di ranjang. Orang- orang yang kamu temui bukanlah orang sembarang, juga bukan orang jahat. Tetapi, kamu jangan lah sombong dan jangan menyalah gunakan kepercayaan yang di berikan padamu.” nasehat pak imam.


Kening Andra mengerut. Apa pak imam tahu apa yang dia alami di dalam mimpi? Apakah salah satu orang yang di mimpi adalah pak imam sendiri?


Ah, pikir apa aku ini? Tidak mungkin pak imam hadir dalam mimpiku, apalagi di dalam goa seperti itu. Tapi...siapa ketiga orang yang mengajariku bela diri? benak Andra.


”Baik, Pak imam. Terima kasih, atas nasehatnya.” ucap Andra.


”Sama-sama. Suara tahrim di masjid telah berbunyi sebaiknya kita turun mandi dan bersiap-siap shalat subuh di masjid.” ucap pak imam.


”Iya,”


Andra dan Ali segera turun ke bawah.


”Terima kasih, sudah membantu mengalirkan sedikit kemampuan ku pada cucuku.”


Pak imam menoleh ke belakang. Dia tersenyum melihat lelaki tua yang sebaya dengannya. ”Sama-sama.” jawabnya.


”Kalau begitu, aku permisi. Assalamu 'alaikum!” pamit pria tua tersebut.


”Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” sahut pak imam.

__ADS_1


Beliau pun turun ke bawah bersiap-siap untuk pergi shalat ke masjid bersama kedua putranya.


__ADS_2