Viendra Dan Viona

Viendra Dan Viona
eps 34


__ADS_3

Di kediaman pak imam.


Pak imam duduk di teras rumah. Dia sedang memikirkan kejadian yang baru saja di alami keluarganya.


Setelah ini, apakah Anisa akan berpikir Viona sengaja pergi ke belakang rumah untuk menargetkan Anisa sebagai korban tumbal, oleh Viona?


Apakah Anisa akan semakin membenci Viona? Ataukah kejadian ini bisa membuka pikirannya jika Viona tidak ada hubungannya dengan para ular yang memburunya.


Ngomong-ngomong, bagaimana bentuk wajah dari ular kobra emas tersebut. Suaranya, mengingatkan aku sama wanita yang pernah aku tolong.


Apakah wajah yang ku lihat di wajahnya Viona, wajahnya ular cobra emas? Siapa sebenarnya Viona ini dan hubungannya dengan ular cobra emas. Dia sangat melindungi Viona dan Andra. Terutama adalah Viona. Dia sampai nekat ingin menerobos pertahanan yang ku buat untuk melihat keadaan Viona. Mungkinkah mereka punya hubungan darah? Jika tidak, tidak mungkin ular itu akan sangat mengkhawatirkan Viona. Ataukah mungkin tanpa sengaja Viona pernah membantunya? benak pak imam.


”Assalamu 'alaikum!”


”Wa 'alaikum salam! Mari, duduk di sini saja.” pak imam mencegah Ali dan Sania yang hendak masuk ke dalam rumah.


”Tapi Pa, Viona__”


”Viona baik-baik saja. Dia sedang istirahat.” pangkas pak imam.


”Alhamdulillah!” Ali bernafas lega, ”Sania, ayo duduk!” Ali mengajak Sania untuk duduk. Dia sendiri sudah duduk di kursi, di samping papanya.


Sania menarik kursi dan duduk di kursi samping Ali.


”Ali, ambilkan minuman untuk Sania.” titah pak imam.


”Iya, Pa.” Ali beranjak berdiri.


”Tidak usah, Ali. Terima kasih, aku tidak haus. Kalau haus, aku akan masuk ambil air minum sendiri.” tolak Sania.


”Apa yang terjadi pada Viona, Pak imam?” tanya Sania.


”Viona tiba-tiba di serang oleh ular, di belakang rumah. Ular tersebut menggigit kaki Viona.” jawab Pak imam.


”Apa kamu masih punya obat racun yang kamu berikan pada Andra waktu itu, Sania? Tolong berikan obat itu pada Viona.” pinta Pak imam.


”Bukankah Viona sudah baik-baik saja? Dia tidak memerlukan obat itu lagi. Lagi pula, obat itu bukan obat ku. Obat itu di berikan oleh Nia untukku, untuk ku berikan pada Andra.” ungkap Sania.


Obat racun ular waktu itu yang memberikannya adalah Nia. Ini tidak se-sederhana itu. Dari mana Nia mendapatkannya? benak Pak imam.


”Dari mana Nia mendapatkan obat mujarab itu? Bukankah Nia bukan seorang dokter ataupun apoteker, kan? Lalu, dia tahu dari mana rumusan obat-obatan jika dia sendiri yang merancang obatnya?” Ali penasaran. Dia sangat mengenal siapa Nia dan tingkatan sekolahnya.


”Aku juga bertanya seperti itu padanya di saat dia memberiku obat penawar racun ular padaku. Jawabannya, dia mendapatkan obat itu dari temannya yang merupakan pakar bisa ular.” jawab Sania.


Temannya yang merupakan pakar bisa ular? Apakah ada di desa ini? benak Ali.


Ali melihat papanya. Ia bertanya, ”Apakah ada pakar seperti itu di desa kita, Pa?”

__ADS_1


Pak imam tidak menjawab pertanyaan Ali. ”Kamu pergi kemana tadi? Mengapa kamu tidak berada di rumah mu saat kami membutuhkan bantuan mu?” tanya Pak imam pada Sania.


”Maaf, Pak imam. Jika saja Ali datangnya lima menit lebih cepat dari Nia, Sania akan ikut Ali pergi. Meskipun Sania membenci Viona, tapi, pekerjaan Viona adalah seorang dokter. Sania akan tetap profesional dalam hal pekerjaan, terlepas dari kata dendam dan benci. Hanya saja, di saat Ali datang, Sania sudah pergi dengan Nia. Nia mengajak Sania untuk pergi menemui Dion di rumahnya. Sampai di sana juga Dion heran dengan kedatangan kami berdua. Yang tadinya Nia bilang Dion mengundang kami berdua datang kerumahnya Dion. Yah, untungnya Ali datang dan mengajak ku pergi. Jika tidak, Sania akan tetap di tahan oleh Nia untuk tidak pulang.” jelas sania.


”Boleh Bapak tahu, darimana kamu tahu tentang kematian ibu Andra?” Pak imam penasaran.


”Dari Nia.” jawab Sania.


Ali dan pak imam memiliki kecurigaan pada Nia. Mereka curiga, ular-ular itu adalah suruhan Nia. Tapi, apa motif dari Nia? Dan bagaimana Nia punya hubungan dengan ular-ular itu?


”Siapa yang membantu menyembuhkan Viona, Pak imam?” Sania penasaran. Di desa tersebut, hanya dia sendiri yang memiliki profesi dokter. Lalu, siapa yang menyembuhkan Viona? Kekuatan pak imam? Jika kekuatan pak imam bisa menyembuhkan, bukankah seharusnya pengobatan Andra tidak perlu memanggil dirinya?


”Ada seekor ular yang datang menghisap racun ular dari kaki Viona. Ular itu sangat melindungi Viona.” jawab Pak imam. Tentu saja dia tidak akan memberitahu jika Andra memiliki permata yang bisa menyerap bisa ular.


”Oh, apakah Sania bisa melihat Viona?” Sania meminta izin pada Ali dan Pak imam.


”Viona masih istirahat. Kalau ingin lihat, pergilah lihat. Ali, antar Sania melihat Viona.” titah Pak imam pada Ali.


”Sania, ayo!” ajak Ali. Dia sudah berdiri.


Sania beranjak berdiri. Dia menyusul Ali yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Siapa yang ada di belakang Nia? benak Pak imam.


.. ..


”Anaknya Papa datang lagi? Mari, mari! Duduk di sini. Wajah mu tampak bahagia. Apakah kamu senang dengan hasil kerja anak buah Papa?”


Nia tersenyum senang. ”Tentu saja, Pa. Nia sudah lama menunggu waktu kematian Viona. Dan akhirnya, anak buah Papa berhasil menggigit kaki Viona. Semoga saja, Sania tidak sempat untuk menolongnya.”


”Hahahaha! Papa turut senang melihat anaknya Papa sedang senang. Bagaimana dengan obat ramuan cinta yang Papa berikan? Sudah kamu gunakan atau belum?” tanya papa Nia.


”Belum, Pa. Nia belum mendapatkan kesempatan itu. Pa, menurut Papa, apakah Viona akan segera mati?”


”Kamu sepertinya sangat ragu! Jika Sania tidak sempat menolongnya, sudah pasti Viona akan mati. Tapi, kalau Sania datang di waktu cepat, dia akan selamat. Bukan kah, kamu menahan Sania tepat di saat anak buah Papa menyerang Viona, kan? Seharusnya, dia tidak akan sempat menyembuhkan Viona.” jawab papa Nia dengan yakin.


”Semoga begitu. Pa, Nia pulang dulu. Nanti baru Nia kesini lagi.” pamit Nia.


”Iya, Nak. Berhati-hatilah di jalan.”


”Iya, Pa.” Nia keluar dari goa, ”Argh! Papa!” teriak Nia dari mulut goa. Di saat kakinya melangkah keluar dari bibir goa, seekor ular tiba-tiba mematuk kakinya.


Nia mendengar suara langkah kaki orang yang berlari ke mulut goa.


”Ada apa sayang?” papa Nia khawatir.


Nia menunjuk kakinya yang sakit tanpa berbicara dan tanpa menggerakkan kakinya.

__ADS_1


”Hah! Kurang ajar! Siapa yang berani melukai anakku!” geram papa Nia. Dia mengeluarkan batu permata dan meletakkan batu permata itu pada luka gigitan ular, ”Ambilkan obat penawar racun dan obat daun untuk menghilangkan bekas gigitan ular,” titahnya pada anak buahnya.


”Baik, Tuan!” sahut sang anak buah. Beberapa dari mereka pergi melaksanakan perintah papa Nia.


Setelah racun ular terserap oleh batu permata, papa Nia menggendong Nia membawa masuk kembali ke dalam goa.


”Tuan, ini obat penawar racun.” Dia memberikan botol obat pada tuannya.


”Hum!” Papa Nia mengambil botol obatnya dan membuka penutupnya, ”Sayang, minum obat ini!” dia membantu Nia meminumkan obatnya. ”Bagaimana, masih merasakan sakit?”


Nia menggeleng, ”Sudah tidak Pa.”


”Tuan, ini daun obat penghilang bekas gigitan ular. Sudah saya haluskan.” Dia memberikan obat itu pada papa Nia.


”Hum!” Papa Nia mengambilnya dan mengoleskannya pada luka Nia.


”Nia, malam ini kamu istirahat saja di sini.” pinta Papa Nia.


”Tapi, Pa. Nanti mama akan mencari Nia.”


”Papa akan memberitahu mama tentang mu. Besok, baru kamu pulang ke rumah. Ok!”


”Ok, Pa.” terpaksa Nia menurut. Ini juga sudah masuk isya. Kalau dia nekat pulang malam ini, mungkin saja ular yang menggigitnya akan datang kembali dan mencelakainya. Dia tidak mau mengambil resiko besar dengan nyawanya.


”Tuan, kami sudah mencari di sekitar goa dan dua puluh meter dari goa keberadaan ular yang mencelakai Nona. Tetapi, kami tidak menemukan tanda-tanda ular itu.” lapor anak buah Papa Nia.


”Tidak perlu di cari lagi! Tempatkan sepuluh orang untuk menjaga istriku! Kalian tidak boleh masuk ke dalam rumah! Cukup menjaganya dari luar rumah saja. Beritahu aku jika kalian menemukan sesuatu!” titah Papa Nia pada anak buahnya.


”Papa, apa Papa tahu siapa dia? Apakah dia musuh Papa? Sampai-sampai Papa memerintahkan orang menjaga mama.” Nia penasaran.


”Mereka pasti musuh dari bosnya Papa. Mereka sudah lama bersembunyi. Sekarang, rupanya mereka sudah mulai menampakkan diri...” raut wajah papa Nia tajam menatap lantai.


”Musuh bosnya Papa? Siapa?” Nia masih penasaran.


”Dia adalah Prayoga. Prayoga dengan bosnya Papa masih ada hubungan keluarga, mereka saudara tiri. Mereka bermusuhan hanya karena sebuah tahta. Kami meninggalkan dia di mulut goa dengan terluka parah. Seharusnya dia sudah mati. Tapi... keturunannya masih ada dua orang yang tidak kami temukan, Berlia dan Maria. Sampai sekarang, kami tidak tahu di mana dua orang itu berada. Kami pernah mendengar Berlia di desa sebelah. Tapi...saat kami ke sana, kami gagal untuk menangkap dia.” ungkap Papa Nia.


”Mungkin saja mereka berdua masih bersembunyi di desa sebelah itu dengan menyamar.”


”Papa tidak tahu. Kami sudah mencarinya ke segala desa yang ada, tapi, kami tidak menemukannya. Sebaiknya, kamu dan mama mu harus memegang batu permata. Jika kalian di serang sama ular, keluarkan racunnya melalui permata itu. Kalian juga harus meminum obat penawar seribu racun ular. Tetapi sayangnya, obat itu yang bisa meraciknya hanyalah anak dari prayoga.”


”Memangnya Papa tidak bisa meraciknya? Dan memangnya apa rahasia obat itu?” Nia penasaran.


”Obat itu hanya kakek prayoga yang tahu. Kakeknya Prayoga mengajar kan pada Prayoga untuk meraciknya. Setelah Prayoga menjadi raja dan anaknya tumbuh besar, dia mengajarkan ramuan itu pada anak-anaknya. Papa, bosnya Papa, tidak sempat mempelajarinya. Meskipun Papa sudah berhasil menculik resep ramuannya, ternyata, resep itu palsu!” Wajah Papa Nia marah mengingat hal itu.


”Obat itu sangat manjur dan berbagai bisa hewan buas, tidak akan mempan bagi siapa yang sudah meminumnya. Itulah khasiatnya!” ungkap papa Nia lagi.


”Sudahlah! Yang penting Papa berikan saja padi kami obat penawar racun sama batu permata. Itu sudah cukup untuk melindungi kami dari bahaya ular.” ucap Nia.

__ADS_1


”Hum.”


__ADS_2