
Di kediaman Andra.
Andra dan Viona menghentikan langkah tepat di pintu rumah.
”Andra, hati-hati buka pintunya. Bisa saja sekarang mereka ada di depan pintu itu, dan siap menerkam saat pintu terbuka.” ucap Viona.
”Kamu benar. Meskipun kita menutup pintu kamar, tidak ada celah bagi ular untuk keluar dari kamar itu, selain dari ventilasi jendela. Tetapi, mereka adalah siluman ular, berganti tempat dengan menghilang, sangat mudah baginya.”
”Vi..kamu mundur sedikit, bersandar lah di dinding itu.” titah Andra.
”Lalu, kamu?”
Tanpa berkata, Andra menggeser tubuh Viona ke dinding. Dia berdiri di samping Viona. Di pegang nya gagang pintu.
Kini Viona mengerti maksud Andra. ”Dra, hati-hati tangan mu.”
Andra mengangguk. ”Bismillahirrahmanirrahim!” dia memutar handle pintu dan membukanya dengan cepat dan kuat. Hingga bunyi dentuman pintu dan dinding terdengar jelas di telinga Viona dan Andra.
Andra masih berdiri di tempatnya beberapa menit dari pintu itu terbuka. Tidak ada apa-apa.
”Seharusnya aman!” ucap Andra seketika.
”Kalau begitu, ayo masuk!” Viona melangkah masuk ke dalam rumah. Andra menyusul dengan cepat.
Memang aman. Mungkin saja mereka telah pergi saat mereka memeriksa seisi rumah dan tidak menemukan Viona.
”Vi...jangan ceroboh! Jangan buka kamarmu sendirian. Tunggulah aku, selesai aku mengambil pakaian ku, baru kita ambil pakaian mu.”
Viona menghentikan tangannya yang ingin membuka pintu kamarnya. Dia menuruti perkataan Andra. Tapi, dia juga tidak ingin berdiam diri saja. ” Andra, bagaimana kalau aku yang ambilkan pakaian mu saja dan kamu ambilkan pakaian ku saja, biar cepat? Bagaimana?”
”Ok,”
Mereka berdua bertukar posisi. Viona membuka pintu kamar Andra. Dia masuk setelah pintunya terbuka.
Andra masih berdiri di depan pintu kamar Viona.
Seharusnya aman, kan? benaknya.
Dia memegang gagang pintu.
”Aaaah!” teriak Viona.
Andra bergegas ke kamarnya, melihat Viona saat Viona menjerit.
”Hah, huf! Mengagetkan saja!” ucap Viona.
”Vi...ada apa?” Andra khawatir. Dia sekarang berada di belakang Viona.
Viona berbalik, melihat Andra, ”Andra, maaf sudah mengejutkan mu. Aku...aku hanya terkejut saja saat merasakan lipan yang berjalan di kaki ku. Tapi, tidak apa-apa. Aku sudah mengusirnya.” jelasnya.
Andra mendudukkan Viona di sisi ranjang. Dia jongkok, mengambil kaki Viona dan melihat-lihatnya. ”Apa kamu di gigit? Di kaki yang mana? Lipan juga itu punya bisa.”
Viona tersenyum, melihat wajah khawatir Andra. Pria itu serius melihat kedua kakinya dan mencari dengan teliti sebuah gigitan. Ada rasa bahagia yang dia rasakan dari pria tampan di depannya itu.
__ADS_1
”Sayang, kenapa gak jawab? Ap....” Andra terdiam, saat mendongak melihat Viona. Viona sedang memandangnya tanpa kedip, sambil tersenyum.
Apa dia sedang melamun? benak Andra.
Bayangan wajah Nia tiba-tiba melintas di pikiran Viona. Membuatnya cemburu. Apakah Andra juga khawatir seperti ini pada Nia? Dia jadi kesal.
”Ah! Sakit!” jerit Viona.
”Sakit? Aku hanya mencubit mu sedi....kit saja. Masa iya sakit?” tanya Andra.
Viona cemberut. Dia membuang muka.
Andra menghela nafas, dia berdiri dan duduk di samping Viona. ”Apa yang kamu pikirkan? Hum? Aku sedang khawatir padamu, aku panik. Tapi kamu...malah melamun. Pertanyaan ku tidak di jawab. Kamu melamun kan apa?”
Viona mendengus. ”Kamu bertanya apa tadi, yang pertama?” dia balik bertanya.
”Sudah tidak penting! Ku lihat kamu baik-baik saja. Yang ku penasaran kan, kamu sedang melamun kan apa? Kenapa wajah mu berubah cemberut? Apa aku buat kesalahan lagi?”
”Apa kamu selalu perhatian begini pada pacar-pacar mu?” tanya Viona.
Andra menaikkan sebelah alisnya, melihat Viona. Apa maksud wanita ini? Apakah dia cemburu lagi? Cemburu kan apa? Perhatian sama mantan-mantan pacar?
Ah, aku mengerti sekarang. Dia sedang cemburu buta. benak Andra.
”Yah, namanya juga pacar, kan?Jadi untuk perhatian, kasih sayang, tentu saja menjadi miliknya, setelah kedua orang tuaku. Memangnya kenapa? Kamu juga begitu 'kan terhadap pacar-pacar mu?” jelas Andra.
”Tapi, aku belum pernah pacaran. Baru sama kamu, aku pacaran. Sedangkan kamu....sudahlah! Aku yang terlalu cemburuan. Maaf,” sesal Viona.
Andra menghela nafas, sambil tersenyum. Tangannya terangkat membelai rambut Viona. ”Tidak usah pikirkan masa laluku dengan mantan ku. Itu tidak penting, dan akan merusak hari baik mu. Yang penting sekarang aku, Andra Irwayasa adalah kekasih mu, pacar mu, milik mu saat ini. Dan tentunya, segala perhatian dan kasih sayang ku, akan ku curahkan padamu.”
Andra tersenyum sambil mengacak rambut Viona. ”Sudah, kebetulan aku di sini. Aku kumpul pakaian ku dulu.” Andra langsung berdiri. Dia melanjutkan pekerjaan Viona yang tertunda. Dia mengisi pakaiannya ke dalam tas. Semua keperluan dan kebutuhannya juga dia bawa. Bahkan peralatan mandi juga di bawa. ”Sudah selesai. Ayo, kita ambil pakaianmu.” ajaknya pada Viona.
Viona mengangguk. Mereka keluar dari kamar Andra ke kamar Viona. Andra menaruh tas nya di lantai, di depan kamar Viona.
Viona memegang gagang pintu, memutarnya dengan pelan, dan membuka pintu kamarnya.
Dia di tahan oleh Andra saat ingin melangkah masuk ke dalam kamar. ”Tunggu, beberapa menit lagi baru masuk.” titahnya.
Viona menurut. Dia mengangguk. Beberapa menit telah berlalu, tidak ada apa-apa atau hal aneh di dalam kamar.
Mereka berdua masuk. Viona mulai mengambil pakaian di lemari pakaiannya dan memberikan pada Andra. Andra lah yang memasukkan pakaian Viona ke dalam tas Viona.
Andra menghentikan kegiatannya, mempertajam pendengarannya, saat telinganya menangkap sebuah suara. Suaranya tidak terlalu kuat, namun, masih terdengar samar di telinganya suara desis ular.
Dia menegakkan badannya dan melihat Viona. ”Vi....stop! Jangan ambil pakaian lagi.” cegahnya.
Namun, terlambat Viona telah mengambil pakaian itu. Viona terkejut tanpa suara. Matanya terbuka lebar melihat ular di depannya telah melebarkan lehernya.
Dengan jarak yang begitu dekat, tentu saja Viona tidak akan lolos dari gigitan ular saat ini.
Mama, papa, kak Lirjan, Andra....apakah ini akhir dari hidup ku? Beberapa kali di serang sama makhluk melata ini, aku selalu lolos. Apakah kali ini juga akan lolos? Andra...aku takut sekali....Ular cobra emas....kamu di mana? Bukan kah kamu selalu datang menolong ku? Kemana kamu kali ini? Kenapa tidak datang? benak Viona. Untuk pertama kalinya dia berharap kehadiran ular cobra emas.
Andra sendiri terkejut, panik, khawatir menjadi satu. Apa yang harus dia lakukan?
__ADS_1
Dia melihat tubuh Viona bergetar hebat! Keringat dingin sudah mengucur di pelipis Viona.
Andra juga melihat pandangan yang membunuh dari ular itu. Andra teringat ibunya selalu menyimpan pisau di bawah kasur. Pisau milik almarhum ayahnya, pisau yang selalu menemani ayahnya kemanapun ayah nya pergi. Pisau itu tidak besar dan tidak panjang dan pisau itu sangat tipis dan sangat tajam meskipun tidak di asa. Pisau itu juga tidak berkarat.
Andra mengambil pisau itu dari bawah kasur dengan pelan-pelan tanpa di ketahui geraknya oleh ular. Dia berhasil mengambilnya.
Jarinya menjangkau jari tangan Viona. Viona masih bertatapan dengan ular itu. Gerakan cepat, Andra menarik Viona dan membawanya ke dalam pelukannya. Viona memeluk erat tubuh Andra. Andra dapat merasakan debaran dan tubuh gemetar karena takut, yang kuat pada Viona.
Kali ini, gadis ini benar-benar takut sekali. benak Andra.
Bersamaan dengan itu juga ular itu terbang dan berpindah ke kasur. Ular itu semakin menaikkan badannya dan membuka lebar lehernya. Lidahnya terjulur keluar masuk dari mulutnya.
”Jangan bergerak! Ular itu ada di kasur sekarang.” bisik Andra.
Viona semakin menanamkan kepalanya di dada Andra dan semakin menguatkan pelukannya. Bahkan kedua jarinya menggenggam baju Andra.
”Jangan takut! Ada aku di sini!” bisik Andra lagi.”
Viona mengangguk. Membuat pergerakan sedikit pada pelukannya. Membuat ular itu terbang ke arah mereka.
Andra terkejut dan takut. Di saat ular itu terbang ke arahnya. Dia mengangkat tangannya dan mengayunkan pisau yang di pegang nya, membelah dengan satu tarikan yang kuat.
Darah menetes dari ujung pisau. Beruntung, ular itu tidak menyemburkan bisa nya, saat terbang. Ular itu terbelah menjadi dua dan terhempas ke dinding. Tangan Andra masih gemetar.
”Sudah aman! Ularnya sudah mati.” ucap Andra.
”Benarkah?” Viona melepaskan pelukannya. Dia melihat tangan kanan Andra gemetar. Dia melihat tetesan darah jatuh ke lantai dari ujung pisau yang di genggam Andra.
Viona melihat ular itu sudah mati terbelah dua. Viona menjangkau tangan kanan Andra, dan menggenggam tangan Andra tersebut.
Viona sendiri tahu, ini adalah pertama kalinya Andra membunuh hewan. ”Dra, kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Andra mengangguk. ”Kamu lanjutkan mengepak pakaian mu. Aku akan membereskan bangkai ular dan mencuci pisau ku dulu.” ucapnya.
”Iya.” Viona melanjutkan mengemas pakaiannya.
Andra mengambil bangkai ular itu dan membawanya ke dapur. Dia mengumpulkan kayu-kayu bakar dan menyalakan api. Setelah kayu terbakar, Andra memasukan bangkai ular ke dalam kobaran api tersebut.
Matanya berkaca-kaca. ”Maaf, aku tidak sengaja membunuh mu. Dan aku tidak berniat membunuh mu. Aku tidak punya pilihan selain melindungi diriku dan kekasih ku. Mohon jangan ada dendam di antara kita. Jika kamu memilih pergi dari kamar lewat ventilasi jendela, kamu tidak akan berakhir seperti ini.” gumam Andra.
Bangkai ular sudah terbakar habis. Andra mencuci pisaunya. Setelah pisau itu bersih. Andra mencuci mukanya dan mematikan api.
Andra berbalik badan dan pergi dari dapur. Langkahnya terhenti seketika, saat melihat ular emas cobra melebarkan lehernya, menatap dirinya, di atas meja makan.
Apa aku harus membunuh ular emas ini juga? benak Andra.
Andra melihat di samping ular itu ada botol kecil dan seuntai kalung yang terbuat dari benang. Mata Andra menyipit melihat kedua benda itu.
”Mendekat lah padaku. Jangan takut!”
Andra terkejut, ular emas itu berbicara padanya. Namun, Andra masih terpaku berdiri di tempatnya. Dia tidak berani menuruti perkataan ular emas itu.
”Jangan takut padaku! Aku tidak akan melukai mu. Mendekat lah, anak muda.” titah ular itu lagi.
__ADS_1
Apa ular ini berkata serius? Sebenarnya dia siapa? Apakah ini kesempatan ku untuk mengetahui identitas ular ini? Dan mengapa ular ini datang mengganggu Viona? benak Andra.